Anak Pembantu Milik Tuan Muda

Anak Pembantu Milik Tuan Muda
Bab 81. Berganti kepemimpinan.


__ADS_3

PT Indo Berlian Berkasa.


Steve menuju ruangan wakil Presdir, dengan langkah besarnya. Sesekali berdecak kesal jika mengingat perkataan Louise kepadanya dan juga Evelyn yang memarahinya hanya karena tidak menemaninya ke rumah Opa Bernadi.


"Mommy!" ucap Steve setibanya di depan pintu.


"Ada apa Steve? Kenapa kau terlihat marah seperti itu?" tanya Nyonya Merry.


Steve datang menghampiri, lalu duduk dihadapan Nyonya Merry untuk mengatakan keluh kesahnya.


"Mom, kapan kau akan beraksi dan mengambil alih secara penuh perusahaan ini?" tuntut Steve.


Nyonya Merry menghela nafasnya panjang. "Kenapa kau berkata seperti itu Steve, apa ada yang menganggumu?"


"Mom, kakak ipar memandang rendahku dan tidak ingat kalau aku dan Eve sudah bertunangan!" ucap Steve emosi.


"Ada apa lagi dengan Louise? Apa dia melakukan hal yang aneh padamu?" tanya Nyonya Merry tidak mengerti.


"Dia membawa pergi Eve dan sok-sok an peduli padanya," balas Steve.


"Membawa pergi kemana? Mommy benar-benar tidak mengerti dengan apa yang kamu ucapkan," ucap Nyonya Merry mencoba memahami.


Steve menceritakan bagaimana Evelyn membohonginya, lalu kepedulian Louise saat mengantar Evelyn ke rumah opa Bernadi. Serta mengantar pria tua itu ke rumah sakit karena mengalami pendarahan otak.


Nyonya Merry sedikit terkejut mendengar kabar jika opa Bernadi kini sedang mengalami koma, dan itu berarti semakin mempermudahkan dirinya mengambil alih perusahaan.


"Itu salahmu sendiri Steve, kenapa kau tidak menemaninya waktu itu. Sudahlah Steve, Mommy masih banyak pekerjaan, lebih baik kau kembali ke ruanganmu dan bekerjalah," ucap Nyonya Merry malas meladeni.


Steve mendengus kesal, karena sang Mommy sama sekali tidak mendengar keinginannya dan malah menyalahkan dirinya karena tidak menemani Evelyn kemarin malam.


Setelah keluar dari ruangannya, Nyonya Merry menghubungi beberapa pengurus perusahaan serta para pengacara untuk mengadakan rapat dewan direksi dan membicarakan masalah pergantian pemimpin perusahaan yang baru.


Ambisi wanita itu begitu besar, terlebih setelah berhasil mendapatkan surat kuasa terkait dengan kepemimpinan perusahaan saat ini.


Yang didapatkan dengan cara liciknya sehari setelah opa Bernadi jatuh sakit, dimana surat kuasa tersebut menyatakan bahwa dirinya berhak mengatur dan juga memimpin jalannya perusahaan, untuk menggantikan jabatan opa Bernadi selama pria itu sakit.

__ADS_1


Nyonya Merry memberikan kabar terbaru mengenai pemimpin perusahaan tersebut, kepada para staf direksi dan menunjuk surat kuasa miliknya terdahulu, yang telah disetujui dengan tanda tangan sang pemimpin langsung.


Serta tidak lupa dibubuhi stempel perusahaan, yang telah disahkan oleh notaris setempat.


Dan setelah melakukan rapat besar para anggota dewan, yang memakan waktu cukup lama. Maka para anggota direksi melalui pemungutan suara, menunjuk Nyonya Merry sebagai pengganti jabatan opa Bernadi, selama pria itu belum sadarkan diri.


Mengingat sang cucu perempuannya yang belum matang dan belum adanya pengalaman khusus dibidang kepemimpinan perusahaan. Serta pertimbangan-pertimbangan lain, seperti status Nyonya Merry yang merupakan calon mertua dari sang pewaris satu-satunya keluarga Opa Bernadi.


Menjadikan keputusan para staf dewan mau tidak mau memilih wanita itu untuk memimpin perusahaan PT Indo Berlian Perkasa.


"Jangan khawatir, tuan Bernadi telah mempercayakan perusahaan ini kepadaku. Dan itu dibuktikan dengan surat kuasa yang dibuat oleh tuan Bernadi sendiri."


"Beliau memilih diriku untuk menggantikan posisinya jika terjadi hal sulit seperti ini, lagipula sebentar lagi putraku akan menikah dengan cucunya tuan Bernadi. Dan selama mereka belum mendapatkan pengalaman memimpin perusahaan, maka akulah yang akan mengajari serta membimbing putra dan juga menantuku itu!"


