Anak Yang Dibuang

Anak Yang Dibuang
Eps 19


__ADS_3

Beristirahat dengan perut kenyang, Nata meminta bill kepada pelayan yang ada, total yang Nata keluarkan adalah 3,7 jt rupiah.


Karena memang restoran yang mereka datangi adalah restaurant mahal, jadi jangan heran ya tagihannya sampai segitu, ingat ini juga cuma Noval jadi jangan terlalu memusingkan setiap harga yang dikeluarkannya.


"Kak, Sekarang kita mau kemana ?" Tanya Lio kepada kakaknya.


"Kita mau beli baju baru buat bi Ina." Jawab Nata.


"Loh, kok beli baju buat bibi si non, kan bibi udah punya banyak baju di rumah." Ucap bi Ina suarakan pendapatnya.


"Tidak apa-apa jika membeli baru, kita hanya akan membeli sedikit kok, nggak banyak." Jawab Nata lagi agar supaya Bi Ina tidak menolak.


"Sebaiknya bibi beli di pasar saja, harga di mall ini pastikan sangat mahal, sayang non uangnya." Ucap bibi Karena ia merasa Jika ia tidak pantas memakai baju-baju mahal.


"Tidak usah merasa tak enak hati, tidak apa-apa jika kita mengeluarkan uang untuk keperluan kita." Ucap Nata lagi sambil tersenyum.


Lio, dan bi Ina tersenyum karena tidak mungkin untuk menolak keinginan dari Nata, apa lagi jika Nata sudah mengeluarkan senyum mautnya, maka bibi dan juga Lio tidak bisa untuk melawan lagi, karena memang pada dasarnya berdebat dengan Nata sangat sulit menang.


Akhirnya mereka menuju ke salah satu Store yang berjualan baju, store tersebut adalah N&A.


Bibi merasa pusing karena Nata terus terus menerus memilihkan baju, soalnya Nata mengatakan jika hanya akan membeli sedikit, nyatanya ini bukan hanya sedikit ini sudah melebihi 10 baju.


"Non, ini kebanyakan uangnya nanti gak cukup." Ucap bi Ina.


Jangan ditanya Lio dari tadi hanya terus terus menerus tersenyum kecil melihat bibi yang terus saja membujuk Nata berhenti, sekali tidak memiliki niat membantu bibi memberhentikan Nata, karena ia melihat Nata sangatlah antusias.


Meskipun beberapa kali ia tampak kesal karena Banyak wanita yang terang-terangan menggoda dia, nggak ya harus menampilkan wajah datarnya dan menghilangkan senyum bahagia di wajahnya, sunggu mereka seperti lalat pengganggu.


"Kak, apa itu tidak terlalu banyak ?" Tanya Lio kepada Nata, yang membuat Nata cemberut, Lio yang melihat itu segera mengatakan.


"Menurut bibi itu sudah kebanyakan, mungkin bibi ingin melihat di toko lainnya, dan juga sebaiknya jangan baju saja,kita coba carikan sepatu untuk bibi." Sambung Lio.


Bibi yang awalnya sudah tersenyum karena tampaknya Lio berhasil memberhentikan aksi Nata, akhirnya kembali lemas tanah Lio melanjutkan kata-katanya.


Nata yang tadinya mendapatkan teguran dari Lio kembali ceria, apa yang dikatakan Lio emang benar adanya, Kenapa Ina hanya membelikan bi Ina baju saja, bibi tidak punya sepatu bagus.


" Ayo sekarang Bibi coba semua baju-baju ini, yang Bibi rasa tidak nyaman bibi kita tak akan membelinya." Ucap Nata kepada bi Ina.


"Tapi yang aku pegang ini sudah pasti harus di beli, karena bibi tak punya baju pesta." Ucap Nata lagi.


"Baik nona." Ucap bi Ina sambil tersenyum.

__ADS_1


Setelah hampir 20 menit mencoba berbagai macam baju yang sudah dipilihkan oleh Nata, akhirnya bi Ina memilih 11 baju santai saja dengan beberapa celana dan juga rok, di tambah dengan beberapa gaun pesta yang dipilihkan Nata.


"Baiklah, karena semua sudah selesai, sebaiknya kita pergi ke kasir." Ucap Nata kepada adik dan juga bi Ina.


