
Akhirnya setelah selesai mengucapkan kata-kata ancaman, Nata, Lio dan bibi segera meninggalkan tempat tersebut, mereka tidak langsung pulang, tetapi mereka menuju ke salah satu tempat yang menjual sepatu.
"Bi, apa bibi menyukai ini ?" Tanya Nata kepada bibi.
"Yah nona, bibi menyukai ini." Jawab bibi.
"Lio, apa kamu tidak ingin membeli sesuatu ?" Tanya Nata kepada adiknya, memang sejak tadi adiknya hanya diam saja, Nata juga saking sibuknya dengan memilih baju dan sepatu untuk sang bibi, sehingga hampir melupakan adiknya.
"Tidak kak, sepatu dan bajuku masih banyak yang belum dipakai, mungkin lain waktu." Jawab Lio sambil tersenyum. Pada dasarnya ia sedikit heran dengan kakaknya yang selalu mengingat dirinya, tetapi melupakan diri pribadi.
Haduh haduh haduh sebenarnya mereka berdua memang sama saja, kakak yang selalu mengingat dan mengutamakan sang adik. Dan sang adik yang selalu mengutamakan sang kakak.
"Apakah kamu yakin ?" Tanya Nata kembali mematikan.
"Yakin kak, kakak tenang saja." Jawab Lio berusaha untuk meyakinkan kakaknya.
"Baiklah, mba ini tolong dibungkus ya." Ucap Nata kepada salah satu karyawan yang sejak awal melayani mereka.
"Baik nona." Jawab pelayan tersebut dengan senyum ramah.
" kita langsung saja ke kasir ya mbak." Ucap Nata kepada karyawan tersebut.
"Baik, mari nona lewat sini, kasirnya ada disebelah situ." Jawab karyawan tersebut mempersilakan dengan cara yang sopan serta ramah.
Nata memang tidak menjawab, tetapi ia menunjukkan senyum manisnya sedikit, mampu membuat karyawan tersebut merasa Nata adalah malaikat yang sedang tinggal di bumi.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan transaksi dengan pembayaran sepatu yang di pilih oleh bibi, mereka dengan segera menuju ke lobby, tempatnya natta dan Bibi yang menuju ke lobby, sedangkan Lio menuju ke tempat parkir untuk mengambil mobil.
Merasa Lio akan membutuhkan waktu yang cukup lama, akhirnya Nata memutuskan untuk mampir ke salah satu toko yang menjual tas sekolah, Iya membeli satu tas sekolah untuk dirinya dan juga untuk adiknya.
Di toko tersebut juga menjual beberapa buku yang di desain dengan semenarik mungkin yang menyita perhatian Nata, sehingga Nata membeli beberapa buku dan juga pen.
Harga yang dikeluarkan Nata di toko tersebut mencapai dengan 7jt, karena satu tas yang ia beli berharga 1.9jt × 2, ditambah buku-buku yang terpisahnya berharga sekitar Rp99.000 sampai dengan Rp229.000.
Sesudah membayar Nata dan bibi langsung saja menuju ke Lobby, karena Nata mendapat telepon dari Lio jika Lio sudah hampir sampai di depan lobby, sangat sangat disayangkan mood Nata yang sempat rusak tadi dan sudah sedikit membaik sekarang malah menjadi rusak kembali, karena ia bertemu dengan keluarga ayahnya, itu adalah pemandangan yang sangat kampungan menurutnya.
Bibi yang melihat itu hanya menunduk, ia tidak bisa untuk ikut campur dengan urusan majikan, seharusnya tuan besar menguatkan Nona muda dan juga tuan mudanya, bukan malah bersenang-senang dengan keluarga baru, di saat nyonya besar baru meninggal dunia.
"Ternyata kita ketemu lagi." Ucap Mely dengan wajah yang angkuh.
"Hmm." Hanya di balas dengan dheman.
"Hai tuan Nelson, apa kabar ?" Tanya Nata kepada sang ayah, sedangkan Nelson hanya menatap Nata tanpa ekspresi.
"Ternyata budek." Ucap Nata tidak mendapat respon dari Nelson.
"Tuan Nelson, bagaimana dengan ekonomi anda maksud saya keuangan keluarga anda, mengingat wanita simpanan dan juga anak-anak haram anda hanya bisa menghabiskan uang, tanpa tahu cara untuk menghasilkan uang." Ucap Nata bertanya dengan tatapan yang datar tetapi ia menunjukkan sedikit senyum sinisnya.
