
Setelah puas mencium, Louise melepas pagutannya itu dan kembali menatap wajah Evelyn yang sudah memerah. Lalu menuntunnya hingga ke meja kerja agar duduk bersama.
"Duduklah sayang," ucap Louise dengan mesra, membuat Evelyn jadi merasa geli sendiri.
Lalu pria itu mengeluarkan secarik kertas dari dalam lacinya dan menunjukkannya kepada Evelyn. "Ini ambilah," ucapnya menyerahkan.
"Apa ini?" tanya Evelyn bingung.
"Itu surat perjanjian kita saat bertemu di Jogya dulu," balas Louise.
"Lalu, kau ingin apa dengan surat perjanjian ini?" tanya Evelyn kembali.
Louise mengangkat kedua bahunya. "Terserah mau kau apakah surat itu, kau bisa merobek lalu membuangnya. Atau menyimpan sebagai kenang-kenangan," balasnya.
"Sobek? Apa itu berarti, aku akan terbebas dari semua ikatanmu setelah perjanjian ini rusak?"
Louise mengangguk lembut. "Benar Evelyn, aku membebaskanmu dari perjanjian itu. Mulai sekarang, kau bebas menentukan pilihanmu. Dan aku berjanji tidak akan memaksa atau mengancammu lagi," balasnya ikhlas.
Evelyn menatap surat perjanjian itu dengan kedua mata berkaca-kaca, dan segera merobeknya didepan mata kepala Louise.
Lalu membuangnya ke tempat sampah dengan perasaan lega, karena dengan hancurnya surat perjanjian itu. Dirinya bebas melakukan apapun yang ia mau, tidak ada lagi aturan, ancaman maupun tuntutan.
Selain itu dengan hancurnya surat perjanjian tersebut, kini statusnya dengan Louise adalah setara.
Evelyn begitu bahagia, setidaknya ia bisa bebas sekarang ini. Tidak ada lagi tuntutan harus bekerja dan menjadi bawahan seseorang lagi.
Namun ia menyadari sesuatu, jika bukan karena adanya surat perjanjian tersebut. Mungkin saja, ia akan menjadi gelandangan dijalan tanpa pekerjaan dan tujuan, atau tidak akan pernah bahagia saat menjadi istri Steve yang tidak ia cintai.
Evelyn menatap Louise yang sama menatapnya juga, ia mengingatkan dirinya sekali lagi. Jika pria itulah yang membantunya selama ini dari kesulitan, tempatnya bersandar dan tempat mencurahkan isi hati.
Hingga tanpa disadari air matanya jatuh begitu saja dan memeluk Louise dengan erat. "Terima kasih Tuan paman," ucapnya terharu.
Louise membalas pelukan itu, sesekali mengecup lembut puncak kepalanya. "Mulai sekarang jangan panggil aku Tuan atau tuan paman lagi. Aku merasa tua sekali," ucapnya sembari bergurau.
Evelyn terkekeh kecil. "Akan aku usahakan," balasnya.
"Bagus, kalau begitu coba sebut namaku."
Evelyn menggeleng. "Tidak mau, rasanya aneh sekali."
__ADS_1
"Tidak apa. Cobalah panggil namaku sekali saja," rengek Louise.
"Louise ... Ah aneh sekali! Aku lebih suka memanggilmu Tuan Paman," ucap Evelyn cepat meralat. Karena lidahnya serasa asing saat memanggil nama itu.
Louise pun mencebik, karena panggilan tersebut serasa tua baginya. "Mulai sekarang biasakan panggil namaku, tidak usah pake tuan paman oke!" pintanya.
Evelyn tersenyum. "Baiklah," balasnya menyengir.
Louise mengulas senyumnya, sesekali mencubit gemas ujung hidung wanita kecilnya itu. Ia merasa senang sekali, karena bisa hidup dengan wanita yang ia cintai setelah ini.
Sungguh hubungan yang aneh, namun jodoh tidak pernah ada yang tahu. Tidak memandang dari usia, maupun penampilan.
...----------------...
Sementara itu, kabar perceraian Louise dengan Gisella tersebar luas di dunia maya. Hal tersebut membuat Gisella menjadi bahan cibiran orang-orang, terutama dari teman-teman sosialitanya.
Mereka tidak menyangka, foto mesra diri Gisella dengan suaminya itu hanyalah topeng belaka. Terlebih anak yang sedang ia kandung, benar-benar diluar dugaan sekali.
Ia sampai dicap penipu dan wanita tidak baik oleh teman-teman yang mengenalnya.
Lalu berita buruk tersebut pun, sukses membuat Gisella semakin frustasi. Ia sampai menonaktifkan akun media sosialnya dan kabur dari rumah untuk menemui seseorang di club malam.
Marco merampas minuman keras dari tangan Gisella sebelum ia meminumnya. "Jangan minum, ada kehidupan lain disana!" cegahnya sambil menunjuk perut Gisella yang membuncit.
"Aku tidak peduli, karena bayi ini kehidupan indahku bersama Louise jadi hancur!" sarkas Gisella dan ingin memukul perutnya, namun Marco kembali mencegah.