"Dek, sini kakak bantuin kalau berat." Ucap Nata mengambil ahli beberapa barang yang di bawa Lio.


"Tidak usah kak, Lio masih kuat untuk membawa semua ini, kaka tidak perlu khawatir." jawab Lio mencegah kakaknya yang ingin mengambil alih beberapa barang di tangannya.


"Hmm, baiklah jika merasa berat tolong katakan dan jangan diam saja oke." Jawab Nata sambil tersenyum.


Banyak yang menatap Nata dan juga Lio dengan tatapan berbeda-beda, apa lagi Lio yang sama sekali terlihat tidak keberatan membawa barang-barang banyak, apalagi Lio yang menolak Nata untuk membantu membuat kaum jomblo yang berada di situ merasa iri dan juga baper.


Nata dan juga Lio yang saat itu sedang merasa sangat bahagia bersama dengan bi Ina, tapi Siapa yang menyangka jika kebahagian mereka terhenti sejenak karena bertemu dengan orang yang tidak mereka ingin lihat.


Ya mereka bertemu dengan ayah dan juga keluarga baru ayahnya, baru akhirnya tampak membawa banyak belanjaan.


"Loh kok di mall kek gini, ada kuman sih." Ucap Vina kepada ibunya niat untuk menyindir orang yang berada di depannya.


"Sudahlah." Ucap Nata dengan wajah yang tampak datar kepada Lio, agar tidak terpancing emosi.


Lio yang tidak mau membuat kakaknya malu di depan umum, akhirnya memutuskan untuk diam saja, ia juga tak ingin berhadapan dengan orang-orang kampungan seperti Vina.


"Hallo putri tuan Nelson, putri pertama apa kabar anda dengan keluarga anda." Ucap Lio dengan suara kencang, sehingga memancing perhatian sekitar,karena merasa emosi melihat Vina dengan sengaja menyenggol bi Ina.


"Tentu saja kita bertemu kembali, urusan kita belum selesai, jadi mana mungkin kita tidak bertemu kembali." Sinis Lio.


"Cih." Niko hanya berdecih.


Sedangkan Nelson, Mely dan Yena hanya diam saja, mereka tampak tidak ingin mengeluarkan suara, meskipun Mely menatap Lio dan Nata dengan tatapan tak suka.


"Lio sudah hentikan." Peringatan dari Nata.


"Baiklah, baiklah Saya ingin berlama-lama berbicara dengan orang-orang kampung." Jawab Lio yang merasa enggan untuk cara dan bertatap muka dengan orang-orang tersebut.


"Sebentar yah kak." Ucap Lio pergi menghilang begitu saja.


Pernyataan Lio menghampiri salah satu karyawan yang berada di tempat tersebut, ia meminta karyawan tersebut untuk merekam aksinya dengan menggunakan handphonenya.


Ketika ia kembali ia melihat jika kakaknya sedang dipojokan oleh wanita yang bernama Vina, sedangkan kakaknya yang hanya cuek bebek saja hanya diam saja, tampak enggan atau tampak tidak tertarik untuk menanggapi Vina.


Sudah merasa kesal sampai ke ubun-ubun pun berniat menampar Nata, ia kalah cepat karena Lio sudah lebih dahulu menahan tangannya.

__ADS_1


"Jangan coba-coba untuk menyentuh kakak saya, dengan tangan kotor anda nona haram, karena saya masih hidup Saya tidak akan pernah membiarkan hal tersebut terjadi." Ucap Lio dengan suara lantang, tangan satunya sudah mengepal erat menahan emosi.


Orang-orang yang berada di sana sedang mencerna, apa maksud dari perkataan Lio "Nona Haram."


"Berapa totalnya mba." Ucap Nata kepada kasir, tanpa mempedulikan keributan yang berada di belakangnya.


"Totalnya Rp. 47.950.000, pembayaran menggunakan cash atau debit ?" Tanya kasir tersebut.


"Debit saja mba." Jawab Nata sambil mengeluarkan kartu dari salah dompetnya, membuka dompet ia dapat melihat jika banyak kartu di dalam dompet tersebut, bahkan ada setumpuk uang dolar.


"Astaga nona, maafin bibi yah karena bibi nona harus mengeluarkan uang sebanyak itu." Ucap bi Ina merasa kaget juga tidak enak hati.


