
Louise menghempas raga Evelyn diatas pembaringan dan segera merangkak naik, namun dengan cepat Evelyn berguling ke sisi lain untuk menghindar.
Akan tetapi, belum sempat dirinya terbangun dan pergi, lengan kekar Louise telah melingkar sempurna dibagian perutnya. Lalu, hanya dengan sekali tarikan, Evelyn pun terhempas kebelakang dan terbaring kembali diatas peraduan.
"Mau pergi kemana?" tanya Louise, lalu buru-buru merangkak naik keatas raga Evelyn dan segera mengungkungnya.
"Ku mohon jangan seperti ini, biarkan aku pergi. Apa kau tidak ingat kalau kau sudah menikah tuan, bagaimana perasaan istrimu jika ia sampai tahu kalau suaminya sedang berduaan dengan wanita lain," ucap Evelyn berusaha menyadarkan Louise.
"Kau pikir aku peduli? Apa kau sedang berusaha membuatku sadar dengan statusku sekarang ini, hah?" balas Louise, lalu mendekatkan wajahnya dan ingin merampas satu ciuman lagi.
"Jangan!" pekik Evelyn menolak, sambil memalingkan wajahnya berlawan arah kemana Louise mengincarnya.
Louise tersenyum dan merasa gemas sekali dengan tingkah Evelyn yang selalu saja menghindar darinya. "Masih belum menyerah juga ya," ucapnya menakutkan.
Dirasa tak mendapat apa yang diinginkan, pria tampan itu pun membenamkan wajahnya pada ceruk leher Evelyn, lalu menyesapnya dengan kuat. Hingga meninggalkan bekas kemerahan dan bukan hanya satu, tapi tiga sekaligus.
"Akh dasar pria breng-sek! Badjingan! Berhenti melakukan itu dan menjauhlah dariku!" Pekik Evelyn menggelepar, akan tetapi Louise semakin menyesapnya dengan kuat.
Evelyn kembali menangis disaat penolakannya itu tidak dihiraukan, sesekali melayangkan pukulan dan juga cakaran kepada Louise, karena Louise tidak mau melepaskan gigitan itu pada lehernya.
Namun dengan segera Louise mencekal kedua pergelangan tangan Evelyn menjadi satu dan menguncinya diatas kepala dengan satu tangan besarnya.
"Lepaskan aku!" Evelyn menggeleng dan terus memohon agar Louise tidak melanjutkan aksinya. Terlebih saat Louise menyingkap naik handuk bagian bawah dan mulai meraba bagian pangkal paha-nya.
"Jangan tuan, jangan!" pekik Evelyn menangis histeris, lalu berusaha menggeliat kembali agar terlepas.
Louise berhenti dari aktifitasnya sejenak dan menatap lekat wajah Evelyn yang menangis pilu, lalu mencapit dagu dengan dua jarinya. "Masih terus memukuliku? Sudah tahu takut akan akibatnya, tapi kau masih terus saja membantah dan juga memakiku?"
Evelyn menggeleng lemah. "Tidak tuan, tolong jangan sakiti aku. Aku mohon jangan lakukan itu kepadaku," isaknya berderai air mata.
"Baik, aku tidak akan menyakitimu. Tapi sebelum aku melepaskanmu, berjanjilah kepadaku Evelyn," ucap Louise menarik lengannya.
"K-kau ingin aku berjanji apa?" tanya Evelyn mulai takut.
"Pertama, jangan ceritakan kejadian ini kepada opa Bernadi ataupun orang lain. Kedua, aku ingin kau tinggalkan Rusia dan menetaplah di Indonesia. Lalu yang ketiga, setelah lulus kuliah aku ingin kau bekerja diperusahaanku dan menjadi bawahanku dan mematuhi semua perintahku," ucap Louise menjabarkan.
__ADS_1
"T-tidak mungkin, aku tidak mau. Aku sudah betah tinggal disana dan aku juga tidak ingin bekerja diperusahaan keluargamu bahkan berurusan lagi denganmu!" tegas Evelyn menolak.
"Oh tidak mau ya, baiklah kalau begitu jangan salahkan aku merenggut paksa milikmu malam ini juga!" balas Louise mengancam.
"Jangan!" pekik Evelyn disaat Louise ingin membuka habis seluruh lipatan handuknya.
"Masih berani tidak menuruti?" ucap Louise tak jadi.
"Dasar kau pria rendahan! Kenapa kau tega sekali kepadaku tuan Louise, memangnya apa salahku padamu!" teriak Evelyn tak habis pikir.
"Pertama, kau salah karena telah meninggalkanku selama beberapa tahun, padahal statusmu masih menjadi pembantuku dan untuk itulah aku rugi selama lima tahun atas biaya yang pernah ku keluarkan untukmu."
"Kedua, kau salah karena selalu saja membantah dan juga memakiku dengan kata-kata kasar. Ketiga, kau salah karena telah berani memukul dan menampar wajah tampanku ini sebanyak tiga kali," balas Louise.
"Pertama, aku pergi karena itu adalah hakku. masalah biaya, aku bisa menggantinya jika kau mau. Kedua, aku membantah dan memakimu karena itu memang kau yang memulainya. Ketiga, aku berani memukul dan juga menamparmu karena kau adalah pria breng-sek dan kau memang pantas mendapatkannya!" tegas Evelyn sambil melototi Louise.
