Anak Pembantu Milik Tuan Muda

Anak Pembantu Milik Tuan Muda
Bab 87. Upaya Gisella.


__ADS_3

Perusahaan Horisson Group.


Louise memanggil Evelyn ke dalam ruangannya, setelah tahu jika wanita itu telah bekerja kembali.


"Ya Pak Louise ada apa memanggilku?" tanya Evelyn dan berusaha menyimpan serapat mungkin kesulitan yang tengah ia hadapi saat ini.


"Kenapa kau membawa pulang Opa Bernadi? Apa kau tahu resiko dari tindakanmu itu?" cecar Louise.


"Aku tahu Pak, tapi aku tidak punya pilihan lain. Kalau Opa dirawat di rumah, aku bisa leluasa beraktifitas. Apalagi bau rumah sakit dan aku juga tidak bisa tidur nyenyak setiap hari kalau disana," balas Evelyn mencari alasan, sambil terkekeh kecil.


Louise terpaku melihat ekspresi dan raut wajah Evelyn yang nampak tertekan namun masih dapat menyembunyikannya dengan baik. "Ya sudah kalau begitu. Tapi kalau kau butuh sesuatu tidak perlu sungkan meminta bantuanku," balasnya.


Evelyn mengangguk. "Baik Pak Louise, sekarang apa aku sudah bisa kembali bekerja?"


"Ya kau bisa kembali ke ruanganmu," balas Louise dan Evelyn segera kembali ke ruangannya.


"Apa-apaan dia itu, sudah dalam kondisi menyedihkan seperti ini, dia masih saja bisa tersenyum," batin Louise tidak menduga


"Hm ... Tapi mencoba tetap kuat seperti itu juga tidak ada salahnya, setidaknya dia bisa belajar banyak hal dari masalah yang sedang dia hadapi saat ini. Ah Evelyn, aku ingin kau menjadi wanita kuat, agar dimasa depan tidak ada lagi orang yang dapat menjatuhkanmu," gumam Louise lalu kembali fokus pada pekerjaannya.


...***...


Tak berselang lama setelah itu, Gisella mendatangi perusahaan Louise, setelah sebelumnya mendapat telepon dari nyonya Merry, yang memintanya membujuk Louise agar mau memecat Evelyn dari pekerjaannya.


"Setahuku Louise sangat berpihak pada Evelyn, apa dia mau mendengarkan keinginanku ini?" gerutu Gisella sambil memukul-mukul kepalanya sendiri, karena merasa bodoh telah menyetujui permintaan sang mommy.


"Coba saja dahulu," ocehnya kemudian.


Dan setibanya didepan pintu ruangan kerja Louise, seperti biasa Gisella langsung membuka pintu tersebut, tanpa mau mengetuknya lagi atau mendengar larangan dari karyawan lain.


Alhasil wanita itu pun langsung mendapat tatapan tajam dari sang pemilik ruangan, karena tidak dapat melihat situasi, dimana dirinya sedang melakukan janji temu dengan klien.


"Lain kali, ketuk pintu terlebih dahulu kalau mau masuk ke dalam ruanganku!" ucap Louise penuh penekanan.


"Eh maaf, ku pikir kau sedang seorang diri didalam ruanganmu sayang," balas Gisella tidak enak hati. Lalu undur diri dan memilih menunggu di ruang tamu, sampai Louise selesai dengan urusannya.


Beberapa saat kemudian, Louise telah selesai dengan urusannya, dan itu terlihat dari tamu-tamu penting satu persatu mulai keluar dari ruangan tersebut.


Gisella pun masuk ke ruangan Louise, dan betapa kesal dirinya saat melihat Evelyn berada dekat di samping sang suami.


"Louise!" tegur Gisella.


Namun Louise tidak mengindahkan panggilan tersebut, hingga Evelyn merasa tidak enak hati. "Pak, istrimu memanggil."


Louise menatap Evelyn yang melemparkan pandangannya ke Gisella, lalu berganti menatap Gisella yang menatap kesal dirinya itu.


"Ada apa datang kemari?" tanya Louise malas.


Gisella mendekat dan menyingkirkan Evelyn terlebih dahulu. "Menyingkirlah dari suamiku, apa kau tidak lihat kalau istrinya ada disini. Mana sopan santunmu dan kenapa masih saja berdiri disini!" sentaknya tidak suka.


"Maaf Nyonya, tapi aku disini karena sedang mengurus pekerjaan. Jika anda tidak suka denganku, maka aku bisa keluar terlebih dahulu," balas Evelyn. Lalu menjauh agar Gisella bisa dekat dengan suaminya.


Namun secepat kilat Louise menggenggam pergelangan tangan Evelyn agar tidak pergi darinya. "Tunggu, jangan pergi dulu. Aku masih membutuhkanmu untuk membantuku mengerjakan semua ini," ucapnya lalu menatap Gisella.


