Anak Pembantu Milik Tuan Muda

Anak Pembantu Milik Tuan Muda
Bab 41. Menggoyahkan pendirian


__ADS_3

Beberapa saat sebelumnya.


Di sepanjang perjalanan melanjutkan pencarian, Louise melihat beberapa orang tengah berlarian sambil berteriak memanggil nama Evelyn.


Pria itu segera mencari kearah sumber suara dan tak lama setelah itu, kedua mata tajamnya menangkap sesosok gadis remaja yang tengah bersembunyi dibalik sebuah bak penampungan sampah besar milik warga sekitar.


"E-evelyn."


Louise bergegas menghampiri, sebelum Evelyn kabur lagi dan tertangkap oleh anak buah opa Bernadi.


Ia terpaksa membekap gadis itu dan menariknya secara paksa agar ikut bersamanya masuk ke dalam mobil dan pergi menjauh sejauh mungkin sebelum mereka ketahuan.


Louise mengemudikan mobil milik Ken yang sempat ditukar sebelumnya, karena mobil pribadinya itu sedang dipakai oleh Ken untuk mengecoh para penguntit suruhan opa Bernadi.


Dan Louise menghela nafas lega, saat dirinya telah berhasil membawa Evelyn menjauh dari kelompok orang-orang tersebut dan menepikan mobilnya sejenak ditepi dekat hutan.


Entah mengapa Louise sampai berani melakukan hal nekad tersebut, tapi satu hal yang pasti, ia tidak rela jika Evelyn pergi begitu saja dari kehidupannya, apalagi sampai dimiliki oleh orang lain.


Pria itu menatap tajam Evelyn yang masih berusaha untuk kabur, kemudian menyergapnya agar diam.


"Akh! S-siapa kau? Biarkan aku pergi dari sini!" ucap Evelyn memberanikan diri.


Louise membuka masker yang berada pada wajahnya, serta topi kupluk yang sedang ia kenakan dan Evelyn senantiasa memperhatikan hal tersebut.


"Apa kau sekarang mengenaliku?" balas Louise tanpa melepas tatapan tajamnya.


Evelyn pun terbelalak. "T-tuan p-paman," ucapnya terbata dan membeku seketika.


"Sekarang diamlah dan ikut tuan paman pulang ke rumah," balas Louise.


Namun dengan segera Evelyn menolaknya. "Tidak tuan paman! Jangan ajak aku pulang lagi. Aku ingin pergi tuan dan ku mohon biarkanlah aku pergi," balasnya menggeleng.


Louise mendengus kesal, lalu pria itu mencengkram erat kedua bahu Evelyn. "Masih berani tidak patuh pada tuan pamanmu ini!" sentaknya.


"Akh! Lepaskan aku tuan, kau menyakitiku!" ringis Evelyn merasa sakit dikedua bahunya.


"Diam! Aku tidak ingin mendengar apapun darimu, atau tuan paman akan menghukummu lebih daripada ini! Sekarang kau harus ikut pulang ke rumah!" sentak Louise, kemudian melepaskan cengkramannya, lalu melajukan kendaraannya dan pergi.


...***...

__ADS_1


Setibanya dihalaman rumah, Louise menarik tangan Evelyn agar keluar dari mobil untuk mengikutinya masuk ke dalam rumah.


"Tuan lepaskan aku, aku tidak mau kembali kesini lagi, tolong biarkanlah aku pergi!" pekik Evelyn, satu lengannya bahkan terus memukuli bahu kekar Louise tiada henti.


Namun Louise tetap bergeming dan terus menarik lengan Evelyn agar mengikutinya masuk ke dalam.


Dan setibanya mereka di dalam rumah, Louise melepaskan cekalan tangannya pada Evelyn dan berganti mencengkram bahu gadis remaja itu sambil menatapnya tajam.


"Berani sekali kau membantah perintahku dan pergi dari rumahku ini tanpa ijin. Apa kau sadar telah merepotkan semua orang dan membuat kegaduhan dimana-mana!" bentak Louise.


Evelyn terperanjat. "T-tuan maafkan aku, tapi untuk kali ini biarkanlah aku pergi. Aku mohon padamu," pintanya memohon. Kali ini Evelyn nampak menangis terisak.


Louise berdecak. "Kau ingin pergi? Tidak semudah itu Evelyn, karena seumur hidup tuan paman tidak akan mengijinkanmu pergi!"


"Tuan paman, kenapa kau egois sekali. Apa aku tidak boleh memilih kehidupanku! Sekarang lepaskan tanganmu ini tuan paman, aku ingin pergi!" balas Evelyn mulai kesal.


"Tidak boleh, bagaimanapun juga kau adalah tanggung jawabku. Apa kau sudah lupa jika ibu Angel telah menitipkanmu padaku hah!" tegas Louise.


"Ibu Angel sudah tiada tuan, aku hanya ingin pergi dan mencari keluarga asliku. Kenapa kau tidak mengijinkannya?" jawab Evelyn.


Louise menghela nafas dan berusaha menekan semua amarahnya itu, ia melepaskan cengkramannya dan berganti menangkup kedua sisi wajah Evelyn. Lalu menatap lekat wajah itu.


