
Beberapa hari kemudian.
Setelah mendapatkan perawatan selama beberapa hari di rumah sakit akibat percobaan bunuh dirinya, kini keadaan Gisella telah berangsur membaik.
Namun bukan itu saja yang membuat ia semakin pulih dan kembali bersemangat, melainkan karena sang ayah telah menyetujui untuk melanjutkan pernikahannya dengan Louise.
Seperti saat sekarang ini, wanita itu begitu antusias saat memilih dan memilah gaun pengantin serta perlengkapan pernikahannya, padahal ia baru saja keluar dari rumah sakit dan luka dipergelangan tangannya itu pun masih belum kering sempurna.
"Nona Gisella, bagaimana jika kita sudahi saja untuk hari ini? Tuan Anderson telah mengingatkan saya untuk membatasi aktifitas anda agar tidak terlalu lelah," ucap seorang kepala asisten keluarga Anderson.
"Tidak bi Tika, aku masih belum selesai mencocokkan gaun pengantinku ini. Pernikahanku tinggal tiga bulan lagi dan aku ingin semuanya terlihat sempurna," balas Gisella menolak istirahat.
"Baik Non Gisell, tapi setelah ini selesai tolong segeralah beristirahat," pinta bi Tika.
"Baik Bi, jangan khawatirkan aku. Bibi carikan cemilan saja dan tolong bawakan kesini," balas Gisella meminta.
"Baik Non," patuh Bi Tika, kemudian wanita paruh baya itu pergi untuk membelikan beberapa cemilan untuk majikannya.
Gisella tersenyum sambil memandangi dirinya sendiri yang memakai gaun pengantin didepan cermin besar dan membayangkan jika dirinya sedang bersama dengan Louise tengah berdiri diatas altar pernikahan yang sama.
Tiba-tiba dia merasa gugup sendiri. "Oh Tuhan lancarkanlah pernikahanku dengannya, semoga tidak ada hambatan yang berarti," ucap Gisella penuh harap.
Wanita itu melenggak lenggokkan tubuhnya, sesekali melakukan gerakan berputar demi melihat kesempurnaan gaun yang akan ia kenakan nanti di pesta pernikahannya.
Lalu berdiri diam kembali didepan cermin dan tersenyum. "Louise, sebentar lagi kau akan menjadi milikku dan aku akan menjadi milikmu."
...----------------...
Perusahaan Horisson.
Disisi lain, suasana hati Louise berbanding terbalik dengan suasana hati Gisella. Semenjak pernikahan dirinya dengan Gisella dikumandangkan kembali oleh dua keluarga besar mereka, hati pria itu menjadi gelisah tak menentu.
Pasalnya Louise tidak ingin terikat oleh hubungan pernikahan, karena dengan menikah sudah pasti pria itu tidak akan bisa menjalani kehidupan bebas lagi.
"Sialll!! Sudah senang-senang pernikahanku dibatalkan, ini malah dilanjutkan kembali!" umpat Louise merasa gemas sekali, dengan semua keadaan ini.
__ADS_1
Tapi apalah daya, setelah melihat semua keluarganya bahagia dan tekadnya untuk berubah menjadi pria lebih baik pun, ia akhirnya mengambil keputusan yang tidak disukai selama ini, yaitu menikah.
Louise hanya bisa mendesaah pasrah, sesekali menyemangati dirinya yang hilang semangat. "Ayo Louise, hanya menikah dan setelah itu semuanya selesai. Tapi bagaimana kalau Gisella meminta anak dariku," batinnya kembali galau.
Karena Louise memang masih menyembunyikan satu hal lain dalam hidupnya, yaitu ia pernah melakukan operasi vasektomi diluar negeri kala itu, yang mengakibatkan dirinya tidak akan bisa membuahi seorang anak.
Hal nekad tersebut ia lakukan bukanlah tanpa sebab, karena Louise tidak ingin terikat oleh sebuah hubungan dengan seorang wanita. Akibat kegemaran buruknya selama berkuliah di Inggris terdahulu, yang tidak suka memakai pengaman saat bertarung dengan lawan mainnya.
Dan dengan begitu Louise pun terbebas, karena tidak akan ada wanita yang bisa menuntutnya untuk menikah, seperti alasan sedang mengandung anak darinya.
Selain itu Louise juga masih belum ada kepikiran untuk mempunyai keturuan dari wanita manapun juga, termasuk dari Gisella istrinya nanti.
