Anak Pembantu Milik Tuan Muda

Anak Pembantu Milik Tuan Muda
Bab 54. Jatuh ke kolam renang.


__ADS_3

Evelyn menggeser posisi berdirinya sedikit ke dalam lift untuk membagi sedikit ruang kepada seorang pria yang baru saja masuk.


Tidak ada banyak interaksi diantara keduanya, namun satu hal yang pasti. Pria itu selalu saja melirik kearah Evelyn, melalui cermin kaca pada dinding disebelahnya.


Hal tersebut membuat Evelyn merasa risih sekali, ia lantas menutupi wajahnya dengan rambut yang tergerai, agar pria itu tidak dapat melihat bagian wajahnya dengan jelas.


"Apa kau ingin turun ke lantai dasar?" ucap pria itu kepada Evelyn.


"I-iya," balas Evelyn sedikit gugup dan merasa seperti mengenal nada suaranya.


"Kalau begitu, kenapa kau keluar sendirian seperti ini? Apa kau tidak takut terjadi sesuatu padamu?" tanya pria itu yang ternyata adalah Louise.


"Mengapa anda bertanya seperti itu? Dan untuk apa aku takut berjalan sendirian? Selama ini aku tidak punya masalah dengan orang lain," balas Evelyn sambil beringsut ke sudut lift.


"Apa kau tahu, banyak kejadian tidak terduga disekitar kita. Misalnya tidak sengaja bertemu dengan seseorang, yang sudah lama tidak berjumpa selama beberapa tahun," ucap Louise bermain teka-teki.


"A-apa maksud anda? Aku benar-benar tidak mengerti?" tanya Evelyn merasa aneh dengan pria disebelahnya.


Louise mendekat dan berdiri di depan Evelyn. "Apa kau benar-benar tidak mengingatku lagi?" ucapnya.


Evelyn menciutkan diri dan menggeleng cepat. "Maaf, aku tidak mengenal anda. Tolong menyingkirlah, aku sedang terburu-buru," balasnya. Lalu mendorong pria itu sekuat tenaga agar tidak semakin mendekatinya.


Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada, Evelyn bergegas keluar dari lift selagi pintu itu masih terbuka lebar dan mempercepat langkah kakinya menjauh. Sesekali menoleh ke arah belakang untuk memastikan agar dirinya tidak diikuti oleh pria tidak dikenal.


Sedangkan Louise tersenyum melihat itu semua dan masih setia menatap gadis yang tengah berjalan tergesa-gesa didepan sana, hingga gadis itu menjauh dan menghilang dari pandangannya.


"Evelyn ... Tidak ku sangka anak pembantu milikku, telah menjadi wanita sempurna," gumam Louise. Kemudian diam-diam mengikuti kemana langkah kaki Evelyn pergi.


...***...


Beberapa saat kemudian, Evelyn berhenti tepat di area kolam berenang hotel, sambil berusaha mengatur nafasnya yang terengah-engah, akibat berjalan cepat sepanjang perjalanan tadi.


Sesekali mengedarkan pandangannya kesekeliling dan berharap tidak diikuti oleh pria asing itu lagi.


Evelyn menghela nafasnya lega, sambil memegangi dadanya yang berdegub kencang. "Syukurlah, pria itu ternyata tidak mengikutiku."


Lalu mencari tempat duduk ternyaman, untuk menghabiskan waktu selama dirinya tidak bisa tidur.


Evelyn memandangi suasana di tempat ia berada sekarang ini, dengan ditemani secangkir coklat hangat. Lalu Evelyn menatap aneh seorang pria yang tengah berenang didalam kolam.


"Dasar pria gila, sudah malam seperti ini malah berenang," gumam Evelyn sambil menyesap coklat hangatnya perlahan.


Gadis itu mengedarkan pandangannya kesekeliling, namun matanya kembali menatap setiap pergerakan dari pria yang sedang berenang didalam air.


