
Louise telah tiba di kawasan puncak, setelah sebelumnya sempat berdebat dengan Gisella mengenai kepulangan dirinya yang mendadak.
"Memangnya siapa orang itu dan mengapa kau sangat peduli padanya? Aku ini adalah istrimu Louise dan dia hanyalah seorang pembantu, hanya pembantu!" bentak Gisella dan itu masih terngiang di telinga Louise hingga saat ini.
"Kau tidak mengerti Gisella, kau tidak akan pernah mengerti," ucap Louise. Sesekali memukul kemudi mobilnya karena kesal.
Pria itu segera melakukan pencarian, dengan beberapa anak buahnya. Namun sudah hampir larut malam, pencarian tersebut masih belum membuahkan hasil positif.
Alhasil, Louise pun pulang kembali ke rumahnya dengan raut wajah kecewa.
"Tuan Louise, apa Evelyn sudah ditemukan?" tanya Selvi mencari disekitar majikannya itu.
Louise menggeleng lemah. "Belum," balasnya lesu.
Selvi semakin terisak. "Tuan, maafkan saya karena telah lalai menjaga Evelyn. Saya pantas dihukum tuan," ucapnya bersungkur.
Louise terdiam sambil menatapi salah satu anak buah kepercayaannya yang sedang menangis, dan meratap dibawah kedua kakinya itu.
Ia hanya menghela nafasnya panjang dan tidak bisa menyalahkan Selvi begitu saja, karena kaburnya Evelyn bukanlah salah wanita itu sepenuhnya.
Dan selain itu, Louise juga harus tetap sadar. Karena cepat atau lambat, kepergian Evelyn memang akan terjadi disuatu hari nanti.
"Bangunlah Selvi, tidak ada gunanya kau bersungkur dikakiku ini. Lebih baik kau berdoa pada-Nya dan meminta keselamatan agar Evelyn baik-baik saja diluar sana," ucap Louise berusaha menahan kekecewaannya.
Lalu pria itu pergi untuk berehat sejenak, sebelum memulai kembali pencariannya pada esok hari.
...***...
Sebelum pergi ke kamarnya untuk beristirahat, Louise menyempatkan diri masuk ke dalam kamar Evelyn.
Pria itu mengingat terakhir kali ia masuk tanpa ijin, saat mencari tahu kebenaran tentang kalung milik Evelyn.
Louise menatap ponsel baru pemberiannya yang masih tergeletak diatas nakas, lalu membawanya untuk duduk di sisi kasur. Kemudian pria tampan itu menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang dan membuka ponsel tersebut.
Kedua matanya berbinar, ada perasaan senang, saat mengetahui jika Evelyn sempat mengunakan ponsel baru darinya sebelum pergi dari rumah. Dan itu terlihat dari banyaknya foto selfi Evelyn dengan beragam ekspresi lucu serta menarik perhatiannya.
"Bukankah dia semakin bertambah cantik saja," ucap Louise keluar dari mulutnya begitu saja.
Sambil memandangi foto Evelyn yang sedang tersenyum, sesekali mengusap wajahnya dilayar ponsel tersebut dengan ibu jari.
"Ada dimana kau sekarang Evelyn? Kenapa kau tidak patuh pada tuan pamanmu ini?" gumam Louise bermonolog sendiri.
Hingga akhirnya pria tampan itu pun merasa kantuk dan terlelap sendiri, akibat rasa lelah yang menerpanya selama belakangan ini.
...***...
Keesokan paginya.
__ADS_1
Louise masih tertidur pulas diatas kasur, dengan posisi tengkurap sambil menggenggam erat ponsel Evelyn yang masih berada ditangan kanannya.
Pria itu terlihat enggan bangun dari tempat tidurnya, entah mengapa kemarin malam dirinya tertidur begitu pulas, dan merasa sangat nyaman sekali saat berada diatas kasur Evelyn yang lumayan sempit dan kecil itu.
Hingga pada akhirnya Selvi membangunkan Louise karena hari telah berganti pagi dan mengingat pesan dari sang majikan yang memintanya untuk dibangunkan pagi-pagi sekali agar bisa melanjutkan pencarian Evelyn.
"Tuan, ini sudah pagi. Bangunlah," ucap Selvi.
Louise mulai mengerjapkan kedua matanya. "Evelyn," ucapnya masih setengah sadar.
"Saya Selvi tuan," balas Selvi menyadarkan Louise dari sisa rasa kantuknya.
Louise memandangi sekitar kamar tersebut dan baru menyadari jika dirinya telah tidur di kamar orang lain. "Sepertinya aku ketiduran disini," batinnya.
Louise mengusap wajahnya dengan kedua tangan, lalu menyugar rambutnya kebelakang yang masih terlihat berantakan sehabis bangun tidur. Lantas berdiri dan segera mandi agar tubuhnya segar kembali.
Selvi memperhatikan tingkah Louise yang begitu lesu dan raut wajahnya terlihat seperti orang yang sedang mengalami tekanan batin, kecemasan juga masih terlihat cukup jelas pada raut wajahnya, akibat kehilangan seseorang yang sudah cukup lama tinggal bersama disisinya.
Hal tersebut membuat Selvi merasa yakin, jika Evelyn telah menyelusup masuk kedalam hati Louise dan menjadi orang spesial didalam hati majikannya itu.
Selvi menghela nafas panjang. "Semoga saja Evelyn cepat ditemukan," ucapnya penuh harap.
...***...
Tak berselang lama kemudian, Louise telah berpakaian rapi dan siap untuk pergi mencari keberadaan Evelyn kembali.
