
Sore harinya.
Sementara itu, masih dikawasan puncak namun di tempat yang berbeda.
Setelah lelah berjalan seharian, Evelyn memutuskan menyewa satu kamar di sebuah hotel murah tanpa bintang, didekat dirinya berada sekarang ini.
Gadis itu menggerutu sendirian, karena kesal tak membawa uang lebih di dompetnya akibat pergi tergesa-gesa dari rumah Louise. Sehingga ia hanya dapat mengandalkan uang yang ada didalam saku serta dompetnya sekarang, yang nilainya tidak seberapa itu.
"Ukh menyebalkan sekali, harusnya aku ingat uang simpananku itu!" umpatnya kesal, saat mengingat seluruh uang simpanannya masih tertinggal di dalam laci lemari baju.
"Hanya bisa menginap satu malam dan makan seadanya, apa yang harus aku lakukan? Masa iya aku harus kembali lagi ke rumah tuan paman hanya untuk mengambil uang simpanan saja," batin gadis itu tidak tahu harus apa.
Evelyn mendesaah panjang, tidak disangka dirinya mengalami kesulitan untuk pergi ke ibu kota saat sudah setengah jalan seperti ini.
...----------------...
Bali.
Setibanya didalam kamar hotel tempat mereka berbulan madu, Gisella menyingkirkan ponsel Louise selama suaminya itu membersihkan diri.
Wanita itu juga menolak panggilan dari Selvi beberapa kali, bahkan membisukan ponsel tersebut, agar perhatian Louise tidak tertuju pada ponselnya yang berdering terus menerus.
Karena itu dapat mengganggu rencananya malam ini untuk memiliki Louise seutuhnya.
"Dasar pembantu tidak berakhlak, sudah tahu majikannya baru saja menikah dan sedang pergi berbulan madu. Kalian malah selalu saja asik menganggunya," geram Gisella sambil melempar ponsel Louise diatas kasur.
Wanita itu tersenyum jahat, lalu merebahkan dirinya diatas pembaringan sambil menunggu Louise keluar dari kamar mandi. Pikirannya kembali mengulang kejadian, dimana benda pusaka Louise terlihat oleh mata lentiknya.
"Pantas saja ia begitu bangga dengan dirinya sendiri dihadapan semua wanita, ternyata ia memang punya benda pusaka sebesar itu. Ah Louise, kita ini kan sudah menikah, tapi kenapa kau tidak memberikan hak itu padaku. Kalau kau tidak bisa menjadi milikku seutuhnya, bukankah hubungan pernikahan kita ini namanya sia-sia!" gerutu Gisella kesal sekali.
Louise mendengarkan celotehan itu dan dia lantas berdecih, ternyata dugaannya selama ini memanglah benar. Kalau Gisella hanya ingin mengincar tubuh sempurnanya itu.
"Sampai kapanpun kau tidak akan pernah bisa mendapatkan apa yang kau mau," ucap Louise dibelakang telinga Gisella. Membuat wanita itu terjingkrak seketika dan mengelus dadanya karena terkejut.
"Louise!" pekiknya kesal.
Louise tersenyum smirk, lalu menyergap Gisella yang masih terdiam membeku dan dengan cepat mengungkung raganya diatas kasur.
"Kau bilang apa tadi? Kau ingin aku menjadi milikmu seutuhnya? Dari awal seharusnya kau sudah tahu Gisella, bahwa aku tidak pernah serius dengan wanita manapun termasuk istriku sendiri," ucapnya dengan tatapan mempesona.
Gisella terkesiap dan mengerjapkan kelopak matanya berkali-kali, tatapan Louise nyatanya seperti sihir saja, yang mampu membuat kesadaran wanita manapun menghilang bak terkena hipnotis.
__ADS_1
Louise meletakkan wajahnya pada ceruk leher Gisella, sesekali meniupnya dengan lembut, hingga membuat wanita itu bergelinjang dan salah tingkah.
"Ah Louise ..." desaah Gisella.
Namun dengan segera Louise membuat wanita itu tersadar kembali.
"Walaupun kau berhasil mendapatkan diriku malam ini, tapi ingatlah satu hal lain mengenai diriku yang belum kau ketahui selama ini. Bahwa didalam kamus pribadiku, aku tidak pernah meniduri wanita yang sama setiap kali berhubungan."
"Jadi Gisella, sebaiknya kau jangan terlalu banyak berharap aku akan menjadi milikmu seutuhnya," jelas Louise dan Gisella lantas membuka penuh kedua matanya.
Gisella segera mengalungkan kedua lengannya pada leher Louise, agar tidak kabur. "Kau terlalu banyak bicara. Bagaimana kalau kita langsung bermain saja," godanya sudah tidak tahan lagi. Lalu menarik leher Louise agar mendekat kembali padanya.
Louise pun tersenyum, memang sudah lama sekali dia tidak bermain diatas ranjang bersama dengan seorang wanita, hingga pikirannya itu mulai sedikit tertutup kabut hasrat, saat Gisella meliukkan tubuh dan mencoba memancingnya untuk masuk ke dalam permainan.
