Anak Pembantu Milik Tuan Muda

Anak Pembantu Milik Tuan Muda
Bab 101. Kedatangan Steve.


__ADS_3

Keesokan paginya.


Gisella beserta dengan Louise sama-sama telah hadir di pengadilan agama, untuk memenuhi surat panggilan terkait sidang perceraian mereka berdua.


Dan setelah menjalani sidang yang cukup panjang tersebut, mereka berdua akhirnya resmi berpisah dari ikatan suami istri.


Nyonya Grace yang turut menemani Louise pun merasa tidak rela mendengarnya, namun setelah wanita glamour itu mengetahui alasan dibalik perceraian mereka, ia langsung kecewa ditempat.


Terutama kepada Gisella, karena telah berani membohongi keluarga Horisson mengenai kehamilannya, yang ternyata bukanlah milik keluarga Horisson sendiri.


"Kenapa kau tega sekali mengkhianati putraku Gisella? Mommy selama ini percaya padamu dan begitu senang sekali saat menerima kabar bahagia mengenai kehamilanmu ini. Tapi setelah Mommy tahu yang sebenarnya, kalau anak dalam kandunganmu ini bukanlah anaknya Louise, Mommy benar-benar marah dan kecewa sekali padamu!" murka Nyonya Grace.


"Mommy, maafkan aku. Aku khilaf melakukannya," balas Gisella menyesali.


Namun Nyonya Grace telah terlampau kecewa kepada Gisella, hingga tidak sudi untuk disentuhnya dan menatap wajah mantan menantunya itu.


"Mommy tahu selama ini Louise selalu acuh padamu Gisella, tapi inikah balasanmu terhadapnya? Kenapa kau sama sekali tidak berusaha mengambil hatinya atau berusaha bebenah diri agar Louise memandang dirimu," keluh Nyonya Grace dan mengerti ternyata Gisella selama ini tidak pernah mengurus putranya.


"Mom, aku telah berusaha sebaik mungkin. Tapi Louise tetap saja menjauhiku dan dia juga melarangku untuk mengurusnya," balas Gisella membela diri.


"Itu karena kau terlalu terobsesi pada tubuhnya saja dan bukanlah melayani suamimu seperti istri pada umumnya. Dan kau sudah tahu kalau Louise tidak mencintaimu, tapi kau sama sekali tidak berusaha agar dia jatuh hati padamu. Mommy menyesal sekali karena telah menyetujui pernikahan kalian waktu itu, jika tahu akhirnya akan begini."


"Harusnya Mommy lebih percaya pada Louise ketimbang dirimu, agar semua ini tidak terjadi. Dan Gisella, mulai sekarang jangan pernah tunjukkan lagi wajahmu pada Louise ataupun keluarga Horisson dan jangan panggil Mommy lagi padaku, karena hubungan kita telah berakhir!" tegas Nyonya Grace lalu pergi meninggalkan Gisella sebelum mantan menantunya itu sempat membalas.


Gisella mendesahh kesal dan menatap sinis mantan mertuanya yang berlalu pergi bersama dengan Louise.


...----------------...


Perusahaan Horisson.


Disisi lain, Steve mengunjungi tempat dimana Evelyn bekerja saat ini. Dan ia berani menemui cintanya itu sebab ia tahu, jika Louise sedang tidak berada ditempat, mengingat jadwal sidang perceraian Gisella dengannya dan akan kembali pada siang hari setelah makan siang.


"Aku ingin bertemu dengan Eve," titahnya kepada sang resepsionis.

__ADS_1


"Baik, tunggu sebentar." Lalu menghubungi Evelyn kalau ada tamu yang ingin bertemu dengannya.


"Tuan Steve, silahkan naik ke lantai 5. Ruangannya berada disebelah Pak Direktur," ucap si resepsionis kemudian mengarahkan.


"Terima kasih," balas Steve mengerti.


Pria berkaki jenjang itu pun naik lift dan menekan angka sesuai arahan, sesekali berharap agar Evelyn mau kembali ke sisinya.


Setibanya di depan pintu ruangan, Steve mengetuk pintu, dengan debaran menggila di dadanya dan tak lama setelah itu Evelyn mengijinkannya untuk masuk.


Steve berdebar cukup kencang, mendengar suara yang selama ini ia rindukan, sesekali debaran menggila dalam dada berkecamuk. Sebab setelah sekian lama tidak bertemu, akhirnya ia memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Evelyn dan melihatnya kembali.


Pria itu menatap binar sang pujaan hati dan terdiam cukup lama di muka pintu, mengamati perubahan pada Evelyn yang menurutnya semakin mempesona.


"Eve ..." lirih Steve sambil berjalan masuk kedalam ruangan.