"Hentikan! Tidak peduli kau membenci bayi itu atau tidak, tapi satu hal yang pasti. Aku tidak akan membiarkan kau menyakiti anakku!" sergah Marco menatap tajam.
Gisella menagis tersedu-sedu dan memukuli Marco karena kesal. "Ini semua salahmu! Jika bukan karena ulahmu waktu itu. Aku tidak akan hamil anakmu sekarang ini!" sentaknya.
Marco menghela nafas panjang, mau bagaimana lagi. Karena sehari setelah Gisella menjebak Louise dengan dupa perangsang, wanita itu pernah datang kepadanya dalam kondisi mabuk berat.
Lalu bercerita kepada Marco, bahwa ia sedang kesal kepada Louise sebab ingin diceraikan hanya karena masalah sepele. Wanita itu terus meracau dan tidak ingin pulang ke rumah orang tuanya karena takut.
Marco pun membawa Gisella ke dalam hotel, karena tidak tahu harus membawa kemana lagi selain kesana.
Dan karena dalam pengaruh alkohol tingkat tinggi, Gisella terus saja meminta Marco untuk melakukan hubungan dan berpikir jika Louise lah yang sedang bersama dengannya saat itu.
Marco tidak dapat menahan godaan tersebut, terlebih dia juga menyukai Gisella sejak lama. Hingga pada akhirnya penyatuan itu pun terjadi dan mereka menghabiskan malam panjang bersama didalam kamar berdua.
__ADS_1
Tapi ada satu hal yang tidak Marco mengerti, kenapa Louise tidak bisa membuahi padahal mereka pernah berhubungan walau 3 kali dalam beberapa tahun pernikahan. Kalah dengannya yang sekali main langsung jadi.
Hal itu pun membuat Gisella curiga, hingga menimbulkan anggapan sendiri. Apakah selama ini Louise mandul dan diam-diam menyembunyikan masalahnya sendiri agar tidak diketahui orang lain karena malu?
Tapi apapun itu, Gisella sudah tidak peduli lagi. Karena mau mandul atau tidak, Louise tetap saja tidak mencintainya. Dan yang paling penting sekarang ini adalah meminta bantuan Marco agar menggagalkan pernikahan Louise dengan Evelyn.
Marco mendesaah kesal, karena dia bukanlah termasuk tipe pria pembenci dan tidak suka balas dendam. Apalagi itu tidak ada kaitan dengan masalah hidupnya.
Namun, melihat Gisella menangis terus menerus dan berjanji akan melahirkan bayinya itu dengan selamat. Membuat Marco tersentuh dan mau tidak mau, dia menuruti keinginan Gisella.
Lain halnya dengan Gisella, Steve terus mengutuki perbuatan Louise karena telah berani mempermalukan dirinya dan merampas Evelyn kembali, sesekali memegangi pipinya yang bengkak karena terkena pukulan telak.
Ia masuk ke dalam ruangan sang ayah dan meminta kepadanya agar segera memberikan warisan. Agar dapat mengerahkan tenaga lebih banyak untuk mengambil Evelyn sebelum pernikahan itu terjadi.
Namun keinginan Steve langsung di tolak mentah-mentah oleh Tuan Anderson. "Aku masih hidup! Berani sekali kau meminta warisan dan juga perusahaan ini!" sentaknya menolak.
"Daddy mengertilah, aku butuh kekayaanmu untuk merebut Evelyn dari tangan Louise," balas Steve bersikukuh.
Tuan Anderson menggebrak mejanya karena marah. "Jangan turuti perilaku buruk mommy mu yang serakah itu, apa kau tidak lihat dia sekarang berada di balik jeruji besi karena sikap serakahny!"
"Kau harus mengerti juga Steve, Louise adalah anak teman Daddy. Sekarang berhentilah berbuat konyol dan jadilah pria sejati!" ceramah Tuan Anderson.
Steve menghembus nafasnya kasar, lalu menatap tajam ayahnya itu. "Pantas saja mommy pergi meninggalkanmu, itu semua karena kau terlalu pelit kepadanya!" tukas Steve, lalu pergi dari ruangan sang ayah dengan perasaan kesal.
Sementara Tuan Anderson terperangah dengan perkataan yang dilontarkan oleh Steve, ia sampai memegangi dadanya yang terasa sakit. Akibat ulah putra maupun putri kandungnya sendiri.
Tapi pria itu tidak bisa menyalahkan Steve maupun Gisella sepenuhnya, karena kesalahan seorang anak terletak pada pola asuh kedua orang tuanya.
Dimana Gisella tidak mendapat cinta dari ibunya, hingga tidak mengerti bagaimana menjadi istri yang baik untuk suaminya.
Sedangkan Steve, tidak mendapat perlindungan dari sang ayah. Sehingga pria itu tidak mengerti cara melindungi diri serta bersikap layaknya seorang pria sejati.
"Aku memang seorang ayah yang gagal," tuturnya menyesali.
.
.
Bersambung.
__ADS_1