
Evelyn menghela nafas lega, setidaknya ia punya alasan dan menjauh sejenak dari suasana tegang akibat lamaran tak terduga dari Steve.
Wanita itu pergi dengan raut wajah penasaran dan setibanya di depan restoran, Evelyn kembali memperhatikan orang-orang sekitar tempat ia berdiri saat ini, namun tidak ada satu orang pun yang patut dicurigai.
"Siapa yang meneleponku?" batin Evelyn bertanya-tanya, karena nomor tersebut sudah menghubunginya sejak dari tadi pagi.
Lalu mengangkat panggilan tanpa nama tersebut, karena penasaran dan juga mengganggu.
"Hallo," sapa Evelyn.
"Hallo Evelyn," sahut Louise.
"T-tuan paman!" sahut Evelyn terkejut, karena mengenali suara tersebut. Lalu menatap ke sekelilingnya kembali sambil terus waspada.
"Kenapa terkejut seperti itu? Apa kau berpikiran aku tidak mengawasimu selama berada disini?" ucap Louise dan itu membuat Evelyn semakin tak tenang.
"Apa yang kau inginkan tuan? Kenapa kau mengikutiku?" cecar Evelyn.
"Kenapa? Apanya yang salah? Ini adalah hari kelulusanmu, aku hanya ingin mengucapkan selamat kepadamu Evelyn. Kau terlihat cantik sekali saat memakai setelan kebaya dan malam ini kau juga terlihat cantik saat makan malam bersama dengan pria lain," balas Louise enggan menunjukkan diri.
Evelyn menelan ludahnya susah payah dan kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling. "Tidak perlu basa basi lagi tuan, katakan saja apa yang ingin kau bicarakan. Kenapa kau selalu mengikutiku?"
"Aku hanya ingin menangih janjimu," balas Louise.
Evelyn menggigit bibir bagian bawahnya, sambil meremas gemas gaun malamnya karena kesal. "Hari ini saja belum usai tuan, tidak perlu mengingatkanku. Aku akan menepati janjiku padamu, apa kau puas!" sentaknya.
"Jangan marah, kau terlihat menggemaskan jika marah-marah seperti itu," goda Louise.
"Apa kau sudah selesai bicara, karena aku sedang sibuk!" ketus Evelyn hendak mematikan. Namun Louise melarangnya. "Apa lagi!" lanjutnya.
"Evelyn, aku ingin kau menolak lamaran dari teman priamu itu!" balas Louise tegas.
Evelyn menautkan kedua alisnya dan mendengus kesal. "Apa hubungannya denganmu tuan? Aku terima atau tidak itu hakku dan kenapa kau selalu saja mencampuri urusan pribadi orang lain?" tanyanya kesal.
"Tolak atau aku akan membuatmu tidak bisa tidur tenang malam ini!" tegas Louise tidak mau tahu. Lalu segera mematikan ponselnya sebelum Evelyn sempat membalas.
"Halo! Hei!"
Evelyn mengumpat kasar dan memaki pria yang selalu saja membuatnya jengkel. "Dia menyebalkan sekali! Selalu saja mengancamku dengan hal yang tidak-tidak!"
Wanita itu mengacungkan jari tengahnya keseluruh arah tempat ia berdiri, berharap agar Louise melihat aksi muak terhadapnya. Lalu kembali masuk ke dalam restoran untuk bertemu dengan Steve kembali.
...***...
"Steve, maaf membuatmu menunggu." Evelyn menarik kursinya dan duduk dihadapan Steve.
"Tidak apa Eve, aku mengerti." Steve memasukkan kembali kotak cincinnya dan mengurungkan niat untuk melamar Evelyn.
__ADS_1
Evelyn melihat hal tersebut, ada perasaan tidak enak hati saat melihat sahabat baiknya berubah murung.
"Steve ku mohon maafkan aku, aku tidak bisa menerima lamaranmu ini. Kau pria baik dan juga pengertian, selama ini aku hanya bisa menganggapmu sebagai teman baik. Maafkan aku Steve," balas Evelyn.
Steve menunduk dan mengangguk-angguk, raut wajah kecewa sedikit terlukis diwajahnya. Lalu memantapkan untuk menatap wajah Evelyn lagi.
"Tidak apa Eve, jangan merasa bersalah seperti itu. Aku mengerti, setidaknya aku tidak menyesal karena telah mengutarakan perasaanku kepadamu sebelum kau pergi dan telah tahu jawabannya. Tapi Eve, ku mohon jangan hapus pertemanan kita dan jangan pernah lupakan aku," balas Steve tegar.
"Steve, aku tidak akan pernah melupakanmu. Kau pria berhati lembut yang selalu ada untukku, mana mungkin aku bisa melupakan semua itu," balas Evelyn tersenyum.
Steve berusaha tersenyum. "Terima kasih, hari sudah malam. Bagaimana kalau aku mengantarmu pulang ke rumah," ajaknya sambil mengulurkan tangan dan Evelyn mengangguk setuju lalu menyambut uluran tangan Steve yang ingin mengantarnya pulang.
...----------------...
