
Di Perusahaan.
Tuan Horisson meminta sang asisten pribadinya untuk memanggil Louise agar segera datang ke dalam ruangannya, untuk diinterogasi demi memastikan sesuatu. Tentang perilaku buruknya selama belajar di Inggris, apakah bukti-bukti yang mengarah kepadanya itu adalah benar atau tidak.
"Aku tidak peduli dia sedang ada jumpa dengan klien atau tidak, aku ingin Louise segera datang ke ruanganku!" tegas tuan Horisson.
"Baik pak Horisson," patuh sang asisten bernama Bayu.
Louise yang mengetahui ayahnya datang ke perusahaan pun, segera menyudahi rapatnya dengan para tamu. Pria itu bergegas datang ke ruangan sang ayah, apalagi setelah mengetahui jika sang ayahnya ingin bicara sesuatu hal penting dengannya.
"Ada hal penting apa Daddy sampai memanggilku seperti ini?" batin Louise bertanya-tanya sambil terus melangkah.
...***...
Setibanya di dalam ruangan, Louise segera menghampiri sang ayah yang sedang berdiri dan menatap gusar dirinya .
"Daddy," sapa Louise. Pria itu sedikit bingung dengan raut wajah ayahnya itu.
"Louise, duduk!" titah tuan Horisson dan Louise pun patuh.
Pria tampan itu menarik nafasnya dalam-dalam, entah apa yang ingin dibicarakan oleh sang ayah. Namun firasatnya mengatakan sesuatu, seperti ada hal buruk mengenai dirinya terkait pemanggilan ayahnya kali ini.
"Louise, katakan pada Daddy. Apa saja yang kau lakukan selama berkuliah di Inggris dulu?" tanya tuan Horisson.
"Sudah pasti aku belajar hingga tamat S2 ku Daddy, Daddy juga sudah lihat bukan, sertifikat kelulusanku dengan nilai sempurna," balas Louise.
"Selain belajar apa yang lagi kau lakukan disana?" tanya tuan Horisson lagi.
"Aku menghabiskan waktu di dalam rumah pemberian ayah disana, tapi kadang-kadang aku pergi keluar bersama dengan teman kuliahku jika ada tugas kelompok" balas Louise.
"Apa kau yakin tidak melakukan hal lain lagi?" tanya tuan Horisson terus mendesak agar Louise jujur.
__ADS_1
Louise menautkan kedua alisnya, merasa jika sang ayah sedang meragukan dirinya selama tinggal dan belajar di Inggris. Namun apa, dia tidak mengetahuinya.
"Daddy, sebenarnya ada apa? Kenapa Daddy tidak bilang langsung saja padaku, sebenarnya apa yang ingin Daddy katakan?" tanya Louise mulai tidak sabar.
"Baik! Kalau begitu jawablah dengan jujur semua pertanyaan Daddy mu ini," ucap tuan Horisson.
Louise mengangguk patuh. "Baiklah tanyakan saja," balasnya siap.
Tuan Horisson melempar foto-foto Louise. "Sekarang jelaskan pada Daddy tentang foto-fotomu yang tertangkap kamera ini, bagaimana kau bisa bersama dengan wanita yang berbeda-beda disetiap fotomu itu? Apakah benar yang dikatakan oleh orang lain, jika kau itu adalah seorang pemain wanita?"
Louise seketika bungkam, sambil melototi semua foto-foto dirinya itu. "I-ini, darimana Daddy mendapat semua foto ini?" tanya pria itu sesekali menelan ludahnya yang tercekat.
"Jawab saja Louise, iya atau tidak!" sentak tuan Horisson meminta kepastian.
Raut wajahnya berubah kecewa, ketika Louise tidak dapat menjawab semua pertanyaannya itu. Seolah yang diucapkan oleh tuan Anderson mengenai tingkah buruk Louise adalah benar adanya.
Louise menghela nafasnya panjang, lalu menatap sang ayah yang menatap tajam dirinya dengan raut wajah kecewa. Lalu mau tidak mau, Louise pun akhirnya membuka suara, mengenai foto-foto dirinya yang sedang bersama dengan beberapa wanita itu.
"Daddy, aku akui ini memang diriku dan yang dikatakan oleh orang itu memang benar adanya. Tapi percayalah kalau aku sudah berhenti melakukan hal tersebut sejak lama," jawab Louise.
