Anak Pembantu Milik Tuan Muda

Anak Pembantu Milik Tuan Muda
Bab 52. Terjatuh.


__ADS_3

Keesokan harinya.


"Ayo bibi, cepat kita pergi!" seru Evelyn tak sabar.


"Iya tunggu dulu sayang, bibi masih harus mengecek keperluan lagi. Takut ada yang tertinggal," balas bibi Maureen, dengan kedua tangan yang sedang sibuk memeriksa isi tas.


"Baiklah, tapi cepat ya. Aku tidak ingin sampai ketinggalan momen ini," balas Evelyn tak sabar, ingin cepat sampai dan menapakkan kedua kaki gatalnya di candi Prambanan dan juga candi Borobudur.


Bibi Maureen lantas mendengus kesal. "Ya Eve, bersabarlah sedikit. Candi-candi itu juga tidak akan lari kemana pun!" balasnya.


"Ya Candi-candinya tidak akan lari bibi, tapi waktu kita yang banyak terbuang. Bibi kan tahu, besok siang kita sudah harus pergi diri sini." balas Evelyn.


Bibi Maureen menghela nafasnya panjang dan menatap Evelyn yang berubah lesu. "Iya bibi mengerti, ya sudah ayo kita berangkat!" serunya.


"Bagus bibi, sini aku bawakan semua tasnya!" balas Evelyn lalu melemparkan semua tas itu ke dalam mobil.


"Ayo pak kita berangkat!" ucap Evelyn kepada sang supir pribadinya.


"Baik Non," sahut si supir.


...----------------...


Pabrik tekstil.


Perakitan mesin di sebuah pabrik pembuatan kain terbesar di provinsi Jawa tengah, yang sedang ditangani oleh pihak Louise dan juga pihak pak Wondo, kini telah memasuki proses finishing atau tahap penyelesaian akhir.


"Pak Louise! Jika proses akhir ini berjalan dengan mulus dan tanpa ada hambatan yang berarti, kemungkinan siang atau sore, mesin ini sudah bisa dioperasikan," ucap Ken, melaporkan hasil pengamatannya.


Louise mengangguk. "Baguslah kalau begitu, jadi kita bisa pulang besok pagi."


"Benar pak Louise, teknisi dari kita dan teknisi dari pabrik ini juga sudah melakukan ujicoba kelayakan mesin dan ini hasilnya," balas Ken sambil memberikan sehelai kain produksi mesin tersebut.


Louise meraba permukaan kain itu dan ia merasa puas sekali dengan hasilnya. "Bagus sekali tidak ada yang cacat, kalau begitu aku harus menemui pak Wondo dan memberikan hasil ini! Ayo Ken," serunya bersemangat.


"Baik pak," patuh Ken.


Kedua pria tampan itu bergegas menemui pak Wondo dan memberikan hasil laporan yang telah ditulis dalam sebuah berkas-berkas penting lainnya.


...***...


"Bagaimana pak Wondo, apa kau puas dengan hasil mesin buatan PT kami?" tanya Louise menyerahkan hasil produksi mesinnya.


Pak Wondo mengulas senyum dan senang dengan hasil kerja keras dari Louise beserta para teknisinya. "Terima kasih Louise, sejauh ini aku puas," balas pria paruh baya seusiaan dengan ayah Louise.


"Syukurlah kalau anda menyukainya pak Wondo, kalau begitu, ini beberapa surat-surat resmi dari perusahaan kami yang berkaitan dengan mesin-mesinnya. Didalam kontrak ini juga terdapat surat asuransi, serta surat garansi jika ada kerusakan selama masa waktu 1 tahun dan untuk lebih jelasnya, anda bisa membaca semua dokumen ini," tutur Louise menjelaskan.


Pak Wondo menerima berkas tersebut dan membacanya dengan seksama, mereka juga mendiskusikan tentang cara pelunasan mesin yang dicicil dalam beberapa kali pembayaran.


"Baiklah Louise, mana surat yang harus aku tanda tangani?" tanya pak Wondo menyetujui semua syarat beserta ketentuan dari PT Horisson.


"Ken, tolong serahkan." Louise meminta Ken untuk menjelaskan bagiannya.


"Ini pak Wondo, nota faktur pembelian dan juga nota yang lain. Silahkan ditandatangani disebelah sini," ucap Ken memandu dan pak Wondo mengikuti.


"Terima kasih pak Wondo," ucap Ken dan Louise, setelah pria paruh baya itu menyelesaikan beberapa dokumen yang diperlukan.


