Anak Pembantu Milik Tuan Muda

Anak Pembantu Milik Tuan Muda
Bab 84. Menolak membiayai


__ADS_3

"Kau habis darimana Louise, kenapa tidak menemaniku didalam?" tanya Gisella.


"Aku habis dari toilet," balas Louise. Sambil membenarkan gulungan tangan kemejanya agar tidak terlihat bekas suntikan.


"Kenapa lengan kemejamu tidak digulung? Bukankah kau sering menggulung lengan kemejamu itu?" cecar Gisella.


"Tidak apa, aku hanya merasa dingin saja."


Louise menepis tangan Gisella dari otot lengannya dan menghampiri Evelyn yang terlihat baru saja masuk ke dalam rumah sakit, sambil menjinjing sekotak makanan dari luar.


"Evelyn," sapa Louise.


Evelyn lantas menoleh. "Tuan," sahutnya tersenyum.


"Sudah jam segini kau baru mau makan?" tanya Louise menengok sesuatu yang dibawa oleh Evelyn.


"Oh makanan ini bukan untukku, tapi bubur ayam untuk bibi Maureen," balasnya memberi unjuk.


"Oh begitu, syukurlah kalau kau sudah makan." ucap Louise.


Evelyn menurunkan senyumannya ketika melihat Gisella menghampiri mereka berdua. "Nyonya bibi, kau juga ada disini."


Gisella menatap sinis. "Iya memangnya kenapa, aku dan suamiku habis memeriksa calon bayi kami disini," balasnya lalu menggandeng tangan Louise dan satu lengan lagi mengusap-usap bagian perutnya.


"Oh, syukurlah kalau begitu. Ku doakan kau dan bayimu selalu sehat," ucap Evelyn.


"Itu sudah pasti, karena ada Daddy nya yang perhatian. Ya kan sayang," balas Gisella, sambil memeluk erat lengan Louise agar tidak bisa melepaskannya.


Evelyn tersenyum tipis dan merasa canggung dengan tingkah mesra Gisella terhadap suaminya. "Tuan, aku harus kembali keatas dan mengantar makanan ini untuk bibi Maureen."


"Apa kau mau diantar?" tanya Louise.


Evelyn menggeleng cepat. "Tidak perlu Tuan, aku bisa pergi sendiri," balasnya sambil menatap Gisella yang menatap tajam dirinya.


"Sayang, ayo kita pulang!" ajak Gisella menarik tangan Louise.


"Bisakah kau tidak menarikku seperti ini!" ucap Louise kepada Gisella lalu menatap Evelyn. "Evelyn, jika butuh sesuatu jangan lupa hubungi aku," ucapnya.


"Baik Tuan," balas Evelyn.


"Dia sudah besar, aku lah yang harusnya kau perhatikan. Ingatlah Louise aku adalah istrimu dan ada anakmu juga disini!" tegas Gisella sambil menunjuk perutnya yang mulai membuncit.

__ADS_1


Louise mendengus kesal dan menatap Gisella. "Anakku? Apa kau yakin itu?" tanyanya dingin.


Gisella tergagap mendengar hal tersebut. "S-sudah pasti i-ini adalah anakmu sayang, masa anak orang lain. Apa kau tidak ingat saat kita membuatnya?" balasnya berusaha tenang. "Sudahlah jangan bicara lagi, lebih baik kita pulang, karena aku lelah sekali," lanjutnya lalu pergi menaiki mobil.


Louise menangkap gelagat aneh Gisella dan merasa jika wanita itu menyembunyikan sesuatu darinya. Lalu menatap Evelyn yang masih setia menunggunya hingga pergi dari rumah sakit dan melambaikan tangannya sebelum masuk ke dalam mobil.


Evelyn refleks membalas lambaian tangan Louise dan segera menurunkan lengannya saat sadar. "Eh kenapa aku malah ikut melambai," batinnya berbalik dan pergi dari lobi rumah sakit untuk naik ke lantas atas.


...----------------...


Keesokan paginya.


Pagi-pagi sekali Dokter khusus yang menangani opa Bernadi memanggil Evelyn sebelum pergi bekerja untuk mendiskusikan sesuatu.


"Ya Dok, ada perlu apa memanggil saya kesini?" tanya Evelyn sedikit bingung.


"Evelyn, ini sudah sebulan lebih tuan besar dirawat dirumah sakit ini. Dan selama sebulan ini, beliau masih belum menunjukkan tanda-tanda kesadarannya. Seperti yang kita lihat sendiri, selama ini tuan besar masih bernafas hanya karena bantuan alat medis. Dan jika bukan tanpa alat bantu ini, kemungkinan besar beliau sudah lama meninggalkan dunia ini."


"Jadi Evelyn, yang ingin saya sampaikan kepada anda adalah. Bahwa pihak rumah sakit, meminta persetujuan dari pihak keluarga tuan besar. Apakah pihak keluarga sendiri masih ingin terus melanjutkan perawatan ini atau tidak?" tutur Dokter Gunawan menjelaskan.


