
"Eve, kau habis darimana? Aku mengkhawatirkanmu," cecar Steve. Setibanya Evelyn di dalam ruangan.
"Aku habis dari toilet," balas Evelyn. Lalu melengos pergi untuk duduk.
"Tunggu Eve, kau kenapa. Apa kau habis menangis? Lalu kenapa kau lama sekali dari toiletnya? Apa kau tahu keluargaku telah menunggumu untuk makan malam bersama," cecar Steve kembali.
"Maaf membuatmu menunggu lama Steve, aku habis menelepon Opa, karena dia tidak bisa datang karena sakit. Untuk itulah aku sedih dan lama di toilet tadi," balas Evelyn.
Steve menghela nafas lega. "Oh hanya itu, ku pikir kau akan lari dariku," balasnya terkekeh.
Evelyn berubah menatap Steve dengan rasa kecewa, kenapa tidak ada rasa simpati yang terselip pada hati Steve akan kesedihannya hari ini.
"Opa ku tidak bisa datang dan sakit, harusnya Steve bersimpati padaku kan? Tapi kenapa dia menanggapinya dengan santai dan malah bersuka cita bersama dengan keluarganya itu?" batin Evelyn tidak mengerti dengan sikap Steve dan keluarganya karena tidak bersimpati kepada sang kakek yang sedang sakit.
"Ayo Eve, duduklah. Kita harus makan malam bersama," ucap Steve, sambil menggandeng tangan Evelyn dan membawanya duduk.
"Baik Steve, aku mengerti tidak perlu menarikku." Evelyn menahan tangannya agar Steve tidak menariknya terlalu kuat.
"Maaf Eve, kau berjalan seperti siput. Aku terpaksa menarikmu agar cepat," balas Steve.
Evelyn menghela nafas panjang dan berubah lesu, ia merasa hari pertunangannya ini sama sekali tidak istimewa. Dimana dia seperti orang asing didalam acaranya sendiri.
"Opa, andai kau ada disini. Mungkin keadaannya tidak seperti ini," batin Evelyn sedih.
Louise senantiasa memperhatikan Evelyn dan ikut merasa sedih dengan kondisinya saat ini. "Ternyata keluarga Steve benar-benar telah mengibarkan bendera balas dendam," batinnya menatapi satu persatu keluarga Steve, terutama Nyonya Merry.
"Aku yakin dialah yang mengatur semua ini," pikirnya seperti itu.
Louise kembali menatap Evelyn yang hanya mengaduk-aduk makanan di atas piringnya, wanita itu tidak ingin menatap siapapun, karena sedang larut dalam kesedihannya sendiri.
Terlebih saat tunangannya sendiri sama sekali tidak memperdulikan kesedihannya dan hanya asyik menatapinya saja.
"Eve, jangan murung terus. Makanlah," ucap Steve ingin menyuapi Evelyn.
"Tidak Steve, aku sudah kenyang." Evelyn menolak.
"Ku lihat kau belum makan apapun Eve, ayolah makan sesuap saja demi aku." Steve masih setia mengulurkan tangannya.
Evelyn tersenyum pahit dan pikirannya kembali teringat akan kesehatan opa Bernadi. Bagaimana dia bisa enak-enakan disini, sementara sang kakek terbaring lemah diatas kasurnya tanpa pelayan setia yang menemani.
...***...
Beberapa saat kemudian, Bibi Maureen dan Pak Christ telah sampai di hotel. Mereka segera masuk dan menghampiri Evelyn.
"Eve sayang," sapa Bibi Maureen.
__ADS_1
Evelyn menoleh dan senyumannya seketika itu pun langsung mengembang. "Bibi kau datang!" serunya dan segera memeluk.
Sesaat kesedihannya sedikit berkurang, setelah melihat kehadiran Bibi Maureen dan Pak Christ diacara pertunangannya.
"Maaf Bibi terlambat, tadi Bibi terjebak macet diperjalanan dari dibandara," balas Bibi Maureen.
"Tidak apa Bibi, kau pasti lelah karena perjalanan jauh dari Rusia. Sekarang kalian berdua duduklah!" ucapnya menuntun Bibi Maureen duduk dibangku. Lalu mengenalkan kepada orang siapa Bibi Maureen dan Pak Christ itu kepada keluarga Steve.
"Cih! Hanya pembantu tidak perlu sampai segitunya memperkenalkannya kepada kami," sergah Gisella berdecih dan diiringi tawa kecil disekelilingnya.
"Walau dia pembantu, tapi aku sudah menganggapnya seperti keluargaku sendiri!" balas Evelyn membela.
Gisella memutar bola matanya seperti merendahkan. "Bagiku pembantu tetaplah pembantu! Tidak ada yang istimewa," balasnya.
Evelyn mengepal erat kedua tangannya, namun Bibi Maureen segera menahan. "Tidak perlu didengarkan, perkataannya memang benar sayang."
"Tapi Bibi!" ucap Evelyn tidak terima.
Louise menghembus nafasnya kasar. "Bibi Maureen, maafkan perkataan wanita yang ada disebelahku ini. Dia memang tidak pernah bisa menghargai sebuah hubungan," sergah Louise menyela.
