Anak Pembantu Milik Tuan Muda

Anak Pembantu Milik Tuan Muda
Bab 55. Terpaksa.


__ADS_3

Louise memberikan handuk kimononya kepada Evelyn untuk dikenakan, lalu duduk disamping gadis itu sambil menikmati susu jahe hangat.


"Ku pikir kau bisa berenang, ternyata tidak bisa. Kasihan sekali," ucap Louise meledek.


Evelyn mendengus kesal mendengar hal tersebut. "Aku memang tidak bisa berenang, tapi aku tidak pernah menipu seseorang," cibirnya balik.


Louise berdecih, sambil menatap Evelyn yang masih tidak sudi menatapnya. "Rambutmu masih basah, bagaimana kalau aku bantu mengeringkannya."


"Tidak perlu, aku bisa sendiri!" balas Evelyn ketus, sambil merampas handuk kecil dari tangan Louise dan mengeringkan rambutnya sendiri.


"Maaf aku sampai lupa kalau kau sudah bukan anak kecil lagi," balas Louise. Kemudian menyandarkan punggungnya dikursi dan mendesaah panjang.


"Aku masih teringat jelas, dulu ada seorang gadis kecil duduk diatas pangkuanku. Dan ia pernah berkata aku mirip dengan pangeran dicerita dongeng kesukaannya, lalu gadis kecil itu berharap bisa menikah dengan pangeran tampannya suatu hari nanti," celoteh Louise mengingatkan, sesekali melirik Evelyn dengan ekor matanya.


Evelyn terdiam dari aktifitasnya sejenak, perkataan Louise mengingatkan dirinya saat masih berusia 10 tahun.


"Itu sudah berlalu sangat lama dan ucapan anak kecil mana bisa dibuat pegangan," bantah Evelyn, lalu kembali mengeringkan rambutnya dengan cepat.


Louise memperhatikan kegiatan tersebut dan entah mengapa dirinya merasa terpesona sekali, saat Evelyn terus mengusak dan mengayunkan rambutnya yang masih setengah basah itu ke kanan dan ke kiri.


Sedangkan Evelyn yang tidak mengetahui dirinya sedang diperhatikan, hanya bisa mengerutu. Karena sedang bingung memikirkan bagaimana caranya kembali ke kamarnya, yang berada dilantai teratas dalam keadaan berantakan seperti ini.


"Semua pakaianku basah kuyup, masa aku harus kembali ke dalam kamar cuma memakai handuk kimono saja? Bagaimana kalau ada yang menghadangku ditengah jalan dan melakukan hal negatif padaku?" batinnya menjadi gelisah.


"Angin malam tidak bagus untuk kesehatan, bagaimana kalau kau ikut ke dalam kamarku untuk bertukar pakaianmu itu. Kebetulan kamarku berada di dekat sini," ucap Louise mengajak.


Evelyn sontak menoleh. "Apa katamu tuan? Ikut ke dalam kamarmu? Maaf aku tidak sudi, aku tidak ingin sampai orang lain punya pandangan negatif terhadapku, terutama Opa dan juga nyonya bibi," balas Evelyn menolak dan memilih menunggu diarea kolam sampai baju pesanan dari Louise datang.


"Kenapa? Setidaknya di dalam kamarku kau bisa berbilas dengan air hangat dan memakai sabun. Berpakaian dengan leluasa dan tidak diterpa angin malam seperti ini," balas Louise.


Evelyn menggeleng. "Tidak dan jangan memaksaku! Aku akan tetap berada disini sampai baju salinanku itu tiba dan aku bisa membilasnya di dalam toilet," balasnya teguh.


"Tapi sayang sekali, bajumu ternyata telah diantar ke dalam kamarku." Louise menunjukkan sebuah pesan tentang pengantaran baju baru.


Evelyn tersedak nafasnya sendiri. "T-tapi bagaimana bisa?" batinnya bingung.

__ADS_1


Louise terkekeh melihat ekspresi lugu Evelyn. "Sudah jangan terlalu banyak berpikir, tuan paman tidak akan berlaku macam-macam kepadamu. Lagi pula itu adalah kamar yang ku pesan sendiri secara pribadi dan sudah pasti tidak akan ada orang yang tahu. Termasuk Gisella," ucapnya santai tanpa beban.


Evelyn menelan ludahnya susah payah, tapi perkataan Louise sedikit benar tentang kebutuhannya saat ini.


"Cepatlah ikut! Apa kau tidak takut ketahuan oleh orang-orang opa mu, kalau nona mudanya sedang berkeliaran disini, hem?" ucap Louise.


Evelyn menjadi serba salah, benar juga yang dikatakan oleh tuan pamannya itu. Bagaimana jika orang-orang kepercayaan opa sampai tahu kalau ia sedang berkeliaran diluar tanpa seijin dan pengawasan darinya.


"Mereka bisa mengadukanku yang tidak-tidak! Atau opa akan memarahiku habis-habisan," ucap Evelyn kalang kabut.