"Apa maksud kamu berkata seperti itu, Kamu pikir kamu siapa ha, kamu tidak berbicara seperti itu jika kamu sediri bisa menghasilkan uang." Marah Vina kepada Nata.
"Baiklah, cepat atau lambat saya akan bisa menghasilkan uang, perusahaan yang anda bangga-banggakan itu, cepat atau lambat akan menjadi milik saya, dengan begitu saya bisa menghasilkan uang, dan kalian bisa hidup di jalanan." Sinis Nata ia benar-benar merasa muak dengan wanita yang bernama Vina, vina adalah orang yang membuat ia kurang perhatian dari sang ayah sejak kecil.
__ADS_1
"Hahaha kamu seperti sedang mendongeng." Ucap Nelson dengan tawanya, saat ini ia seperti sedang meremehkan Nata.
"Kita lihat saja nanti, Sebenarnya saya ingin permainan ini berakhir dalam waktu 3 atau 4 bulan, tapi karena saya merasa kasihan dengan anak-anak yang kampungan itu, maka saya berbelas kasihan untuk membuat itu semua menjadi kenyataan dalam waktu dekat, bentar lagi aku lulus sekolah dan dalam waktu satu tahun setelah aku lulus, Aku pastikan apa yang aku katakan bukan omong kosong." Ucap Nata lagi.
"Ohiya, dan satu lagi kalau aku belum bisa menghasilkan uang, sekarang tidak mungkin aku berada di sini dengan menghabiskan uang sekitar 70jt, untuk orang yang sudah setia dengan bundaku, Coba kalian pikir-pikir apakah aku tidak bisa menghasilkan uang, dan yang perlu kalian catat adalah uang yang aku pakai adalah uang bersih tanpa dosa." Sinis Nata lagi.
"Ayo bi." Ucap Nata membukakan pintu untuk bibi.
Setelah hampir 1 jam mereka menuju ke hotel tempat mereka tinggal sementara waktu, akhirnya mereka sudah bisa beristirahat dan membersihkan diri masing-masing.
Nelson dan juga keluarga barunya baru sampai di kediaman mereka, Mely yang merasa penasaran akan sesuatu tanpa menahan-nahan langsung menanyakan kepada sang suami.
"Sayang, apa kamu memfasilitasi mereka ?" Tanya Mely yang merasa penasaran, ia merasa tak terima jika Nata dan Lio masih bisa hidup mewah setelah keluar dari rumah.
"Tidak, mereka bahkan tidak membawa atau meminta uang sepeserpun kepada aku ketika pergi dari rumah ini, aku juga tidak tahu dari mana mereka bisa mendapatkan itu semua, Lio dan Nata sudah mengembalikan semua fasilitas, Nata dan Lio bahkan jarang memakai uang yang ada di dalam atm mereka." Jawab Nelson, karena memang betul Iya tidak memfasilitasi anak-anaknya dan juga tidak memberikan uang sepeserpun ketika mereka pergi dari rumahnya.
"Huft, darimana mereka mendapatkan uang sebanyak itu dan lagi mereka terlihat sangat mudah mengeluarkan uang hampir 70 juta lebih untuk seorang asisten rumah tangga." Ucap Mely yang masih belum terima dengan fakta jika Nata dan Lio tidak menjadi gelandangan.
" Aku tidak tahu mengenai hal itu, lagipula itu bukan urusan kita." Ucap Nelson yang enggan membahas yang menyangkut dengan Nata dan Lio.
"Papa, kita mau pindah sekolah dong." Ucap Vina kepada Nelson.
" Bukankah sekolah kalian sudah cukup bagus, untuk apa kalian pindah sekolah ?" Tanya Nelson, memang sekolah Vina dan juga Niko sudah cukup bagus.
"Kami ingin bersekolah di tempat Lio dulu bersekolah, apakah bole." Ucap Vina sambil memelas.
__ADS_1
"Nanti di pikir-pikir dulu yah, masuk ke sana biayanya tidak sedikit." Ucap Nelson beranjak dari tempat duduk menuju ke kamarnya.
Nelson memang tampak harus berpikir-pikir dengan sangat matang jika mengambil keputusan, mengingat keinginan sang anak yang pasti akan mengeluarkan uang hampir 1 milliar.