"Sama-sama. Oiya Louise, setelah semuanya selesai, bagaimana kalau kita makan siang bersama dulu. Ajak team suksesmu juga sebelum kalian pergi dari kota ini," ucap Pak Wondo mengundang.


Louise mengulas senyum. "Baiklah pak Wondo, terima kasih atas undanganmu." balas Louise.

__ADS_1


Mereka pun kembali berjalan menuju pabrik, untuk memantau kembali proses kelancaran mesin produksi mesin baru, yang akan beroperasi pada esok hari.


...----------------...


Candi Prambanan.


Sementara itu, Evelyn tengah menikmati suasana dan juga asyik mengagumi keindahan bangunan bersejarah disekitarnya itu.


"Jadi begini bentuk Candi Prambanan, indah sekali," gumamnya bermonolog.


Selain menikmati keindahan bangunan tersebut, Evelyn juga mengisi ilmu pengetahuannya dengan membaca beberapa sejarah tentang bangunan bergaya arsitektur Hindu itu.


Dan yang paling menarik perhatian Evelyn adalah kisah singkat putri Roro Jongrang dan pangeran Bandung Bondowoso.


Dimana kisah itu berawal dari Raja Pengging, yang ingin memperluas daerah kerajaannya. Ia lantas memerintahkan putranya yaitu Pangeran Bandung Bondowoso untuk menyerang Prambanan.


Dan setelah Pangeran Bandung Bondowoso berhasil menaklukan Raja Boko dengan senjata saktinya. Ia segera memerintahkan untuk menahan semua orang.


Akan tetapi pangeran Bandung Bondowoso terpesona dengan kecantikan putri Roro jongrang dan langsung melamarnya saat itu juga. Namun secara tegas Roro Jongrang menolaknya, karena rasa sedihnya akibat kehilangan sang ayah akibat dibunuh oleh pangeran Bondowoso.


Pangeran Bandung Bondowoso tak patah arang, cintanya yang tinggi kepada Roro Jongrang, membuatnya menyanggupi dua syarat diluar nalar yang diajukan oleh Roro Jongrang kala itu sebelum menikahinya.


Yaitu, membuat sumur Jalatunda dan membangun seribu candi dalam satu malam.


Evelyn terus membaca legenda itu, dengan perhatian yang berpusat pada akhir dari kemarahan pangeran Bandung Bondowoso.


Dimana putri Roro Jongrang dikutuk menjadi patung batu, untuk melengkapi seribu candinya yang belum selesai. Akibat ketahuan telah menipu dirinya.


"Wah, tiba-tiba aku jadi merinding." Reaksi Evelyn saat selesai membaca legenda tersebut.


"Apa yang membuatmu merinding Eve?" tanya bibi Maureen.


"Ya, kisah ini memang terkenal. Tapi kau janganlah memusingkan semua ini, cukup untuk menambah ilmu pengetahuanmu saja dengan mengambil pelajaran berharganya," balas bibi Maureen.


"Kau benar bibi ... Oiya bi, ada mitos mengatakan jika kita datang kesini dengan membawa pasangan, apa benar akan putus?" tanya Evelyn.


"Itu hanya mitos dan kepercayaan sayang, ada baiknya kita harus menghargai," balas bijak bibi Maureen.


Evelyn mengangguk mengerti. "Untung aku belum punya pasangan," celetuknya tiba-tiba.


Bibi Maureen terkekeh. "Kau ini, sudahlah jangan banyak berpikir. Lebih baik kita melanjutkan perjalanan," ajaknya menggandeng.


"Ya Bibi, setelah ini aku ingin ke Candi Borobudur," seru Evelyn.


"Ya Eve, tenang saja. Waktu kita masih panjang," balas bibi Maureen berusaha mengimbangi. Padahal kedua kakinya sudah terasa pegal sekali.


...----------------...


Setelah menikmati makan siang, Louise beserta dengan rekan kerjanya sedang sibuk merencanakan kegiatan selepas urusan pekerjaan.


"Pak Louise, tidak disangka pekerjaan kita lebih cepat dari yang kita duga. Dari diskusi saat makan siang tadi, sepertinya mereka ingin menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan sebelum pulang besok," ucap Ken mengajukan keinginan dari para anak buah Louise.


Louise mempertimbangkan hal tersebut dan menyetujuinya, karena dia sendiri tidak ingin cepat-cepat kembali ke hotel. Mengingat ada Gisella di dalam kamarnya itu.


