
Disisi lain.
Gisella masih sibuk mencari keberadaan Louise, dengan berkeliling ke setiap penjuru hotel. Wanita itu tidak henti-hentinya berdecak kesal, karena sudah lama mencari, akan tetapi kerja kerasnya masih belum membuahkan hasil.
"Dimana dia, kata Ken Louise sedang berada disekitar kolam renang!" ucap Gisella sambil terus mengedarkan pandangannya ke sekitar.
Wanita itu kembali menghubungi nomor ponsel Louise, namun lagi-lagi dirinya tidak mendapatkan jawaban.
"Dasar pria penipu! Dia bilang akan tidur bersamaku malam ini, tapi nyatanya dia pergi begitu saja!" geram Gisella sesekali mendengus kesal.
Wanita itu memutuskan kembali ke dalam kamar hotel, sesekali berharap agar Louise telah berada didalam sana dan sedang menunggu dirinya.
...***...
Sementara itu, didalam kamar hotel. Louise masih belum mau melepaskan pagutannya terhadap Evelyn, walau tubuhnya sendiri sudah penuh dengan luka bekas cakaran kuku jari.
Ia tak menghiraukan rasa perih pada sekujur punggung maupun bahunya itu lagi, karena ia sendiri sedang sibuk menikmati rasa manis dari pertautannya bersama dengan Evelyn.
Sungguh suatu hal yang tidak terduga dan tidak disangka oleh Louise sendiri, dimana pada awalnya ia melakukan hal tersebut hanya karena keterpaksaannya saja.
Namun, lambat laun rasa keterpaksaannya itu kini berganti oleh rasa lain, bagai sebuah candu yang memabukkan dan Louise tidak ingin semua ini berakhir dengan cepat.
Ia pun semakin menarik Evelyn agar mendekat, hanya untuk memperdalam ciumannya yang semakin menuntut.
Jantungnya terus saja memompa hebat, dan Louise benar-benar tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi pada dirinya saat ini. Sesuatu yang belum pernah ia rasakan saat mencium wanita lain diluaran sana sewaktu lalu.
Tapi entah mengapa kali ini, saat ia mencium Evelyn dan pertama kali merasakan bibir ranum menggiurkannya itu, Louise merasa seperti ada desiran aneh yang datang menggelitik hatinya.
Dan bukan hanya itu saja, ia juga tidak dapat menggendalikan suatu gelombang energi panas, yang datang secara tiba-tiba pada tubuhnya sendiri. Yang mengalir cepat didalam darah, hingga naik ke puncak ubun-ubun dan berpusat diatas sana.
Sebuah keinginan mendadak muncul begitu saja, yang memaksanya untuk melakukan hal lebih dari hanya sekedar berciuman.
Louise sepertinya tidak menyadari, jika gairahnya yang sempat terkubur sejak lama, kini telah bangkit kembali. Serta hasratnya yang semula padam, kini mulai menggebu sempurna, akibat terkena sentuhan nan memabukkan.
Sedangkan Evelyn yang mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan tersebut, mulai merasa lemas. Dan itu terlihat dari tidak adanya lagi perlawanan yang berarti.
__ADS_1
Ia merasa seakan ada kekuatan besar yang sedang menghisap habis seluruh daya hidupnya, sehingga tubuhnya itu mendadak lemah tidak berdaya.
Evelyn hanya bisa menangis dan menangis, hingga wajahnya basah penuh dengan air mata. "Tuan paman lepaskan aku!" batinnya memekik.
Hatinya merasa sakit dan dada-nya begitu sesak sekali, terlebih Louise semakin menjadi-jadi menyesap bibirnya hingga masuk ke dalam dan tak membiarkannya lolos begitu saja.
"Evelyn, aku ingin ..." batin Louise mulai mengaktifkan tangannya, mencari simpul pada handuk yang dikenakan oleh Evelyn.
Akan tetapi dirinya langsung tersadar, saat air mata Evelyn terus menetes tepat di atas permukaan kulit lengannya, ketika ingin membuka handuk tersebut.
"Oh Tuhan! Apa yang telah aku lakukan!" batin Louisea tersadar.
Segera Louise melepaskan pagutannya itu dan menatap wajah Evelyn yang sedang menangis sesunggukkan dan mendengar suara sesak akibat terlalu lama berciuman.
"Evelyn ... Evelyn, maafkan tuan paman." Louise segera menangkup kedua wajah sisi Evelyn dan terus meminta maaf.
"Jangan mendekat dan jangan sentuh aku," ucap Evelyn serak. Kedua matanya telah memerah akibat kelamaan menangis.
Namun yang membuatnya sakit hati adalah perbuatan sang tuan paman, yang tega merebut ciuman pertamanya itu secara paksa.