"Dan kau Gisella, tolong tunggu disana. Aku akan bicara denganmu setelah pekerjaanku dengannya selesai," ucap Louise dingin.

__ADS_1


Gisella mendengus kesal dan menatap tidak suka kearah tangan Louise yang masih erat menggenggam pergelangan tangan Evelyn. "Baiklah, aku akan menunggumu." Lalu duduk diatas sofa dalam ruangan itu juga.


Louise melepaskan cekalan tangannya. "Ayo lanjutkan, mana lagi berkas tadi yang harus ku tanda tangani," ucapnya.


"Ini Pak," balas Evelyn sambil membuka lembar demi lembar halaman yang harus ditanda tangani oleh sang atasan.


Gisella menatapi interaksi kedua manusia dihadapannya itu, dengan hati yang terasa panas sekali. Terlebih saat Louise selalu saja tidak sengaja menyenggol punggung tangan Evelyn, dan tersenyum saat menyadari hal tersebut.


Hingga beberapa menit pun berlalu, Evelyn membereskan berkas tersebut dan pamit dari ruang kerja Louise.


"Jangan lupa kirim salinannya ke alamat klien kita yang tadi ya," titah Louise sebelum Evelyn keluar.


"Baik Pak," patuh Evelyn.


Louise menghela mafasnya panjang dan tatapannya kembali dingin saat Gisella mendapat giliran mendekati dirinya.


"Wah sayang, dapat gaji berapa wanita itu sampai mau disentuh olehmu?" sindir Gisella.


"Apa maksudmu dan apa tujuanmu datang kesini?" tanya Louise to the point.


"Aku tidak suka dia bekerja disini dan aku mau kau memecatnya untukku," balas dan pinta Gisella.


Louise menghentikan aktifitasnya sejenak dan menatap Gisella yang serius dengan ucapannya. "Evelyn adalah karyawanku, aku yang mempekerjakan dia disini dan aku tidak bisa memecatnya, karena dia telah terikat kontrak kerja denganku!" tegas Louise.


"Aku tidak mau tahu Louise, aku ingin di berhenti dari pekerjaannya sekarang juga. Apa kau tahu, dia telah memutuskan pertunangannya dengan Steve!" balas Gisella menggebu-gebu.


Louise terkejut saat mendengar kalau Evelyn memutuskan pertunangannya dengan Steve, ada perasaan senang juga saat mendengar berita tersebut.


"Benarkah? Syukurlah kalau begitu, jadi dia bukanlah calon adik iparku lagi," ucap Louise penuh maksud, membuat Gisella semakin naik pitam.


"Louise, gara-gara Evelyn memutuskan tali pertunangannya. Steve adikku merasa frustasi, aku hanya tidak ingin Steve sampai menempuh jalan bunuh diri. Jadi kalau kau tidak bisa memecatnya, apakah kau bisa memberinya pengertian agar tidak memutuskan Steve?" balas Gisella berupaya agar Louise mau mengerti.


Gisella mencebik dan merasa kesal sekali mendengarnya. "Baik, kalau kau tidak ingin memecat Evelyn atau membujuknya agar kembali kepada Steve. Maka aku sendiri yang akan turun tangan!" tegasnya tidak main-main.


"Jangan berbuat macam-macam Gisella, karena jika kau berani menyentuhnya atau menyulitkan hidupnya lagi. Maka aku tidak akan segan-segan memberimu pelajaran, yang lebih menyakitkan daripada apa yang pernah kau dapatkan dariku selama ini!" ancam balik Louise tidak main-main.


Gisella menelan ludahnya susah payah dan langsung membungkam mulutnya seketika, wanita itu begitu takut, apalagi jika Louise telah mengeluarkan ancamannya. Dan yang paling ditakutkan oleh Gisella saat ini adalah jangan sampai Louise kembali menggugat cerai dirinya.


"Kalau kau sudah tahu akibatnya, maka jangan tunjukan hal bodoh lagi padaku! Sekarang pulanglah, karena aku masih banyak pekerjaan!" ucap Louise mengusirnya secara halus.


Gisella menurut, walau sedikit jengkel dengan perkataan Louise padanya dan merutuki dirinya sendiri, karena tahu akan begini jadinya jika ia menyinggung masalah Evelyn. Apalagi jika ingin berbuat jahat terhadap gadis itu.


"Ini semua gara-gara Mommy, harusnya aku tidak menuruti keinginannya itu!" cebik Gisella. Lalu keluar dari ruangan Louise, sesekali mendengus kesal.


Entah mengapa Louise semakin peduli pada Evelyn, padahal gadis itu tidak memiliki hubungan darah ataupun ikatan penting lainnya.


Sementara itu, Evelyn diam-diam ternyata menguping percakapan Louise dengan Gisella dari luar pintu. Hatinya merasa sedih saat mendengar ucapan Gisella yang menginginkan dirinya keluar dari perusahaan Louise, disaat ia sedang membutuhkan penghasilan.


