
Apartemen.
Tak berselang lama kemudian, Louise kembali ke apartemen. Dan melihat pintu Evelyn yang masih tertutup rapat. "Syukurlah dia tidak kemana-mana hari ini," gumamnya merasa lega.
Karena Louise tidak ingin Evelyn sampai mendengar berita macam-macam tentang dirinya, terutama dari keluarga Gisella dan salah satunya ialah Steve.
"Tuan," panggil Evelyn yang ternyata sedang menunggu kedatangan Louise.
Louise pun berhenti membuka pintu dan menoleh kearah sumber suara. "Evelyn," sahutnya lalu datang menghampiri. "Sedang apa kau disini?" tanyanya. "Kenapa matamu memerah seperti itu, apa kau habis menangis?" tanyanya lagi.
Evelyn mengepal erat kedua tangannya dan menatap tajam Louise yang masih belum mengerti dengan keadaannya sekarang ini. Lalu tanpa berkata lagi, Evelyn melayangkan sebuah tamparan keras di wajah Louise.
"Evelyn, apa yang kau lakukan. Beraninya kau menampar wajahku!" sarkas Louise sambil mecekal kedua pergelangan tangan Evelyn yang masih ingin memukulnya kembali.
"Harusnya kau mendapatkan lebih daripada ini, kenapa kau tega sekali menceraikan nyonya bibi!" sentak Evelyn.
Louise membulatkan kedua matanya. "Apa maksudmu? Apa yang sedang kau bicarakan ini!"
"Ck! Jangan berpura-pura lagi, aku tahu semua tentang dirimu tuan. Aku tahu kau sedang menggugat nyonya bibi dan akhirnya aku mengerti kenapa selama ini kau tidak ingin membahas masalah istrimu itu. Kenapa kau tega melakukan itu padanya Tuan!" gusar Evelyn, dadanya terlihat naik turun menahan emosinya
"Apa yang sedang kau bicarakan ini Evelyn? Siapa orang yang telah berani mengadukan hal yang tidak-tidak seperti ini!" cecar Louise, hatinya mulai takut Evelyn mengetahui sesuatu.
Namun bukan takut mengetahui sesuatu tentang kebenaran yang terjadi, melainkan mengetahui informasi yang tidak sepenuhnya benar.
"Aku tahu semuanya dari Steve, dan aku tahu jika kakaknya itu adalah istrimu. Apa kau pernah berpikir dengan menahanku disini, membuat mereka beranggapan bahwa akulah penyebab dari retaknya hubungan kalian, karena mereka berpikir aku adalah wanita simpananmu!" sergah Evelyn menujukkan amarahnya.
Louise hanya bisa terdiam sesekali menghembus nafasnya kasar, tidak disangka dugaannya itu ternyata benar, jika Steve mengatakan hal yang bukan-bukan kepada Evelyn.
"Kenapa kau tidak memikirkan perasaanku Tuan, aku hidup serba salah disini. Kau tidak melepaskanku dan mereka diluaran sana menganggapku sebagai pelakor! Beruntung Steve mengerti keadaanku dan menjelaskan kepada ibunya kalau aku bukanlah wanita seperti itu, dia bahkan mempercayai aku dan membelaku saat ibunya mulai menunjukkan kemarahannya," isak Evelyn.
Louise menangkup kedua sisi wajah Evelyn. "Jangan percaya pada ucapan orang-orang itu Evelyn, karena kau belum tahu sifat asli mereka yang sebenarnya. Asal kau tahu, aku berpisah dari Gisella bukan karena dirimu. Melainkan karena kami dari awal memang sudah tidak ada kecocokkan."
"Aku mohon percayalah padaku, aku akan berusaha menjelaskan kepada semua orang bahwa kau bukanlah pelakor," tutur Louise menenangkan.
__ADS_1
"Kau bilang aku tidak boleh mempercayai mereka, lalu aku harus percaya pada siapa? Kau Tuan? Setahuku kaulah pria pembohong dan suka menipuku."
"Begini saja Tuan, aku mohon lepaskanlah aku. Anggap saja kita tidak pernah bertemu dan dengan begitu mereka akan yakin kalau kita sebenarnya memang tidak punya hubungan apapun yang seperti mereka pikirkan," ucap Evelyn memohon sambil merangkapkan kedua tangannya.
Louise menggeleng. "Tidak, selama waktu dalam perjanjian kita belum selesai. Maka aku tidak akan pernah melepaskanmu!" tegasnya tidak ada pilihan lain.
Karena inilah satu-satunya cara agar Evelyn tidak jatuh ketangan orang-orang yang memang ingin menjatuhkan keluarganya, dan menunggu hingga Ken benar-benar selesai menjalankan misi darinya.