"Tidak apa-apa bi, bibi tidak usah sungkan, lagipula Bibi selalu menemani almarhum bunda ketika almarhum bunda merasa kesepian." Ucap Nata tulus, guna menyindir Nelson.


"Bibi sudah menganggap nydia sebagai anak bibi sendiri, jadi nona tidak perlu mengucapkan seperti itu." Ucap bi Ina.


Sedangkan orang-orang yang berada di sana dan juga secara kebetulan mendengar perbincangan keduanyapun merasa kagum serta iri pada bi Ina, karena diperlakukan dengan baik, serta banyak dari pada mereka bertanya-tanya juga sekaya apa Nata dan Lio.


"Pembayaran sukses, terima kasih atas kunjungannya." Ucap kasir tersebut.


"Terima kasih kembali." Jawab Nata dengan senyum ramahnya.


"Yah Tuhan, gadis ini sangatlah cantik, hatinya juga seperti malaikat, tapi kenapa banyak kesedihan di bola matanya, semoga engkau selalu menjaga dan melindungi serta menjauhkan ia dari orang jahat." Batin karyawan tersebut.


"Nona." Ucap kasir tersebut.


"Yah mba ?" Jawab Nata.


"Hati dan wajahmu sangatlah cantik, kamu akan menjadi pemimpin dalam waktu dekat ini, kamu juga akan menjadi seorang terpandang, tapi ingatlah jika kamu sudah menjadi seorang yang sukses, kamu jangan lupa membagi berkat yang kamu terima, Tetaplah menjadi gadis yang rendah hati, dalam peperangan kamu menjadi pemenangnya." Ucap pelayan tersebut dengan suara yang lirih.


Sedangkan Nata. Ia hanya mencerna kalimat tersebut dan menganggukan kepala sebagai tanda mengerti, dan memberi senyum tulus.


Untuk Lio tidak berhenti menatap tajam pada Nelson, ia rasanya ingin menghajar orang tersebut tetapi ia menahan diri.


"Kakak, apa kakak tidak ingin menyapa keluarga ini, sangat-sangat kebetulan disini mereka lengkap, mantan ayah kita yang brengsek ini sedang bersama dengan istri barunya, maksudnya dengan pelakor, dan juga ada tiga anak haram." Ucap Lio menghentikan langkah Nata, Nata dengan cepat membalikkan badan.


"Kita tidak memiliki ayah Lio, dan satu lagi ayah kita sudah mati, dia sudah mati, dan untuk keluarga mereka biarkan saja, beri mereka waktu untuk bersenang-senang, Tuhan tidak pernah tutup mata, dalam waktu cepat semua akan berbalik, dan berhenti berkoar-koar seperti itu Lio, kakak tidak mau jika kamu menjadi seperti orang kampung." Ucap Nata dengan suara lantang serta aura dinginnya, ia menatap tajam kelima orang tersebut.


"Kau tuan Nelson, semua rasa sakit yang bunda saya terima maka kamu akan merasakannya, dan anda nyonya mely anda akan merasakan apa yang sudah bunda saya rasakan, saya sama sekali tidak akan melepaskan anda begitu saja, kalian berdua akan merasakan kehancuran hidup, sama seperti kalian berdua yang membuat bunda saya meninggal, dah untuk Kalian bertiga akan aku pastikan Kalian bertiga merasakan hidup di jalanan, Bagaimana ditinggal oleh seorang ibu, dan memiliki ayah yang tidak akan peduli dengan kondisi dan keadaan kalian, akan aku pastikan itu." Sambung Nata dengan tatapan yang tak bisa di artikan.


"Ingat, aku tidak berkata-kata omong kosong, Ganjuran kalian sebentar lagi, maka mulai dari sekarang siap-siaplah, aku tidak akan memberi ampun kepada kalian, tidak akan pernah, aku bersumpah akan membuat kalian tunduk dan menyesal atas semuanya, dan aku kan pernah membuka pintu maaf untuk kalian." akhir dari kata-kata panjang Nata, Nelson dan Mely anak-anak mereka merasa bergetar karena ancaman yang diberikan oleh Nata, terasa bukan seperti ancaman biasa, itu pertanda karma.

__ADS_1


Merinding gak ?


__ADS_2