Louise mengeratkan giginya. "Aku percaya kau bisa mengganti semua uangku, tapi bukan itu yang ingin ku dengar darimu Evelyn! Sekarang cepat berikan jawabanmu, kau mau menuruti perjanjian tadi atau tidak? Karena aku sendiri sudah tidak bisa menunggu keinginanku ini terlalu lama lagi," ucapnya memaksa dan mulai meraba bagian pegunungan Evelyn.
"Jangan sentuh aku!" sarkas Evelyn.
"Agh jangan sentuh aku! Sekali lagi kau melakukan itu, maka aku bersumpah akan menuntutmu tuan! Melaporkanmu karena kasus pemaksaan dan juga pelecehan!" ancam Evelyn.
Louise terkekeh mendengar ancaman Evelyn dan juga hinaan yang ditujukan untuk dirinya. "Ancam aku sepuas hatimu Evelyn, karena dengan begitu aku bisa leluasa menggaulimu malam ini tanpa ragu!" ancamnya balik.
Evelyn tergagap mendengar itu semua, ternyata dugaannya salah. Ancaman dan makian tidak membuat nyali Louise menciut, tapi justru membuat Louise semakin gencar ingin merenggut kehormatannya.
Itu terlihat dari gelagat Louise yang sudah siap untuk menggempurnya.
"Baik, baik aku setuju. Tapi tolong jangan per-kosa aku tuan," isak Evelyn.
Louise mengulas senyumnya. "Bagus, akhirnya kau setuju juga. Sekarang pakailah bajumu dan setelah ini aku akan mengantarmu kembali ke kamar," balasnya kemudian menarik diri dari atas Evelyn.
Lalu, pria tampan itu menelepon Ken untuk datang ke kamarnya. "Bawakan surat yang sudah kau buat tadi," titahnya kepada Ken dan tersenyum menatap Evelyn yang terlihat pucat.
...***...
__ADS_1
Beberapa saat kemudian.
Louise menyerahkan beberapa lembar kertas kepada Evelyn agar dibaca, untuk seterusnya ditanda-tangani.
"Apa ini?" tanya Evelyn tidak mau menerima.
"Ini surat perjanjian tertulis untukmu, sebagai ganti kebebasan dariku padamu malam ini. Dimana kau harus menuruti semua perjanjian yang ada didalam kertas tersebut. Bacalah perlahan dan tanda-tangani jika sudah paham," balas Louise.
Evelyn menelan ludahnya susah payah dan mulai membaca surat itu dengan kedua tangan yang gemetaran.
"Tidak! Aku tidak ingin menandatangani surat ini, aku tidak mau terikat lebih jauh denganmu. Lagipula kenapa aku harus patuh kepadamu," ucap Evelyn keberatan lalu mengembalikan surat perjanjian tersebut kepada Louise.
"Sepertinya kau sudah lupa kebaikan hatiku tadi Evelyn, apa perlu aku mengingatkanmu kembali dan membereskan semuanya diatas ranjang agar kau mau menandatangani surat itu hah?" balas Louise mengingatkan.
"Kau terus saja mengancamku dengan hal rendahan seperti itu, pokoknya aku tidak ingin menandatanganinya. Titik!" tolak Evelyn dengan tegas dan Louise berubah dingin saat itu juga.
"Tandatangani surat ini atau kau tidak akan bisa keluar dari kamar ini!" ancam Louise kembali dan menyodorkan surat itu lagi kepada Evelyn.
Evelyn pun menatap tajam Louise. "Tidak ku sangka putra keluarga Horisson ternyata begitu rendah dan tidak tahu malu. Dia berani mengancam seorang wanita hanya demi keinginannya yang egois," sindirnya lalu menandatangi surat perjanjian bermaterai itu dengan tegas.
Sebuah surat perjanjian yang akan mengikat dirinya selama lima tahun bekerja, dimana Evelyn tidak akan pernah bisa lari dari Louise lagi selama waktu yang telah ditentukan.
Untuk menggantikan dirinya sewaktu pergi dari Louise selama lima tahun lalu.
Louise tersenyum dan mengambil surat itu dari tangan Evelyn dengan segera, sebelum gadis itu merobeknya.
"Bagus, ku harap kau mematuhi perjanjian ini. Karena kalau tidak, maka bersiaplah kau akan kehilangan segalanya. Baik itu uang tunai ratusan milyar maupun mahkota berhargamu dan jangan pernah berpikir untuk lari dariku Evelyn, karena aku selalu punya cara untuk menemukanmu," bisik Louise dibelakang daun telinga Evelyn.
"Aku tidak mengerti apa tujuanmu membuat surat perjanjian itu, tapi satu hal yang pasti, aku tidak akan pernah memaafkanmu atas kelakuanmu tadi padaku sampai kapanpun!" tegas Evelyn dengan tatapan tajamnya.
Louise menarik senyumnya. "Kau tahu janji seseorang bisa saja tidak ditepati, tapi dengan adanya surat perjanjian ini, mau tidak mau kau pasti akan menepatinya bukan?" ucapnya tersenyum smirk.
.
.
__ADS_1
Bersambung.