Anak Pembantu Milik Tuan Muda

Anak Pembantu Milik Tuan Muda
Bab 62. Meminta ijin.


__ADS_3

Mansion opa Bernadi.


Evelyn membanting keras pintu mobil Louise, setibanya di depan pintu gerbang rumah sang kakek.


"Fu*ck!!" umpatnya tertuju untuk Louise.


Dirinya begitu jengkel sekali, karena pria itu masih saja teguh dengan pendiriannya, yang memintanya untuk tetap tinggal di dalam apartemen pribadinya.


Sedangkan Evelyn sendiri tidak tahu harus bagaimana dalam menghadapi reaksi sang kakek dan mencari alasan seperti apa nantinya, agar diijinkan oleh opa Bernadi untuk tinggal didalam apartemen milik orang lain.


"Sebagai jaminan, aku akan menahan sementara kartu identitas dan juga buku Passport milikmu ini. Aku tunggu kau disana segera dan jika kau tidak datang, maka bersiap-siaplah. KTP beserta dokumen penting pribadimu ini, akan ku jadikan abu gosok atau pembungkus kacang goreng!" ancam Louise tersenyum, sebelum menutup pintu kaca mobilnya.


Evelyn mengelus dadanya karena rasa dongkol, setiap kali melihat ulah Louise yang selalu saja membuat dirinya serba salah dan tidak bisa tenang.


Ia mengutip beberapa kerikil yang berada disekitar kakinya itu, lalu melempar kearah kaca belakang mobil Louise yang tengah melaju kencang, sesekali mengusak rambutnya karena kesal.


Evelyn menggigit kuku jari. "Apa yang harus aku katakan pada Opa," gumamnya bingung sekali.


Karena sebelum Evelyn pulang ke Indonesia, dirinya sudah banyak berbohong kepada opanya, agar mendapatkan ijin untuk pulang kesini.


...***...


Didalam.


"Apa! bekerja?" tanya Opa Bernadi mengerutkan dahinya.


"Iya Opa," balas Evelyn mengangguk yakin.


"Apa alasanmu ingin bekerja Eve?" tanya Opa Bernadi menyelidiki.


"Opa, aku ingin menghasilkan uang dari hasil jerih payahku sendiri," balas Evelyn mencari alasan.


Opa Bernadi menolak tegas keinginan itu. "Kau cucuku, kita tidak kekurangan uang. Jadi Opa tidak mengijinkanmu bekerja keras, apalagi bekerja untuk orang lain."


Evelyn mengusap-usap lengan keriput opa Bernadi dan berusaha meminta ijin darinya. "Opa, tapi aku ingin bekerja dan memanfaatkan gelar sarjanaku ini."


"Kalau kau ingin bekerja, maka bekerja saja di perusahaan kita!" ucap Opa Bernadi.


"Opa, kalau aku bekerja di perusahaan Opa. Sama saja aku tidak bisa hidup mandiri," balas Evelyn.


Opa Bernadi menghela nafas dan menggeleng. "Opa tidak mengerti dengan jalan pikiranmu Evelyn, kau jauh-jauh datang ke Rusia hanya untuk bekerja disini? Kau sampai meninggalkan S2 mu dan nekad pulang sendiri hanya untuk mencari uang. Padahal selama ini uang yang selalu menghampiri dirimu sendiri tanpa perlu dicari," ucapnya tak habis pikir.


"Opa, jangan bicara seperti itu. Aku sudah dewasa dan ingin hidup mandiri tanpa menyusahkan orang lain. Aku ingin belajar banyak hal diluaran sana dan memanfaatkan ilmuku selama belajar dikampus," bujuk Evelyn.


Opa Bernadi menghembus nafasnya lagi. "Baiklah, kau boleh bekerja. Tapi ingatlah Eve, jangan bekerja dengan jabatan terendah di perusahaan ya," balasnya menyerah juga.