"Baiklah, kita akan jalan-jalan setelah pulang dari pabrik pak Wondo. Katakan Ken mereka ingin kemana?" tanya Louise.


"Wisata dekat sini saja pak, Candi Borobudur!" balas Ken menyerukan keinginan semua orang.


Louise mengangguk dan menyanggupinya. "Ya sudah, kalau begitu kita akan berangkat kesana. Anggap saja ini salah satu bonus untuk kalian, karena telah bekerja dengan baik!" serunya dan semua orang pun menyambutnya dengan suka cita.

__ADS_1


...***...


Candi Borobudur.


Evelyn tak henti-hentinya mengangga lebar, saat menatap bangunan besar dan tinggi serta berundak-undak dihadapannya itu.


Ia sampai mencubit lengannya sendiri, karena tidak percaya dengan apa yang sedang dilihat saat ini.


"Bibi, Candi ini besar sekali!" serunya.


Bibi Maureen tersenyum. "Ya sayang, candi ini memang besar sekali."


"Bibi, ayo kita naik keatas!" ajak Evelyn. Namun bibi Maureen segera menolak.


"Eve, bibi sudah lelah berjalan apalagi naik tangga hingga keatas sana. Bagaimana kalau bibi tunggu kamu saja disini," balas Bibi Maureen.


"Ah bibi tidak seru, bagaimana kita bisa foto bareng saat melihat sunset diatas nanti." Evelyn menyatakan ketidakrelaannya.


"Jangan pikirkan fotonya sayang, tujuan kita kesini kan untuk bersenang-senang. Jadi nikmatilah kesempatan yang ada," balas bibi Maureen.


Evelyn menghembus nafasnya. "Ya sudah Bibi, kalau begitu aku akan naik sendiri. Kau beristirahatlah disini," balasnya tersenyum.


"Ya berhati-hatilah, jangan berlari saat menaiki anak tangga dan jangan lupa selalu pakai masker dan juga topimu," ceramah bibi Maureen.


"Baik Bi, aku akan mengingatnya," balas Evelyn, lalu pergi naik ke atas dengan hati yang riang. Sesekali berhenti dan memfoto pemandangan indah selama menaiki anak tangga.


...***...


Sementara itu Louise beserta rombongan baru saja tiba di Candi Borobudur, pria itu lantas mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan pandangannya terpaku, kepada seorang wanita paruh baya yang sedang duduk di kursi taman.


"Bukankah itu wanita yang selalu disamping wanita jelek kemarin?" batin Louise sambil melemparkan pandangannya ke kanan dan ke kiri.


"Ada apa pak Louise?" tanya Ken kepada Louise yang tiba-tiba berhenti melangkah.


Louise menggeleng. "Tidak ada, ayo kita jalan lagi."


"Baiklah ... Oiya pak Louise, dari cerita yang ku dengar dari orang sekitar, kalau pemandangan diwaktu sunset sangatlah indah. Bagaimana kalau kita naik dan melihat pemandangan itu dari atas candi," ucap Ken menyarankan.


Louise lagi-lagi menyetujui, walau dirinya masih tidak tahu apakah wanita jelek itu berada diatas sana juga.


Selama menaiki anak tangga, Louise tersenyum menatapi anak-anak yang sedang bersenda gurau bersama dengan kedua orang tuanya.


Seketika pria itu teringat akan dirinya yang masih belum mempunyai anak, walaupun sesekali terlintas juga dalam hatinya ingin segera memiliki buah hati.


Akan tetapi, ia selalu saja mengurungkan niatnya itu, jika mengingat tingkah Gisella yang memuakkan setiap hari. Terlebih setelah mengetahui, kalau wanita itu hanya mencintai bagian tubuh pribadinya saja.


Louise melamunkan semua itu dan tak sadar jika dirinya melangkah tak menentu kesembarang arah, hingga menabrak seorang wanita yang sedang menaiki anak tangga sambil memfoto suasana candi.


Dan akibat kelalaiannya itu, wanita itu pun akhirnya hilang keseimbangan, sebelum sempat menaiki anak tangga selanjutnya dan hampir terjungkal kebelakang.


Namun segera Louise tersadar saat mendengar suara teriakan minta tolong, dan dengan cepat dia menangkap wanita itu sebelum terjatuh kebelakang.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Louise dan ia langsung terpaku, saat menatap semburat kedua mata biru yang sudah tidak asing lagi.


"E-evelyn," ucapnya mengenali.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2