
Lio, El, Endi dan juga Reno sudah tiba di restaurant tempat yang dipilih langsung oleh kakak perempuan mereka, yah mereka saat ini sedang menunggu kakak perempuan tersayang mereka siapa lagi jika buka Nata.
"Hai boys, kalian sudah lama sampai ?" Sapa Nata yang baru saja tiba.
"Hy, tidak kita baru saja tiba." Ujar Reno mewakili yang lain.
"Baiklah, sekarang sebaiknya kita pesan makanan dulu." Ujar Nata sambil menatap menu makanan yang sudah tersedia.
"Baiklah." Jawab mereka menurut saja.
5 menit kemudian.
"Apa kalian sudah selesai ?" Tanya Nata sambil menatap satu persatu adiknya.
"Sudah kak." Jawab mereka.
"Baiklah, ting." Ujar Nata sembari memencet bell, agar pelayan bisa segera melayani mereka.
5 Menit kemudian.
"Bagaimana dengan perkuliahan kalian ?" Tanya Nata sambil menatap keempat tampannya.
"Tidak ada yang bagaimana - bagaimana, hanya tugas dari dosen saja yang kadang terlalu banyak." Ujar Endi, yah ia paling juara memprotes tumpukan dokumen yang diberikan para dosen.
"Benarkah ?" Tanya Nata dengan sedikit terkekeh.
__ADS_1
"Tentu, aku tidak mungkin berbohong jadi ayolah." Jawab Endi cemberut, apa yang ia katakan adalah sebuah kebenaran jadi seharusnya tidak perlu untuk ditanyakan lagi.
"Hahaha, tinggal sebentar lagi kalian akan segera menyelesaikan s1 bukan, jadi jangan banyak mengeluh yah boys." Nasehat Nata sebagai kakak tertua.
"Hmmm, tentu." Jawab keempatnya sambil tersenyum, yah Nata adalah salah satu alasan mereka bertahan sejauh ini, belajar dan membanggakan Nata dikemudian hari.
"Maafkan kakak, selama hampir satu tahun ini kakak terlalu sibuk jadi tidak terlalu memperhatikan kalian." Ujar Nata meminta maaf, ia baru sadar selama setahun ini ia terlalu terforsir akan pekerjaan.
"Kakak tidak perlu untuk meminta maaf." Ujar Lio sambil tersenyum meyakinkan, mereka tidak menjadikan sesuatu masalah selama kakak perempuan mereka dalam keadaan baik - baik saja.
"Kemarilah, peluk kakak." Ujar Nata sambil merentangkan tangan.
Tentu saja dengan hati yang gembira mereka berbondong - bondong memeluk tubuh mungil sang kakak, mereka hampir tidak merasakan pelukan seperti ini sejak memasuki perkuliahan.
Drett drettt, terdengar suara handphone yang menganggu acara mereka, semua mata terfokus pada satu handphone yang bergetar menandakan ada panggilan masuk.
"Angkatlah, lagi pula aunty Zena tidak akan menelponmu jika tidak menyangkut hal penting bukan." Ujar Nata seolah paham jika El membutuhkan ijin.
"Baiklah." Jawab El, setelahnya ia segera menggeser tanda menerima panggilan tersebut, dan ia tidak lupa menekan logo spiker.
"Hallo." Sapa El dengan ramah.
"Hai baby, bagaimana kabarmu dan yang lain ?" Terdengar jawaban lembut dari seorang wanita diseberang telepon.
"Kami semua dalam keadaan baik - baik saja mom, bagaimana kabarmu momm ?" Jawab El sekaligus menanyakan kabar mommynya.
__ADS_1
"Mommy dalam keadaan sehat, hanya hati mommy saja yang sedikit kurang sehat." Ujar nyonya Zena dengan suara lirihnya.
"Apa ada yang menggangu pikiranmu mom, katakanlah." Ujar El berubah serius, Nata dan yang lainpun sama halnya meski mereka hanya mendengarkan perbicangan antara El dan nyonya / aunty Zena.
"Yah, mommy ingin kehancuran untuk keluarga baru tn Nelson, kalian sudah terlalu lama membiarkan mereka hidup tenang baby, apa Nata dan Lio sudah mengampuni keluarga biadap itu ?" Jawab ny. Zena menggebu - gebu, terdengar menahan kesal sekaligus amarah yang selama ini berusaha di pendam.
El bingung harus menjawab apa, ia menatap Nata dan menggeser sedikit ponselnya agar Nata dapat menjawab pertanyaan sang mommy.
"Setelah mereka libur semester kita akan segera kembali kesana aunty, aku berjanji mereka akan segera mendapatkan balasan untuk semua yang mereka perbuat." Terdengar suara lemah lemut Nata, yah gadis itulah yang menjawab.
"Nata, itukah kau ?" Tanya ny. Zena dari seberang telepon.
"Yah, tentu aunty siapa lagi gadis yang bisa berbicara denganmu selain aku." Jawab Nata sambil tertawa kecil.
"Jadi kalian akan segera kemari ?" Tanya Ny. Zena antusias.
"Yah, aku akan menunggu mereka libur semester terlebih dahulu setelah akan segera kesana." Ujar Nata meyakinkan.
"Baiklah, kalau begitu jangan lupa menjaga kesehatan kalian semua, aunty harus segera menutup telepon dan yah titip salam untuk Endi, Reno dan juga Lio." Ujar ny. Zena sebelum mematikan ponsel sepihak.
"Ini." Ucap Nata setelah memastikan telepon sudah terputus.
"Tring." Bertepatan dengan suara bell, menandakan makanan mereka sudah siap.
"Kita akan melanjutkan pembicaraan ini dirumah." Ujar Nata sebelum ada yang bertanya.
__ADS_1
Dukungannya jangan sampai lupa yah, terima kasih.