Evelyn tersenyum. "Terima kasih Opa, tenang saja aku melamar menjadi asisten kepala dan kebetulan sekali aku lulus tesnya."


"Begitu, tapi hebat sekali tahu-tahu sudah di terima saja. Perusahaan apa yang menerima orang baru menjadi asisten kepala tanpa pengalaman lagi?" tanya Opa Bernadi aneh.


"Ya Opa, sebenarnya ada temanku yang bekerja disana. Terus menawarkan posisi itu padaku, setelah menjalani beberapa tes melalui email. Ternyata aku lulus dan besok aku akan mulai bekerja diperusahaannya," balas Evelyn berbohong lagi.


Opa Bernadi menautkan kedua alisnya, ada perasaan ragu dari semua pernyataan Evelyn. Tapi demi menyenangkan hati sang cucu dan juga keinginannya untuk bekerja, mau tidak mau Op Bernadi menyetujui keinginan tersebut.

__ADS_1


"Baiklah, terserah kau saja."


Evelyn tersenyum lega, namun masih ada satu permasalahan lagi yang belum terpecahkan. Yaitu tinggal di apartemen. "Aku takut sekali untuk yang satu ini," batinnya menjadi gelisah.


"Kenapa?" tanya Opa Bernadi melihat Evelyn diam saja.


"Opa, terima kasih kau telah mengijinkan aku bekerja. Tapi ada satu hal lagi yang ingin ku beritahu padamu Opa," ucap Evelyn memberanikan diri.


"Hmm, apa itu?" tanya Opa Bernadi.


"Opa, selama aku bekerja. Aku akan tinggal di apartemen," balas Evelyn.


"Apartemen? Kenapa kau ingin tinggal di tempat seperti itu?" tanya Opa Bernadi.


"Opa, jarak rumah ini dengan perusahaan itu cukup jauh. Jadi aku memutuskan untuk tinggal di apartemen dekat sana saja agar tidak ketinggalan jam kerja," jawab Evelyn mencari alasan.


Opa Bernadi menatap Evelyn penuh selidik. "Apa nama perusahaannya?"


"PT --- " jawab Evelyn belum usai, karena tiba-tiba Pak Christ datang dan berbisik di telinga Opa Bernadi.


"Tuan, wanita itu ingin bicara denganmu," bisik Pak Christ.


"Apa yang ingin dia bicarakan Christ?" tanya Opa Bernadi sedikit terkejut mendengarnya.


"Entahlah Tuan, wanita itu bilang ini penting," balas Pak Christ.


"Baiklah, sambungkan dengan dia," balas Opa Bernadi.


"Baik Tuan," patuh Pak Christ.


"Tidak ada," balas Opa Bernadi hendak pergi.


Evelyn mengejar Opa Bernadi, untuk melanjutkan permintaannya. "Opa, bagaimana dengan permintaanku tadi?" tanyanya meminta kepastian.


"Tuan, sudah terhubung." Pak Christ segera menyela dan menyerahkan ponselnya kepada Opa Bernadi.


Opa Bernadi menerima panggilan tersebut dan menatap Evelyn. "Eve, Opa harus menjawab panggilan ini dulu, kita akan lanjutkan pembicaraan ini setelah Opa selesai," balasnya.


"Baiklah Opa," patuh Evelyn menunggu hingga urusan sang kakek selesai.


Opa Bernadi buru-buru menjauh dari Evelyn, untuk menjawab panggilan yang tidak ingin diketahui oleh siapapun termasuk cucunya sendiri.


...***...


"Ada perlu apa menghubungiku?" tanya Opa Bernadi menanggapi panggilan seorang wanita.


"Aku ingin kau membelikanku tiket pesawat pulang kesana untuk dua orang," balas si penelepon yang ternyata adalah nyonya Merry.


"Untuk apa? Aku tidak ingin kalian berada disini," balas Opa Bernadi.