Pria paruh baya itu serasa tercekik pada lehernya, saat mengetahui jika putra kebanggaan keluarga miliknya itu, punya kebiasaan buruk bermain kotor.
Louise hanya bisa menunduk. "Maafkan aku Daddy, karena aku telah mengecewakanmu karena kasus ini. Aku sebenarnya hanya iseng dan sedang mengikuti tren disana," jawabnya setengah jujur.
Karena yang sebenarnya adalah, Louise awal mulanya memang hanya sekedar iseng bermain satu kali, akibat tantangan dari teman-teman satu kampusnya terdahulu.
Namun lambat laun, dirinya malah ketagihan melakukan hal menjijikkan tersebut. Tapi yang lebih parahnya dia melakukan hal itu pada setiap wanita yang berbeda.
Bahkan ia tidak punya teman ranjang yang tetap, karena sifatnya yang selalu ingin menjelajahi setiap wanita dan untuk itulah Louise tidak pernah bermain dua kali dengan wanita yang sama.
Tuan Horisson menghela nafasnya kasar sambil berkacak pinggang, karena tidak habis pikir dengan alasan dari putranya itu.
__ADS_1
"Iseng? Mengikuti tren disana? Apa yang hebatnya dari itu semua Louise? Apa semua teman ranjangmu itu memuji permainanmu diatas ranjang begitu? atau setelah kau berhasil melakukannya kau merasa dirimu sangat hebat hem?"
"Apa kau tahu tuan Louise Alexander Horisson yang perkasa, karena berita besar sepertimu ini bisa menyebar dengan sangat cepat dan karena ini juga tuan Anderson membatalkan pernikahan putrinya denganmu," ucap tuan Horisson.
Louise dilanda kebingungan sekarang, entah dia harus sedih atau senang setelah mendengar pernyataan dari ayahnya itu.
Disatu sisi dia merasa bersalah sekali karena telah membuat ayah dan keluarganya malu, namun disisi lain dia merasa senang karena pernikahannya dengan Gisella akan dibatalkan.
"Louise, Daddy banyak berharap padamu. Tapi setelah mengetahui hal memalukan ini, Daddy menjadi ragu. Apakah kau pantas meneruskan perusahaan ini atau tidak," ucap tuan Horisson mengungkapkan rasa kekecewaannya.
"Daddy, tolong berikan aku kesempatan sekali lagi. Dan percayalah padaku Dad, aku berjanji akan memperbaiki semuanya," pinta Louise memohon.
Tuan Horisson berdecih. "Cih! Kau pria kotor, walau kau adalah putraku. Aku tidak bisa menyerahkan perusahaanku ini kepada pria yang tidak pernah serius dengan seorang wanita," ucapnya.
Louise menyugar rambutnya dan dia terlihat tampan sekali saat melakukan hal tersebut.
Namun ini bukan saat yang tepat menunjukkan pesonanya itu, melainkan Louise sedang berpikir bagaimana caranya membujuk sang ayah agar mau memaafkan serta memberikan dirinya kesempatan satu kali lagi.
"Daddy please, aku sudah lama tidak melakukan itu lagi dan aku jamin, aku tidak akan melakukan hal yang memalukan itu lagi," ucap Louise meyakinkan.
Tuan Horisson menepis tangan Louise, pria keras kepala itu juga memerintahkan pada anaknya agar mundur dari jabatannya itu karena telah melanggar peraturan tentang etika seorang pemimpin.
Namun mengingat Louise adalah satu-satunya penerus perusahaan, tuan horisson akhirnya memberikannya hukuman berupa sanksi tegas, tanpa memecatnya dari perusahaan.
"Kau tidak bisa dijadikan contoh yang baik, bagaimana bisa aku memberikanmu jabatan tinggi lagi! Mulai sekarang kau bekerja dibagian administrasi."
"Perbaiki semua kesalahanmu, buat hal-hal yang membanggakan hingga semua orang lupa akan keburukkanmu. Dan jika dalam waktu masa percobaan kau berhasil tidak membuatku malu lagi, maka jabatanmu sebagai wakil CEO akan ku kembalikan!" titah tuan Horisson.
Lalu pria paruh baya itu memerintahkan kepada Louise agar segera keluar dari ruangannya setelah memberikan sanksi tegas untuknya.
.
__ADS_1
.
Bersambung.