Anak Pembantu Milik Tuan Muda

Anak Pembantu Milik Tuan Muda
Bab 116. Malam pertama (21 plus)


__ADS_3

...WARNING!!!...


...BAB INI MENGANDUNG UNSUR 21+, JIKA KALIAN YANG MASIH BERUSIA DIBAWAH 21 TAHUN, DISARANKAN UNTUK SKIP BAB INI. DAN JIKA ADA BOCIL YANG KETAHUAN MEMBACA BAB INI, MAKA AUTHOR SUMPAHIN MATANYA BINTITAN....


...SEKIAN TERIMA KASIH, SELAMAT MEMBACA, SELAMAT KEPANASAN....


...SALAM NGANU DARI AUTHOR!!...


...----------------...


...----------------...


Malam harinya.


Louise menutup pintu kamarnya dan menggiring Evelyn agar duduk di tepi ranjang, malam ini adalah malam pertama mereka setelah resmi menikah.


Selain itu malam ini juga Evelyn akan tidur di kamar utama, bersama dengan sang suami sebagai seorang istri sah, sekaligus menantu keluarga besar Horisson.


Louise memandangi Evelyn dari ujung kaki hingga puncak mahkotanya, wanita itu begitu cantik dalam balutan gaun pengantin putih.


Membuat Louise terpesona sekaligus menegang pada bagian bawahnya, hingga celananya itu menyembul.


"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Evelyn penuh curiga.


"Kenapa? Apanya yang salah memandangi istri sendiri?" balas Louise sambil mendekati Evelyn.


"Tidak ada yang salah, cuma aku risih sekali kalau ditatap seperti ini." Evelyn segera menunduk untuk menghindari tatapan mata Louise.


Namun kedua netranya dibuat terbelalak, saat melihat ada bagian dari dalam celana Louise yang menyembul seakan ingin keluar.


"I-itu," tunjuk Evelyn.


"Ya ini milikmu," balas Louise percaya diri.


Pria itu seakan tidak ingat ulahnya sebulan lalu, yang pernah membuat anak gadis orang sampai trauma hingga tersakit-sakit.


Ia kini justru mendekap Evelyn agar tidak lari, walau istrinya itu telah mengingatkan kepadanya untuk tidak bermain sampai traumanya benar-benar hilang.


"Jangan Louise! Apa kau tidak ingat dengan perjanjian kita, kau tidak akan melakukan itu sampai aku benar-benar siap kan?" ucap Evelyn mengingatkan sambil menahan tangan Louise yang ingin mempeloroti gaunnya.


Namun Louise nampaknya tidak peduli. "Itu kan tadi, tapi setelah melihatmu disini. Aku jadi berubah pikiran," ucapnya tidak tahan lagi menahan godaan yang ada didepan mata.


"T-tapi," ucap Evelyn terbata.


Louise menarik tengkuk Evelyn dengan satu tangan, kemudian membungkam mulut istrinya yang nampak kikuk itu. Lalu satu tangannya lagi ia gunakan untuk menanggalkan apapun yang melekat pada tubuh Evelyn.


Sepertinya pria itu telah terbakar gairah, hingga nafsunya kini telah merangkak naik hingga ke puncak ubun-ubun, dan menutupi kedua matanya dengan kabut hasrat yang menggelora.


Ia menggunakan kemahirannya sebagai seorang pemain wanita handal, yang selalu memancing wanita agar masuk ke dalam permainan liarnya.


"Oh tidak," batin Evelyn.

__ADS_1


Wanita itu merasakan hal yang lain selain ketakutannya saat ini, seakan Louise tengah membimbingnya untuk masuk ke dalam dan menikmati permainan.


Tak butuh waktu lama bagi Louise membuat tubuh Evelyn polos seperti bayi, pria itu segera mengungkungnya. Louise mencumbui ceruk leher Evelyn dan bermain-main dibelakang telinganya hingga wanita itu bergelinjang geli dan meremang tidak karuan.


"Aah ..." desaah Evelyn lolos begitu saja. Dan hal itu membuat Louise semakin bersemangat.


Ia pun tidak ingin melewatkan kesempatan lain, seperti memberikan tanda cinta sebanyak mungkin pada tubuh wanita yang sangat ia cintai.


Dan Louise tidak henti-hentinya menyapu habis seluruh tubuh mulus istrinya yang telah melemas tidak berdaya, dan Evelyn mulai menerima bahkan menikmati permainan Louise yang menurutnya luar biasa.


"Jadi inikah nikmatnya bercinta?" batin Evelyn mengikuti nalurinya yang terpancing. Terlebih saat Louise mulai memainkan daerah sensitifnya, Evelyn benar-benar seperti dimanjakan oleh pria perkasanya itu.


Tak berselang lama kemudian, Louise telah membuka habis seluruh pakaiannya. Ia kembali merangkak naik untuk mengungkung raga sang istri, yang telah siap menerima tahap selanjutnya.


Louise menyeringai, ketika Evelyn terbelalak melihat benda pusakanya saat telah berdiri tegak sempurna.


"T-tunggu dulu sayang, a-apa kau yakin kali ini rasanya tidak sakit?" tanya Evelyn terbata. Ia kembali tegang karena teringat akan rasa sakit saat diperkosa oleh Louise dulu.


"Tidak honey, percayakan saja padaku." balas Louise terdengar lirih karena menahan hasrat.


Namun pria itu tidak ingin gegabah, sekuat mungkin dirinya menahan keinginan untuk menggempur terlebih dahulu, sebelum Evelyn merasa nyaman akan sentuhannya.


Ia kembali mencumbui istrinya dan semakin gencar memainkan area sensitif itu agar gairah wanita itu bangkit sempurna.


