
Sesampainya ia di kelas ia sudah disambut oleh Randy dan juga Raisya, kedua sahabatnya saat ini sedang berbahagia.
"Hai Nata." Sapa double R.
"Hai." Sapa balik Nata.
"Tumben lu jutek Nat." Ucap Rendi.
"Hmmm." Jawab Nata sekedar dheman.
"Haha, sekarang gua ngerti sekarang lu lagi datang bulan yahkan ?" Tanya Raisya bisa dengan cepat menebak sahabatnya.
"Yah." Jawab Nata dengan singkat.
Yang mendengar jika sahabatnya sedang datang bulan pun hanya diam saja ia tidak ingin bermasalah dengan perempuan yang sedang datang bulan karena itu bukanlah ide yang baik.
Raisa menahan tawa melihat ekspresi yang dikeluarkan oleh Rendi, Rendi sudah beberapa kali terkena masalah karena menggangu Raisa dan Nata saat kedua perempuan itu sedang datang bulan. Maka saat ini ia sudah memutuskan untuk tidak mencari masalah lagi.
"Yah ampun, sekarang ini aku sangat sangat bersyukur karena mereka tidak memiliki jadwal datang bulan yang sama, jika sampai mereka datang bulan bersamaan, matilah aku." Batin Rendi bergedik ngeri.
Mata pelajaran berlangsung dengan sangat tenang, anak-anak kelas 12 pada mata pelajaran karena sebentar lagi mereka akan ujian nasional.
Nata dan double R selalu menjadi satu kelompok ketika mendapatkan tugas, mereka selalu mengeluarkan hasil yang maksimal serta memuaskan.
Nata di ancang-ancang akan menjadi juara umum, karena ia siswi yang memiliki iq di atas rata-rata, Nata tidak pernah menunjukkan secara terang-terangan jika ia adalah siswi yang berprestasi.
Hari ini di sekolah tengah heboh dengan adanya acara sekolah, tepatnya pensi sekolah, banyak siswa yang bersemangat serta ikut mendaftarkan diri sebagai peserta.
Berikut adalah lomba-lomba yang akan diadakan, tanding basket putra-putri, futsal, modern dance, tata busana, lomba memasak, dan yang terakhir lomba putra putri sekolah.
Besok adalah hari pertama lomba, lomba hanya diperuntukkan untuk seluruh siswa dan siswi sekolah, "lomba khusus antar kelas."
"Rendi, kamu mau ikut yang mana ?" Tanya Nata kepada sahabatnya.
"Sepertinya aku akan bergabung dengan anak futsal." Jawab Rendi karena memang ia mengikuti ekskul futsal.
"Ohh." Nata dan Raisa hanya beroh riah.
"Lalu kalian berdua akan ikut yang mana ?" Tanya balik Rendi.
__ADS_1
"Modern dance." Jawab mereka berdua secara bersamaan.
"Really ?" Rendi lagi dan lagi ingin memastikan.
"Hmm, emang kenapa ?" Tanya Raisa sedikit ketus, Karena tampaknya saudara kembarnya meragukan dirinya.
Sedangkan di kelas lain saat ini tidak kalah heboh, sudah dipastikan jika Lio dan ketiga sahabatnya akan mewakili kelas untuk lomba basket.
" seperti biasa kita akan wakilin basket dari kelas kita." Ucap Endi.
Ya memang pada dasarnya keempat tersebut tanding basket antar kelas yang akan maju adalah mereka.
Sekolah berjalan seperti biasanya, Nata dan teman-temannya semakin dekat, begitu pula Lio dan kawan-kawan yang tetap menjadi idola sekolah.
Skip ke esok harinya.
Hari ini adalah hari pertama lomba di mulai, para siswa dan siswi pun sangat bersemangat, ini adalahacara tahunan mereka tunggu-tunggu.
"Lio Lio Lio Lio." para anak cewek menyemangati Lio, baik itu dari kelasnya dan juga kelas lainnya.
Mata Yang Melihat itu tersenyum geli, kenapa para wanita sangat memuja adiknya, tetapi memang ia akui jika sang adik memiliki wajah tampan di atas rata-rata, tetapi para wanita ini terlalu agresif.
" Aku juga merasa bingung, Kenapa mereka bisa bersikap agresif itu, sampai sekarang aku tidak pernah melakukan hal yang seperti itu." Jawab Nata dengan polosnya.
"Ya itu semua karena pesona dari adikmu yang begitu kuat, setiap tahun memang seperti ini." Jawab Raisa lagi.
Akhirnya tim Lio memenangkan pertandingan, sudah sesuai ekspektasi mereka, para wanita banyak yang menawarkan botol minum, tetapi sepertinya Lio sama sekali tidak menghiraukan, saat ini ia berjalan ke arah kakaknya.
qNata sudah memegang satu botol aqua, yang ia bawah kemana-mana, kali ini bukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk sang adik.
