
Mansion Louise.
Setelah usahanya berhasil dan puas menikmati tubuh Louise semalaman, nyatanya hal tersebut belum dapat membuat hati Gisella merasa puas.
Pasalnya, selama menikmati aktifitas panasnya dengan sang suami, Gisella samar-samar mendengar Louise kerap kali menyebut nama Evelyn disetiap racauan dan erangann maupun disetiap dessahannya.
"Agh Evelyn kau cantik sekali. Bagaimana dengan permainanku ini. Eugh ... Aku menginginkanmu, kau hanya boleh menjadi milikku seorang."
Itulah salah satu racauan Louise yang masih terngiang-ngiang di telinga Gisella sampai detik ini dan sudah tentu hatinya terasa sakit, saat mendengar Louise menyebut nama wanita lain, terlebih wanita itu adalah anak pembantunya yang telah lama pergi.
"Jadi, kemarin malam itu. Louise berpikir dan beranggapan kalau wanita yang sedang ia gagahi adalah si Evelyn pembantu ja-lang itu? Apa selama ini Louise memang memendam rasa terhadap Evelyn?" gumam Gisella mencoba mencerna kembali.
"Apa mereka masih menjalin hubungan? Apa sikap acuh dan jarang pulangnya Louise ke rumah adalah karena Evelyn?" batinnya menduga-duga seperti itu.
"Tapi bagaimana bisa dia dan Louise memiliki hubungan, bukankah Evelyn sendiri tidak berada di negara ini. Apa jangan-jangan Louise diam-diam mengejarnya hingga ke luar negeri, lalu mereka selalu bertemu dan melakukan hal itu dibelakangku?" terka dan pikir Gisella mulai negatif.
Hingga pada akhirnya wanita itu pun merasa kesal sendiri dan mengamuk, sambil melempar apapun benda yang berada sekitarnya.
"Breng-sek! Wanita murahan! Dasar ja-lang! Beraninya menggoda suamiku! Kalau benar seperti itu, aku tidak akan segan-segan menghajarmu Evelyn!" geramnya hilang kendali dan berteriak gusar termakan pikiran negatifnya sendiri.
Lalu, Gisella memutuskan untuk memantau kegiatan Louise setiap hari secara diam-diam, demi memastikan kecurigaannya baru-baru ini.
...----------------...
PT Indo Berlian Perkasa.
Disisi lain Nyonya Merry mendatangi perusahaan Opa Bernadi untuk membicarakan sesuatu. Setelah sebelumnya mengalami penolakan beberapa kali saat menghubungi orang yang bersangkutan.
"Mau apa kau datang kemari?" tanya Opa Bernadi menatap tajam Nyonya Merry dan terkejut melihat wanita itu masih hidup.
"Kenapa sulit sekali menghubungimu Tuan, bahkan kau tega sekali sampai menyuruh anak buahmu untuk melenyapkan aku!" balas Nyonya Merry penuh kekesalan.
"Itu salahmu sendiri karena telah berani mengancamku dan mulai kurang ajar padaku!" ucap Opa Bernadi menatap tak suka.
"Sekarang katakan apa maumu? Setelah ini jangan minta apapun padaku, karena kita tidak punya ikatan hubungan apapun lagi!" ucapnya sambil membuang muka.
"Tuan besar, aku ingin kau menerima putraku bekerja diperusahaan ini dan memberikannya jabatan bagus serta gaji yang tinggi!" pinta Nyonya Merry langsung ke intinya.
Opa Bernadi berdecih. "Putramu, kenapa tidak bekerja di perusahaan ayahnya saja. Maaf, karena aku tidak dapat menyetujui keinginanmu itu."
__ADS_1
Nyonya Merry mengepal erat kedua tangannya. "Baiklah kalau begitu, maka jangan salahkan aku membocorkan semua rahasia burukmu itu kepada cucumu dan juga kepada masyarakat luas!" ancamnya.
"Cih! Silahkan saja lakukan itu kalau kau memang sudah bosan hidup, asal kau tahu saja Merry aku tidak takut dengan ancamanmu! Sekarang pergilah dari sini dan jangan pernah meminta apapun padaku atau mengancamku lagi!" tegas Opa Bernadi sambil menunjuk pintu keluar.
Nyonya Merry menghembus nafasnya kasar. "Baiklah, kalau itu yang kau mau. Aku harap kau tidak menyesal nantinya!" ucap wanita itu lalu keluar dari ruangan Opa Bernadi dengan perasaan kesal.
Opa Bernadi tidak menanggapi perkataan penuh ancaman tersebut, bahkan meminta Pak Christ untuk mengusir Nyonya Merry agar keluar dari perusahaannya dengan segera.
Nyonya Merry menepis tangan-tangan para ajudan Opa Bernadi dan menatap gedung bertingkat dihadapannya. "Baik, kalau begitu kau yang cari gara-gara denganku tuan besar!" ucapnya pasti, sebelum akhirnya pergi dari perusahaan itu.
...----------------...
Sore harinya.
Semenjak kejadian semalam, Louise memutuskan untuk tidak pulang ke rumah dan akan menginap disalah satu kamar apartemen pribadi miliknya selama beberapa minggu atau bahkan tidak pulang lagi untuk selamanya.
