Anak Pembantu Milik Tuan Muda

Anak Pembantu Milik Tuan Muda
Bab 96. Memenangkan kasus


__ADS_3

"O-opa kau sudah sadar ..." lirih Evelyn. Kedua matanya tidak sanggup menahan buliran bening yang menumpuk dikedua kelopak matanya.


Opa Bernadi menjalankan kursi roda otomatisnya dengan pandangan lurus ke depan menghadap sang hakim, tanpa ragu dan tanpa basa-basi, seolah-olah dirinya telah siap untuk diadili.


"Maaf Yang Mulia Hakim, jika tidak keberatan ijinkan saya berbicara disini." ucap Opa Bernadi. Dengan didampingi Bibi Maureen yang berdiri setia, sesekali memeriksa selang infus agar berfungsi dengan baik.


"Silahkan," balas sang Hakim mengijinkan.


"Terima kasih," Lalu Opa Bernadi pun disumpah untuk memberikan jawaban dari setiap pertanyaan yang akan diajukan untuk dirinya nanti dengan sejujur-jujurnya.


Opa Bernadi menatap tajam satu persatu anak buah dari pihak Nyonya Merry dan ia mengangguk karena siap menyerahkan segalanya.


Dan hal tersebut tentu membuat pihak dari Nyonya Merry merasa panas dingin. "Setahu kita Tuan besar adalah pria tamak dan tidak mungkin akan menyerahkan kekayaannya untuk orang lain. Tapi apa sekarang dia akan menyerah atau malah mendukung kita," bisik-bisik kubu Nyonya Merry masih dilanda pertanyaan.


"Yang Mulia Hakim, saya mengakui kesalahan ataa semua yang terjadi. Mereka yang berjuang mempertahankan haknya adalah benar, semua itu adalah kesalahan saya yang begitu tamak. Hingga mengakibatkan banyaknya jatuh korban dari ulah saya sendiri," tutur Opa Bernadi.


Lalu menatap para korban. "Semua ini berawal ketika saya datang ke daerah mereka, untuk melihat putra saya bekerja menghadapi klien barunya. Diperjalanan kami menemukan tempat wisata alam nan indah, disana warganya juga begitu ramah."


"Mereka mempersilahkan kami masuk, hanya untuk sekedar berbagi kehangatan dari dinginnya hujan deras waktu itu. Hingga pada sore hari dimana saya begitu banyak waktu luang, saya mendapat kabar dari anak buah perusahaan jika tanah yang sedang mereka pijak itu memiliki kandungan batu berharga tidak ternilai didalamnya."


"Saya datang dan meminta mereka menggali hingga beberapa meter kedalam tanah dan menemukan jika kandungan tanah tersebut memiliki emas murni berbentuk bongkahan-bongkahan kecil yang begitu banyak sekali. Terlebih alat detektor batu berharga selalu saja berbunyi disegala tempat dimana kami sedang mengarahkannya."


"Kilauan emas murni nyatanya membutakan mata kami dan menutupi rahasia tersebut dari warga sekitar, hingga pada akhirnya saya terhasut pikiran sendiri dan meminta beberapa orang untuk merampas tanah tersebut."


"Yang Mulia Hakim, sayalah yang bertanggung jawab atas semua ini. Saya menyadari dan mengakui semua kesalahan yang telah saya perbuat. Untuk itu hukumlah saya seadil-adilnya dan saya mengucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada semua korban yang telah dirugikan oleh perusahaan," tutur Opa Bernadi menjelaskan, sambil memegangi dadanya karena terlalu lama berbicara.


Namun penuturan dan pengakuan Opa Bernadi ditepis oleh pihak Nyonya Merry.


"Yang Mulia, kedatangan Tuan Bernadi dan juga pengakuannya saya rasa adalah bentuk pembelaan terhadap cucunya sendiri. Dan mengingat usia dan penyakitnya sekarang ini, beliau hanya mengada-ada saja. Karena beliau sendiri bari sadar dari komanya, oleh sebab itu kita tidak tahu ucapannya itu murni karena dia sedang sadar atau tidak," tukas jaksa dari pihak Nyonya Merry.