"Terima kasih kak." Ucap Lio kepada Nata.
"Sama-sama." Jawab Nata.
"Selamat yah Lio, kalian memang juara bertahan." Puji Raisa.
"Gak usah dipuji nanti besar kepala." Potong Nata dengan cepat.
"Aishhg."
__ADS_1
"Kakak, ini bukan besar kepala, tetapi apa yang dikatakan oleh kak Raisa memang benar adanya." Sambar Lio bangga.
Kenapa tidak membalas omongan dari adiknya, ia hanya tersenyum kecil, sedangkan kedua sahabat Lio saat ini hanya memasang wajah cemberut, karena Nata lupa membelikan minuman untuk mereka berdua.
"Sebaiknya sekarang kita segera pulang." Ucap Nata kepada adiknya, karena merasa tidak betah di sekolah.
"Baiklah, ayo." Jawab Lio.
Ampe lupa buat bilang sama kalian, kalau Nata dan Lio sudah tinggal di salah satu apartemen milik mereka, karena mereka tidak mungkin untuk terus-menerus tinggal di hotel.
Meskipun mereka berdua adalah kakak dan adik tetapi orang-orang yang tidak mengenal mereka bisa saja salah menilai.
Nata dan Lio akhirnya pamit pulang terlebih dahulu, sedangkan yang lain masih tetap berada di sekolah, sekolah tidak mengekang mereka disaat hari bebas seperti itu.
Saat mereka di parkiran mereka bertemu dengan Vina dan juga Niko, Nata dan Lio hanya menatap sekilas, merasa lelah mereka enggan untuk mencari masalah.
"Kak, Sampai kapan kita akan membiarkan mereka hidup dengan tenang ?" Tanya Lio ketikaa mereka berada di perjalanan pulang.
"Kamu bersabar sedikit, Sebenarnya sekarang mereka sedang hidup tidak tenang, lebih tepatnya sejak Nelson mengetahui kita memiliki saham 30% di perusahaannya." Jawab Nata sambil tersenyum misterius.
"Hmmm, pantas saja dalam beberapa waktu ini mereka tidak pernah mencari masalah, bahkan aku perhatikan mereka terus-menerus menghinda, tidak maksudku Nico terus menghindar tapi tidak dengan Vina, aku sempat beberapa kali melihat Vina yang ingin mencari masalah tetapi dihalangi oleh Niko." Terang Lio kepada kakaknya.
"Niko anaknya memang sedikit penurut, berbeda dengan Vina yang terlalu emosian serta iri hati, kakak rasa bukan Niko yang akan menghancurkan keluarga, tetapi Vina." Jawab Nata sambil memainkan hatinya.
"Aku rasa juga seperti itu, tetapi kita tidak memungkinkan untuk melepaskan Niko ?" Tanya Lio dengan was-was.
"Tentu saja kita tidak akan melepaskan mereka semua." Jawab Nata sambil tersenyum, ia juga tidak mungkin untuk melepaskan mangsanya begitu saja.
Mereka terus mengobrol membeda-bedakan sifat dari Vina dan juga Niko, meskipun Niko yang terlihat baik , tetapi tetap saja mereka tidak akan membebaskan Niko.
Bisa dikatakan mereka merasa kasihan karena Niko tetap akan terjebak di dalam masalah, tapi mereka tidak punya cara lain, selain melangsungkan semua rencana mereka.
***Ini adalah karya saya yang ke-6, karya ini saya buat sesuai dengan pemikiran dan juga imajinasi saya secara pribadi, Saya harap karya Saya tidak di copyright, karena saya mengetik pakai tangan dan memakai otak sebagai alat berpikir, bisa kalian bayangkan jika karya kalian di coppy oleh orang lain, bagaimana dengan perasaan kalian ? Kalian bisa menjawabnya dalam hati kalian masing-masing.
Yang kedua Saya ingin meminta bantuan kepada seluruh pembaca novelku, mohon banget buat di bantu Vote dan juga Like.
Tidak punya vote dan like kalian bisa membuat saya lebi termotivasi untuk menulis, karena dengan adanya Vote dan juga Like kalian semua tahu ini banyak orang yang menunggu karya ini di up, saya mohon sebesar-besarnya untuk bantu Vote, Like.
Juga bukan hanya satu atau dua orang yang sering mempromosikan karyanya, saya secara pribadi tidak pernah melarang ataupun menghapus komentar-komentar kalian, Saya menghargai usaha kalian untuk mengenalkan karya kalian kepada orang lain, tetapi saya mohon baca dululah karya saya dan tinggalkan jejak Like, Vote agar kalian bisa lebi menghargai penulis, Mohon untuk tidak hanya sekedar memberikan promosi tetapi baca dan hargai juga.
__ADS_1
Jangan lupa like comment dan juga vote yah teman-teman, doain terus biar semua kotak dan juga saraf-saraf saya berjalan dengan lancar agar bisa lebi banyak up hehehe**