
Selvi dan Mika nampak bingung dengan perdebatan yang sedang terjadi diantara Louise dan Evelyn.
"Ada apa dengan mereka berdua, kelihatannya serius sekali?" ucap Mika ingin mengintip.
"Tidak usah ikut campur, nanti juga baikkan." Selvi menarik lengan Mika agar tidak jadi mengintip.
"Sebentar saja, aku takut terjadi hal yang tidak-tidak kepada Evelyn." Cemas Mika. Namun ekspresi wanita itu seketika berubah pucat pasi, saat melihat sang penghuni kamar.
"Kenapa? Apa yang terjadi?" cecar Selvi penasaran melihat Mika bak orang sawan.
Mika menggeleng dan mengajak Selvi agar menjauh dari kamar Evelyn. "T-tidak ada, sudah Kak Selvi ayo kita pergi. Koper Evelyn taruh saja didepan kamarnya," ucapnya gugup lalu menutup pintu kamar rapat-rapat.
Karena bagaimana tidak, Mika tidak sengaja melihat aktifitas panas sang majikan yang sedang mencium mesra calon istrinya.
Sedangkan di dalam kamar, Louise terus mencium Evelyn dengan mesra, melumaat dan menyesapnya kuat hingga ke dalam. Ia tidak akan melepaskan ciuman itu sampai Evelyn benar-benar menyerah dan berhenti memberontak kepadanya.
Tidak peduli apapun kondisi lawannya yang sudah nampak terengah-engah, Louise terus saja mendesak dan memperdalam ciumannya itu, hingga keduanya kini telah terjatuh ke atas pembaringan.
Posisi tersebut membuat Louise semakin leluasa untuk memperdalam ciumannya, ia seakan berkuasa penuh atas raga yang sedang berada dibawah kungkungannya.
Dan setelah dirasa tidak ada lagi perlawanan berarti, Louise menghentikan pagutannya itu. Lalu menatap wajah Evelyn yang telah memerah dengan nafas terengah-engah dan dada yang naik turun tidak beraturan.
"Menyingkirlah dari hadapanku!" ucap Evelyn dengan nafas tersengal.
Louise membalas tatapan sinis Evelyn dengan senyuman. "Tidak mau, aku betah berada diatasmu, karena aku bisa melihat dengan jelas wajah cantikmu dari sini," rayunya.
Evelyn memalingkan wajahnya. "Tidak tahu malu! Kau menjijikkan!" ucapnya ketus.
"Terserah kau mau bilang apa tentang diriku, maki saja aku sepuas hatimu Evelyn, maki aku sampai benar-benar tidak ada lagi rasa untuk membenciku dalam hatimu," balas Louise menerimanya dan menarii kembali dagu Evelyn.
Sesekali membelai lembut rambut serta kulit mulus wajah wanita yang sedang berada dibawahnya itu. "Kau terlihat cantik kalau sedang marah seperti ini," lanjutnya.
Evelyn berusaha menelan ludahnya yang tercekat, pesona ketampanan Louise begitu memikat hatinya. Seakan mampu menghipnotis siapapun wanita yang memandang, apalagi dari jarak sedekat ini.
__ADS_1
"Beginikah caramu mendapatkan apa yang kau mau? Kau berlagak lembut dan menggunakan kata-kata manis sebagai rayuan agar setiap wanita mau memberikan apa yang kamu mau hah!" balas Evelyn masih ketus.
Louise menghela nafas panjang. "Kenapa kau selalu saja berpikir buruk tentang aku seperti itu honey? Apa salahnya aku merayu calon istriku sendiri?" godanya.
Evelyn berdecih. "Cepatlah menyingkir, aku merasa tidak nyaman sekali dengan posisi seperti ini!" ucapnya sambil menahan dada Louise.
"Katakan dulu kalau kau mau menerimaku lagi, dan berhentilah membahas masa laluku. Lebih baik kita membahas masa depan kita saja," balas Louise tidak berhenti memeluk Evelyn, malah semakin memper-erat pelukannya.
Evelyn menarik nafas dalam-dalam. "Masa depan? Sepertinya aku akan memikirkan ulang masalah itu," balasnya.
Louise menautkan kedua alisnya. "Kenapa? Bukankah kau sudah yakin akan menikah denganku? Kenapa sekarang berubah pikiran?" ucapnya tidak rela.