Evelyn menggeleng. "Tidak Tuan, aku tidak sanggup lagi. Bagaimana jika Opa ku mendengar berita ini dan menganggapku wanita perusak hubungan orang lain. Aku takut akan membuatnya marah dan akhirnya jatuh sakit," ucapnya lirih.
Bersamaan dengan hal tersebut, Louise menerima panggilan dari keluarganya dan mengatakan jika Gisella sedang hamil anaknya saat ini.
"Apa hamil!" sergah Louise tidak mungkin.
"Iya sayang, sekarang pikirkanlah lagi tentang perceraian kalian. Kasihan anak mu, Mommy tidak ingin dia lahir tanpa seorang ayah. Lagipula perceraian tidak diijinkan oleh agama dan kau tidak bisa menceraikan istrimu begitu saja," balas Nyonya Grace melalui ponselnya.
Louise mematikan ponselnya tanpa berkata-kata lagi dan menatap nanar ke sembarang arah. "Breng-sek, mana mungkin dia bisa hamil anakku dan aku yakin pria lainlah ayah dari bayi itu!" batin Louise geram.
Sedangkan Evelyn yang mengetahui kehamilan Gisella, benar-benar terkejut dibuatnya. Ia sampai menutup mulutnya karena tidak menyangka.
Entah mengapa hatinya terasa sakit saat mengetahui sang tuan paman akan segera memiliki anak dari wanita lain, walaupun ia tahu itu adalah istrinya sendiri.
"Pergilah Tuan, kembalilah pada anak dan istrimu," ucap Evelyn bergetar, hingga langkah kakinya begitu goyah saat hendak pergi menjauh.
"Tidak! Itu pasti bukan anakku!" tegas Louise dan segera mencegah Evelyn pergi sebelum berhasil menjelaskan sesuatu.
Namun Evelyn menepis tangan Louise. "Sadarlah Tuan, kau sudah menikah dan sudah seharusnya kau pulang dan menemani istrimu yang sedang mengandung anakmu. Mengenai perjanjian kita, baiklah aku akan menurutinya. Tapi setelah perjanjian ini berakhir. Aku mohon untuk tidak menahanku lagi," ucapnya getir. Lalu masuk ke dalam kamarnya tanpa mau mendengar apapun lagi dari Louise.
Sedangkan Louise langsung terkesiap mendengar pernyataan Evelyn, terlebih saat melihat raut wajah kesedihan serta putus asa terlukis jelas pada wajah cantiknya itu.
"Sialll!" Louise menyugar rambutnya kasar, sesekali meninju udara disekitarnya karena kesal dan melampiaskan semua amarah yang dia sendiri tidak tahu mengapa.
...***...
__ADS_1
Sementara itu didalam kamar Evelyn tidak henti-hentinya menangis, entah sebab apa. Namun air matanya tidak bisa berhenti begitu saja.
Seketika ia terpikir dengan seseorang dan segera menghubunginya.
"Hallo Eve," sapa Steve.
"Hallo," isak Evelyn.
"Hallo Eve ada apa denganmu, apa kau menangis?" cecar Steve.
"Menurutmu?" balas Evelyn dengan bertanya.
"Eve, apa yang terjadi? Apa pria itu menyakitimu? Apa dia berkata hal yang tidak-tidak padamu lagi?" cecar Steve penasaran.
"Aku sudah memarahinya dan menyuruhnya untuk kembali kepada keluarganya, karena aku dengar kakakmu sedang mengandung anaknya saat ini. Tapi aku tidak tahu, kenapa air mataku terus saja mengalir. Harusnya aku senang kan bisa memarahi dia," ucap Evelyn sedikit menyenangkan hati.
"Eve, tindakanmu sudah benar. Dan demi aku tolong berhentilah menangis. Aku memang tidak sebaik pria lain atau sehebat tuan pamanmu itu, tapi aku ingin sekali membahagiakanmu. Eve, mungkin ini bukanlah waktu yang tepat untuk berkata padamu, tapi ku mohon pikirkan lagi tentang lamaran yang ku ajukan padamu. Dan aku berharap kau memberi jawaban secepatnya," ucap Steve.
Evelyn terdiam cukup lama dan setelah menimbang-nimbang, akhirnya ia memutuskan untuk menerima lamaran Steve.
"Baiklah Steve, aku terima lamaranmu."
Steve begitu senang mendengarnya, pria itu sampai bangkit dari tempat tidur karena merasa gembira.
"Benarkah Eve, aku senang sekali mendengarnya. kalau begitu aku akan mengabari Mommy dan segera membawa lamaran untukmu!" seru Steve.
"Iya Steve," lirih Evelyn dan mematikan ponselnya. Lalu wanita itu kembali meringkuk dan menangis sejadi-jadinya.
.
.
Bersambung.
__ADS_1