
Setelah kejadian tersebut, Louise meminta Ken untuk membantu menghapus rekaman CCTV hotel saat dirinya bersama dengan Evelyn di kolam renang.
Serta menghapus sebagian rekaman saat Evelyn masuk ke dalam kamarnya, untuk menghilangkan bukti agar Evelyn tidak dapat menuntutnya suatu hari nanti.
"Louise, apa kau yakin melakukan hal ini kepada Evelyn? Kau tahu kan keluarga Bernadi termasuk keluarga berkuasa? Apa kau tidak takut akan resiko dari perbuatan nekadmu ini?" tanya Ken ragu-ragu.
"Kau tahu, ada saatnya kita harus mengambil keputusan berat jika menginginkan sesuatu. Evelyn tumbuh didalam keluargaku dan telah menjadi bagian hidupku juga, banyak hal yang tidak bisa ku lupakan dan salah satunya yaitu waktu kebersamaan dengannya."
"Disaat Evelyn pergi, aku merasa dia telah mencampakkanku dan juga melupakan semua pengorbanan serta pemberianku kepadanya selama ini. Aku selalu menjaganya, aku merawat dan juga menemaninya. Aku menyekolahkan dia, bahkan selalu ada untuknya disaat ia sedih."
"Aku hanya ingin dia tetap berada disisiku, selalu patuh terhadapku dan aku juga ingin dia selalu mengingat diriku yang pernah ada bersamanya disaat ia sedang susah. Aku tidak ingin dia pergi jauh lagi dariku Ken," balas Louise.
"Apa maksudmu Louise, kau ingin Evelyn selalu berada disisimu dan memperkerjakan dia layaknya seorang pembantu. Evelyn cucu orang kaya, bagaimana bisa kau memperlakukan dirinya seperti seorang pesuruh!" ucap Ken tak habis pikir.
"Aku tidak peduli dengan semua itu Ken, karena bagiku Evelyn tetaplah anak pembantu milikku. Aku tidak menganggapnya sebagai nona muda kaya atau mengakui jika dirinya adalah milik keluarga lain," balas Louise masih teguh dengan pendiriannya.
"Apa yang membuatmu berubah egois seperti ini Louise? Kenapa kau berpikiran seperti itu mengenai status Evelyn? Kenapa kau juga mengikatnya dengan perjanjian bodoh seperti itu dan mengancamnya agar menurut? Apa kau memiliki alasan lain seperti punya perasaan kepadanya? Maksudku, apakah kau mencintainya?" tanya Ken.
Louise sejenak terpaku. "Cinta?" batinnya sontak berdecih. "Tidak Ken, aku juga tidak mengerti kenapa aku melakukan itu kepadanya."
"Tapi Louise," ucap Ken belum usai.
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Aku hanya mengikat Evelyn untuk bekerja denganku selama lima tahun, hanya untuk mengganti waktu yang pernah dia tinggalkan selama lima tahun ini. Dan setelah lima tahun ke depan, aku akan membebaskannya."
"Ken lebih baik kita istirahat, karena besok pagi kita harus pulang dan kembali lagi ke perusahaan," titah Louise lalu pergi.
Ken hanya menatap heran Louise dan berharap agar tidak terjadi masalah lagi dikemudian hari karena keputusan nekadnya itu.
...----------------...
Keesokan harinya.
Bandara.
Evelyn dan bibi Maureen telah bersiap untuk terbang pulang ke negara asal, setelah menghabiskan masa liburannya di Yogyakarta bersama dengan opa Bernadi.
__ADS_1
"Evelyn, apa kau baik-baik saja? Kau terlihat kurang sehat dan diam saja dari tadi, apa kau ada masalah?" tanya bibi Maureen cemas.
Evelyn berusaha tersenyum. "Tidak bibi, aku baik-baik saja."
"Tapi bibi melihatmu seperti kurang semangat nak, apa kau butuh sesuatu?" tanya bibi Maureen lagi.
"Tidak bibi, aku hanya lelah karena kurang tidur," balas Evelyn berbohong.
"Begitu? Apa kau yakin tidak ada masalah lain?" cecar bibi Maureen.
"Tidak bibi, jangan cemaskan aku." Evelyn meraih tangan bibi Maureen lalu menciumnya.
"Ya sudah, kalau kau lelah jangan lupa tidur saja saat dipesawat ya. Nanti bibi akan pijat kepalamu," balas bibi Maureen.
Evelyn mengangguk dan tersenyum. "Baik bibi."
Bersamaan dengan hal itu, kedua mata Evelyn seketika membola saat melihat seorang pria dikejauhan, sedang melambaikan tangan memintanya untuk datang menghampiri.