"Ada perlu apa datang kesini?" tanya Evelyn datar.


Steve tidak membalas pertanyaan itu karena kedua tangannya telah mendekap Evelyn dengan erat. "Aku merindukanmu Eve," bisiknya.


Steve berganti menggenggam tangan Evelyn dan menatap serius. "Kembalilah padaku Eve, aku mencintaimu dan ingin sekali menikah denganmu. Kali ini aku berjanji tidak akan membuatmu kecewa lagi," ucapnya sambil mengecup punggung tangan Evelyn.


"Maaf Steve, aku tidak mencintaimu dan aku tidak ingin menikah denganmu. Mungkin kau dengan mudah mengatakan kalau kau tidak akan mengulang kembali kesalahan yang sama karena opa ku kini telah dipenjara. Tapi semenjak kejadian waktu itu, aku telah memutuskan untuk tidak menerimamu lagi!" jawab Evelyn menolak.


"Kenapa kau keras kepala sekali Evelyn, apa kau yang kurang dariku. Aku sudah mapan kali ini dan aku bisa menjamin kesejahteraanmu hingga mendatang," balas Steve bersikukuh.


Evelyn memutar bola matanya malas. "Maaf Steve, tapi mengertilah. Aku tidak akan kembali padamu lagi, lebih baik kau pergilah. Aku tidak ingin semua orang salah paham mengenai kedatanganmu kali ini dan aku tidak ingin bos ku sampai mengira kalau aku membawa pria asing masuk ke dalam kantornya," balas Evelyn lalu melengos pergi karena telah masuk jam makan siang.


Steve mendengus kesal, lalu mencekal pergelangan tangan Evelyn dan membawanya hingga ke sudut ruangan sepi.


"Steve! Lepaskan aku!" sergah Evelyn.


"Aku tidak akan melepaskanmu, sebelum kau menyetujui permintaanku. Pergilah bersamaku dan tinggalkan kakak iparku," pinta Steve memaksa.

__ADS_1


"Tidak Steve, aku tidak ingin ikut denganmu. Jadi pergilah sekarang juga dan jangan temui aku lagi!" tegas Evelyn.


Steve semakin mencengkram pergelangan tangan Evelyn dan mengikis jaraknya hingga tidak bersisa.


"Apa yang ingin kau lakukan Steve? Jangan berbuat macam-macam, atau aku akan berteriak dan memanggil penjaga keamanan!" sergah Evelyn.


"Kau selalu patuh pada setiap perkataan kakak ipar, karena dia selalu saja memaksa dan juga mengancammu agar mau menuruti keinginannya. Bagaimana kalau aku melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh kakak ipar, agar kau berubah patuh padaku Eve!" ancam Steve.


"Jangan macam-macam Steve, aku tidak akan patuh padamu!" sahut Evelyn berani.


"Ku dengar kakak ipar telah menciummu kemarin dan mengatakan akan menikah denganmu setelah melepas status pernikahaannya. Aku hanya berharap kau tidak menerima permintaannya itu, atau aku akan merebut paksa dirimu dari tangan kakak ipar, walau itu harus menyakiti salah satu dari kami!" ancam Steve serius.


"Jangan gila Steve!" sentak Evelyn sebal sekali jika dirinya jadi bahan perebutan para pria.


"Aku serius dan aku akan membuktikannya!" ucap Steve serius lalu menarik tangan Eveltn agar pergi dari perusahaan Horisson dan ikut dengannya.


"Lepaskan aku Steve, sudah ku katakan aku tidak ingin ikut denganmu!" ucap Evelyn penuh penekanan, sesekali menarik tangannya agar terlepas.


Namun Steve terus melanjutkan membawa pergi Evelyn dan tidak peduli pada siapapun yang menentang dirinya membawa gadis itu, walau itu Louise sendiri.


Aksi Steve dan penolakan Evelyn kembali mengundang perhatiaan para karyawan kantor lainnya, mereka bertanya-tanya ada apa gerangan dengan karyawan wanita muda satu ini.


Selalu saja membuat keributan dan selalu melibatkan pria tampan serta kaya.


Hingga pada saat mereka tiba di loby utama kantor, Louise yang baru saja tiba bersama Nyonya Grace beserta Ken berpapasan dengan Steve yang sedang menarik paksa Evelyn agar ikut dengannya.


Kedua mata pria itu langsung memicing tajam. "Berani sekali kau menyentuh calon istriku!" sergah Louise dan itu membuat Nyonya Grace tercengang.


.


.


Bersambung.

__ADS_1



Maaf ya, telat up karena habis ikut kegiatan amal. Jangan lupa beri like, komen, hadiah, vote atau apapun itu agar penulis lebih semangat lagi. Terima kasih 🙏🙏


__ADS_2