
Puncak.
Sementara itu, hari ini Evelyn pulang lebih cepat daripada biasanya. Karena memang ia tengah menghadapi ujian semester selama satu minggu ke depan yang hanya tiga atau dua mata pelajaran saja tiap harinya.
Akan tetapi, walau pulang sekolah lebih awal. Nyatanya gadis itu terlihat tidak bersemangat.
Banyak sekali alasan kenapa dirinya begitu tidak bersemangat dan salah satunya adalah jarak tempuh sekolah yang cukup jauh serta kejadian hari minggu kemarin.
Rasanya ingin sekali ia menyerah menghadapi itu semua, namun apa boleh buat ia harus tetap menjalankan perintah sang majikan.
Dimana Evelyn harus patuh menjalankan pendidikannya, baik di sekolah maupun di rumah. Sampai-sampai gadis itu ingin sekali memuntahkan semua isi pelajaran yang sudah dia serap selama ini, karena sudah tidak muat lagi di kepala kecilnya.
Gadis manis itu bertambah sakit kepala saat melihat Ken tengah asyik melenggang masuk ke dalam rumah.
"Ayo Evelyn, kita mulai les nya." ucap Ken tanpa bertanya terlebih dahulu dirinya sudah siap atau belum.
Evelyn menarik nafas dalam-dalam, meluruskan punggungnya yang terlihat semakin membungkuk saja. "Kak Ken, hari ini boleh tidak kalau kita libur les sehari dulu," pintanya.
Ken menggeleng. "Tidak bisa, kau sedang menghadapi ujian semester. Bagaimana kita bisa diam saja tanpa belajar," balasnya menolak.
Evelyn mengusak rambutnya hingga berantakan, namun itu tidak menghilangkan kecantikannya sama sekali, lalu menatap tajam Ken yang hanya bertalak pinggang menatapnya.
"Eh, eh! Ekspresi apa itu? Jangan pasang wajah itu padaku atau kau akan menyesal nanti," ucap Ken mencela.
Evelyn mendengus. "Baiklah, tapi ijinkan aku makan dan ganti baju dulu ya!" balasnya.
"Ya sudah sana, tapi jangan lama-lama. Ingatlah tentang belajarmu, jangan sampai ujian ini nilaimu tidak bagus. Karena kalau kau gagal, akulah yang akan kena damprat oleh tuan besar nantinya!" sahut Ken setengah berteriak.
Evelyn menutup kedua telinganya dan menggerutu, bukannya tidak bersyukur mendapatkan pendidikan gratis. Hanya saja dirinya begitu tertekan sekali dengan keadaan seperti ini, terlebih saat Louise memintanya untuk tetap patuh.
Tak berapa lama setelah itu, Selvi mendatangi kamar Evelyn sambil membawa kotak berisi ponsel baru untuknya.
"Apa itu kak Selvi?" tanya Evelyn.
"Ini untukmu," balas Selvi tersenyum.
"Apa ini? Ponsel?" tanya Evelyn terkejut dan menarik senyum lebarnya.
Selvi mengangguk cepat. "Iya ini untukmu dari tuan Louise," balasnya.
Evelyn menurunkan senyuman, rasanya sulit sekali untuk menerima pemberian tuan pamannya kali ini.
"Sebenarnya apa yang sedang ingin tuan paman tunjukkan? Kadang dia bersikap baik, kadang marah-marah. Kadang dia mengingatkan status sosialku dan terkadang dia memberikanku hal-hal di luar dugaan seperti ini. Ah tuan paman kau membuatku bingung saja," batin Evelyn sambil menatapi ponsel baru pemberian dari Louise.
__ADS_1
"Evelyn, jangan terlalu banyak berpikir. Terimalah pemberian dari tuan Louise dan setelah itu berterima kasihlah padanya," saran Selvi. Kemudian wanita itu keluar dari kamar Evelyn untuk melanjutkan kembali tugasnya.
Evelyn menghela nafas. "Benar juga yang dikatakan oleh kak Selvi, aku harus menghubungi tuan paman dan berterima kasih kepadanya."
Evelyn membuka kotak tersebut dan tersenyum ketika melihat ponsel i phone keluaran terbaru dengan casing cantik untuknya.
"Wah bagus sekali," riang gembira hati Evelyn melihat ponsel tersebut.
Gadis itu pun tidak dapat membendung lagi rasa senangnya, hingga terus saja mengangga dan terkesima menatapi ponsel barunya. Dengan segera ia mencoba mengambil beberapa foto selfi dan cekikikan menatap foto wajah lucunya sendirian.
Lalu, tidak lupa ia segera menghubungi Louise hanya untuk sekedar mengucapkan banyak terima kasih.
...----------------...
Hotel.
Gisella nampak berang, ketika menatapi nama serta foto Evelyn pada layar ponsel milik Louise.
Wanita itu pun bergegas turun ranjang dan membawa ponsel Louise menjauh, sebelum si empunya terbangun dan membuka matanya.
Lalu, tanpa ragu mengangkat panggilan tersebut. "Halo!" jawab Gisella menahan rasa kesalnya.
"H-halo," sahut Evelyn.
"M-maaf aku pembantu di rumahnya tuan Louise, apa aku bisa bicara dengan tuan Louise sebentar?" balas Evelyn meminta.
Gisella mendengus kesal. "Kau seorang pembantu? Berani sekali menghubungi suamiku secara langsung seperti ini!" sentaknya.