Seperti ada daya tarik yang membuat ia terus saja menatap kearah siperenang tersebut. Hingga akhirnya tanpa sadar, Evelyn pun hanyut kedalam lamunannya sendiri.


"Andai aku bisa berenang," batinnya berangan.

__ADS_1


Tak berselang lama kemudian, Evelyn lantas tersadar dari lamunannya dan tidak menemukan dimana pun perenang itu berada. Baik didalam kolam maupun di sekitar daerah tersebut.


"Dimana dia, bukankah dia berenang disini tadi?" celoteh Evelyn penasaran.


Tak mau ambil pusing, gadis itu memilih menyesap coklat hangatnya kembali. Namun dirinya dibuat terkejut, karena tiba-tiba saja ia melihat si pria perenang tadi telah duduk disebelahnya dan sedang asyik mengusak rambutnya yang basah dengan handuk kecil.


"S-siapa kau?" tanya Evelyn syok, tatapannya tidak berhenti melihat kearah pria disebelahnya.


"Menurutmu aku siapa?" jawabnya dengan bertanya. Lalu mengangkat wajahnya itu agar terlihat lebih jelas.


"T-tuan paman!" ucap Evelyn setengah berteriak.


Louise tersenyum dan merasa puas sekali, karena dugaannya selama ini ternyatalah benar. Jika gadis yang sering ia jumpai adalah Evelyn.


"Evelyn, akhirnya aku berhasil melihat wajahmu secara jelas," ucap Louise dan Evelyn terbelalak, lalu meraba wajahnya yang sedang tidak memakai masker.


"Aku memang Evelyn, lalu apa hubungannya denganmu. Kita sudah tidak punya hubungan lagi tuan paman, jadi biarkan aku hidup bersama dengan keluargaku dengan tenang!" tegasnya.


Evelyn beranjak dari tempat duduknya dan hendak pergi, namun Louise segera mencekal pergelangan tangannya.


"Lepaskan tanganku tuan paman! Biarkan aku pergi dari sini!" tegas Evelyn sambil menghentak-hentak tangannya.


"Tunggu ... Kau bilang kita tidak ada lagi hubungan, lalu kenapa kau selalu saja menyebutku dengan kata tuan paman?" tanya Louise menarik senyumnya.


Evelyn terdiam sejenak dan menelan ludahnya susah payah. Merasa tidak tahu harus menjawab apa dengan pertanyaan tersebut, Evelyn pun menarik tangannya dengan paksa. "Lepaskan tanganku!"


"Sepertinya kau sudah lupa tuan paman, kalau kau dan keluargamu telah menipuku selama belasan tahun. Kau juga telah memfitnah keluargaku dan berkata jika mereka tidak menyayangi dan juga tidak memperdulikanku. Kau juga telah berbohong dan berkata yang menyakitkan hatiku, kalau aku ini adalah anak yang tidak diingankan!" geram Evelyn.


Hatinya selalu saja merasa sakit jika mengingat kejadian beberapa tahun silam. Dimana dia telah ditipu oleh keluarga Horrison selama ini, terutama oleh Louise sendiri.


"Maaf, tapi apa semarah itukah dirimu kepada tuan pamanmu ini. Sampai kau tidak ingin lagi memandang wajahku walah sekilas?" tanya Louise lalu menarik Evelyn agar mendekat kearahnya.


"Lepaskan aku! Selamanya aku tidak akan pernah bisa memaafkan dirimu tuan!" pekik Evelyn. Lalu menendang tulang kering pada kaki Louise, hingga pria itu mengaduh kesakitan dan refleks mengendurkan cengkraman tangannya.


Melihat kesempatan itu, Evelyn segera menarik tangannya sekuat tenaga, agar bisa terlepas dari cengkraman tangan Louise.


Namun apalah daya, tarikan tangan yang terlalu kuat, membuat Evelyn terhuyung kebelakang dan akhirnya jatuh ke dalam kolam.


