Anak Pembantu Milik Tuan Muda

Anak Pembantu Milik Tuan Muda
Bab 83. Tes DNA


__ADS_3

Sebulan kemudian.


Perusahaan Horisson Group.


Louise sedikit tercengang, saat melihat Evelyn telah kembali bekerja di perusahaannya. Pria itu segera menghampiri dan bertanya sesuatu.


"Kau sudah bekerja rupanya, apa tidak apa-apa?" tanya Louise.


"Apanya yang tidak apa-apa?" balik tanya Evelyn.


"Ya, kau bekerja dari pagi hingga sore. Dan malam kau harus berjaga semalaman di rumah sakit, apa tidak apa-apa seperti itu?" balas Louise.


"Tidak masalah, justru aku tidak enak padamu Pak. Karena terlalu lama bercuti," balas Evelyn memanggil Bapak saat bekerja di kantor, sedangkan di luar ia harus memanggil tuan.


"Oh begitu, ya sudah. Selamat bekerja kembali, jika mengalami kesulitan pada pekerjaanmu. Jangan sungkan bertanya atau bila kau butuh sesuatu bilang saja padaku," ucap Louise.


"Baik Pak," patuh Evelyn dan menatap Louise yang telah keluar dari ruang kerjanya.


Ada perasaan lain terhadap pria satu itu, baru-baru ini hatinya selalu saja merasa nyaman dan aman saat berada didekatnya.


Entah karena telah mengenalnya cukup lama, atau memang karena Louise adalah pria dewasa. Namun Evelyn merasa beruntung, karena Louise akhir-akhir ini banyak memberinya perhatian.


Terutama saat berada di rumah sakit, ia selalu mengurusnya dengan baik dan berkonsultasi kepada dokter mengenai kesehatan sang opa.


Namun hal tersebut justru berbanding terbalik dengan Steve, Steve kerap mengunjunginya setiap hari, tapi tak pernah sekalipun ingin tahu mengenai perkembangan kesehatan sang kakek.


Evelyn menghela nafasnya panjang, jika memikirkan keinginan Steve yang nilai kurang tepat baginya. Karena bagaimana bisa disaat kondisi sang Opa masih belum sadarkan diri, Steve malah mendesaknya untuk mempercepat pernikahan.


"Kenapa aku merasa Steve kurang peka terhadap kesehatan Opa, bahkan disaat kondisi Opa ku masih koma, dia malah ingin mempercepat pesta pernikahan. Bukankah itu namanya tidak punya pikiran," gumam Evelyn tidak habis pikir dengan keinginan Steve.


Hingga pada akhirnya, mereka berdua berdebat panjang semalam, hanya karena membicarakan masalah pernikahan.


Evelyn bekerja dengan sebagaimana mestinya, mengerjakan pekerjaan kantor, sesekali memikirkan pernyataan Louise, yang sempat menganggu pikirannya.


Yaitu keluarga Steve yang memiliki maksud tertentu dan hal itu pun membuatnya menjadi penasaran.


"Apakah benar, tapi apa dia punya buktinya." batin Evelyn.


...***...


Sore harinya.

__ADS_1


Jam kerja kantor telah usai dan Evelyn menyerahkan laporan keuangan hariannya kepada Louise sebelum kembali ke rumah sakit.


"Ini laporan keuangan hari ini, Pak." Evelyn memaruhnya diatas meja kerja Louise.


"Terima kasih, tunggulah disini. Setelah selesai membaca laporanmu, aku akan mengantarmu ke rumah sakit," balas Louise, lalu mengambil laporan tersebut.


Evelyn tersenyum. "Baik Pak, terima kasih!" serunya bersemangat.


Evelyn senantiasa memperhatikan Louise yang tengah membaca laporan keuangan buatannya itu dan tiba-tiba saja ia merasa terpesona, dengan aura kharismatik yang terpancar dari sosok pria dihadapannya.


"Apa yang aku pikirkan, ingatlah Eve dia sudah beristri dan sebentar lagi punya anak!" batinnya lalu segera menggeleng.


Tak berselang lama kemudian, ponsel Louise berdering dan Louise pun mengangkat panggilan tersebut.


"Hallo Mom," jawab Louise.


"Louise, apa kau tidak ingat. Hari ini kan ada jadwal cek ke dokter kandungan. Kau harus mengantar istrimu kontrol ke sana," balas nyonya Grace mengingatkan.


Louise mendesaah kesal. "Maaf aku tidak bisa, karena aku sedang sibuk. Bukankah ada Mommy, kenapa tidak Mommy saja yang mengantarnya."


"Louise, Mommy juga sedang sibuk. Ada arisan di rumah teman Mommy, jadi kamu saja ya yang mengantarnya." ucap Nyonya Grace lalu memutuskan panggilan itu secara sepihak.