Louise menyesap kuat pucuk himalaya Evelyn, hingga wanita itu bergelinjang, sesekali melenguh nikmat.


Sementara itu tangannya sibuk menggapai area lembah hitam dibawah sana yang sudah terasa basah. Dan dalam sekali tusukan, jari tengah Louise telah tenggelam sempurna. Diiringi suara desahaan Evelyn yang keluar begitu saja.


Membuat Evelyn meremang tidak karuan, ia meremass kuat rambut Louise, sambil menengadah keatas dengan kedua mata terpejam dan mulut yang menganga.


Sesekali erangan serta desaahan keluar dari bibir mungil Evelyn dan hal tersebut membuat Louise semakin gencar mempermainkan lembah hitamnya.


Ia kembali menyapu daerah sensitif yang lain denhan agresif dan membenamkan wajahnya pada ceruk leher Evelyn, lalu mengusaknya disana.


Terkadang wanita itu terkekeh geli, sesekali bergelinjang kesana kemari. Merasakan rasa nikmat dan geli bercampur aduk menjadi satu.


Hingga pada akhirnya tubuh Evelyn menegang, ia meremas rambut Louise lebih kuat dari sebelumnya. Dan Louise menyadari hal tersebut, dimana gelombang kenikmatan akan segera keluar dari tubuh Evelyn.


Pria itu semakin cepat memainkan jarinya didalam sana, sesekali memandangi wajah sensual Evelyn yang semakin menggoda dirinya.


"Ahh!" desah Evelyn. Wanita itu menggeleng kesana kemari, karena tidak mengerti ada rasa lain yang bergejolak didalam tubuhnya.


"Keluarkan saja honey dan nikmati sensasinya," bisik Louise seperti menunggu.


Evelyn terpejam dan ia tersenyum, wanita itu mengikuti arahan Louise dan beberapa saat kemudian sebuah gelombang nikmat akhirnya membuncah keluar.


"Arrghh ..." pekik Evelyn.


Ia baru saja merasakan nikmat setelah permainan jari tangan Louise. Tubuhnya pun melemas seketika, dadanya naik turun dengan cepat dan nafasnya terdengar memburu.


Louise tersenyum puas sambil memandangi wajah Evelyn yang berkeringat dan itu membuatnya semakin bergairah. Dengan cepat pria itu memasang kuda-kudanya, lalu mengunci kedua tangan Evelyn agar tidak banyak bergerak.

__ADS_1


Karena kali ini, pria itu akan mengambil gilirannya. Senjatanya telah siap dan dalam sekali hentakan, pusaka Louise telah tenggelam sempurna didalam lembah hangat dibawah sana.


Dan mereka sama-sama memekik nikmat saat penyatuan itu terjadi.


Evelyn menggigit bibir bagian bawahnya dan menatap Louise yang masih terpejam menikmati kedutan dibawa sana.


"Oh sempit sekali," gumam Louise.


Pria itu sudah tidak sabar ingin sekali menghentak-hentakkan senjatanya, namun ia tidak boleh terburu-buru. Karena rintihan Evelyn masih terdengar samar ditelinganya.


Perlahan tapi pasti, Louise mulai menggerakkan pinggulnya dan memberikan sensasi nikmat agar Evelyn terbiasa akan kehadiran benda pusaka yang baru saja masuk ke dalam intinya itu.


"Hmm ..."


Evelyn kini mulai menikmatinya, itu terlihat dari gerakan tubuhnya yang mulai melemas. Hal tersebut dimanfaatkan oleh Louise untuk menampah tempo hentakkannya.


Kini mereka berdua sama-sama meraung, mendesaah bahkan mengerang satu sama lain. Terkadang saling menyebut nama dan perasaan cinta satu sama lain.


"Ah Evelyn, kau nikmat sekali. Aku mencintaimu," racau Louise seperti dimanjakan oleh pijatan lembut nan sempit milik Evelyn.


"Aku juga mencintaimu Louise," lirih Evelyn. Tubuhnya bergoyang kesana kemari mengikuti hentakan kuat Louise.


Hingga pada akhirnya gelombang nikmat menerpa mereka berdua, dan Louise semakin mempercepat tempo hentakannya.


"Ah sayang, aku mau keluar!" erang Louise. Ia meracau tidak karuan ini kali pertamanya ia tidak kuat bertahan lama karena menghadapi milik Evelyn yang terlalu nikmat.


Namun sebagai pemain handal, Louise menahannya demi memberikan servis terbaik untuk sang istri agar bisa mengeluarkan nikmat secara bersamaan.


"Aku juga sayang," sahut Evelyn dengan nafas terengah-engah.


Dan tak berselang lama kemudian, Evelyn telah berada dipuncaknya. Ia kembali menegang, disusul oleh Louise yang sama menegang juga dan dalam hitungan detik setelah itu, keduanya sama-sama melakukan pelepasan.


Diiringi dengan jerit ranjang penuh kenikmatan, serta keluarnya lahar hangat memenuhi seluruh inti Evelyn.


"Eugh!" lenguh Louise seraya menekan habis seluruh laharnya.


Lalu setelah itu Louise memandangi wajah Evelyn yang telah terkulai lemas, sungguh pertarungan sengit yang pertama kali ia lakukan atas dasar cinta, dimalam pertamanya bersama dengan sang istri.


"Aku mencintaimu," lirih Louise lalu membelai wajah dan mengecup bibir sang istri.


.


.


Bersambung.


...----------------...


Hai readers setia, setelah ini Anak Pembantu Milik Tuan Muda akan memasuki bab-bab terakhir.


Mohon dukungannya untuk karyaku ini dan jangan lupa mampir dan dukung karyaku yang baru. Judulnya Bad Boy dan Gadis Desa.

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2