"Tolong! Tolong! Aku tidak bisa berenang!" pekik Evelyn panik. Terlebih saat mengetahui jika kolam renang tersebut begitu dalam dan kakinya tidak sampai menapak dasar kolam.


"Evelyn!" pekik Louise. Tanpa banyak berpikir pria itu langsung terjun kedasar kolam untuk menyelamatkan Evelyn.


"Tolong! Tolong aku!" jerit Evelyn begitu takut sekali dirinya akan mati tenggelam.


Louise terus berenang dan berusaha menggapai tubuh Evelyn yang tidak bisa berhenti memberontak, hingga Louise terpaksa harus memeluknya erat agar bisa membawanya naik keatas permukaan air.


"Uhuk! Uhuk!"

__ADS_1


Evelyn terbatuk-batuk dan segera meraup wajahnya yang basah kuyup dengan kedua tangan. Ia lantas mengalungkan kedua tangannya erat-erat ke leher Louise agar tidak tenggelam lagi.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Louise.


Evelyn berusaha mengambil udara terlebih dahulu dan itu terlihat dari dada-nya yang kembang kempis mengatur nafas.


"Akh, Lepaskan aku!" pekik Evelyn tersadar dan melepaskan kedua tangannya yang melingkar pada leher Louise. Namun Louise enggan melepaskan rangkulan pada pinggangnya itu.


"Menjauhlah dariku, lepaskan tanganmu ini dari pinggangku!" Evelyn mendorong dada Lpuise agar melepaskan dirinya.


"Baik, aku akan melepaskanmu." Louise melepaskan rangkulannya dan otomatis Evelyn jatuh tenggelam lagi.


Dengan segera Evelyn melingkarkan kedua tangannya pada leher Louise. "B-baik, jangan lepaskan aku," ucapnya takut.


Louise terkekeh saat melihat wajah Evelyn yang ketakutan, lalu kedua tangan besarnya itu segera melingkar manja pada pinggang Evelyn.


"Sudah tahu takut? Masih ingin melawan dan tidak patuh lagi?" sindir Louise.


"Tolong bawa aku ke tepi tuan, aku tidak ingin berada di tengah-tengah seperti ini." ucap Evelyn tak nyaman.


Louise tersenyum sambil menatapi wajah Evelyn dewasa dari jarak dekat seperti ini dan entah mengapa tiba-tiba ada rasa yang timbul di dalam hatinya itu.


Rasa senang dan nyaman, serta rasa yang tidak pernah dia alami selama ini. Yaitu rasa ingin berdekatan terus menerus, bahkan rasa ingin memiliki seutuhnya.


"Tidak, sampai aku mendengar kau bersedia memaafkanku." tolak Louise.


Evelyn menatap kesal, ia merasa Louise mempermainkan dirinya. "Sudah ku katakan sebelumnya padamu, kalau aku tidak akan pernah bisa memaafkan dirimu tuan!"


Louise menarik senyumnya kembali, kemudian melepaskan pelukannya pada Evelyn.


"Jangan, jangan lepaskan aku ditengah-tengah kolam seperti ini!" pekiknya sambil memeluk erat Louise.


"Maafkan tuan pamanmu ini dulu, baru aku akan membawamu ke tepi kolam," ucap Louise.


Evelyn mengepal erat kedua tangannya dan menatap kesal pada Louise yang hanya berjarak beberapa centi meter saja darinya. "Kau pria licik dan kau juga pria penipu!" umpatnya kesal.


"Terserah kau mau bilang apa, tapi aku tidak akan membantumu ke tepi," balas Louise acuh. Kemudian meraih tangan Evelyn agar terlepas dari lehernya.


"Akh jangan lepaskan! Baiklah aku akan memaafkanmu tuan paman, aku memaafkanmu. Tapi tolong bawa aku ke tepi ya," pinta Evelyn memohon.


Louise mengulas senyum. "Bagus!" serunya. Kemudian menarik pinggang Evelyn agar mendekat dan membawanya berenang hingga ke tepi kolam.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2