"Putraku sedang mencintai seorang wanita dan aku ingin kau membantunya membelikan tiket dan tempat untuk tinggal," balas nyonya Merry.


"Dia putramu dan bukan putraku. Jadi mintalah kepada ayahnya," balas Opa Bernadi menolak.

__ADS_1


"Kau yang telah memaksaku untuk tinggal disini, terpisah dari suami dan juga anak perempuanku. Aku dibenci oleh mereka dan aku hanya ingin meminta hak atas pertanggung jawabanmu," ucap nyonya Merry.


"Aku sudah bertanggung jawab kepadamu dan mengirimmu jauh ke tempat yang aman, tapi setelah tahu putramu itu bukanlah putraku. Maka aku rasa kalian telah kehilangan hak itu," balas Opa Bernadi.


"Ku dengar cucu perempuanmu telah ditemukan dan dia juga tumbuh besar dibawah pengawasanmu. Tuan, bagaimana kalau dia sampai tahu, jika kecelakaan yang menimpah kedua orang tuanya waktu lalu itu, ada campur tangan dirimu juga didalamnya," ucap nyonya Merry.


Opa Bernadi terbelalak, sambil menelan ludahnya yang tercekat. "Berani kau mengatakan hal yang bukan-bukan kepada cucu ku, maka aku tidak akan segan-segan memberimu pelajaran!"


"Tuan, aku sudah siap menghadapi segala resiko yang terjadi padaku nantinya. Karena aku memang bersalah waktu itu, tapi apakah kau akan siap juga menghadapi segala resiko yang terjadi padamu. Jika semua aib serta kebusukanmu terbongkar di depan publik," ancam balik nyonya Merry.


"Wanita breng-sek! Baik, aku akan menyiapkan segalanya," balas Opa Bernadi kesal.


"Terima kasih Tuan," balas nyonya Merry kemudian mematikan ponselnya.


Opa Bernadi berdecak kesal, lalu meminta pak Christ agar membelikan dua tiket pesawat untuk wanita simpanannya. Serta menyiapkan tempat untuk mereka singgah.


...***...


Opa Bernadi kembali ke ruang keluarga dan menghampiri Evelyn yang masih setia menunggunya.


"Opa siapa yang meneleponmu?" tanya Evelyn.


"Hanya klien Opa saja," balas Opa Bernadi berkata bohong.


"Ooh," balas Evelyn singkat.


"Eve ... Setelah Opa pikir-pikir, Opa mengijinkanmu untuk bekerja dan tinggal didalam apartemen," ucap Opa Bernadi tiba-tiba.


"Benarkah," seru Evelyn merasa senang.


"Ya, Opa mengijinkannya," balas Opa Bernadi tak ada pilihan lain. Setidaknya agar Evelyn tidak sampai bertemu dengan nyonya Merry, jika tinggal ditempat lain.


"Terima kasih Opa," seru Evelyn memeluk sang kakek.


"Sama-sama," balas Opa Bernadi menyetujui, akan tetapi dirinya tetap akan meminta Pak Christ untuk mengawasi Evelyn secara diam-diam.


...----------------...


Apartemen.


"Ken, apa tersangkanya masih sama?" tanya Louise menyelidiki kembali.


Ken menghembus nafas. "Masih Louise," balasnya dengan berat hati.


"Kalau begitu kita harus mencari wanita itu, sepertinya dia adalah saksi kunci utama," ucap Louise.


"Kau benar Louise, tapi apa kau yakin akan melakukannya?" tanya Ken ragu.


"Ya mau bagaimana lagi, cepat atau lambat dia akan tahu juga bukan. Dan setelah dia mengetahui kebenaran tersebut, aku hanya ingin dia tahu, kalau kita masih memperdulikan dirinya dan menjadi tempat untuknya bersandar," ucap Louise.


Ken berbinar menatap Louise, tidak disangka sikap egois dan pemaksaannya ini, mempunyai maksud tertentu yang positif.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2