"Apa salahnya bermain dengannya sekali," batin Louise tak masalah.
Namun disaat otak jernihnya mulai tertutup kabut hasrat, tiba-tiba ia merasakan sebuah getaran asing dari suatu benda didekat tangannya itu.
Louise menggeleng saat tersadar, lalu menarik cepat dirinya dari atas tubuh Gisella, kemudian menyingkap bantal kepala yang menghalangi, dan segera mengambil benda tersebut yang ternyata adalah ponselnya sendiri.
"Kenapa ponselku jadi mode silent seperti ini?" batin Louise dan menduga jika Gisella lah yang mematikan nada deringnya.
Gisella menahan Louise yang ingin mengangkat panggilan tersebut. "Kau ingin kemana sayang? Kita masih belum selesai, bahkan belum memulainya."
Louise menghentak tangannya kasar dan menatap tajam Gisella. "Jangan coba-coba menghalangiku!" tegasnya. Lalu pergi ke luar kamar untuk mengangkat panggilan dari Selvi yang terus saja menghubunginya tanpa henti.
...***...
Dirasa sudah cukup jauh, Louise menghubungi nomor Selvi dan betapa terkejut dirinya saat sang anak buah kepercayaan tengah menangis terisak.
"Kenapa Selvi? Apa yang terjadi, katakan padaku?" cecar Louise cemas.
"T-tuan, Evelyn. Hiks!" balas Selvi terisak.
"Ada apa Selvi, kenapa dengan Evelyn? Apa dia baik-baik saja," tanya Louise tak sabar.
"Apa yang kita takutkan selama ini terjadi tuan, Evelyn kabur dari rumah dan sampai sekarang dia belum ditemukan," balas Selvi.
Louise terpaku dan berusaha menelan ludahnya yang tercekat, ia mengepal erat tangannya yang bergetar, seakan tak percaya setelah mendengar penuturan dari Selvi.
Dia juga terlihat marah kepada semua orang bahkan pada dirinya sendiri, sampai meninju apapun benda yang berada disekitarnya, saat mengetahui anak yang sudah diamanahkan oleh ibu Angel untuk dijaga kepadanya pergi begitu saja.
__ADS_1
Louise semakin cemas dan panik, terlebih saat mengetahui jika Evelyn tidak membawa ponsel barunya dan tidak tahu mengenai keberadaan gadis itu hingga sekarang ini.
"Kami sudah melakukan pencarian tuan, tapi Evelyn masih belum ditemukan dan sekarang kami terpaksa meminta bantuan tuan besar untuk membantu mencari keberadaan Evelyn," ucap Selvi.
"Ya sudah, sekalian kau dan Mika pulanglah. Pencarian Evelyn, biar aku dan anak buahku yang mencarinya," ucap Louise.
Segera pria tampan itu menghubungi seluruh orang-orang kepercayaannya untuk membantu mencari keberadaan Evelyn yang masih belum ditemukan hingga hari menjelang malam tiba. Lalu bergegas memesan tiket kepulangannya hari ini juga.
...----------------...
Beberapa jam kemudian.
Mansion Opa Bernadi.
Pak Christ menghampiri opa Bernadi yang sedang duduk santai di kursi goyangnya, sambil melihat katalog beberapa berlian koleksi buatan PT-nya.
"Kenapa Christ?" tanya opa Bernadi.
"Tuan besar, saya mendapat informasi, kalau Louise mendadak kembali ke ibu kota," ucap pak Christ memberitahu.
"Mendadak pulang? Bukankah dia sedang pergi berbulan madu?" tanya opa Bernadi sedikit terkejut.
"Saya tidak tahu pasti alasan kepulangan Louise yang mendadak ini tuan besar, tapi ada satu hal yang saya temui saat mematai-matai keluarga Horisson hari ini," balas pak Christ.
"Apa itu?" tanya opa Bernadi penasaran.
"Anak-anak buah tuan Horisson, hari ini mereka terlihat dimana-mana dan dari gelagatnya, mereka seperti sedang mencari keberadaan seseorang," balas pak Christ.
"Hmm, itu berarti ada hubungannya dengan kepulangan Louise kali ini. Tapi Christ, yang jadi pertanyaannya adalah, siapakah yang sedang mereka cari? Apakah orang itu sangat penting, hingga Horisson dan Louise sendiri sampai turun tangan untuk mencarinya?" tanya opa Bernadi masih berada didalam teka-teki.
"Kalau mengenai hal itu, saya masih belum tahu tuan besar. Karena kita masih harus terus memantaunya dengan seksama," balas pak Christ.
Opa Bernadi menghela nafasnya panjang. "Christ, kalau begitu ikuti Louise setelah dia tiba di bandara dan pastikan kali ini kau tidak kehilangan jejaknya!"
Pak Christ mengangguk patuh. "Baik tuan besar."
.
.
Bersambung.
__ADS_1