Anak Pembantu Milik Tuan Muda

Anak Pembantu Milik Tuan Muda
Bab 70. Nonton bioskop.


__ADS_3

Beberapa saat kemudian.


Taksi online yang membawa Evelyn telah tiba dihalaman depan sebuah restoran yang menyajikan masakan jepang.


"Ini pak, kembaliannya ambil saja!" ucap Evelyn tidak punya banyak waktu dan bergegas masuk ke dalam restoran tersebut untuk bertemu dengan Steve segera.


Evelyn menghampiri sebuah meja khusus, dimana Steve tengah duduk sendirian disana. "Steve," panggilnya.


"Eve, ku pikir kau tidak datang. Aku hampir saja ingin pulang." Steve tidak jadi bangun dan kembali duduk.


"Maaf Steve, aku membuatmu menunggu terlalu lama. Tadi aku terjebak macet dijalan, maaf ya," ucap Evelyn merasa tidak enak hati dan terpaksa berbohong agar Steve tidak marah.


Steve tersenyum tipis. "Tidak apa, aku mengerti. Sekarang duduklah dan kita langsung pesan saja makanannya," balasnya tidak ingin memperpanjang.


"Terima kasih Steve, maaf sekali lagi." Evelyn menghela nafas lega dan merasa bersyukur, karena Steve tidak marah kepadanya.


"Tidak apa Eve," balas Steve memaklumi.


Tak berapa lama kemudian, beberapa menu telah hadir tersaji didepan meja dan mereka berdua menikmati makan malam yang tertunda itu


Selama menikmati ritual makan malam, ponsel Evelyn selalu saja bergetar, hingga pada akhirnya ia mematikan ponsel tersebut karena dianggap mengganggu.


"Dari siapa Eve?" tanya Steve.


"Bukan siapa-siapa, hanya orang iseng." Evelyn melanjutkan makan malamnya dan merasa gemas kepada sang tuan paman yang selalu saja menghubunginya.


"Oh begitu," balas Steve singkat.


...***...


Setelah menikmati makan malam, Steve mulai membuka topik pembicaraan dan ia tersenyum melihat Evelyn yang menurutnya semakin cantik saja.


"Eve, setelah ku utarakan perasaanku padamu waktu lalu. Aku berpikir kau akan pergi menjauh dan tidak ingin bertemu denganku lagi. Tapi kecemasanku sekarang hilanglah sudah, bahwa kau tidaklah seperti itu. Aku merasa senang sekali Eve, kau masih tidak melupakan aku dan sudi menemui diriku ini," ucap Steve dan meraih tangan Evelyn.


"Kau ini berkata apa sih, kita berteman sejak duduk dibangku kuliah semester pertama. Bagaimana aku bisa melupakanmu begitu saja, hanya karena perasaan sukamu itu padaku," balas Evelyn.


Steve mengulas senyumnya dan malu-malu jika mengingat kejadian itu. "Terima kasih Eve," balasnya senang.


"Sama-sama. Steve, apa tujuanmu datang kesini?" tanya Evelyn.


"Sudah pasti tujuanku adalah bertemu denganmu," balas Steve.


Evelyn tersipu malu. "Benarkah? Apa benar karena diriku dan bukan karena ada hal lainnya?" tanyanya memastikan.

__ADS_1


"Iya, selain karena dirimu aku juga ingin bertemu dengan keluargaku yang lain," balas Steve.


"Kau ingin bertemu dengan mereka?" tanya Evelyn.


Steve mengangguk dan menceritakan jika dirinya masih punya kakak perempuan dan seorang ayah kandung di negara ini. Dan Steve ingin sekali berjumpa dengan mereka berdua.


"Aku lahir di Rusia dan belum pernah bertemu dengan mereka sekalipun, bahkan namanya saja aku tidak tahu. Aku hanya tahu aku ini anak haram tanpa ayah yang sah, tapi setelah aku tahu kebenaran dari Mommy ku. Aku langsung terbang kesini dan bertekad untuk menemui mereka," ucap Steve lalu menatap tajam Evelyn.


"Dan membalas semua kelakuan pria tua yang tega memisahkan ku dengan keluargaku" ucapnya lagi.


Evelyn terdiam sejenak. "Jadi begitu, siapa pria tua yang kau maksud Steve. Apa kau mengenalnya?"


Steve mengangguk kecil. "Tadinya aku tidak tahu, tapi baru-baru ini aku telah mengenalnya, bahkan sangat mengenal cucu kandungnya sendiri."


"Begitukah, lalu apa yang ingin kau lakukan? Kau tahukan balas dendam tidaklah baik untuk hidup kita," ucap Evelyn.