Sebab apa? Sebab Louise tidak ingin melihat wajah mesum Gisella dan terjebak lagi dengan aksi kotor dari istri sahnya itu. Selain itu ia juga merasa jijik sekali dengan tingkah Gisella yang menurutnya memiliki kelainan sekssual.
"Sumpah demi apapun aku tidak akan kembali ke rumah itu jika masih ada dia, aku tidak habis pikir, kenapa wanita itu berulah seperti wanita rendahan saja," ucapnya tak menyangka, dengan pola pikir Gisella yang ada saja akalnya untuk mencuri kesempatan seperti kemarin malam.
Seperti terkena karma dari perbuatan nakalnya sewaktu lalu dan sekarang ini ia sedang menerima akibatnya, yaitu memiliki istri yang naf-suan.
Selain itu akibat kejadian kemarin malam, Louise pun terpaksa harus bekerja lembur demi menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda.
Seperti saat sekarang ini, sudah jam 10 malam lebih, namun pekerjaannya masih saja menumpuk.
"Ini semua gara-gara Gisella, jika dia tidak menjebakku. Maka aku tidak akan mengalami kerepotan pekerjaan seperti ini!" ucapnya gemas sekali.
Terlebih saat mengetahui laporannya itu harus selesai esok hari, Louise pun berubah frustasi. Dan tak heran rambutnya pun menjadi berantakan, akibat kepusingan karena kekurangan waktu dan tenaga.
"Siapa lagi yang bisa membantuku?" gumamnya dalam hati.
Louise terlintas satu nama, dan kebetulan berada didalam apartemen yang sama. "Evelyn, apa dia mau membantuku? Tapi ini sudah malam," ucapnya lalu ragu-ragu menghubungi.
Tak ada pilihan lain, Louise pun menghubungi nomor Evelyn dan berharap gadis itu dapat membantunya mengerjakan laporan penting.
"Halo," jawab Evelyn dengan suara paraunya membuat Louise seketika menelan ludahnya susah payah.
"Maaf, apa kau sudah tidur?" tanya Louise memastikan.
__ADS_1
"Belum, baru saja mau pulas. Ini siapa?" tanya Evelyn yang saat ini sedang setengah sadar, sesekali menguap menahan kantuk.
"Ini aku, tuan pamanmu." Louise menjawab pertanyaan itu.
"Apa! Ada perlu apa bapak menghubungiku malam-malam begini? Apa bapak tidak punya jam di rumah hah? Ini sudah malam," cerocos Evelyn setengah ketus.
"Evelyn, maaf ini urgent. Bisakah aku meminta tolong padamu agar membantuku mengerjakan laporan untuk meeting besok?" harap Louise.
"Kenapa tidak minta bantuan sama kak Ken atau karyawan yang lain?" balas Evelyn malas.
"Mereka sibuk dan hanya kau karyawan pemalas yang aku punya," balas Louise menyindir.
Evelyn mendengus kesal dan itu terdengar hingga ke telinga Louise sendiri. "Baik, tapi ingat ini tuan paman atau bapak Louise yang terhormat. Bantuan ku kali ini tidaklah gratis," balasnya memanfaatkan kesempatan untuk merobek perjanjian.
"Baiklah kau ingin apa? Aku akan mengabulkannya asalkan itu tidak membatalkan perjanjian kita," balas Louise seperti tahu saja.
Evelyn mengumpat dalam hati, saat Louise tahu saja dengan apa yang ingin dia sampaikan. "Baik, kalau begitu kurangi jangka waktu kerjaku dari lima tahun menjadi satu tahun," pintanya.
"Tidak bisa! Empat tahun setengah," balas Louise seperti lelang saja.
"Tidak mau, satu tahun atau aku tidak akan membantumu. Hoam aku mengantuk sekali," ucap Evelyn tidak mau kalah.
Louise berdecak kesal. "Begini saja, kalau kau menolak membantuku membuat laporan ini. Maka aku tidak segan-segan mendobrak pintu kamarmu!"
"Hah, alasan! Beraninya cuma mengancam, dobrak saja kalau berani. Aku ingin tidur," balas Evelyn masa bodo. Karena menurutnya Louise hanya sedang berlakon agar dirinya tunduk dan menuruti segala perintah.
Namun faktanya tidaklah seperti itu, karena Louise memang sedang melangkahkan kaki keluar dari kamarnya dan menuju ruangan Evelyn yang hanya beberapa langkah dari tempatnya berada.
Lalu setibanya didepan, Louise tanpa ragu lagi benar-benar mendobrak pintu kamar Evelyn, hingga pintunya mengangga lebar dan wanita itu pun terjingkrak karena kaget.
Mendapati sang bos sekaligus tuan pamannya tengah berdiri didepan pintu, dengan raut wajah yang sulit untuk dijelaskan.
"Evelyn!" sapa Louise dengan tatapan kesalnya.
"T-tuan, t-tapi bagaimana kau bisa ada disini?" ucap Evelyn tidak menyangka, jika Louise benar-benar menghampirinya hingga kesini.
.
.
__ADS_1
Bersambung.