Louise tersenyum melihat itu semua, padahal yang sebenarnya sekarang ini, orang-orang opa Bernadi sedang diajak berbincang oleh Ken di sebuah cafe dan itu sudah pasti telah direncanakan oleh Louise sebelumnya.


"Kalau tidak melakukan itu semua, bagaimana aku bisa leluasa berdua dan berbincang denganmu," gumam Louise bermonolog.


Evelyn menghembus nafasnya kasar dan menatap kesal kepada Louise yang sedang bersandar santai disebelahnya.


"Baiklah! Tapi tuan paman, berjanjilah untuk tidak masuk ke dalam atau mengintipku!" ucapnya berjaga-jaga.


Louise berdecih. "Untuk apa aku mengintipmu," balasnya, tapi tidak tahu juga bagaimana nanti.


...***...


Ada keinginan untuk masuk ke dalam kamar, akan tetapi Evelyn terus saja mengancam tidak akan memaafkan dirinya seumur hidup.


"Dia berani mengancamku," gumam Louise terkekeh.


Pria itu lantas masuk ke dalam kamarnya segera, tanpa menghiraukan ancaman Evelyn sebelumnya. Karena ia baru saja mendapat pesan dari Ken, jika Gisella sekarang ini sedang berkeliling hotel tengah mencari keberadaan dirinya.


"Wanita itu, menyusahkan sekali!" umpatnya kesal, sambil masuk ke dalam kamar. Lalu mengunci pintu dan bersembunyi, agar Gisella tak berhasil menemukannya.


Sedangkan Evelyn yang baru saja keluar dari kamar mandi segera berteriak, sambil menutupi dada-nya dengan kedua tangan yang bersilang.


Dirinya sangat terkejut, karena melihat Louise ada didalam kamar itu juga, terlebih ia masih belum memakai pakaian dan hanya memakai handuk saja.


"Pria breng-sek! Pria penipu! Pembohong!" bentak Evelyn sambil melempar benda apapun disekitarnya.

__ADS_1


"Evelyn, berhentilah berteriak. Aku terpaksa masuk kedalam, tolong mengertilah!" ucap Louise dan terus berusaha mendekat agar dapat meraih tangan Evelyn untuk berhenti melemparinya dengan sesuatu.


"Dasar pria pembohong, aku sudah tidak mempercayaimu lagi. Aku membencimu tuan paman. Aku membencimu!" bentak Evelyn sekali lagi.


"Diam! Tenanglah Evelyn!" tegas Louise, kali ini dia berhasil mengunci pergerakan Evelyn dengan mencekal masing-masing kedua pergelangan tangannya, dan menekannya hingga merapat ke dinding.


"Kau ingin apa! Menyingkirlah dariku atau aku akan berteriak lebih kencang lagi!" ancam Evelyn.


"Diam, aku tidak ingin melakukan apapun padamu. Selama kau patuh Evelyn, tolong mengertilah ini keadaan mendesak," balas Louise tak ingin memberi tahu jika Gisella tengah mencari keberadaan dirinya saat ini.


"Pembohong, aku tidak percaya denganmu lagi!" Evelyn menggigit salah satu lengan Louise agar terbebas dari cekalan tangannya.


"Agh!"


Louise mendesis dan refleks melepaskan cengkraman tangannya itu, namun melihat Evelyn ingin pergi keluar dari kamar disaat kondisi luar yang tidak memungkinkan.


Dimana gadis itu masih belum berpakaian, serta adanya Gisella tengah berkeliaran diluar kamar. Membuat Louise terpaksa menarik tangan Evelyn kembali dan menguncinya erat-erat.


"Lepaskan aku!" pekik Evelyn.


"Diamlah! Diam Evelyn atau kita berdua bisa terkena masalah nantinya," ucap Louise.


"Aku tidak peduli! Karena kalau aku diam saja, kau pasti akan bertindak melebihi ini dan melakukan hal tidak pantas kepadaku! Lepaskan aku sekarang juga!" Evelyn memberontak kembali.


Dan kali ini Louise tidak tinggal diam, pria itu melepaskan cekalan tangannya dan berganti menyelesupkan kedua telapak tangan besarnya kedalam tengkuk leher Evelyn.


Lalu tanpa aba-aba lagi, Louise langsung membungkam mulut Evelyn yang tidak mau berhenti berteriak dengan mulutnya. Hingga sebuah tragedi ciuman pun akhirnya terjadi.


Evelyn terbelalak ketika mendapat serangan dadakan itu, kedua tangannya tak berhenti memukul dan mencakar tubuh Louise yang masih bertelanjang dada.


Sekuat tenaga ia mendorong tubuh Louise agar menjauh, namun apalah daya, tenaga gadis itu kalah besar. Alhasil, Evelyn hanya bisa menangis dan merasakan sakit hati saat itu juga.


"Maaf," batin Louise terpaksa.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2