Anak Pembantu Milik Tuan Muda

Anak Pembantu Milik Tuan Muda
Bab 28. Menjenguk.


__ADS_3

Rumah sakit.


Louise memarkirkan mobilnya tanpa pulang lagi ke rumah, karena ingin segera bertemu dengan sang ayah yang terbaring lemah di rumah sakit.


"Daddy," ucap Louise menyapa.


Tuan Horisson nampak memalingkan wajahnya karena kesal, akibat ulah Louise yang pergi dari rumah tanpa kabar, serta telah berani membohongi dirinya.


Louise menghela nafasnya lembut, sadar akan kesalahannya ia pun segera meminta maaf.


"Maafkan aku Daddy, karena aku telah pergi tanpa bilang padamu dan maaf karena aku juga telah membohongimu kemarin," ucap Louise menyadari.


Tuan Horisson mendengus kesal. "Apa setelah tahu Daddymu ini sakit, kau baru mau kembali pulang?" tanyanya kemudian bangkit dari kasur.


"Daddy maaf, aku mengaku salah dan sekarang berbaringlah. Kau masih sakit," balas Louise menahan ayahnya agar tidak bangun.


Namun tuan Horisson dengan segera menepis tangan Louise. "Jangan sentuh Daddy," ucapnya tidak sudi.


"Daddy, kenapa kau begitu sensitif sekali dan mengambek seperti anak kecil saja?" ucap Louise tidak suka.


Tuan Horisson memicingkan kedua matanya. "Setelah apa yang terjadi, tentang berita tidak mengenakkan karena dirimu itu. Kau masih tidak mau berpikir, kenapa Daddymu mengambek, hingga sakit seperti ini, hem?"


Louise menghela nafasnya panjang. "Iya baik Daddy, Louise minta maaf. Louise mengaku salah," balasnya memohon.


"Maaf saja tidak cukup Louise, kau harus membuktikan jika kau memang benar-benar telah menyesal. Kasusmu itu sedang menjadi trending topik dimana-mana, Daddy sudah meminta bantuan pak Bayu untuk menghapus berita kurang sedap itu."


"Tapi sekarang muncul berita baru lagi, dimana Gisella mencoba bunuh diri dan itu berakibat kasusmu dimunculkan lagi kehadapan publik, karena ada keterkaitan dengan aksi percobaan bunuh dirinya Gisella," ucap tuan Horisson.


Louise memutar bola matanya malas, entah mengapa di negara ini jika ada hal yang berbau-bau aib, lantas saja menjadi viral di dunia maya.


Padahal jika dipikir-pikir, hal kotor yang dia lakukan itu terjadi juga pada orang lain dimana-mana, bahkan ada yang lebih parah daripada dirinya.


Namun berhubung karena keluarga Horisson adalah salah satu keluarga terkenal dan juga terpandang dimasyarakat luas, jika ada salah satu dari anggota keluarga tersebut tersandung kasus sedikit saja, maka itu akan berimbas pada semuanya.


Seperti yang telah dijabarkan oleh tuan Horisson kepada Louise, dimana putranya itu sedang mengalami serangan dari netizen dan hal tersebut telah berpengaruh juga kepada perusahaannya.

__ADS_1


...***...


"Daddy, jangan terlalu dipikirkan. Lihat, keriputmu ini sudah semakin bertambah banyak saja," gurau Louise mengendurkan urat tegang ayahnya.


"Berhenti menggoda daddymu ini Louise, daddy sedang serius. Lalu apa kau sudah melihat kondisi Gisella?" tanya tuan Horisson sedang tidak ingin bercanda.


"Belum," balas Louise.


"Jenguklah dia, kebetulan Gisella sedang dirawat dirumah sakit ini. Jadi kau bisa melihat keadaannya sekalian," balas tuan Horisson.


Louise mendesaah pasrah. "Baiklah, aku akan melihatnya."


"Oiya Louise, kau habis dari puncak bukan?" tanya tuan Horisson sebelum Louise meninggalkan kamar rawat inapnya.


"Iya, aku habis dari sana. Ada apa?" balas Louise dan bertanya.


"Bagaimana keadaan Evelyn, apa dia baik-baik saja? Apa hadis itu makan teratur dan sekolah dengan baik disana?" tanya tuan Horisson bertubi-tubi.


Louise mengangguk dan tersenyum. "Iya, dia baik-baik saja. Orang-orangku menjaganya dengan baik disana, dia juga sudah bertambah besar dan tinggi."


Tuan Horisson merasa senang mendengar kabar tersebut. "Syukurlah, baru beberapa hari tidak melihat anak itu. Daddy sudah sangat merindukannya," ucapnya lalu menatap Louise.


"Apa itu Daddy? Katakan saja," balas Louise.


"Daddy tidak ingin melanjutkan kasus kecelakaan keluarganya Evelyn dan Daddy juga ingin, kau tidak memberitahukan tentang apapun padanya. Biarkan Evelyn menjadi bagian keluarga kita saja," balas tuan Horisson.


