Anak Pembantu Milik Tuan Muda

Anak Pembantu Milik Tuan Muda
Bab 108. Pulang mendadak


__ADS_3

Evelyn menginjak kaki Steve dengan sekuat tenaga, agar terlepas dari ciuman tidak diinginkannya itu, lalu melayangkan satu tamparan keras diwajah Steve.


"Dasar pria breng-sek!" pekik Evelyn sambil mengusap-usap bibirnya yang basah.


Steve mengusap pipinya yang terkena tamparan. "Maaf Eve, aku tidak bisa menahannya."


Evelyn memukul Steve bertubi-tubi karena kesal pada pria itu. "Beraninya kau merebut ciuman dariku Steve, kau jahat sekali. Aku membencimu Steve, aku membencimu!"


Steve memegangi kedua tangan Evelyn agar berhenti memukulnya. "Maaf Eve, aku mencintaimu. Rasanya sulit sekali menerima kenyataan kau akan menikah dengan pria lain," balasnya.


"Lalu, apa kau harus melakukan ini? Kenapa kau tidak mencari wanita lain saja, sekarang lepaskanlah aku! Dan jangan pernah menemuiku lagi setelah ini!" ucap Evelyn geram.


Steve melepas cengkraman tangannya dan membiarkan Evelyn berlalu pergi, sambil terus menatap sendu punggung gadis yang ia cintai itu.


"Eve, andai saja waktu bisa diputar. Aku ingin kita kembali ke jaman dimana masa-masa kuliah kita dulu," batin Steve lalu pergi dari tempat itu juga.


Sedangkan dilain tempat, Marco segera mengirimkan foto-foto dalam ponselnya kepada Gisella.


"Lihatlah aksi jagoan yang dilakukan oleh adikmu itu," ketik Marco disela foto-foto tersebut.


Dan Gisella langsung melebarkan kelopak matanya saat melihat foto-foto yang dikirimkan oleh Marco. "Apa ini Steve?" ucapnya tidak mengira, jika Steve berani mencium Evelyn begitu mesranya.


Ia seketika tertawa puas dan segera mengirim foto tersebut kepada Louise, "Aku ingin lihat, reaksi apa yang akan kau keluarkan setelah melihat foto ini Louise," gumam Gisella.


...----------------...


London, Inggris.


Louise segera meraih ponselnya saat benda pipih miliknya itu berbunyi pesan masuk. "Ini pasti dari gadis kecilku," ucapnya tersenyum sendiri.


Akan tetapi senyumnya berubah datar saat melihat nomor Gisella-lah yang telah mengirimkannya pesan. "Wanita itu, kapan dia berhenti mengangguku."


Dengan rasa malas Louise membuka pesan yang dikirimkan oleh Gisella, dan betapa terkejut dirinya dengan apa yang ia lihat dan baca saat ini.


Selamat ya Louise, calon istrimu telah berkhianat.


Pria itu pun terbelalak, sesekali menelan ludahnya susah payah. Hatinya terasa panas sekali, begitu melihat foto-foto calon istrinya bersama dengan pria lain.


Louise mengeraskan rahangnya, sambil terus menatapi satu persatu foto Steve dan Evelyn yang sedang berciuman.


Selama kau pergi mereka selalu bertemu dan selalu melakukan itu secara sembunyi-sembunyi, sakit bukan? Tapi terimalah kenyataan yang ada.


"Evelyn," ucapnya gemetaran lalu meremas ponselnya itu dan membantingnya hingga ke lantai. "Tidak mungkin!" pekiknya menggeleng.

__ADS_1


"Breng-sek!!" Louise berteriak dengan sangat kencang, sambil menjambak rambutnya karena frustasi. Sesekali menyebut nama Steve dan Evelyn secara bergantian.


Louise menyugar rambutnya yang berantakan, lalu berusaha mengatur nafasnya akibat menahan amarah. Ia kembali mencari ponselnya, lalu menghubungi seseorang.


"Hallo," sapa seorang wanita itu dari ujung ponsel.


"Pesankan aku tiket pesawat ke Jakarta!" sahut Louise.


"Baik Pak."


Louise menghembus nafas kasarnya keudara, lalu bergegas merapihkan tasnya. Pria itu bersikeras ingin kembali ke Jakarta, walau dokter menyarankan untuk menunggu selama beberapa hari lagi.


Karena para dokter spesialis ingin mengambil sampel kesuburan Louise sekali lagi, yang masih belum diketahui cairan ma-ninya itu telah terisi dengan kecebong atau belum.


Serta kecebongnya itu dalam keadaan baik atau tidak.


Louise sudah tidak memikirkan hal itu lagi, karena yang ada didalam pikirannya sekarang ini adalah bertemu dengan Evelyn secepatnya, untuk meminta penjelasan darinya.