Namun Evelyn menggeleng. "Tidak tuan, kau bukan keluargaku. Kau adalah majikanku. Ku mohon padamu sekali lagi, biarkanlah aku pergi dan mencari keluargaku," jawabnya bersikeras.


Louise menghembus nafasnya kasar, raut wajahnya seketika berubah gusar. "Kau begitu keras kepala, kenapa tidak mendengarkan nasehat tuan pamanmu ini! Inikah balasanmu kepada orang yang telah merawatmu sejak kecil, yang menyayangimu, yang telah memberikanmu pendidikan gratis dan memberikanmu tempat tinggal dirumah ini, hah!" geramnya.


Evelyn mengepal erat kedua tangannya, dia hanya bisa terdiam sambil menundukkan kepala dan tidak mau menatap Louise yang sedang memarahinya habis-habisan.


"Lagipula Evelyn, untuk apa kau mencari keluarga yang sudah tega membuangmu sejak lahir!" bentak Louise dan Evelyn seketika terbelalak lalu mengangkat wajahnya.


Louise mengangguk cepat dan menangkup kedua sisi wajah Evelyn agar terus menatapnya. "Benar Evelyn, sekarang coba kau berpikir sekali saja, kenapa keluargamu itu sampai tega membuangmu dijalan saat hujan deras? Atau adakah dari mereka yang mencoba mencari keberadaanmu saat ini?" ucapnya mendesak.


Evelyn menggeleng lemah. "Tidak, aku tidak tahu tuan," balasnya dengan tatapan sendu.


"Kau tidak tahu, baiklah kalau begitu tuan paman beritahu kebenarannya padamu," ucap Louise mengambil udara sejenak.


"Mereka telah membuangmu dijalan dan tidak ada dari mereka yang mencari keberadaanmu. Itu semua karena sejak awal mereka memang tidak pernah menginginkan kehadiranmu!" imbuhnya terus menggoyahkan pendirian Evelyn.


Hingga akhirnya gadis itu tak sanggup lagi menahan kesedihannya, ia seketika menangis histeris, karena ucapan menyedihkan dari Louise yang membuat hatinya terasa sakit sekali.

__ADS_1


Gadis itu terus menggeleng dan ingin menutup rapat-rapat kedua telinganya, namun Louise senantiasa memegangi kedua tangannya agar terus mendengarkan.


"Kau harus dengar ini Evelyn, tidak ada satupun dari keluargamu yang peduli denganmu, selain tuan pamanmu ini dan kau harus menerima kenyataan itu walau tidak sesuai dengan keinginanmu. Jadi Evelyn, jangan pernah berpikir untuk pergi lagi darisini, karena itu adalah hal sia-sia." ujar Louise.


Evelyn semakin terisak, lalu sekuat tenaga menghentak kedua tangannya agar terbebas dsri cekalan tangan Louise. Kemudian gadis itu berlari pergi dan mengunci dirinya didalam kamar.


Sedangkan Selvi yang menyaksikan kejadian itu sejak dari tadi, menatap kecewa majikannya dan segera menghampiri Louise yang masih terdiam ditempatnya.


"Tuan Louise, kenapa kau tega membohongi Evelyn seperti itu. Apa tuan tidak menyadari jika hati gadis itu sedang hancur sekarang ini karena ucapan tuan sendiri?" ucap Selvi mengutarakan kekecewaannya.


Louise meraup wajahnya kasar dan meninju udara disekitar. "Aku tidak peduli Selvi, yang aku pedulikan sekarang adalah Evelyn sudah pulang ke rumah dan kau harus terus menjaganya dan jangan sampai gadis itu pergi lagi!" titahnya tidak mau tahu.


Louise pergi ke kamarnya dan memutuskan untuk bermalam di rumah pribadinya itu selama anak buah opa Bernadi masih berada di sekitar mereka.


...----------------...


Mansion Opa Bernadi.


Opa Bernadi begitu geram, saat semua anak buahnya tidak dapat menemukan Evelyn dimanapun juga.


Pria tua itu mendesaah kesal dan menyalahkan semua orang karena tidak becus menjalankan perintah.


"Semua orang sudah ku kerahkan, tapi tidak ada satu pun dari kalian yang berhasil menangkap gadis itu. Memalukan sekali!" sentaknya karena tak habis pikir.


"Dan kau Christ, bukankah kau ku tugaskan mengikuti Louise. Lalu apa hasilnya?" tanya Opa Bernadi.


"Maaf tuan besar, tidak disangka kalau Louise benar-benar pintar. Aku kehilangan jejaknya karena dia menggunakan orang lain sebagai pengecoh," balas pak Christ.


Opa Bernadi menghela nafasnya panjang, merasa kecewa sekali. Namun pria tua itu tidak lantas patah semangat.


"Christ, antar aku pergi!" ucapnya lalu bangkit dari tempat duduk.


"Anda ingin kemana tuan?" tanya pak Christ.


"Aku ingin bertemu dengan Horisson dan meminta penjelasan padanya," balas opa Bernadi.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2