"Yang Mulia Hakim, perkataan jaksa terlapor memanglah benar. Saya baru saja tersadar dari koma yang cukup panjang, akan tetapi mengingat usia saya yang sebentar menginjak 85 tahun. Saya rasa bertobat dan mengakui semua kesalahan, dapat membuat saya lebih tenang saat menghadap sang pencipta nantinya," balas Opa Bernadi.


Semua pihak dari Nyonya Merry terdiam, merasa kehabisan kata-kata. Terlebih saat Opa Bernadi menyerahkan beberapa berkas lama sebagai bukti, mengenai kecurangannya waktu lalu dan juga nama pihak-pihak lain yang terkait dalam kasus tersebut.


"Yang Mulia Hakim, ini adalah bukti yang saya punya dan mungkin satu-satunya bukti terkuat utama untuk menuntut perusahaan kali ini," balas Opa Bernadi telah mengikhlaskan segalanya.


Dan setelah mendalami bukti kunci serta terdakwa utama yang telah menyerahkan diri, kasus itu pun akhirnya dimenangkan oleh pihak korban.


Pihak Nyonya Merry tertunduk lesu dan sudah dipastikan, hukuman pidana telah menanti mereka semua. Terkait pasal penipuan serta kejahatan yang menimbulkan kerugian kepada orang banyak.

__ADS_1


Lalu PT Indo Berlian Perkasa akan di tarik ijinnya dan lahan tambang yang sedang berjalan sekarang ini akan dikelola oleh negara, dan keuntungannya akan menjadi milik warga korban terdahulu.


Selain itu, mansion mewah beserta aset berharga lainnya akan dilelang oleh bank, dan hasil lelang tersebut, akan digunakan untuk biaya ganti rugi yang disebabkan oleh pembangunan lahan tambang.


Mendengar kenyataan itu pun membuat Nyonya Merry murka dan mengutuki setiap orang, karena impiannya telah gagal untuk menguasai secara penuh harta keluarga Bernadi.


"Aku tidak akan tinggal diam Tuan Besar!" sergah Nyonya Merry sambil diseret oleh pihak kepolisian.


Sedangkan pihak korban saling mengucap syukur, karena mereka akhirnya memenangkan kasus ini dan pulang membawa berita baik bagi keluarga mereka.


Akan tetapi kegembiraan para korban tidak berlaku bagi Evelyn sendiri, ia berdiri dengan punggung terbungkuk dan berusaha menutupi semua rasa kesedihannya itu.


Ia menatap jauh sang Opa dan segera mendekati pria tua itu sebelum dibawa pergi oleh pihak berwenang dan dimasukkan ke dalam jeruji besi.


Lalu Evelyn pun bersimpuh dan meminta maaf, karena telah menjebloskannya ke dalam penjara. "Maafkan Eve, Opa. Maaf ..." lirih Evelyn tidak kuasa menahan tangisannya.


Opa Bernadi mengusap kepala Evelyn dengan lembut dan membelainya perlahan. "Tidak mengapa dan jangan menangis, Opa-lah yang seharusnya meminta maaf padamu, karena kejahatan Opa dulu, kau jadi kehilangan kedua orangtuamu."


Opa Bernadi menarik nafasnya dalam-dalam dan tidak terasa air matanya juga turut menetes. "Terima kasih karena berkat kegigihanmu, Opa jadi merasa lega sekarang ini dan sudah siap bertemu dengan orang tuamu nanti dialam lain," ucapnya tersenyum.


Evelyn menggeleng. "Jangan bicara seperti itu Opa, aku masih belum siap kehilanganmu. Aku bahkan belum sempat berbakti padamu dan sekarang aku malah membuatmu kehilangan segalanya."


"Louise, terima kasih atas segalanya. Opa ada satu permintaan padamu, apa kamu tidak keberatan?" tanyanya.


"Apa itu Opa? Katakan saja," balas Louise siap mendengarkan.


"Opa ingin menitipkan Evelyn padamu dan tolong jaga dia sampai ia benar-benar bisa hidup mandiri," balas Opa Bernadi.