Namun lagi-lagi pria itu hanya bisa menelan buah pahit, karena nyatanya Evelyn masih belum bisa ditemukan. Bahkan di sekolah pun, Evelyn tidak terlihat disana.
Ada beragam pertanyaan di dalam otak pria itu, tentang mengapa Evelyn sampai berani pergi sendiri dari rumahnya. Dan siapa orang yang telah berani membuat gadis itu pergi tanpa ijin terlebih dahulu seperti ini.
Louise menduga satu nama, setelah mendengarkan penuturan dari Selvi tentang Evelyn yang sempat menghubungi nomor teleponnya.
"Setelah saya berikan ponsel itu kepada Evelyn, dia nampak senang. Saya juga menyarankan kepadanya agar menghubungi anda untuk mengucapkan terima kasih secara langsung. Tapi setelah itu, Evelyn malah pergi dari rumah ini," ucap Selvi menjelaskan.
Louise melihat waktu panggilan masuk dari nomor Evelyn pada ponselnya itu, dimana pada waktu tersebut, ia masih tertidur pulas di dalam kamar hotel.
"Gisella, aku yakin wanita jahat itu yang telah menerima panggilan masuk dari Evelyn sebelum dia pergi dari rumahku!" duga Louise penuh yakin.
Louise meremass kuat ponselnya, sesekali memukul stir mobil. "Jika penyebab kepergian Evelyn adalah karena ulah dirimu, maka sumpah demi apapun aku akan membuat perhitungan denganmu Gisella!" ucapnya dengan amarah yang meluap-luap.
...----------------...
Hotel tanpa bintang.
Evelyn terbangun dari tidurnya dan masih meringkuk malas, jika biasanya pagi-pagi sekali dia sudah mandi dan bersiap untuk pergi sekolah.
Namun kali ini gadis itu sedang berleha-leha manja diatas pembaringan, dengan tubuh masih tergulung selimut hotel yang hangat dan nyaman. Akan tetapi, hati dan pikiran Evelyn nyatanya tidak senyaman seperti tubuhnya saat ini.
__ADS_1
Pikiran dan hati gadis itu tengah bercabang kemana-mana, ada rasa bersalah ketika meninggalkan rumah sang majikan tanpa ijin.
Namun ia juga tidak mau tinggal disana lagi, sebab amarah dari Gisella yang telah mengusirnya secara langsung.
Selain kedua pikiran rumit diatas, sekarang ini dirinya sedang memikirkan bagaimana cara melanjutkan hidup, karena ia sendiri sedang mengalami kesulitan biaya akibat kecerobohannya sendiri.
"Ini semua gara-gara kebodohanku, harusnya aku ingat uang simpananku yang ada di dalam laci!" umpatnya kesal sekali. Karena bagaimana tidak, ia seperti sedang mati kutu sekarang ini.
Tidak balik ke rumah, maka tidak punya uang. Jika balik ke rumah, maka akan dimarahi oleh semua orang.
Evelyn menghela nafas pasrah, mau bagaimanapun juga dia tetap harus melanjutkan kembali tujuannya, yaitu kembali ke ibu kota.
Selain karena ingin bekerja dan mendapatkan uang disana, gadis itu juga ingin mencari keberadaan keluarga aslinya yang masih menjadi misteri.
"Kata ibu, kalungku ini bisa jadi sebuah petunjuk mengenai keluargaku yang asli. Aku penasaran sekali dengan keluarga asliku, seperti apa rupa mereka dan banyak hal juga yang harus ku tanyakan saat berjumpa dengan mereka nanti."
"Tapi ada satu hal yang membuatku sedih, mengapa kalian tega sekali membuangku?" ucap Evelyn terisak dan memilih kembali melanjutkan tidurnya, sebelum pergi dari hotel itu siang nanti.
...---------------...
Disisi lain, pak Christ berhasil mengekor pada Louise kemanapun ia pergi, tanpa sepengetahuan orang lain maupun oleh Louise sendiri.
Pria paruh baya itu segera mencari tahu mengenai aktifitas Louise kepada warga sekitar, yang baru saja ditanyai sesuatu.
"Permisi pak, boleh saya bertanya sesuatu kepasa anda?" tanya pak Christ kepada seorang bapak-bapak yang baru saja dihampiri oleh Louise.
"Tentu saja boleh pak, ingin bertanya apa?" tanya si bapak itu.
"Jika boleh tahu, pria muda yang baru saja menghampiri anda tadi. Ia sedang bertanya apa?" tanya pak Christ.
"Oh itu, pria tadi sedang mencari orang hilang. Tapi saya sendiri belum pernah melihat gadis itu," jawab si bapak.
"Yang hilang seorang gadis? Apa anda bisa memberitahu ciri-ciri gadis yang hilang itu kepada saya?" tanya pak Christ ingin tahu lebih detail.
Si bapak itu mengangguk. "Iya seorang gadis muda, usianya sekitar 17 tahun-an. Wajahnya sangat cantik, rambutnya blonde kecoklatan dan punya bola mata kebiruan," jawabnya lengkap.
Pak Christ merekam semua ciri-ciri itu dan menyimpannya pada memori didalam otaknya, lalu infomasi tersebut ia sampaikan segera kepada opa Bernadi.
Dan sontak saja pria tua itu langsung bergetar tak karuan saat mendengar informasi yang dikirimkan oleh anak buahnya, terlebih ketika opa Bernadi bertanya sesuatu pada pak Christ.
"Siapa nama gadis itu?" tanya opa Bernadi.
"Evelyn, tuan besar!" jawab pasti pak Christ melalui ponselnya.
.
.
__ADS_1
Bersambung.