Anak Pembantu Milik Tuan Muda

Anak Pembantu Milik Tuan Muda
Bab 75. Permintaan Evelyn.


__ADS_3

Keesokan harinya.


Mansion Louise.


"Terima kasih karena telah mengantarku pulang ke rumah Mom," ucap Gisella setelah pulang dari rumah sakit.


"Kamu yakin sudah merasa baikkan? Mommy lihat wajahmu masih pucat," balas Nyonya Grace sambil menyelimuti Gisella.


"Aku sudah merasa baikkan," balas Gisella.


Nyonya Grace menghela nafasnya panjang, dan menatapi kamar Gisella. "Jadi selama ini kalian tidak tidur seranjang? Louise benar-benar keterlaluan sekali, pantas saja kalian lama sekali memiliki anak," ucapnya prihatin.


Gisella mengangguk kecil. "Benar Mom, untuk itulah aku terpaksa menjebaknya, karena aku ingin sekali punya anak darinya dan keluarga ini memiliki seorang penerus. Tapi tidak disangka Louise malah memarahiku, bahkan tega ingin menceraikanku," isaknya menangis.


Nyonya Grace membelai wajah Gisella dan memintanya agar berhenti menangis. "Maafkan sikap Louise yang acuh terhadapmu sayang, Mommy sudah memintanya untuk pulang dan menemanimu disini."


"Tapi bagaimana mungkin dia mau kembali lagi kesini, Louise sudah memiliki wanita simpanan di apartemennya yang jauh lebih muda dan lebih cantik daripada aku. Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran Evelyn, apa dia tidak berpikir kalau pria yang selalu bersamanya itu sudah menikah," keluh Gisella dan menyalahkan Evelyn atas sikap acuh Louise terhadapnya selama ini.


"Kau benar sayang, tapi percayalah dengan Louise dia pasti akan kembali padamu. Apalagi setelah tahu dirimu sedang mengandung anaknya, Louise pasti akan senang dan meninggalkan Evelyn selamanya," balas Nyonya Grace menenangkan Gisella.


"Semoga saja yang kau katakan itu terwujud Mom," balas Gisella menarik senyum, sesekali mengusap-usap perutnya dengan penuh harap Louise akan kembali.


...----------------...


Kantor.


Evelyn bekerja dengan Louise seperti biasa, menuruti dan patuh kepada perintah sang atasan tanpa banyak mengeluh ataupun memberontak seperti hari-hari sebelumnya.


Hal tersebut membuat Louise semakin gelisah, karena tidak biasanya Evelyn bertindak patuh seperti ini.


"Aku sudah selesai mengerjakan semua laporan ini Pak, apa kau ingin aku mengerjakan yang lain?" tanya Evelyn sebagaimana pekerja lainnya.

__ADS_1


"Tidak ada, kau boleh kembali ke ruanganmu."


"Baik Pak," patuh Evelyn kemudian pergi tanpa banyak menggerutu.


Louise memperhatikan tingkah Evelyn yang tampak diam dan tenang, hingga akhirnya Louise pun memutuskan untuk menghampiri ruang kerja Evelyn.


"Ada keperluan apa Bapak sampai datang ke ruanganku yang sempit ini? Jika butuh sesuatu, Bapak bisa memanggilku untuk datang," ucap Evelyn tapi tetap tidak ingin menatap mata Louise.


"Evelyn, kenapa kau seperti menghindariku. Apa karena ucapan orang-orang yang tidak benar itu? Atau ada alasan lain yang menganggu pikiranmu?" cecar Louise.


"Tidak Pak Louise, aku hanya tidak ingin semua orang mengganggap gosip itu benar. Jadi mulai sekarang aku harus menjaga jarak denganmu, dan berharap apa yang kulakukan saat ini dapat mematahkan anggapan tidak benar semua orang terhadap kita," balas Evelyn.


"Selama ini kita memang tidak punya hubungan apapun, kenapa kau harus peduli dengan itu semua? Jadi Evelyn, aku minta bersikaplah seperti biasanya dan jangan pusingkan tentang semua gosip tidak jelas yang sedang beredar saat ini," ucap Louise.


"Tidak Pak Louise, mungkin kasus seperti ini adalah hal biasa atau tidak penting bagimu. Tapi bagiku, kasus ini sangatlah penting. Dimana aku dianggap wanita tidak baik dan perusak rumah tangga orang lain oleh semua orang. Jadi Pak Louise, aku mohon jangan dekati aku lagi. Karena aku ingin tenang disisa masa bekerjaku yang masih beberapa tahun lagi," tutur Evelyn.