Maka dari itulah Louise akan terus menyembunyikan rahasia besarnya ini, sampai ia memiliki waktu untuk kembali ke Inggris dan melakukan operasi pemulihan vasektominya, atau sampai ia benar-benar ingin memiliki seorang keturunan.
...----------------...
Puncak.
Sementara itu, berita pernikahan Gisella dan Louise yang kembali dilanjutkan akhirnya sampai juga ke telinga Evelyn dan hal tersebut langsung membuat dirinya turut bersuka cita.
"Tuan Paman pasti tampan sekali dan nona Gisella juga pasti sangat cantik saat memakai gaun pengantin. Ah aku jadi ingin hadir dipernikahan mereka dan melihat keduanya sama-sama berdiri diatas pelaminan," batinnya berseru lalu berubah murung.
"Tapi apa mungkin aku bisa hadir disana?" batinnya tidak yakin.
Evelyn menghembus nafasnya lembut dan itu membuat Ken berhenti mengajarinya sejenak.
"Evelyn, apa ada hal yang sedang mengganggu pikiranmu?" tanya Ken melihat Evelyn tidak bersemangat.
Evelyn menggeleng malas. "Tidak ada, lanjutkan saja kak Ken," balasnya lesu.
"Apanya yang ingin dilanjutkan, sejak dari tadi kau hanya melamunkan saja. Bahkan materi yang sudah ku ajari tidak ada satupun yang kau catat," ucap Ken menunjuk-nunjuk halaman didalam buku Evelyn yang masih terlihat polos.
"Oh masa sih," balas gadis itu tak menyadari.
Ken menepuk jidatnya dan menggelengkan kepala. "Evelyn, sepertinya hari ini kau sedang tidak fokus belajar. Bagaimana kalau kita sudahi saja les hari ini," saran Ken.
__ADS_1
Evelyn menggeleng cepat. "Jangan kak, bagaimana kalau tuan besar sampai tahu kalau aku hari ini tidak les sampai selesai. Dia pasti kecewa padaku," balasnya menolak.
"Kalau kau sudah tahu akan mengecewakan tuan besar apabila tidak mengikuti les ekstra hari ini, maka cobalah untuk tetap fokus pada pelajaranmu Evelyn!" ucap Ken menasehati.
Evelyn mengangguk-anggukkan kepala dan menatap wajah serius Ken yang sedang mengguruinya. "B-baiklah," balasnya patuh.
"Bagus, kalau begitu kita lanjutkan lagi materinya," tegas Ken.
Sementara itu Selvi selalu memantau dari jauh kegiatan tersebut, lalu memberikan informasi apa saja mengenai perkembangan Evelyn kepada Louise setiap hari.
Dan Louise sudah pasti akan merasa senang jika mendapatkan foto atau informasi yang berkaitan dengan perkembangan Evelyn setiap hari dari anak buah kepercayaannya itu.
Tapi anehnya Louise sama sekali tidak pernah merasa bosan sedikitpun akan hal tersebut, bahkan foto-foto menggemaskan Evelyn sewaktu dirinya masih kecil, hingga sudah beranjak dewasa pun masih berjejer rapi didalam galeri ponselnya hingga sampai sekarang ini.
Dan yang lebih mengejutkannya lagi adalah Louise tidak pernah menyimpan foto wanita lain selain Evelyn dalam ponselnya hingga selama itu.
Louise menghela nafasnya lembut, sambil menatap foto Evelyn yang baru saja dikirimkan oleh Selvi melalui ponselnya.
"Waktu sungguh cepat sekali berlalu, tidak terasa dia sudah tumbuh hingga sebesar ini," ucap Louise tersenyum melihat pertumbuhan anak pembantunya itu.
Bersambung.
...----------------...
Next \=\=> Bab selanjutnya.
Louise akhirnya menikah dengan Gisella, lalu disaat pesta pernikahaannya itu terjadi, Opa Bernadi yang termasuk salah satu tamu undangan keluarga Horisson, tidak sengaja bertemu dengan Evelyn.
Bagaimanakah reaksi Opa Bernadi saat pertama kali melihat Evelyn? Dimana wajah gadis itu sekilas mirip dengan wajah menantunya.
Nantikan di bab selanjutnya.
Jangan lupa memberikan like serta komentar yang membangun dan juga hadiahnya. Terima kasih.
__ADS_1