Louise tersenyum dalam hati. "Tentu saja Opa, Evelyn sudah ku anggap seperti keluarga sendiri. Aku akan selalu menjaganya," balas Louise memegangi tangan Evelyn.


Opa Bernadi tersenyum, sekaligus bersedih. Karena sebentar lagi dia akan berpisah dari Evelyn dan bisa dikatakan ini adalah hari terakhir kebersamaannya dengan sang cucu.


...***...


Beberapa saat kemudian.


Evelyn terus menangis tersedu-sedu, saat melihat sang kakek akhirnya dibawa ke dalam penjara. Namun karena kondisi Opa Bernadi masih lemah dan butuh pemeriksaan rutin, membuat pria tua itu harus dilarikan ke rumah sakit khusus narapidana.


"Tuan, apa semua yang kulakukan ini sudah benar? Aku membuat bangkrut Opaku sendiri," isak Evelyn seperti menyesali keputusannya menuntut opa Bernadi.

__ADS_1


Louise merangkul Evelyn, lalu menangkup kedua sisi wajahnya. "Tindakanmu sudah benar Evelyn, memang kenyataannya pahit dan sulit untuk diterima. Akan tetapi, lihatlah sisi baik dari semua kejadian ini. Berkat dirimu mereka para korban mendapat keadilan, para penjahat mendapat hukuman. Dan Opa mu mendapat kebebasan dari rasa bersalahnya," ujarnya menenangkan.


Evelyn mengangguk dan berusaha tegar menerimanya. "Kau benar Tuan," lirihnya.


"Sekarang lebih baik kita kembali," ucap Louise.


"Baiklah," balas Evelyn.


Louise hendak menggenggam tangan Evelyn, namun sebelum hal itu terjadi, Gisella telah lebih dulu menarik tangan Evelyn. Lalu menampar wajahnya dengan keras hingga menimbulkan suara nyaring dan Evelyn meringis.


"Gisella!" sergah Louise sambil menahan amarah Gisella.


"Diam kamu Louise! Aku punya urusan dengan wanita ja-lang ini!" sarkas Gisella. Ia bahkan tidak malu lagi menunjukkan kemarahannya didepan umum.


"Dasar pelakor! Tidak puas kamu membuat keluargaku menderita dasar wanita murahan, rendahan! Pergi saja kau ke neraka bersama keluargamu!" Pekik Gisella memaki dengan amarah yang meluap-luap.


"Cukup Gisella!" sergah Louise dan menjauhkan Gisella dari Evelyn.


"Tidak Louise! Aku tidak akan puas sampai aku berhasil membuatnya cacat seumur hidup!" tepis Gisella masih bersikeras ingin memukul Evelyn dan terus melontarkan tudingan pedas kepadanya.


Hingga pada akhirnya batas kesabaran Louise telah habis dan membuatnya melayangkan satu tamparan keras ke wajah Gisella, agar berhenti berbuat anarkis apalagi terhadap Evelyn.


Gisella memegangi pipinya yang memerah dan menatap tajam Louise karena telah berani menampar wajahnya itu.


"Louise aku ini istrimu! Teganya kau menampar aku hanya karena wanita ja-lang ini!" tukas Gisella tidak terima.


Louise mencengkram kedua bahu Gisella hingga meringis kesakitan dan menariknya agar mendekat.


"Louise berani sekali kau berbuat kasar seperti itu padaku! Apa kau tidak sadar kalau aku ini sedang mengandung anakmu!" pekik Gisella mencoba melepaskan diri.


"Jangan sebut Evelyn wanita ja-lang, karena sebutan itu lebih cocok untuk dirimu! Kau pikir aku tidak tahu anak siapa yang sedang kau kandung itu hem?" balas Louise gusar.


Gisella melebarkan kelopak matanya dan tergugu. "T-tentu saja ini anakmu," balasnya.


Louise membuka surat pemeriksaan hasil DNA yang diberikan oleh dokter Gunawan saat memeriksa kondisi Opa Bernadi. Lalu menunjukkan surat tersebut kepada Gisella yang nampak pias.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2