Louise mendesaah kesal, lalu berjalan mendekat kearah Evelyn yang selalu saja menjauh hingga ke sudut ruangan.


"Tolong Pak Louise, jaga batasan anda. Aku tidak ingin ada orang lain sampai salah paham saat melihat kita berdekatan seperti ini," ucap Evelyn menahan Louise agar tidak semakin mendekat.


"Aku tidak takut, hanya menyadari posisiku disini. Apalagi dengan statusmu yang masih sah suami orang, dan mengertilah Pak, kita tidak pantas bicara terlalu lama didalam ruangan tertutup seperti ini," ucap Evelyn, lalu menatap tajam Louise yang sudah berdiri menghimpitnya.


"Satu lagi aku ingatkan padamu Pak, bahwa kau sedang bicara dengan wanita yang akan menjadi milik pria lain," sambungnya.


Louise menautkan kedua alisnya. "Apa maksudmu?" tanyanya tidak mengerti.


"Iya, aku sudah setuju menerima lamaran Steve dan minggu ini rencananya kami akan mengadakan pesta pertunangan. Jadi Pak Louise, datanglah keacara pertunangan kami jika ada waktu luang dan jangan lupa ajak istri dan juga keluargamu," balas Evelyn.


Lalu mendorong Louise yang masih terdiam membatu, agar bisa keluar dari ruang kerjanya. Namun dengan cepat Louise mencekal pergelangan tangan Evelyn dan kembali mengunci pergerakannya.


"Akh!" kejut Evelyn dengan gerakan tiba-tiba tersebut.

__ADS_1


"Kau bilang apa tadi? Kau akan bertunangan dengan pria itu? Apa alasanmu menerima lamarannya?" tanya Louise sambil mengorek telinga dengan ujung jari kelingkingnya, takut salah dengar.


Evelyn menarik senyum dan mengangguk. "Benar Pak Louise, Steve pria yang baik dan pengertian, dia juga tidak pernah menipuku atau melakukan hal yang mengancam atau memaksa diriku seperti yang pernah pria lain lakukan padaku sebelumnya," sindirnya.


"Jadi pak Louise aku minta mulai sekarang berhentilah berlaku seperti ini lagi, karena aku tidak ingin menyakiti hati calon tunanganku!" sergah Evelyn.


Louise mengangguk kecil dan membuka jalan agar Evelyn bisa pergi. "Baiklah, kalau memang Steve yang terbaik menurutmu. Aku doakan kau bisa bahagia dengannya."


"Terima kasih atas doamu Pak Louise dan satu hal lagi, aku akan merasa bahagia jika kau sudah tidak berada lagi didekatku Pak!" tegas Evelyn lalu melangkah pergi.


Dan berhenti sejenak menyempatkan diri untuk menyampaikan sesuatu. "Oiya Pak Louise, aku ucapkan selamat atas kehamilan istrimu dan selamat untukmu, karena sebentar lagi kau akan menjadi seorang ayah. Aku juga berdoa agar istri dan calon bayimu selalu sehat hingga lahiran nanti," ucapnya lalu pergi dari sana.


Louise mengeraskan rahangnya sambil mengepal erat kedua tangan, lalu meninju dinding yang berada di hadapannya itu dengan sekuat tenaga. Lagi-lagi hatinya merasa sakit, hanya karena mendengar wanita yang selalu dia lindungi akan diambil oleh pria lain.


...----------------...


Mansion Louise.


Senyuman Gisella merekah sempurna setelah melihat Louise akhirnya kembali pulang ke rumah. Wanita itu segera menyambut sang suami yang baru saja pulang menginjakkan kaki, dengan sapa hangat dan tatapan sendu.


"Louise, akhirnya kau sadar dan mau pulang ke rumah ini lagi untukku," ucap Gisella haru dan memeluk Louise yang sedang berdiri dengan tatapan kesembarang arah.


Hari ini ia pulang ke rumah bukanlah tanpa alasan, karena permintaan Evelyn di kantor saat ingin pulang bersama ke apartemen tadi.


Aku sudah menurutimu dengan tetap patuh pada peraturan dan juga perjanjian kita, tapi ada satu hal yang ingin ku pinta darimu Pak Louise.


Yaitu pulanglah ke rumahmu dan kembalilah kepada istri dan juga calon anakmu. Kau jangan khawatir, aku tidak akan lari kemana-mana.


Louise melepaskan pelukan Gisella dan menatap tajam. "Menyingkirlah dari hadapanku, aku pulang kesini bukan karena dirimu melainkan permintaan dari seseorang," ucapnya menepis tangan Gisella, lalu melangkahkan kaki menuju kamarnya.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2