Anak Pembantu Milik Tuan Muda

Anak Pembantu Milik Tuan Muda
Bab 26. Menginap di puncak.


__ADS_3

Mansion Anderson.


Setibanya di dalam rumah, tuan Anderson segera memberi hukuman untuk Gisella dengan mengurungnya di dalam kamar, sampai putrinya itu menyadari semua kesalahannya, karena telah berani menemui Louise tanpa ijin.


"Daddy akan menghukummu, kau tidak boleh keluar dari kamarmu ini sampai kau menyadari kesalahanmu itu!" tegas tuan Anderson.


Gisella memukul-mukul pintu kamarnya, meminta untuk dibukakan. "Buka pintunya Daddy! Jangan pisahkan Gisell dengan Louise!" pekiknya memberontak.


"Jangan pernah menyebut nama pria kotor itu lagi di rumah ini atau Daddy akan mengurungmu selamanya!" ancam tuan Anderson.


"Daddy jahat! Pantas saja mommy pergi, karena sikap daddy yang kejam seperti ini!" sahut Gisella, membuat tuan Anderson langsung terdiam membeku.


Dimana pria paruh baya itu langsung mengingat sang istri yang pergi begitu saja meninggalkan dirinya 16 tahun yang lalu, tanpa sebuah alasan yang jelas.


Kau ingin kemana sayang, kenapa kau terburu-buru seperti itu. Lalu kenapa kau kelihatan panik sekali?


Aku tidak punya banyak waktu Ander dan tidak bisa menjelaskannya kepadamu. Aku harus pergi sebentar ya, ada urusan mendadak yang harus ku kerjakan.


Setelah perkataan itu tuan Anderson tidak pernah melihat istrinya lagi. "Mery ..." batinnya merasa sedih.


"Daddy keluarkan aku!" pekik Gisella hingga membuyarkan lamunan tuan Anderson.


"Renungkan semua perbuatanmu hari ini dan jangan berharap bisa keluar dari kamarmu sebelum kau belum menyesali semuanya!" jawab tuan Anderson.


"Daddy, aku membencimu!" sahut Gisella dari dalam.


Tuan Anderson menghela nafasnya kasar, sesak sekali rasanya melihat putrinya itu membangkang hanya karena mencintai seorang pria seperti Louise.


...----------------...


Mansion Horisson.


Sementara itu Louise menghela nafasnya berkali-kali ketika mengingat caci maki dan hinaan dari tuan Anderson kepada dirinya.


Pria bedjat.


Pria kotor.


Jangankan putriku, wanita manapun tidak akan sudi menikah dengan pria badjingan sepertimu!


Pria tampan itu berdecih, sesekali menyugar rambutnya kebelakang. Tidak pernah sekalipun ia mendapat hinaan dari orang lain, apalagi itu dari seorang pria paruh baya seusiaan ayahnya.


"Apa aku sebedjat dan sebadjingan itu?" batin Louise antara mengakui dan tidak.


Tak berapa lama kemudian, ponselnya nerdering. Dengan malas-malasan, pria yang sedang bertelanjang dada itu menatap layar ponselnya.


"Mau apa lagi dia?" gerutu Louise ketika melihat nama Gisella terpampang pada layar ponselnya.


Pria itu pun menolak panggilan tersebut, hingga bosan rasanya menekan tombol merah pada layar ponselnya.


Lalu, saat panggilan kembali berdering. Louise mengangkat panggilan tersebut dan segera mendampratnya.


"Dasar penganggu, sudah ku bilang kita tidak bisa melanjutkan pernikahan ini. Berhentilah memohon Gisella, karena sekuat apapun kau membujukku. Aku tetap tidak akan melanjutkannya!" sentak Louise melalui ponselnya.

__ADS_1


"T-tuan paman," jawab Evelyn dari ujung panggilannya.


"E-evelyn," emosi pria itu mereda, bahkan merasa bersalah karena telah salah memarahi orang.


"Maaf, tuan paman pikir kamu orang la--," ucapnya lagi. Namun belum selesai mengucapkan kata terakhir, panggilan tersebut telah di matikan oleh Evelyn.


Bagaimana tidak, gadis muda itu merasa syok sekali, karena tahu-tahu dirinya sudah terkena damprat saja oleh orang lain.


Louise pun cemberut, sambil menatap layar ponselnya. Lalu dengan segera ia menelepon balik ke nomor tersebut.


"Halo," sahut Selvi.


"Selvi, tadi Evelyn meneleponku ada apa? Kemana dia sekarang?" tanya Louise to the point.


"Hem, Evelyn mendadak tidak jadi bicara dengan anda tuan. Saya tidak tahu pastinya kenapa, tapi sepertinya dia berubah sedih sekali," jawab Selvi menceritakan keadaan Evelyn.


Louise menghela nafasnya panjang. "Bisa kau berikan ponselmu padanya?"


"Tentu saja tuan," patuh Selvi.


Louise menunggu hingga Evelyn yang menjawab panggilannya, namun di ujung panggilan tersebut Evelyn menolak berbicara dengannya.


"Maaf tuan muda, Evelyn berubah tidak ingin bicara dengan anda," balas Selvi.


"Baiklah, kalau begitu tolong sampaikan pada Evelyn, tuan paman minta maaf," ucap Louise kemudian mematikan panggilannya.