Dan mengenai pengambilan sampel dari cairan itu, Louise beranggapan hal tersebut masih bisa di lakukan kapan pun dan di rumah sakit dimana saja.


Selama perjalanan pulang dadakannya, Louise tidak henti-hentinya mengumpat kasar. Jika orang lain bepergian ke luar negeri dan pulang membawa buah tangan, Louise pulang dengan membawa segudang pertanyaan yang tersimpan di dalam kepalanya itu.


Kenapa? Bagaimana? Kapan dan lain sebagainya.


"Dasar anak buah sial-lan! Bagaimana cara kerja mereka sampai tidak mengetahui hal penting seperti ini!" umpatnya begitu murka.


Belum lagi Louise juga akan menceramahi Ken habis-habisan setelah ia tiba di Jakarta nanti.


"Awas kau Ken!" umpatnya terus-terusan.


Sedangkan Ken yang sedang berada di rumah pun, langsung bersin-bersin dan telinganya itu selalu berdengung sepanjang malam. Dan ia juga merasa seperti akan mendapat firasat buruk dalam waktu dekat ini.


...----------------...


Keesokan harinya.


Louise tidak mengabari satu orang pun mengenai kepulangannya ke tanah air dan setibanya di perusahaan. Kedatangan dadakannya itu sukses membuat semua orang kelabakan, pasalnya mereka belum siap duduk di posisi serta belum membuat laporan.


"Oh jadi begini kerja kalian kalau tidak ada bos di kantor hah! Bersantai, ngobrol, bahkan ada yang makan disaat jam kerja!" sentak Louise.


Ia sampai mengebrak meja salah satu pekerja disana, ditambah aura dingin serta menyeramkan yang menyeruak pada pria itu, membuat semua orang ikut terkena sawan.


Sementara itu Ken yang mengetahui Louise telah kembali ke tanah air dan sedang berada di perusahaan pun, dibuat kaget dengan aksi sang bos yang tengah memarahi satu persatu staftnya yang bekerja di lantai bawah.

__ADS_1


"Pak Louise anda sudah kembali?" tanya Ken menghampiri.


Louise mendengus kesal dan menatap tajam Ken seperti ingin memakannya. "Ikut aku ke ruangan!" titahnya sambil berjalan menuju lift.


"B-baik," patuh Ken mengekor dibelakang.


...***...


Aura mencekam kembali memenuhi satu ruangan sang Direktur, Louise menatap tajam Ken yang tengah dilanda kebingungan.


"Apa saja yang kau kerjakan selama aku pergi ke Inggris Ken! Kenapa kau tidak menjalankan perintahku dengan baik hah!" sentak Louise.


"Aku bekerja sesuai dengan apa yang telah kau perintahkan," balas Ken.


"Begitu, lalu apa ini?" tanya Louise lalu melempar ponselnya kepada Ken untuk melihat sesuatu pada galerinya.


Ken membukanya dan terbelalak. "Evelyn?"


"Dia didekati oleh pria lain, bahkan berani mencium calon istriku dan kemana kalian semua saat itu terjadi!" bentak Louise kembali geram.


Ken terkesiap, dia menyalahkan diri sendiri karena telah mengabaikan tugas, sebab kemarin dia sibuk sekali memenuhi persiapan pernikahannya dan tidak meminta ijin terlebih dahulu kepada Louise sebelum pergi.


"Maaf, aku lalai ... " Terjawab-lah sudah kebingungan Ken tentang kepulangan mendadak serta kemurkaan bosnya hari ini.


"Aku tidak mau tahu, cari tahu siapa yang telah mengambil foto ini. Setelah itu panggilkan Evelyn dan suruh ia datang ke ruanganku!" titah Louise dengan raut wajah yang sulit untuk diungkapkan.


"Baik," patuh Ken lalu memanggil Evelyn.


...***...


Di ruangan berbeda, Evelyn mengetahui jika Louise telah kembali ke tanah air. Ada perasaan kecewa saat mengetahui kebenaran dari Steve tentang calon suaminya, yang merupakan pemain wanita saat kuliah dulu.


Hingga melupakan kerinduannya saat ini, dimana seharusnya ia menyambut hangat calon suaminya itu dan berbagi rasa rindu karena tidak bertemu selama sebulan lebih.


Namun rasa kecewa melebihi rasa rindunya untuk saat ini, hingga sulit sekali untuk melupakannya. Akan tetapi mau bagaimanapun juga ia harus bertemu dan meminta penjelasan kepada Louise, mengenai foto-foto yang pernah diberikan Steve kepadanya.


Sedangkan Louise juga ingin meminta penjelasan mengenai foto-foto Evelyn bersama dengan Steve kemarin.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2