"Kenapa aku harus menerimamu lagi? Sudah ku bilang aku tidak ingin menjadi bonekamu, aku tidak mau kau memakaiku lalu membuangku setelah ada wanita yang baru," balas Evelyn mempertegas.
Louise mendesaah kesal, jawaban Evelyn yang selalu sama dan sifat keras kepalanya, membuat pria itu jadi hilang kesabaran.
"Jadi kau berpikir bahwa aku adalah pria seperti itu? Baiklah kalau begitu, aku akan mematahkan semua tuduhanmu itu," ucap Louise bergerak cepat mengunci pergerakan Evelyn, menangkup kedua tangannya menjadi satu dan menguncinya diatas kepala dengan satu tangan besarnya.
"Hei! Mau apa kamu, lepaskan tanganku!" sergah Evelyn mengelepar-gelepar seperti ikan.
Evelyn melebarkan kelopak matanya. "Jangan! Kau mau apa?" ucapnya panik sekali.
Louise tersenyum smirk, lalu melempar kemejanya ke sembarang arah dan kini ia telah bertelanjang dada, hingga terlihatlah bentuk kotak-kotak roti sobek pada perutnya itu.
"M-mau apa kamu! Jangan macam-macam!" ancam Evelyn hanya bisa melawan dari sorot matanya yang tajam.
Louise tidak menggubris perkataan tersebut dan kembali membungkam mulut Evelyn dengan mulutnya agar diam.
Sementara itu satu tangannya mulai aktif menjalar kepada kerah baju yang sedang dikenakan oleh Evelyn saat ini, dan dalam satu kali hentakkan, baju tersebut sobek hingga menganga lebar.
Evelyn kembali memberontak, terlebih tangan Louise kini sedang menggapai salah satu bongkahan padat nan kenyal miliknya itu, lalu meremass dan memainkan pucuknya, hingga ia bergelinjang tidak karuan kesana-kemari.
Sungguh sensasi aneh, yang baru pertama kali Evelyn rasakan. Hingga tanpa sadar gadis itu pun melenguhh, disela-sela pertautan mereka yang semakin menuntut.
__ADS_1
Louise tersenyum dan semakin terbakar gairah, saat Evelyn mulai membalas ciumannya, walau tidak sehebat wanita-wanita lain. Namun nyatanya itu sangat cukup, untuk membangunkan gelombang hasrat yang selama ini ia pendam demi gadis itu.
Sedangkan Evelyn hanya bisa merasakan sesak dalam dadanya, ingin sekali rasanya melawan sekuat tenaga, namun ia kalah tenaga dan Louise juga telah mengunci semua pergerakannya.
Ia pun hanya bisa pasrah dengar berderai air mata, apalagi lawannya adalah seorang cassanova. Karena lepas dari cengkraman pria seperti itu, bisa dikatakan adalah mustahil.
"Tolong jangan seperti ini," lirihnya menggeleng.
"Jangan salahkan aku, karena kaulah yang memaksaku untuk berbuat seperti ini Evelyn dan kau tenang saja, aku akan mematahkan tuduhanmu itu sebentar lagi," ucap Louise. Lalu merobek semua pakaian Evelyn hingga tidak bersisa.
"Akh tidak! Tolong!" pekik Evelyn.
Sementara itu dibawah sana Mika dan Selvi saling bersitatap satu sama lain, mereka dilanda kebingungan serta kegelisahan. Terlebih saat keduanya sayup-sayup mendengar suara Evelyn berteriak meminta pertolongan.
"Apa yang sedang terjadi didalam sana? Kenapa Evelyn berteriak seperti itu?" tanya Mika cemas.
"Kakak juga tidak tahu, apa mereka sedang berkelahi?" balas Selvi juga cemas.
"Bagaimana kalau kita lihat mereka, aku takut Evelyn kenapa-napa," ucap Mika memberi saran.
Namun Selvi melarang. "Jangan, di dalam sana ada tuan Louise. Mereka pasti baik-baik saja, kau tahu kan tuan Louise paling tidak suka diganggu apalagi kalau sedang serius seperti tadi."
Mika mengangguk pelan, seketika pikirannya terbayang akan kejadian di dalam kamar Evelyn saat mengintip tadi. "Apa jangan-jangan tuan Louise ingin ... ?" batinnya menduga.
.
.
Bersambung.
...----------------...
Apa yang terjadi selanjutnya? Apakah Louise benar-benar akan merenggut paksa kesucian Evelyn?
__ADS_1
Nantikan dibab selanjutnya.