Louise menjadi gelisah dan tidak tenang, terlebih saat mengetahui jika Evelyn berubah sedih, gara-gara ucapan kasarnya yang telah salah sasaran.


Pria itu juga merasa penasaran sekali, karena Selvi berkata ada yang ingin Evelyn sampaikan padanya, sebelum akhirnya niatnya itu terurung.


...----------------...


Setelah kejadian tersebut, Evelyn mendadak murung. Tapi bukan karena Louise yang telah salah berkata kasar kepadanya, melainkan isi dari ucapan tuan pamannya itu.


Dimana Louise tidak jadi menikah dengan Gisella, yang membuat hati Evelyn berubah menjadi sedih dan sedikit kecewa.Tapi apa boleh buat, Evelyn akhrinya mengurungkan niat.


Dimana permintaan gadis itu yang ingin sekali menjadi seorang penggiring pengantin wanita saat pernikahan tuan pamannya dengan Gisella.


"Apa mereka sedang bertengkar? Tapi kenapa sampai bisa batal menikah begitu? Ah ... Untung saja aku belum mengatakan keinginanku tadi, karena kalau tidak, aku pasti akan merasa tidak enak hati pada tuan paman," gumamnya sendirian.


...***...


Pada malam harinya.


Louise memutuskan untuk menginap di rumah pribadinya yang berada di kawasan puncak selama beberapa hari kedepan.


Selain karena rasa penasaran dan juga rasa bersalahnya pada Evelyn saat membentaknya di telepon belum lama tadi, Louise juga ingin menenangkan pikiran dari banyaknya sindiran maupun hinaan yang tertuju padanya.


Seperti sedang melarikan diri, Louise pergi tanpa memberitahu orang-orang rumahnya. Lalu memerintahkan kepada semua orang di dalam rumah pribadinya itu agar tidak memberi tahu orang rumah utama termasuk tuan besar Horisson, jika dirinya sedang berada di dalam rumah pribadinya.


Seperti saat sekarang ini, Louise sedang menatap tajam Selvi ketika mendapat panggilan dari tuan Horisson.


"Maaf tuan besar, tuan muda Louise tidak ada disini," ucapnya terpaksa berbohong.

__ADS_1


Louise menarik senyum lebarnya. "Thank's Selvi, gajimu akan ku transfer dua kali lipat untuk bulan ini," ucap Louise senang, saat Selvi berhasil mengelabui sang ayah.


Sedangkan wanita itu hanya bisa mendesaah pasrah, rasanya berdosa sekali saat membohongi tuan besar Horisson yang sedang kelimpungan mencari keberadaan putranya.


...----------------...


Keesokan paginya.


Louise telah bangun pagi-pagi sekali dan kini ia telah berada di depan teras rumah pribadinya hanya untuk menghirup udara segar di pagi hari yang masih tertutup kabut rapat.


Pria itu menarik udara sebanyak mungkin, lalu menghembuskan nafasnya keudara dengan kedua mata terpejam.


"Ah segar sekali," gumamnya tersenyum.


Sesekali berpikir, kenapa tidak ia manfaatkan rumahnya itu dari dulu sebagai tempat tinggal.


Pernyataan tersebut bukanlah tanpa sebab, karena baru semalaman ia tinggal di kawasan puncak, ternyata mampu menyegarkan pikirannya dari semua beban yang menganggu.


Lantas pandangannya tertuju kepada sesosok gadis muda memakai seragam abu-abu yang berjalan tergesa-gesa, seperti sedang mengejar waktu.


"Evelyn, minum susunya dulu!" panggil Selvi setengah berteriak kepada Evelyn yang ingin pergi ke sekolah.


"Aku sudah minum susu kak Selvi," sahut Evelyn enggan berhenti dari jalannya.


"Habiskan!" titah Selvi tidak mau tahu.


Evelyn akhirnya patuh dan segera menghentikan langkahnya, lalu berbalik untuk menghabiskan susunya segera, agar tidak ketinggalan jam pelajaran sekolah.


"Ini susunya sudah ku habiskan," ucap Evelyn menyodorkan kembali gelas tersebut ke tangan Selvi. Kemudian berlari secepat mungkin agar tidak ketinggalan angkutan umum.


"Bagus, heh tapi tunggu dulu!" panggil Selvi. Dirinya tidak sempat memberikan sapu tangan untuk menyeka sisa susu dibibir gadis itu.


"Ah sudahlah biarkan saja," gumamnya membiarkan, lalu masuk ke dalam rumah untuk melanjutkan pekerjaannya.


...***...


Evelyn menghentak-hentakan ujung kakinya, karena kesal menunggu kendaraan umum yang lama dan jarang sekali lewatnya.


"Kalau begini terus aku bisa ketinggalan sekolah," gumam gadis itu khawatir.


Mengingat jarak sekolahnya yang cukup jauh, yaitu berada di pusat kota dan itu berarti ia harus turun kebawah dari kawasan ia berada.


Lalu disaat dirinya tengah dilanda kekhawatiran akibat takut terlambat pergi ke sekolah, tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti tepat dihadapannya.


Evelyn mengamati mobil itu dengan seksama, perlahan kaca bagian depan mobil tersebut mulai terbuka. Lalu tak lama setelah itu, nampaklah sesosok pria tampan yang sedang tersenyum menatap dirinya.


"Hai, butuh tumpangan," ucap Louise menawarkan bantuan.


.


.


Bersambung.

__ADS_1



__ADS_2