Cluster keluarga Bernadi.
"Terima kasih atas tumpangannya," ucap Evelyn.
"Sama-sama," balas Steve tersenyum.
"Kalau begitu aku masuk ke dalam ya," ucap Evelyn hendak berbalik
"Tunggu Eve!" panggil Steve lalu keluar dari mobilnya.
"Ya ada apa Steve? Apa ada sesuatu?" tanya Evelyn.
Evelyn menepuk-nepuk punggung Steve. "Aku tidak akan pernah melupakanmu Steve," balasnya menenangkan.
Steve mengangguk dan mengurai pelukannya dengan rasa berat sekali. "Jika sudah sampai di Indo, kabari aku. Kau harus selalu mengabari kondisimu. Baik itu senang ataupun sedih."
Evelyn mengangguk kecil. "Tentu saja, sekarang pulanglah Steve. Terima kasih sekali lagi atas perhatianmu padaku selama ini."
Steve mengangguk dan kembali masuk ke dalam mobilnya, sedangkan Evelyn masih setia menunggu Steve memacu kendaraannya hingga menjauh, sebelum dirinya masuk ke dalam rumah.
...***...
Beberapa saat kemudian.
Evelyn menghela nafasnya lega, setidaknya Steve tidak berubah marah saat cintanya ditolak saat makan malam tadi. Gadis itu hanya bisa berharap, Steve dapat menemukan pasangan yang cocok dan sesuai untuk dirinya.
Lalu tiba-tiba ia menerawang masa depannya sendiri, pria seperti apa yang akan menjadi pendampingnya. Sambil melangkahkan kaki menuju pintu gerbang rumah.
Belum sempat Evelyn mendorong pintu gerbang besi, ponsel miliknya berbunyi dibarengi dengan masuknya sebuah pesan.
Temui aku sekarang di belakang rumahmu!
Evelyn terbelalak. "D-dia!" ucapnya berdebar. "Tidak mau!" tolaknya tegas.
__ADS_1
Temui aku atau aku yang akan menemuimu!
Evelyn kembali menatap kesekitar dan berjalan menuju belakang rumah untuk menemui Louise, sesekali menggerutu karena kesal dengan tingkah sang tuan paman yang sok misterius.
"Mau apa lagi dia? Tidak bisakah aku hidup tenang untuk hari terakhirku tinggal disini hah!" gerutu Evelyn sambil menendang kerikil yang menghalangi jalannya.
Dan sesampainya di belakang rumah, Evelyn dibuat kesal. Karena tidak ada satu orang pun dibelakang tembok rumahnya.
"Dasar penipu! Harusnya aku tahu kalau pria itu hanya sedang mempermainkanku! Lebih baik aku pulang saja!" umpat Evelyn gemas.
Namun belum sempat ia berbalik untuk pulang, dirinya tiba-tiba ditarik masuk ke dalam sebuah lorong pemisah jarak antara rumah yang satu dengan rumah yang lain didekatnya itu.
"Akh!" pekik Evelyn terkejut bukan main.
Terlebih saat melihat sesosok pria berbaju serba hitam telah mengunci pergerakannya hingga merapat ke dinding.
"S-siapa kau?" tanya Evelyn sambil berusaha menelan ludahnya yang tercekat.
"Ini aku, Tuan pamanmu," jawab Louise dan tersenyum lembut menatap Evelyn.
"K-kau benar-benar ada disini Tuan," ucap Evelyn tidak menyangka jika Louise terbang sejauh ini hanya untuk bertemu dengannya.
"Apa kau berharap pria lain yang datang menemuimu?" tanya Louise dengan tatapan tak mengenakan.
Evelyn menggeleng cepat. "T-tidak, untuk apa kau datang kesini?"
"Untuk menemuimu dan memastikan kalau kau tidak kabur dariku," jawab Louise.
"Aku tidak akan kabur, jadi sekarang pergilah kau dari sini Tuan!" balas Evelyn ketus.
Louise berdecih. "Kenapa sikapmu berubah kasar saat bertemu denganku, tidak selembut saat bersama dengan pria tadi. Apa ini kah pelayanan yang ku dapatkan dari anak pembantu kesayangan milikku ini?" ucapnya sambil mengikis jarak.
Evelyn mengepal erat kedua tangannya. "Menyingkirlah Tuan, kau membuatku tidak nyaman."
"Pria tadi boleh memelukmu, kenapa aku tidak boleh. Apa kau tidak merindukan aku Evelyn?" ucap Louise semakin mengeratkan pelukannya.
"Untuk apa aku merindukanmu tuan, besok juga kita akan bertemu. Jadi ku mohon menjauhlah dariku!" pinta Evelyn sambil menahan dada Louise yang semakin mendesak dirinya.
"Aku sudah datang jauh-jauh begini, setidaknya berikan aku satu ciuman untuk pergi." balasnya tak mau tahu.
Evelyn memalingkan wajahnya, akan tetapi Louise tetap saja berhasil menjangkaunya. Dan alhasil pria itu pun berhasil merampas paksa sebuah ciuman kembali.
.
.
Bersambung.
__ADS_1