Anak Yang Dibuang

Anak Yang Dibuang
Eps 76 ~ Survei cabang toko kue


__ADS_3

Pada keesokan harinya mata sudah siap, ia hari ini akan pergi ke beberapa cabang toko kuenya, hari ini ia akan di dampingi oleh sekertarisnya Han.


"Bi, Nata pamit dulu yah." Ucap Nata kepada bi Ina.


"Iya non, hati-hati di jalan yah." Jawab bi Ina sambil tersenyum.


"Iya bi terima kasih." Jawab Nata sebelum berjalan ke arah pintu apartement.


Menanyakan dimana Lio dan ketiga sahabatnya, saat ini sudah berada di sekolah, dan juga sudah sarapan bersama dengan Nata sebelum berangkat sekolah.


"Hallo sekertaris Han." Ucap Nata disaat panggilan telepon terhubung.


"Hallo nona." terdengar sahutan dari seberang telepon.


"Sekarang saya dalam perjalanan menuju ke lobby." Ucap Nata.


"Baik nona." Jawab sekertaris Han.


Nata sama sekali tidak menggunakan pakaian formal, ia tampak menggunakan pakaian yang santai.


Kalian bertanya-tanya kenapa tidak pergi bersama dengan asisten pribadinya Willy, karena asisten pribadi Willy sedang sibuk dengan urusan kantor dan yang lain, sehingga yang bertugas untuk menemani Nata adalah Han.



Nata menggunakan rok jins yang cukup Mini dan juga baju berwarna putih, Nata terlihat lebi dewasa jika berpenampilan seperti itu, tetapi wajahnya selalu menunjukan jika ia masih di bawa umur.

__ADS_1


"Maaf jika anda menunggu lama sekertaris Han." Ucap Nata ketika sudah berhadapan dengan sekertaris Han.


"Tidak apa-apa nona, ini sudah menjadi tugas dan tanggung jawab saya." Jawab sekertaris Han sambil membukakan pintu untuk Nata.


"Kita akan coba melihat cabang yang ada di Jaksel dulu, aku sudah lama tidak berkunjung kesana." Ucap Nata ketika sekertaris Han sudah menduduki kursi di belakang kemudi.


"Baik nona." Jawab sekertaris Han dengan penuh kepatuhan.


Tepat pada pukul 8, sana kota Jakarta terasa begitu ramai dan juga lancar, meskipun suasana begitu ramai dengan lalu-lalang mobil motor, tetapi yang patut mereka syukuri adalah tidak terkena macet.


Sepanjang perjalanan menuju ke cabang toko kue yang berada di Jakarta selatan, Nata tampak menyibukkan diri dengan tabletnya sedangkan untuk sekretaris Han ia tampak sangat fokus menyetir.


Nata memang sudah banyak memiliki tanggung jawab, peninggalan dari sang Bunda yang tidak sedikit membuat Nata memiliki segudang tanggung jawab yang besar.


"Sekertaris Han, bagaimana dengan keadaan butik ?" Tanya Nata yang seolah ingat jika ia memiliki butik.


"Baguslah kalau memang seperti itu, setidaknya aku akan lebi baik jika tidak ada masalah." Ucap Nata sedikit memelankan suara.


Citttt ....


Sekretaris Han tiba-tiba saja merem mobil dengan mendadak, karena tiba-tiba saja mobil mereka di senggol oleh pengendara lain.


Nata dan sekertaris Han langsung saja bergegas keluar dari mobil, Nata ingin meminta pertanggungjawaban orang menyenggol mobil mereka, akan tetapi.


"Tuan, apakah anda tidak bisa menyetir dengan baik." Omel Nata dengan tatapan tak suka.

__ADS_1


"Maaf nona, tapi disini supir anda yang salah." Jawab pengendara tersebut.


"Jelas-jelas saya melihat sendiri jika yang salah disini adalah anda." Kesal Nata yang mendengar jika tuan tersebut menuduh sekertarisnya.


"Saya tidak mau tahu, cepat sekarang anda harus ganti rugi." Sambung Nata sambil berkacak pinggang.


Merasa tidak mendapat jawaban dan hanya membuang-buang waktu, akhirnya Nata bernafas kasar dan memutuskan untuk segera pergi.


" Saya harap kita tidak bertemu lagi Tuhan tidak bertanggung jawab." Ketus Nata lalu menarik tangan Han.


Sedangkan tuan tersangka hanya menatap dan tersenyum kecil, tampaknya ia menyukai Nata dan terlihat jelas jika ia memiliki rasa ketertarikan terhadap Nata.


Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan menuju ke salah satu cabang yang berada di Jakarta Selatan, sepanjang perjalanan Nata terlihat tidak mood.


"Sekretaris Han, segera hubungi Willy dan minta mobil yang baru." Ucap Nata sambil memijat pelipisnya.


"Tidak perlu nona, mobil ini bisa saya bawa ke bengkel." Jawab sekertaris Han.


"Tidak, ini perintah, jadi jalankan saja." Jawab Nata dengan tegas dan ketus.


"Baik nona." Jawab Han yang paham jika ia harus menuruti permintaan dari Nata.


" Kenapa kita harus bertemu dengan orang yang tidak bertanggung jawab seperti tadi." Ucap Nata sambil melihat ke arah jendela.


"Kenapa begitu banyak orang yang tidak mau mengakui kesalahannya." Batin Nata.

__ADS_1


Akhirnya setelah menempuh perjalanan cukup lama, Nata dan sekertaris Han sampai juga di salah satu cabang Jakarta Selatan yang baru di buka.


Suasana di tempat tersebut tampak masih begitu sepi, karena memang biasanya ramai disaat jam makan dan juga sore sampai malam, sedangkan pagi hari hanya untuk orang-orang membeli sarapan pagi.


__ADS_2