
Mansion Horisson.
Tuan Horisson memilih pulang ke rumahnya, setelah Louise mamaksa dirinya untuk beristirahat di rumah saja, mengingat ia baru selesai melakukan perjalanan jauh sebelum bertemu dengan Evelyn.
"Daddy, untuk urusan pekerjaan di perusahaan hari ini biar Louise saja yang tangani. Daddy istirahatlah di rumah dan percayakan semuanya kepadaku," ucap Louise percaya diri.
Tuan Horisson pun merasa senang, karena semakin hari, Louise semakin bisa diandalkan.
Terutama dalam menjalankan bisnisnya dan hal tersebut memantapkan pria paruh baya itu untuk menyerahkan perusahaannya kepada Louise suatu hari nanti, karena menurutnya Louise sudah mampu menjalankan perusahaan milik keluarganya itu.
Akan tetapi senyuman diwajahnya itu seketika ia sembunyikan, ketika melihat sang istri datang menghampiri dirinya.
Pria itu segera memasang wajah datar dan dinginnya seperti balok es, lalu menepis tangan sang istri yang ingin menyentuhnya.
"Jangan sentuh aku!" ucap dingin tuan Horisson.
Nyonya Grace menarik uluran lengannya. "Sayang, mana Evelyn? Kenapa dia tidak datang ke rumah ini bersamamu?" tanyanya celingukkan.
Tuan Horisson menghembus nafasnya kasar. "Kau pikir aku sudah menemukan anak itu hah? Kalau pun sudah ketemu, aku yakin dia tidak akan mau kembali ke rumah ini. Ingatlah Grace ini semua adalah kesalahanmu. Jika terjadi sesuatu yang tidak-tidak, maka aku tidak akan pernah memaafkanmu!" sentaknya.
Lalu pria itu pergi meninggalkan istrinya yang terdiam membisu.
"Ya Tuhan, bagaimana ini. Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana kalau sampai terjadi hal yang tidak-tidak kepada gadis itu?" batinnya merasa khawatir sekali. Apalagi jika mengingat banyaknya kasus pemerkosaann dimana-mana tempat.
"Oh tidak! Jangan sampai itu terjadi, bisa mati aku!" cemasnya.
Nyonya Grace menggigit kuku jarinya, kemudian memikirkan cara agar ia bisa menemukan Evelyn bagaimanapun caranya dan bertekad akan membawa Evelyn kembali ke rumah ini, demi memperbaiki kesalahan yang pernah ia perbuat sebelumnya pada gadis itu.
...***...
Tak berselang lama kemudian, tuan Anderson tiba di kediaman tuan Horisson dengan raut wajah geramnya. Pria itu juga membawa beberapa lembar foto ditangan, berisi tentang semua kegiatan buruk Louise selama mengeyam pendidikannya di luar negara.
__ADS_1
"Anderson, ada perlu apa datang ke rumahku? Kenapa kau datang kesini tanpa menghubungiku terlebih dulu?" tanya tuan Horisson.
"Tuan Horisson, kedatanganku hari ini ke rumahmu adalah aku ingin membatalkan pernikahan anakku Gisella dengan anakmu Louise!" tegas tuan Anderson tanpa basa basi.
Tuan Horisson nampak terkejut dengan penyataan tuan Anderson, yang membatalkan rencana pernikahan anaknya itu secara tiba-tiba.
Padahal jika dihitung-hitung, pernikahan itu tinggal beberapa bulan lagi. Bahkan semua persiapan sudah hampir sempurna.
"Apa alasanmu?" tanya singkat tuan Horisson.
"Ini alasanku!" tegas tuan Anderson seraya melemparkan beberapa lembar foto diatas meja rekan bisnisnya.
Tuan Horisson mengutip satu persatu foto tersebut dan ia lantas tercengang. "L-louise ... Tapi bagaimana bisa dia bersama dengan wanita lain dan berbeda-beda pula?" gumamnya bertanya.
"Kenapa tuan Horisson, apa kau terkejut atau kau memang sedang berpura-pura tidak tahu tentang semua foto-foto tidak bermoral anakmu itu!" ucap tuan Anderson.
Tuan Horisson begitu tidak mengerti. "Apa maksudmu tuan Anderson? Pura-pura tidak tahu, foto-foto tidak bermoral? Apa kau sedang memfitnah anakku?" tanyanya balik.