"Kau benar, tapi aku tidak bisa jika harus menahannya. Sudahlah jangan dibahas lagi," ucap Steve dan Evelyn mengangguk tersenyum.


Pria itu lalu menggenggam kedua tangan Evelyn dan mendekat. "Oiya Eve, mommy ku mengundangmu untuk makan malam bersama dengannya. Bagaimana, apa kau bisa datang?"


"Steve, aku harus minta ijin dulu kepada seseorang. Jika dia mengijinkan aku pergi, maka aku akan datang ke rumahmu. Tapi kalau tidak bisa, ya maaf aku tidak bisa datang," balas Evelyn.


"Siapa orang itu Eve?" tuntut Steve.


"Siapa, bibi Maureen atau opa mu?" cecar Steve ingin tahu.


"Kau tahu kan aku pernah cerita padamu, waktu kecil aku diasuh oleh keluarga lain dan ada satu orang dalam keluarga itu yang begitu menyayangiku dan dia telah menganggapku sebagai bagian dari keluarganya sendiri," jawab Evelyn.


"Eve, aku ingatkan satu hal padamu. Jangan percaya pada siapapun. Mungkin orang itu baik padamu, tapi kita tidak tahu apa maksud dari tujuan dia baik terhadapmu," hasut Steve.


Evelyn terdiam cukup lama dan mencerna semua perkataan Steve. "Ucapan Steve cukup masuk akal, tapi apakah tuan paman juga punya maksud tersembunyi?" batinnya mulai ragu.


"Eve," ucap Steve.


"Iya Steve, terima kasih karena telah mengingatkanku," jawab Evelyn.


Steve tersenyum. "Bagus, ini masih belum malam. Bagaimana kalau kita nonton bioskop? Aku yang akan mentraktirmu lagi," ucapnya mengajak.


"Baiklah, tapi film biar aku yang pilih ya." Evelyn segera beranjak dari tempat duduknya.


Steve semakin tersenyum dibuatnya. "Baiklah, terserah kau saja."


Kedua insan itu pun keluar dari restoran dan pergi menuju mall untuk menonton bioskop, dengan menaiki motor.

__ADS_1


...----------------...


Bioskop.


Steve dan Evelyn segera memilih bangku penonton, setelah menunjuk salah satu film romantis pilihannya dan mereka begitu bingung, karena tidak ada bangku kosong untuk duduk berdua.


"Bagaimana ini Steve, bangku yang tersisa tidak ada yang berdekatan. Satu bangku kosong di H dan satu bangku lagi di C," ucap Evelyn melihat tidak ada bangku lain selain seperti itu.


Steve menghembus nafasnya lesu. "Ya sudah tidak apa-apa," balasnya.


"Apa kau yakin?" tanya Evelyn.


"Ya mau bagaimana lagi. Hanya ini kan kursi kosong yang tersisa dan ini juga jam penayangan terakhir," keluh Steve.


Evelyn terkekeh. "Wajahmu lucu sekali jika lesu seperti itu, baiklah. Kalau begitu ayo kita masuk," ajak Evelyn menggandeng tangan Steve yang mendadak lemah."


Setibanya didalam Evelyn dan Steve terpisah jarak yang cukup jauh, mereka berdua saling melambaikan tangan dan menunjukkan jika posisi masing-masing keduanya dalam keadaan yang nyaman.


Lalu, beberapa orang mulai masuk memenuhi gedung bioskop tersebut dan duduk dikursi yang telah dipesan sebelumnya, menunggu film romantis yang akan segera dimulai sebentar lagi.


Seorang pelayan datang menghampiri Evelyn sambil membawakan popcorn dan minuman untuk dirinya.


"Dari pria yang duduk disana," tunjuk pelayan itu kearah Steve dan Steve tersenyum.


"Terimalah Eve, itu dariku untukmu!" ucapnya setengah berteriak.


Evelyn mengangguk dari jauh. "Thank's!" sahutnya sambil mengangkat dan menggoyangkan popcorn itu.


Namun baru saja popcorn tersebut dibuka, seorang pria yang baru saja datang dan ingin duduk disebelah Evelyn, tidak sengaja menyenggol popcornnya dan mengakibatkan popcorn itu jatuh berceceran.


Evelyn mencebik dan memarahi pria yang duduk disebelahnya. "Apa kau tidak punya mata, jalan tidak lihat-lihat sampai menyenggol makananku!" kesalnya sambik menunjuk-nunjuk popcorn yang jatuh.


"Maaf, nanti aku belikan yang baru atau ambil saja punyaku ini," ucap santai pria itu sambil menyodorkan popcornnya.


Evelyn terbelalak, karena dia kenal betul dengan suara pria yang sedang duduk disebelahnya.


"K-kau," ucap Evelyn menoleh dan menatap pria yang tersenyum kepadanya.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2