Louise menautkan kedua alisnya. "Kenapa kau bisa begitu egois Daddy, bagaimana dengan keluarga aslinya? Apa kau tidak kasihan dengan opa Bernadi?" tanyanya kurang setuju.


"Daddy hanya belum siap menjelaskan semuanya kepada tuan Bernadi, selain kita akan kehilangan Evelyn jika kita berkata jujur. Daddy juga takut Evelyn akan diincar oleh orang-orang jahat, karena Daddy yakin, orang yang telah mencelakai orang tua Evelyn adalah orang-orang dalam keluarga mereka juga," jelas tuan Horisson.


"Jadi Daddy ingin kita diam saja begitu?" tanya Louise memastikan.


Tuan Horisson mengangguk. "Iya, Daddy tidak ingin keluarga Bernadi tahu jika Evelyn adalah cucu keluarga mereka."


Louise menghembus nafas kasar dan memijat pelipisnya karena tidak tahu apa yang harus dia katakan lagi kepada ayahnya itu.

__ADS_1


"Baiklah, kalau itu yang Daddy inginkan. Aku akan diam," balas Louise kemudian meninggalkan ruang rawat inap ayahnya menuju ruang dimana Gisella sedang dirawat.


...***...


Sementara itu, Gisella masih terbaring lemah di atas kasur rumah sakit. Raut wajah wanita itu begitu pucat dan tidak bersemangat, bahkan perban putih yang melingkar di pergelangan tangannya masih terlihat basah akibat noda darah.


Semenjak pernikahannya dengan Louise dibatalkan, Gisella berubah murung dan tidak ada lagi keinginan untuk hidup. Ia juga sering kali melakukan aksi bunuh diri dan dokter pun terpaksa harus menyuntikkan obat penenang untuk Gisella.


Hal tersebut membuat tuan Anderson merasa sedih, pria paruh baya setengah botak itupun akan melakukan apa saja demi melihat buah hati tercintanya kembali bersemangat.


"Aku hanya ingin menikah dengan Louise daddy, tidak ada yang lain!" tegas Gisella sesaat sebelum mencoba bunuh diri.


Tuan Anderson mendesaah pasrah, sulit sekali menjelaskan kepada Gisella. Jika sifat buruk dari seorang pria pemain wanita seperti Louise itu tidak akan pernah berubah sampai kapanpun dan ia tidak ingin putrinya itu sampai mengalami kesedihan setelah menikah, seperti disia-siakan oleh Louise nantinya.


"Tuan Anderson, aku tidak tega melihat kondisi Gisella yang memprihatinkan seperti ini. Bagaimana kalau kau menyetujui saja hubungan mereka dan kita melanjutkan pernikahannya yang sempat dibatalkan," saran nyonya Grace yang kebetulan sedang menjenguk Gisella.


"Aku tahu pasti berat rasanya menyerahkan putrimu kepada seorang pria seperti putraku, namun kebahagiaan Gisella sepertinya ada pada Louise. Bagaimana kalau kita melupakan masalah yang sudah berlalu dan memulai hubungan baik lagi dari awal," ucapnya melanjutkan.


Tuan Anderson menghela nafasnya, lalu menatap Gisella yang masih tertidur, kemudian berganti menatap nyonya Grace.


"Baik, tapi berjanjilah padaku Grace. Pastikan hanya Gisella satu-satunya wanita yang berada disekitar Louise dan jangan biarkan ada wanita lain yang mengganggu hubungan mereka berdua," harap tuan Anderson.


Nyonya Grace mengangguk senang. "Baiklah tuan Anderson, aku berjanji bahwa Gisellalah yang akan menjadi satu-satunya menantu keluargaku. Lagipula aku sangat menyayangi Gisella, sudah pasti aku akan membuat dia selalu hidup bahagia dan aku juga berharap Gisella mampu menghilangkan kebiasaan buruk Louise," balasnya.


"Aku pegang janjimu nyonya Grace, jika kau melanggarnya dan putramu itu membuat putriku bersedih lagi, maka aku bersumpah akan membuat hidup Louise menderita seumur hidupnya," ancam tuan Anderson.


"Kau bisa percaya padaku tuan Anderson, tapi sebelumnya ku mohon padamu agar menghapus semua berita tidak mengenakkan mengenai keluargaku terutama Louise dan kau juga harus melakukan mediasi untuk membersihkan nama baiknya," pinta nyonya Grace.


Tuan Anderson mengangguk. "Baiklah, besok pagi berita tentangnya akan bersih dan aku jamin berita tersebut tidak akan muncul lagi ke permukaan," balasnya menyanggupi.


Nyonya Grace merasa lega, karena satu masalahnya telah selesai. Namun berbeda dengan Louise yang baru saja tiba dan tidak sengaja mendengar percakapan tersebut.


Dimana dia harus menerima pernikahannya kembali dengan Gisella.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2