Seketika itupula Gisella menatap tajam Louise. "Apa maksudmu, setahuku kaulah yang tidak pernah bisa menghargai sebuah hubungan. Seolah kau anggap aku istrimu ini sebagai wanita lain!" sergahnya tidak setuju.
"Sudahlah sayang, hargailah acara pertunangannya Steve. Tidak enak juga sama tamu yang datang," serobot Nyonya Merry menengahi. Lalu menatap Bibi Maureen yang sudah tidak asing lagi baginya.
"Iya Nyonya Merry," balas Bibi Maureen, kenal betul dengan sosok wanita yang pernah menjadi simpanan majikannya.
Setelah itu mereka pun melanjutkan acara makan malam bersama hingga selesai.
...***...
Setelah acara berakhir.
Bibi Maureen dan Pak Christ pamit dari hotel, karena mereka bukanlah salah satu tamu yang disediakan kamar untuk menginap.
"Bibi menginaplah disini, temani aku. Kita bisa tidur bersama dan berbagi kasur, kalau tidak muat aku bisa tidur disofa," rengek Evelyn sebelum bibi Maureen pergi.
"Eve sayang, opa mu sedang tidak sehat. Bukankah lebih baik Bibi menemani dan merawatnya?" balas Bibi Maureen memberi pengertian.
"Kau benar Bibi, Opa lebih membutuhkanmu daripada aku," ucap Evelyn mengerti.
Bibi Maureen mengangguk. "Baguslah, kalau begitu Bibi dan Paman pergi."
Evelyn memeluk erat Bibi Maureen sebelum dia pergi. "Bibi, tolong rawat opa ku."
"Sudah tentu sayang," balas Bibi Maureen. Lalu mengurai pelukannya.
__ADS_1
"Hati-hati," ucap Evelyn.
"Iya Eve," balas Bibi Maureen.
Evelyn melambaikan tangannya kepada Bibi Maureen yang telah pergi dibawa kencangnya laju mobil, sesekali meneteskan air mata karena tidak bisa ikut melihat sang kakek yang sedang sakit.
Lalu gadis itu menghampiri Steve yang sedang menunggunya untuk meminta sesuatu. "Steve, bisakah kau mengantarku ke rumah opa? Aku ingin melihat keadaannya," pinta Evelyn.
Steve menghembus nafasnya kasar, terlihat raut wajah tidak suka saat Evelyn menyebut kata opa. "Bukankah kau telah menghubunginya tadi dan perwakilan Opamu juga telah datang. Lagipula Eve, hari ini aku lelah sekali. Mungkin besok atau lain kali aku akan mengantarmu pergi kesana ya," balasnya enggan menuruti.
"Tapi, dia satu-satunya keluarga kandung yang aku punya Steve. Dan kita sudah sepatutnya menjenguk," balas Evelyn.
Steve tidak mengubris permintaan tersebut, karena baginya kesehatan opa Bernadi tidaklah penting. Bahkan kalau bisa orang tua itu meninggalkan dunia ini dengan segera.
"Steve ... Baiklah, kalau begitu aku akan kesana sendiri!" tegas Evelyn.
"Ada apa Eve?" tanya Nyonya Merry ingin tahu.
"Opa ku sedang sakit, dan aku ingin menjenguknya. Tapi Steve tidak mau mengantarku kesana, jadi aku putuskan akan menjenguknya seorang diri," balas Evelyn kesal.
"Sayang, Steve benar. Acara hari ini sangat melelahkan dan lebih baik kalian beristirahat, kalau masalah menjenguk. Kalian bisa menjenguknya besok atau lain hari," ucap Nyonya Merry.
"Dengarkanlah kata Mommy ku Eve, dia memperdulikanmu. Lagipula ini sudah malam, kita tidak tahu jalanan ibu kota seperti apa," ucap Steve.
Evelyn mendengus kesal. "Baiklah, kau benar Tante, aku juga capek sekali hari ini," ucapnya lalu pergi ke kamar hotel dan menguncinya rapat-rapat.
Dan setibanya di dalam kamar hotel, Evelyn memikirkan cara untuk pergi keluar tanpa ketahuan oleh orang lain, sesekali mengerutu karena kesal dengan Steve.
Lalu ia dikagetkan dengan sesosok bayangan seorang pria yang tengah berdiri didepan balkon kamarnya. "Siapa disana?" tanya Evelyn melangkah perlahan.
Kemudian menyibak kain hordeng dan terkejut. "T-tuan sedang apa dia disana?" batinnya bertanya-tanya.
Louise menggedor pintu kaca dan meminta Evelyn untuk membukanya. Namun Evelyn tidak ingin menuruti, karena ia sendiri takut Louise akan bertingkah macam-macam kepadanya.
Hingga akhirnya pria itu kesal sendiri dan mengirimi sebuah pesan tentang tujuannya kali ini.
"Cepatlah buka! Kau ingin pergi tidak? Aku akan mengantarmu ke rumah opa Bernadi," isi pesan Louise seperti itu.
Evelyn berkaca-kaca melihat pesan tersebut, lalu menatap Louise yang tersenyum lembut padanya dan mengangguk kecil. "Baiklah, aku mau Tuan!" sahutnya.
.
.
Bersambung.
__ADS_1