Begitulah kira-kira kata penutup dari rapat anggota dewan direksi yang disampaikan secara langsung oleh Nyonya Merry.


Steve tersenyum puas dan bertepuk tangan paling kencang diantara semua orang, tidak dapat dipungkiri pria itu mengagumi totalitas kerja sang ibunda. Hingga kesombongan Steve perlahan muncul saat itu juga.


Dan menganggap semua aset perusahaan ini telah menjadi miliknya beserta dengan sang ibu.


Nyonya Merry tersenyum dan menunjuk kepala Steve dengan jari telunjuknya. "Mommy menggunakan ini," balasnya lalu kembali bekerja.


Steve mengangguk mengerti dan mengagumi kecerdasan otak mamynya itu. "Kau benar-benar cerdas Mom, tidak kusangka langkahmu sangat cepat untuk mengambil semua ini."


"Bukan aku yang pintar atau langkahku yang kecepatan, ini semua karena si kakek tua itu yang sudah melemah. Jadi kita bisa dengan mudah menyelusup masuk dan menipunya," balas Nyonya Merry.


Steve tersenyum puas. Tidak disangka penantian dan juga perjuangan sang ibu akhirnya membuahkan hasil, tinggal satu langkah lagi maka impian mereka akan terwujud.


Yaitu menjadi bagian dari keluarga Bernadi, dengan cara menikahi Evelyn.


"Jangan senang dulu Steve, kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Sejauh ini kita memang masih belum menemui hambatan. Tapi Mommy juga sedikit takut, bagaimana kalau ada seseorang tiba-tiba muncul dan berani menghadang jalan kita yang tinggal sedikit lagi," ucap Nyonya Merry.


"Siapa yang harus kita takuti Mom, jangan khawatir. Bukankah si pria tua itu sedang koma dan tidak sadarkan diri, apalagi dia sudah tua dan dewa kematian bisa saja menjemput ajalnya kapanpun," balas Steve.


Nyonya Merry berusaha menepis ketakutannya itu, tapi tidak menutup kemungkinan. Karena bisa jadi, ada orang lain yang dapat mengacaukan semua rencananya.

__ADS_1


"Asalkan kasus lamaku dan tuan besar tidak terkuak dihadapan publik, maka perusahaan ini akan tetap berdiri kokoh sampai kapanpun!" batin Nyonya Merry.


...----------------...


Rumah sakit.


Malam harinya, Louise berkunjung ke rumah sakit. Hanya untuk mengecek kondisi kesehatan opa Bernadi yang masih belum sadarkan diri.


Selain itu, ia juga mengirimkan makan malam untuk Evelyn dan Bibi Maureen.


"Makanlah, ini sudah malam." Louise menyodorkan nasi campur dalam kotak.


Evelyn menghela nafasnya dan ragu-ragu mengambil nasi kotak tersebut. "Terima kasih," balasnya lesu sekali.


"Kenapa?" tanya Louise.


"Tidak apa, aku hanya heran saja. Kenapa kau yang selalu muncul kesini dan bukannya Steve." Evelyn mengayun-ayunkan kakinya saat duduk, dan merasa kecewa karena Steve sama sekali tidak memperdulikan kakeknya.


"Jangan berharap sesuatu pada orang lain, mungkin saja dia sedang sibuk." Louise membukakan nasi kotak yang berada ditangan Evelyn dan berharap gadis itu memakannya.


"Sibuk apa, setahuku dia baru bekerja sebulan lebih. Harusnya dia masih dalam masa percobaan bukan," balas Evelyn.


Louise berdecih. "Masa percobaan? Bahkan kau tidak tahu jabatannya sekarang didalam perusahaan opamu itu?" batinnya geleng-geleng sendiri.


"Evelyn, ku dengar perusahaan Opa berganti kepemimpinanan dan susunan staf direksi juga berubah hari ini," ucap Louise.


Evelyn mengerutkan dahinya. "Berubah? Tapi bagaimana bisa, Opa kan masih berbaring dan setahuku Opa tidak menunjuk siapapun untuk digantikan posisinya?"


"Kau benar-benar tidak tahu, kursi Opa Bernadi kini telah ditempati oleh calon mertuamu Evelyn," ucap Louise dan menunggu reaksi apa yang akan dikeluarkan oleh Evelyn.


"Apa calon mertuaku, maksudmu Mommy nya Steve. Nyonya Merry?" kejut Evelyn dan tidak menyangka jika keluarga Steve sudah melangkah hingga sejauh itu.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2