Evelyn terkesiap. "S-suami? Apa itu berarti kau nyonya bibi?" tanyanya baru tahu.
"Siapa kau berani memanggilku nyonya bibimu!" gertak Gisella ketus.
"Maaf nyonya, aku hanya ingin bicara dengan tuan Louise. Apa nyonya bisa memberikan ponselnya pada tuan?" tanya Evelyn enggan memberitahu namanya.
Gisella merasa gemas. "Suamiku masih tidur dan tidak bisa diganggu, jika tidak ada kepentingan lebih baik tidak perlu menghubunginya. Terlebih lagi kau hanyalah seorang pembantu, jadi tolong jaga batasanmu dalam berbicara. Apalagi kepada suami orang!" tegasnya.
"Maaf, Nyonya. Kalau begitu titipkan saja pesanku pada tuan Louise, aku mengucapkan terima kasih karena telah memberikan ku hadiah ponsel ini," ucap Evelyn.
"Hadiah?" tanya Gisella.
"Iya nyonya, tuan Louise mengirimiku sebuah hadiah. Jadi aku ingin mengucapkan banyak terima kasih padanya secara langsung, tapi saat tahu tuan sedang tidur. Aku hanya bisa menitip pesan saja padamu nyonya," balas Evelyn.
Gisella mengerjapkan kelopak matanya berkali-kali dan rasa kesal itu akhirnya telah mencapai di puncak ubun-ubun.
__ADS_1
"Tunggu, maksudmu Louise memberi hadiah kepada pembantu seperti dirimu. Apa aku ini sedang tidak salah dengar? Kau sedang tidak bergurau kan? Mana ada pembantu mendapat hadiah spesial dari majikannya? Atau kau ini memang sedang mencari alasan untuk menggoda suamiku?" cerca Gisella.
"Tidak nyonya, kau salah paham. Aku menghubungi tuan karena ingin mengucapkan terima kasih saja padanya dan tidak ada maksud menggoda tuan Louise," balas Evelyn.
"Sekarang katakan padaku, wanita macam apa dirimu itu? Kau bilang pembantu, tapi berani sekali ingin bicara langsung padanya. Bahkan kau berani menitipkan pesan kepada istrinya yang tidak tahu menahu atau jangan-jangan kau ini sedang berbohong."
"Oh aku tahu, kau telah tertangkap basah olehku, jadi kau berpura-pura mengaku kalau kau ini adalah seorang pembantu, agar bisa berbincang dengan suamiku dan menggodanya iya kan!" sentak Gisella
"T-tidak nyonya, aku bukan wanita seperti itu," balas Evelyn membela diri.
"Apa kau pikir aku percaya atas semua yang kau katakan padaku ini, heh? Apa kau tidak tahu, jika kami ini baru saja menikah dan sudah pasti sangat lelah setelah mengabiskan malam pertama kami kemarin malam?" cerocos Gisella panjang lebar.
"Maaf nyonya, tapi percayalah kalau aku memang pembantu tuan Louise dan aku bukanlah wanita yang nyonya sebutkan tadi dan aku benar-benar minta maaf karena telah menganggu waktu kalian," ucap Evelyn.
"Sudah menyadari kalau kau itu menganggu waktu kami hah! Aku tegaskan padamu hei pembantu pengganggu atau lebih tepatnya wanita penggoda, jangan pernah hubungi suamiku lagi dan kalau bisa, aku ingin kau pergi dari kehidupan suamiku selama-lamanya, mengerti!" bentak Gisella.
Wanita itu juga mengeluarkan semua kekesalannya pada Evelyn, karena telah menganggu acara suci pernikahan mereka kemarin.
Ia juga menghina Evelyn yang tidak tahu malu, karena notabene hanya seorang pembantu namun sok akrab dan sok dekat dengan majikannya.
Bahkan Gisella berkata jika Evelyn sama sekali tidak pantas menginjakkan kakinya di rumah Louise, lalu memerintahkan kepada Evelyn untuk hengkang kaki dari rumah suaminya.
"Louise adalah suamiku dan itu berarti aku adalah nyonya rumahnya juga, jadi aku minta padamu untuk angkat kaki dari rumah suamiku sekarang juga!" bentak Gisella lalu menutup panggilan tersebut tanpa menunggu Evelyn membalasnya.
Gisella tersenyum puas, setelah berhasil memaki dirinya dan kali ini wanita itu berharap agar Evelyn benar-benar pergi dari kehidupan Louise selama-lamanya.
"Rasakan! Itulah akibatnya jika macam-macam denganku!" umpat Gisella, lalu kembali ke kamar untuk menemui Louise yang masih terlelap.
...----------------...
Sementara itu Evelyn masih terpaku setelah mendapat ucapan Gisella yang sungguh menyakitkan hati, sampai tak terasa air matanya jatuh begitu saja hingga membasahi kedua pipi.
Gadis itu lalu terduduk lemas disisi kasur dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan. "Aku bukan wanita penggoda!" isaknya menangis.
Sadar menangis tidak akan menghasilkan apapun, gadis yang terbilang masih labil itu segera mengemasi pakaiannya dan pergi dari rumah Louise tanpa sepengetahuan orang lain.
.
.
Bersambung.
...----------------...
__ADS_1
Maaf ya jika author lambat up nya, karena sedang tidak enak badan. Terima kasih karena masih tetap setia membaca karya recehku ini.