Evelyn mendengar gerutuan Louise. "Pak, kenapa kau berbohong kepada nyonya besar. Bukankah kau sedang tidak sibuk dan kenapa kau menyalahkan istrimu sendiri? Ingatlah dia sedang mengandung anakmu," tegurnya.


Louise berdecak kesal, mendengar Evelyn menegurnya dan seolah-olah menyalahkan dirinya karena tidak peduli dengan anak yang sedang dikandung oleh Gisella. "Mengandung anakku? Aku saja tidak tahu itu anak siapa," batinnya malas.


Seketika terlintas dalam pikirannya untuk melakukan tes DNA, karena ia ingin sekali memastikan sesuatu. Apakah anak didalam kandungan Gisella adalah anak dia atau bukan.


Louise bergegas menyudahi pekerjaannya untuk mengantar Evelyn ke rumah sakit terlebih dahulu. Dan setelah mengantar Evelyn, Louise menjemput Gisella di rumah, lalu mengantarnya ke rumah sakit untuk mengecek kandungan.


...----------------...


Rumah sakit.


Gisella merasa bingung, karena Louise membawanya ke rumah sakit yang berbeda daripada biasanya.


"Sayang, kenapa kita datang ke rumah sakit ini? Kenapa tidak mengecek di dokter kandungan yang biasa saja?" tanya Gisella.


"Di rumah sakit ini terkenal dengan dokternya yang berpengalaman, selain itu aku ingin menjenguk Opa Bernadi," balas Louise.


Gisella mendengus kesal. "Oh jadi itu alasanmu, segala memakai alasan dokter di rumah sakit inilah yang terbaik. Padahal kau hanya ingin bertemu dengan Evelyn bukan?" tukasnya sambik cemberut.

__ADS_1


"Memang, aku telah berjanji padanya untuk selalu datang setiap hari agar dapat memantau kondisi kesehatan Opa Bernadi," balas Louise.


Gisella mencebik. "Kau ini keterlaluan Louise! Kenapa kau selalu saja peduli dengan wanita itu? Ingatlah kenyataan ini Louise, Evelyn sebentar lagi akan menikah dan menjadi adik iparmu!" tegasnya.


"Aku tahu, untuk itulah aku peduli padanya," balas Louise masa bodo dengan ketidak sukaan Gisella terhadap kepeduliannya kepada Evelyn.


"Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu, apa bagusnya wanita itu sampai-sampai kau selalu saja rela menghabiskan waktu untuk peduli kepadanya!" cerocos Gisella.


Sedangkan Louise berdecih dalam diamnya dan memilih mengalah saja untuk saat ini, sampai dia sendiri mendapat jawaban atas keraguannya selama ini, mengenai anak yang sedang dikandung oleh Gisella.


...***...


Setibanya di dalam ruang pemeriksaan, Louise meminta kepada dokter untuk melakukan tes DNA tanpa sepengetahuan Gisella.


Prosedur itu pun dilakukan dengan cara mengambil sedikit cairan ketuban, serta jaringan lain yang diperlukan untuk mendapatkan hasil maksimal.


"Kenapa pemeriksaannya seperti ini Dok? Biasanya aku hanya USG diperut saja, tapi kenapa ini pemeriksaannya lewat jalan lahir?" protes Gisella.


"Maaf kalau membuatmu tidak nyaman Nyonya, tapi ini adalah permintaan suami anda. Karena pemeriksaan lewat jalan lahir seperti ini, dapat mengecek kesehatan calon bayi anda dan juga kondisinya didalam sana lebih akurat Nyonya," balas sang Dokter bernama Dokter Kartika.


Gisella terkesiap mendengar hal tersebut, dan hatinya langsung berbunga-bunga. Karena didalam pikirannya adalah Louise mulai memperhatikan kesehatan dirinya dan juga sang calon bayi sampai sedetail itu.


Sedangkan Louise baru saja keluar dari ruang lab, setelah menjalani serangkaian tes untuk mencocokkan hasil DNA nya dengan anak yang sedang dikandung Gisella.


"Kira-kira kapan keluar hasil tesnya Dok?" tanya Louise.


"Sekitar satu sampai dua minggu Tuan," balas sang Dokter.


"Jangan sampai ada yang tahu aku melakukan tes itu disini, dan jangan berikan hasilnya selain kepada diriku sendiri," titah Louise.


"Baik Tuan," patuh sang Dokter.


Louise mengangguk mengerti dan tidak sabar menunggu hasil tes tersebut, dirinya merasa yakin dengan anak yang sedang dikandung Gisella itu bukanlah darah dagingnya sendiri.


"Jika kecurigaanku ini benar, maka bersiaplah Gisella. Aku tidak akan segan-segan lagi untuk menceraikanmu," tekad Louise. Lalu pergi dari ruangan tersebut.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2