
Brukk ...
"Awshhh." Ringis Nata hampir jatuh.
"Maaf tuan, saya benar - benar tidak sengaja." Lanjut Nata, ia menyadari jika itu adalah salahnya.
"Hmm." Hanya itu balasan dari kata maaf yang Nata keluarkan, Nata segera mengangkat pandangnya hingga bertemu dengan mata yang tidak asing bagi dirinya.
"Jo." Lirih Nata hampir tidak terdengar.
"Kau masih mengingatku nona." Ucap Jonathan yang masih bisa mendengar suara lirih Nata.
Nata tidak menjawab, tatapannya berubah datar ia tidak mungkin melupakan sosok pria tampan ini, pria yang berhasil mencuri sebagian hatinya dan menghilang bak ditelan bumi.
"Maaf saya tidak mengingat anda, permisi." Ucap Nata dengan suara dinginnya.
"Apa benar ia tidak mengingatku." Batin Jonatan bergejolak.
Nata segera melanjutkan langkahnya menuju toilet wanita, ia hampir saja kehilangan kontrol begitu bertatapan dengan mata elang itu.
Jonathan, pria itu semakin tampan, Nata sudah hampir seratus persen melupakan pria itu tapi ternyata takdir masih mempertemukan mereka.
Jonathan, lelaki yang sering menggangunya semasa kuliah, Jonathan tiba - tiba menghilang bak ditelan bumi, Nata sempat mencari dua kali tapi ia tidak menemukan Jonathan hingga akhirnya memutuskan untuk melupakan Jonathan dan menyibukan diri dengan kuliah dan karier.
"Aku tidak mengijinkanmu untuk melupakanku Natalia Chrisly." Batin Jonathan dengan seringai liciknya.
__ADS_1
Jonathan, ia terpaksa menghilang sementara waktu ada yang perlu ia tangani, ia tidak sempat berpamitan dengan Nata karena saat itu ia dilanda dengan kecemburuan mengetahui Nata lebih dahulu dijemput oleh Ken.
"Saga, ajukan kerjasama dengan perusahaan calon nyonyamu." Ujar Jonathan dengan nada memerintah.
"Baik tuan." Jawab Saga yang memilih patuh saja.
"Menurutmu bagaimana dengan Nata sekarang ?" Tanya Jonathan.
"Tidak banyak berubah, ia semakin cantik dan terkesan dingin tuan, menurut informasi yang saya dapat tepat 6 bulan lalu nona Nata berserta bawahannya dibantai habis - habisan oleh sekumpulan orang, ia kehilangan satu orang kepercayaan membuat ia menjadi nona dingin." Jelas Saga.
"Cari tahu semuanya, aku ingin semua sudah harus ada di atas meja kerjaku besok pagi, pergilah." Titah Jonathan tidak terbantahkan.
"Baik tuan." Jawab Saga tanpa bantahan.
Saat ini Jonathan baru saja selesai melakukan pertemuan bisnis dengan salah seorang rekannya, di dampingi oleh assisten sekaligus orang kepercayaannya tidak lain adalah Saga.
Keadaan Nata di toilet.
"Huft." Terdengar sedikit frustasi.
"Sepertinya aku sudah meninggalkan Ken terlalu lama." Batin Nata.
Nata segera meninggalkan toilet dan pergi menghampiri sahabatnya Ken, Ken yang sejak tadi menunggu dapat bernafas dengan lega, ia sempat khawatir karena sahabatnya tidak menunjukan tanda - tanda kembali.
"Kau ini dari mana saja." Cecar Ken dengan sedikit sewot.
__ADS_1
"Toilet, aku sudah mengatakannya tadi, apa kau pikun sekarang." Jawab Nata tidak kalah sewot.
"Aku kira kau sudah tertimpa toilet, lama sekali." Timpal Ken yang tidak ingin kalah.
"Ya yah terserah kau saja, apa sudah selesai ?, aku harus segera kembali ke kantor, kau sendiri tahu bukan tugasku tidak sedikit." Ucap Nata dengan tampang seriusnya, terlihat menggemaskan di mata Ken.
"Hei, mala menatapku seperti itu." Sentak Nata mulai gemas dengan tingkah sahabatnya yang lama merespon.
"Suka - sukaku, lagian ini mataku." Balas Kenzo dengan songong.
"Menyebalkan." Lirih Nata.
"Hmm, baiklah ayo kembali bos." Ucap Kenzo yang ikut berdiri.
"Billnya ?, apa kau sudah membayar ?" Tanya Nata.
"Sudah." Jawab Kenzo singkat.
"Baiklah, ohiya dimana Keisha ?" Tanya Nata yang hampir melupakan sahabat satunya, yakni saudara kembar Kenzo.
"Swiss, dia mengikuti kekasihnya kesana." Jawab Kenzo enteng.
"Oh, dia belum bercerita jika sudah memiliki kekasih." Ucap Nata yang belum mengetahui jika sahabatnya sudah memiliki kekasih.
"Katanya, kau terlalu sibuk." Timpal Ken.
__ADS_1
"Sepertinya aku harus mengurangi aktifitasku." Lirih Nata yang masih bisa didengar oleh Ken, Kenzo sebenarnya tidak berniat menyindir seperti itu hanya saja sahabatnya gadisnya itu seperti kerasukan kerja, kerja dan kerja tidak baik bukan.