Evelyn nampak pias mendengar hal tersebut, memang selama ini sang opa sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda kesadarannya. Dan selama itu pula, tidak dapat dipungkiri jika opa Bernadi, hanya bertahan hidup dengan bantuan alat-alat medis pendukung yang masih terpasang dibagian tubuh sang Opa.


Dan jika ada salah satu selang atau alat yang tercabut, maka sudah dapat dipastikan sang opa hanya akan tertinggal nama saja.


Dokter Gunawan mengangguk mengerti dan berusaha memberi kekuatan. "Baiklah kalau begitu Evelyn, kami akan terus melakukan yang terbaik."


Evelyn mengangguk. "Terima kasih Dokter," balasnya lalu menengok sang opa sebelum pergi bekerja.


...***...


Selain berdiskusi dengan dokter, Evelyn juga mendatangi bagian administrasi untuk membayar beberapa biaya keperluan perawatan selama satu bulan kedepan.


Namun disaat ia ingin melakukan transaksi, tiba-tiba saja sang akuntan perusahaan menolak untuk membayarkan biaya perawatan rumah sakit.


"Apa maksudmu Pak? Kenapa kalian menolak membiayai perawatan opa ku?" tanya Evelyn tidak mengerti.


"Maaf Nona Evelyn, tapi ini telah menjadi peraturan baru. Bahwa perusahaan tidak lagi diperbolehkan untuk membiayai keperluan pribadi, apalagi dengan nilai yang sangat besar." balas Pak Toni.


Evelyn ternganga mendengar hal tersebut. "Siapa yang membuat peraturan itu hah?"


"Pemimpin perusahaan yang baru, yaitu Nyonya Merry." balas Pak Toni.

__ADS_1


Evelyn tercengang mendengarnya dan merasa geram dengan tingkah laku calon mertuanya yang seolah-olah berkuasa didalam perusahaan sang kakek. "Sejak kapan dia menjadi pemimpin perusahaan opaku!" batinnya kesal.


"Jadi, apa perusahaan tidak bisa mengeluarkan uang sepeserpun untuk biaya pengobatan opaku?" tuntut Evelyn.


"Begitulah Nona," balas Pak Toni.


Evelyn memijat pelipisnya yang berdenyut. "Ya sudah Pak Toni, kalau begitu aku ingin kau mengurus asuransi Opa ku saja."


"Maaf Nona, biaya asuransi Tuan besar telah di nonaktifkan sejak dua bulan yang lalu," balas Pak Toni apa adanya.


"Apa!" sergah Evelyn terkejut. "Lalu, bagaimana dengan rekening Opaku? Bukankan dana didalam rekening pribadi Opa masih cukup untuk membayar biaya perawatannya," tanyanya lagi.


"Maaf Nona, rekening tuan besar nilainya telah kosong. Karena sebelumnya telah diambil oleh tuan besar untuk keperluan yang tidak diketahui," balas Pak Toni.


"Apa!" Evelyn terkejut kembali dan kepalanya mulai terasa sakit. "Bagaimana aku bisa membayar biaya rumah sakitnya?" batinnya mulai cemas.


Pak Toni kemudian menjelaskan secara rinci kepada Evelyn, mengenai keuangan yang kini telah diatur oleh Nyonya Merry. Pria itu juga menyebut, jika Opa Bernadi telah menyerahkan perusahaan itu secara penuh kepada Nyonya Merry.


Evelyn merasa kesal dan mematikan panggilan tersebut karena jengkel mendengarnya. "Bagaimana bisa dia melakukan itu semua kepada Opaku! Aku harus bertemu dan meminta penjelasan tante Merry!" geramnya.


Merasa tidak terima dengan apa yang telah dilakukan oleh Nyonya Merry, Evelyn memutuskan untuk mendatangi perusahaan sang kakek dan menanyakan kepada Nyonya Merry tentang keadaan yang sebenarnya.


Sekaligus bertanya kepada Nyonya Merry, untuk menjawab semua rasa penasarannya selama ini, mengenai bagaimana wanita itu dapat memegang kuasa penuh atas perusahaan sang kakek.


.


.


Bersambung.


...----------------...


Next \=\=> Evelyn mendatangi perusahaan Opanya untuk bertemu dengan nyonya Merry dan berbicara langsung dengannya.


Evelyn begitu gusar, saat melihat Nyonya Merry dengan santainya duduk dibangku yang sebelumnya diduduki oleh sang opa.


Hingga pada sebuah kenyataan yang membuat Evelyn terduduk lemas, yaitu surat kuasa serta surat-surat lain yang menyebutkan bahwa Opa Bernadi telah menyerahkan perusahaan secara penuh dan juga mempercayakan Nyonya Merry untuk menjalankan usahanya itu.


Sampai saham atas nama Evelyn pun telah berpindah tangan dan menjadi milik Nyonya Merry pribadi.


"Opa mu sendiri yang memberikannya padaku, kalau kau tidak percaya. Tanyakan saja padanya jika sudah sadar nanti!" tukas Nyonya Merry.

__ADS_1


Nantikan itu semua di bab selanjutnya.


Selamat menunaikan ibadah puasa bagi saudara-saudari ku yang menjalankannya.


__ADS_2