"Bibi, aku ingin ke toilet sebentar. Kau tunggu disini dulu ya, aku akan segera kembali," ucap Evelyn buru-buru.
"Baiklah," balas bibi Maureen tanpa curiga.
Evelyn menatap kesekitar untuk memastikan agar tidak ada orang yang mengikuti dirinya pergi sekarang ini dan segera menghampiri tempat dimana Louise sedang memanggilnya untuk datang.
Namun belum tiba dirinya ditempat tujuan, uluran tangan tiba-tiba menariknya masuk ke sebuah ruangan dengan cepat.
"Tuan!" pekik Evelyn terkejut.
"Sst! Jangan berteriak," ucap Louise sambil menempelkan jari telunjuknya ke bibir Evelyn.
"Lepaskan tanganmu! Cepat katakan, kau ingin apa? Aku tidak punya banyak waktu," ketus Evelyn memalingkan wajahnya.
Louise mengikis jaraknya dengan Evelyn, dan menarik pinggang rampingnya untuk merapat. "Kau akan pulang ke Rusia dan butuh waktu lama untuk kembali lagi kesini. Aku hanya ingin mengucapkan salam perpisahan padamu," balasnya lemah lembut.
Evelyn menghembus nafasnya kasar. "Aku tidak butuh salam perpisahan atau apapun itu, jadi ku mohon untuk sekarang, biarkan aku tenang disisa masa kuliahku, Tuan."
__ADS_1
Louise tersenyum dan menarik dagu Evelyn agar mau menatapnya. "Syukurlah kalau kau masih mengingat perjanjian kita, aku pasti akan merindukanmu saat berada di Rusia nanti, Evelyn."
Evelyn memutar bola matanya malas dan melepaskan lengan Louise dari pinggangnya. "Kumohon jaga sikapmu padaku tuan Louise! Dan ingatlah akan statusmu yang sudah beristri," ucapnya menekankan.
"Jangan selalu menyinggung tentang status pernikahanku dengannya Evelyn, karena aku tidak suka mendengar hal itu," balas Louise serius.
"Kenapa, bukankah itu kenyataan kalau kau memang sudah menikah dan beristri. Jadi, lebih baik pusatkan saja semua perhatianmu itu kepada istri tercintamu Tuan," balas Evelyn kesal.
Louise tak membalas perkataan tersebut, karena menurutnya berdebat dengan seorang wanita itu adalah perbuatan sia-sia, serta tidak akan ada habisnya.
Namun, ada satu cara ampuh ala Louise untuk membuat wanita agar diam, yaitu membungkam mulutnya dengan sebuah ciuman.
Secepat kilat pria itu mendaratkan bibirnya pada bibir Evelyn, agar berhenti menceramahinya, sesekali melumaat bibir ranum itu hingga basah dan menyesapnya kuat namun secara perlahan.
Evelyn membeku dan kembali merasakan sesak dalam dada-nya yang terasa sakit, sekelibat perbuatan Louise semalam terbayang kembali didalam benaknya.
Dan bukan hanya perbuatan Louise itu saja yang membuat dirinya terasa sesak, sebuah perjanjian semalam juga membuat ia merasa tidak bernafas dengan lega.
Karena bagaimana tidak, dalam waktu hanya beberapa bulan lagi, Evelyn akan menjadi tawanan Louise dan bekerja dibawah tekanan pria itu selama lima tahun.
Demi menepati perjanjian saat menukar kehormatannya kemarin malam.
Louise melepaskan pagutannya dan menatap wajah sensual Evelyn yang memerah. "Aku merasa senang sekali, karena kau tidak memberontak padaku hari ini," ucapnya dan itu membuat Evelyn sangat jengkel.
"Bagaimana aku bisa memberontak padamu tuan, karena kau selalu saja mengancamku dengan hal yang tidak-tidak!" balas Evelyn menatap tidak suka.
Louise tersenyum mendengar hal tersebut, bahkan membelai rambut Evelyn dengan penuh kasih sayang. "Aku menunggumu kembali, jangan ingkari perjanjian yang pernah kita buat sebelumnya oke."
Evelyn menghembus nafasnya kasar. "Aku tidak akan lupa perjanjian itu," balasnya lalu mendorong Louise dan hendak pergi. Namun Louise lagi-lagi mencekal pergelangan tangan Evelyn.
"Lepaskan aku tuan, aku harus pergi sekarang!" ucap Evelyn penuh penekanan.
"Aku menunggumu kembali," ucap Louise penuh harap. Hingga akhirnya ia pun melepas kepergian Evelyn dan menunggunya hingga kembali.
.
__ADS_1
.
Bersambung.