"Tuan Horisson, aku tidak sedang memfitnah anakmu. Tapi kenyataannya anakmu itu adalah seorang pria bedjat dan aku mendapatkan informasi ini dari anak buahku yang kebetulan sedang menemaniku bekerja di Inggris beberapa hari yang lalu."
"Jadi tuan Horisson, mulai hari ini hubungan kita sudah tidak ada lagi dan aku sendiri secara pribadi membatalkan pernikahan putriku, karena aku tidak sudi menikahkan putriku dengan pria bedjat seperti putramu!" tegas tuan Anderson. Kemudian pria paruh baya itu meninggalkan tuan Horisson yang hanya terdiam membatu.
"L-louise, tidak mungkin!" ucap tuan Horisson sambil meremas foto-foto memalukan itu ditangannya.
Tuan Horisson menghela nafas kasar, namun ia kesal bukan karena batalnya pernikahan Louise, melainkan dengan perilaku tidak pantas putranya itu selama kuliah di Inggris.
Apalagi kejadian tersebut ditemukan oleh orang lain sebelum dirinya, membuat tuan Horisson menjadi malu. Karena nama baiknya sudah pasti akan tercoreng dimata masyarakat umum, terlebih bagi nama Louise sendiri.
Selain itu tuan Horisson juga merasa kecewa sekali dan tidak menyangka jika putra kebanggannya itu memiliki penyakit gemar memainkan wanita.
...***...
__ADS_1
Sementara itu nyonya Grace yang mendengar pernikahan Louise dengan Gisella dibatalkan pun, dengan segera menghampiri suaminya.
"Sayang, kenapa tuan Anderson pulang dari rumah kita dalam kondisi marah-marah seperti itu dan kenapa dia bilang inginmembatalkan pernikahan anak kita?" tanyanya tidak tahu menahu.
Tuan Horisson menunjuk foto-foto yang diberikan oleh tuan Anderson kepada nyonya Grace, walau tanpa banyak kata-kata, namun lembaran foto-foto tersebut mampu membuat kaki nyonya rumah itu mendadak lemas.
"L-louiseku, ini semua tidak mungkin!" tegas nyonya Grace tidak percaya.
"Sayang, ini pasti kerjaan orang iseng dan kau jangan lantas percaya dengan semua foto-foto itu," ucap nyonya Grace membela.
Tuan Horisson menatap tajam istrinya. "Kau pikir tuan Anderson berbohong? Apa kau tidak lihat wajahnya yang begitu marah dan kecewa kepada keluarga kita? Kalau ini adalah perbuatan orang iseng, lalu apa untungnya untuk orang itu!" sentaknya.
Nyonya Grace berusaha meredam amarah suaminya itu. "Aku tidak tahu sayang, tapi tolong jangan marah pada Louise. Coba bicarakan hal ini baik-baik dengannya, kita juga harus bertanya padanya terlebih dahulu bukan."
"Betul, aku akan bicara padanya saat ini juga. Tapi jangan larang aku bertindak tegas pada anak itu, jika semua bukti ini memang benar adanya!" tegas tuan Horisson. "Santos!" pekiknya memanggil.
Tak butuh waktu lama, pak Santos pun telah menunjukkan batang hidungnya. "Iya tuan besar," ucapnya setengah berlari.
"Antar aku ke perusahaan!" titah tuan Horisson.
"Baik tuan," patuh pak Santos dan bergegas mengambil mobil untuk mengantar sang majikan.
Sedangkan nyonya Grace begitu khawatir mengenai keadaan Louise setelah nanti bertemu dengan ayahnya di perusahaan. Apa yang akan terjadi disana, ia juga tidak dapat memastikan.
Namun satu hal yang pasti, ia selalu berharap tidak akan terjadi hal buruk untuk semua masalah yang terjadi saat ini.
Wanita paruh baya itu bertambah frustasi dan itu terlihat dari jumlah kerutan wajahnya yang semakin bertambah banyak, karena pusing dengan masalah yang terjadi baru-baru ini.
Dimana satu masalah mengenai Evelyn belum selesai, kini masalah baru mengenai Louise sudah muncul ke permukaan.
.
__ADS_1
.
Bersambung.