Ia juga memukul dada Louise bertubi-tubi, sambil menangis terisak dan meluapkan semua rasa amarahnya dengan terus mengutuk.
"Dasar pria breng-sek! Pria bedjat! Beraninya kau merampas ciuman dariku. Aku tidak akan pernah memaafkanmu tuan paman! Aku membencimu!" umpat Evelyn dan kembali memukul Louise secara membabi buta.
Louise segera mencekal kedua pergelangan tangan Evelyn agar berhenti memukulinya. "Evelyn maaf, tuan paman mengaku salah. Tapi tuan paman tidak ada pilihan lain, selain melakukan ini agar kau berhenti berteriak. Harusnya kau patuh dan mendengarkan tuan pamanmu ini Evelyn. Coba kalau kau patuh, kejadian seperti ini tidak mungkin terjadi," balasnya menjelaskan.
"Berhenti mengaturku agar terus patuh padamu, karena kau bukanlah siapa-siapaku. Kau bukan majikanku atau tuan pamanku lagi, bagiku kau hanyalah seorang pria breng-sek!" sentak Evelyn.
Louise mengeraskan rahangya dan begitu murka mendengar penuturan Evelyn. "Berani sekali kau berkata seperti itu padaku, hem."
"Apa yang harus ku takutkan darimu tuan Louise yang terhormat? Apa aku harus tunduk padamu? Ingatlah ini tuan Louise, aku bukan lagi anak pembantumu! Aku cucu keluarga Bernadi dan kau tak berhak mengatur hidupku!" balas Evelyn penuh penekanan.
Louise tak suka mendengar hal tersebut, apalagi ketika dirinya dibantah. Ia pun segera menarik pinggang Evelyn untuk mengikis jarak yang ada dan menatapnya tajam.
"Ingatlah ini Evelyn, bagiku kau tetaplah seorang anak pembantu milikku, milik tuan muda Louise Alexander Horisson. Selamanya kau akan selalu menjadi milikku! Karena apa? Karena sampai detik ini aku tidak pernah merasa memecatmu!" ucap Louise menegaskan.
__ADS_1
"Kalau begitu pecat aku sekarang, aku berhenti dari pekerjaanku sejak lama. Harusnya kau tahu itu," balas Evelyn.
"Tidak semudah itu Evelyn, selamanya kau akan terikat denganku!" ucap Louise tersenyum, lalu mengelus wajah Evelyn.
"Kau ingin apa? Kau ingin aku bersujud dikedua kakimu itu agar kau mau membebaskanku? Atau kau ingin aku melayanimu seperti seorang pembantu sebelumnya? Asal kau tahu saja, aku tidak akan sudi!" balas Evelyn.
"Tidak ku sangka, selama tinggal bersama dengan keluarga lain. Anak pembantuku ini semakin lama semakin berani membantah, apa kau tidak takut tuan pamanmu ini akan menghukummu, hem?" ucap Louise.
"Apa yang harus ku takutkan dari pria penipu sepertimu? Apa kau ingin memukulku, baik silahkan pukul aku. Tapi setelah ini tolong bebaskanlah aku!" balas Evelyn tak gentar.
Louise menarik senyumnya. "Kau wanita yang lugu, apa kau pikir aku akan memukulmu? Kenapa aku harus memukulmu, kalau aku bisa mendapatkan yang lain darimu."
Evelyn membuka penuh kedua matanya lalu menatap Louise yang menatap damba dirinya. "A-apa m-maksudmu?" ucapnya terbata.
"Kau sudah dewasa dan ku yakin kau juga tidak bodoh, menurutmu apa yang bisa dilakukan oleh pria dewasa kepada seorang wanita, didalam kamar berduaan seperti ini? Apalagi ia tidak berpakaian dan hanya memakai handuk saja," balas Louise tersenyum devil.
Evelyn mendadak gemetar mendengarnya dan segera memberontak. Namun Louise terus saja memeganginya. "Lepaskan aku! Jika kau berani berlaku macam-macam kepadaku. Aku bersumpah akan menuntutmu!" ancam Evelyn.
Louise hanya terkekeh mendengar ancaman Evelyn. "Silahkan tuntut aku kalau kau bisa, tapi ada suatu hal yang harus kita selesaikan bersama terlebih dahulu. Hem, kau wangi sekali."
Louise bergegas mengangkat tubuh Evelyn seperti karung beras dan mengotongnya menuju tenpat peraduan.
Sedangkan Evelyn berusaha memberontak, sesekali memukul punggung Louise agar berhenti dan menurunkan dirinya.
"Turunkan aku!" pekiknya menolak.
.
.
Bersambung.
...----------------...
Apakah yang terjadi selanjutnya? Apakah Louise benar-benar akan melakukan hal tersebut kepada Evelyn?
__ADS_1
Louise sadarlah!