Akan tetapi, paling tidak ia merasakan lega untuk saat ini. Karena Louise tidak menuruti keinginan istrinya itu, dan malah melindungi dirinya dari ancaman Gisella.


Evelyn menghela nafas lega dan bertekad tidak akan melalukan kesalahan walau sekecil apapun, agar tidak ada alasan bagi Gisella untuk memecatnya.


...***...


Sore harinya.

__ADS_1


Evelyn menyerahkan hasil laporan keuangannya hari ini dan menaruhnya diatas meja kerja Louise sebelum pulang ke rumah.


"Ini laporanku Pak, jika tidak ada pekerjaan lain. Aku harus pulang segera," ucap Evelyn.


Louise mengangguk, tapi menahan Evelyn sejenak, karena suasana hatinya yang tiba-tiba senang.


"Evelyn, apa benar kau dan Steve telah memutuskan tali pertunangan?" tanya Louise.


Evelyn mengangguk. "Iya, itu benar."


"Kenapa? Apa kau baru sadar kalau pria itu tidak baik untukmu? Atau ada alasan lain?" cecar Louise.


"Tidak ada, aku hanya merasa tidak cocok dengannya. Itu saja," balas Evelyn enggan memberitahu semua kekesalannya pada keluarga Steve.


"Oh begitu, tadinya aku pikir kau putus dengannya karena masalah lain," balas Louise.


"Iya Pak, tidak ada yang lain. Oiya, tadi aku sempat mendengar pembicaraanmu dengan nyonya bibi. Terima kasih karena telah membelaku dan mau melindungiku dari ancamannya," ucap Evelyn.


Louise menaikkan kedua alisnya dan tersenyum bangga, entah mengapa saat mendengar penuturan yang keluar dari mulut Evelyn langsung membuat hatinya berbunga-bunga.


Ada sedikit kebanggaan dalam hati, saat aksinya dipuji oleh seorang gadis cantik yang terpaut usia 15 tahun lebih muda darinya itu.


"Tidak masalah, itu bukanlah hal penting. Lagipula kenapa aku harus memecatmu, kau kan tidak melakukan kesalahan apapun. Pekerjaanmu juga bagus," balas Louise memuji.


Evelyn menarik senyuman. "Terima kasih, aku senang mendengarnya."


"Evelyn, duduklah sebentar." pinta Louise.


Evelyn patuh dan duduk dihadapan Louise. "Ya Pak ada apa?"


Louise menghela nafas dan mulai membahas masalah kesulitan ekonomi yang sedang terjadi pada keluarga Benardi.


"Tidak perlu menyembunyikannya lagi padaku, atau malu dan sungkan memberitahukannya. Aku sudah pernah bilang padamu, kalau kau butuh sesuatu jangan ragu memberitahu aku. Tuan pamanmu ini," ucap Louise.


Evelyn tergagap mendengarnya. "B-bapak tahu d-darimana?" tanyanya bingung.


"Dari bibi Maureen, dia menceritakan semuanya kepadaku. Evelyn, jangan anggap aku orang lain. Sudah ku katakan, aku juga adalah keluargamu. Jadi masalahmu adalah masalahku juga," balas Louise.


Evelyn menatap Louise dengan linangan air mata. "Jadi kau sudah tahu semuanya? Tentang perusahaan Opa yang diambil oleh keluarga Steve? Dan kesulitan ekonomi yang sedang keluargaku hadapi saat ini?"


Louise mengangguk. "Ya, Aku mengetahuinya dan kau butuh seseorang saat ini. Tapi kenapa kau menyembunyikannya dariku Evelyn? Apa kau tidak menganggap keberadaanku ini penting bagimu? Sampai kau tidak ingin memberitahukan semua itu. Memangnya kau bisa menghadapi semua ini sendirian hem?" ceramahnya.


Evelyn pun tidak kuasa menahan tangisnya, ia menunduk dan terisak karena sedih, sambil mencurahkan isi hatinya pada Louise tanpa ragu lagi.


"Apa yang harus aku lakukan Tuan, aku tidak bisa melawan mereka. Mereka telah berhasil mencuri perusahaan opaku dan menolak membiayai perawatannya."


"Bahkan mereka menghentikan transferan tiap bulannya pada rekening Opa, padahal itu adalah keuntungan yang harus dikirimkan pada opaku setiap bulannya."


"Dan yang lebih parah lagi, mereka mengeruk saham-saham kami. Hingga sekarang kami sedang mengalami kesulitan uang."


Louise mendesaah panjang dan merasa tidak kuat lagi mendengar kesedihan gadis itu. Dengan segera ia beranjak dari tempat duduknya, lalu menghampiri Evelyn dan menggeser kursi untuk duduk lebih dekat disampingnya.


Perlahan tapi pasti, kedua lengan kekar Louise merangkul dan membawanya untuk masuk ke dalam dekapan, agar Evelyn dapat menangis sepuas hatinya.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2