Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Harapan orangtua Satria


__ADS_3

Hari sudah sore ketika Arin keluar dari kamar sementara Satria sedang mandi. Suasana rumah tampak sepi karena mama dan papa Satria sedang pergi keluar untuk mengajak Arslan jalan-jalan.


Ada eyang putri dan Citra tersisa di rumah tersebut. Arin pun menghampiri keduanya yang tampak sedang menonton tv bersama.


Walaupun sebenarnya ia merasa sedikit canggung, namun Arin berusaha untuk membiasakan dirinya.


"Gimana Rin?" tanya eyang begitu Arin berada di hadapannya dengan wajah yang terlihat khawatir.


"Udah mau keluar eyang, sekarang lagi mandi." jawab Arin sedikit tertunduk malu karena ia merasa sedikit tidak sopan berlama-lama di kamar Satria sementara hubungan mereka saja hanya sebatas pacaran.


"Syukurlah, kalau udah keluar kamu ajak makan langsung ya sejak kemarin dia belum makan apa-apa." jelas eyang membuat Arin mengangguk mengerti.


"Emang mas Satria kenapa sih eyang? Mbak lagi berantem ya sama mas Satria?" tanya Citra yang sejak kemarin penasaran dengan keadaan Satria yang terus mengurung diri di kamarnya.


Pasalnya Satria bukan tipe laki-laki yang betah berlama-lama di kamar ketika sedang di rumah. Tapi bertanya pada siapapun, Citra tidak mendapatkan jawaban.


"Kamu masih kecil, jangan banyak ingin tahu urusan orang lain apalagi mas mu itu." jawab eyang seketika membuat kedua pipinya mengembung seketika.


"Ya sudah eyang, Arin mau siapkan makanannya dulu. Dapurnya sebelah mana ya? Arin lupa." tanya Arin yang memang samar-samar mengingat letak ruangan di rumah tersebut.


Terang saja sudah 10 tahun ia tidak menginjakan kakinya di sana. Eyang pun menyuruh Citra untuk mengantarkan Arin ke dapur dan menunjukkan ruang makan mereka.


Setibanya di dapur, Arin pun menghangatkan makanan yang telah di masak oleh mama Satria. Sembari membuat teh hangat untuk Satria dan eyang putri. Teh melati menjadi pilihan Arin karena ia ingat ketika di Jogja eyang bilang menyukai teh tersebut.


"Mbak Arin kok aku doang yang gak tahu sama mbak Arin? Mbak udah lama pacaran sama mas Satria? Soalnya setahu aku selama ini mas Satria gak punya pacar." ujar Citra yang begitu penasaran akan sosok Arin sebenarnya.

__ADS_1


Arin tidak lantas menjawab pertanyaan Citra yang sudah begitu penasaran. Ia malah tersenyum tanpa berniat menjawab rasa penasaran calon adik iparnya itu.


"Waktu kamu masih kecil, kamu sama cerewet nya seperti sekarang." jawab Arin membuat Citra sedikit kesal.


"Mbak Arin bukannya jawab pertanyaan aku malah ngomongin hal yang gak penting kayak gitu." ujar Citra dengan sebal membuat tawa Arin pun pecah karena berhasil membuat Citra kesal.


"Lagian, kamu tuh masih kecil mau tahu aja urusan orang dewasa." ujar Satria memotong saat Arin hendak berbicara sambil menjawil hidung bangir adiknya itu.


"Mas, ih!" pekiknya dengan kesal.


"Daripada kamu gangguin calon istri mas Satria mending kamu temani eyang sana." ujar Satria yang tanpa tahu malu mencium punggung tangan Arin yang sedang menyiapkan makanan.


"Ih mas Satria apa-apaan sih, mau mesra-mesraan kok depan aku. Nanti aku bilangin mama tahu rasa biar langsung di nikahin tuh nanti." ancam Citra yang mulai kesal dengan kelakuan Satria.


"Kalau jones mah gitu yang, liat orang pacaran bawaannya panas aja." celetuk Satria dengan sengaja memancing emosi adiknya itu.


"Kamu tuh kalau mau jahil lihat dulu dong situasi dan kondisinya. Aku gak enak loh sama Citra, nanti kalau dia beneran ngomong sama mama kamu gimana?" gerutu Arin sembari menyajikan 2 cangkir teh di atas nampan.


"Biarin ih, biar kita cepet-cepet di nikahin. Kan malah bagus." ujar Satria sambil tertawa menggodanya.


Arin pun membalikkan tubuhnya untuk menatap Satria secara langsung. Ia tidak mengatakan apapun ada Satria, namun hatinya menghangat melihat perlahan Satria kembali bersikap seperti biasanya.


Jika mengingat bagaimana rapuhnya Satria beberapa jam yang lalu, Arin sangat merasa sedih. Entah apa yang salah dengan kisah cinta mereka, semuanya terasa sulit meskipun cinta mereka begitu kuat tertanam di hati masing-masing.


"Jangan lihatin aku terus yang, nanti aku cium loh." bisik Satria membuat kedua pipi Arin bersemu merah.

__ADS_1


Ia pun hanya bisa menepuk bahu Satria tanpa tenaga kemudian beralih kembali untuk membawa nampan berisi teh menuju ruang keluarga. Di sana masih terlihat eyang yang sedang menonton sebuah acara masak di televisi.


"Eyang, silahkan teh nya." ujar Arin menaruh secangkir teh di atas meja.


"Repot-repot sekali kamu, nak. Tapi terimakasih, jam segini memang eyang biasanya minum teh sambil menatap tanaman-tanaman eyang di halaman depan." ujar eyang bercerita perihal kebiasaannya di Jogja.


"Kamu ngapain di sini, kan aku udah siapin makan di belakang." ujar Arin melihat Satria yang kini malah duduk di sampingnya.


"Sudahlah Rin, kmu seperti tidak tahu saja bagaimana bucinnya Satria sama kamu." ujar eyang membuat Satria dan Arin saling menatap.


"Eyang keren banget ih, ngerti emang segala bilang aku bucin." seloroh Satria membuat eyang tersenyum remeh.


"Eyang tahu banyak bahasa anak muda sekarang, walaupun aneh-aneh tapi sedikit banyak eyang tahu artinya karena sudah bertanya sama Citra." ujar eyang dengan bangganya.


Perdebatan keduanya berhenti ketika mama dan papa Satria terlihat memasuki rumah. Arslan tampak tertidur di gendongan papa Satria. Arin pun spontan menyuruh Satria untuk mengambil alih Arslan dan mengantarkan anaknya ke kamar.


"Sini, pa biar Satria aja." ujar Satria membuat papanya sedikit bernafas lega.


Bagaimana pun usianya sudah tak lagi muda, dan Arslan kini sudah berusia hampir 12 tahun. Bobot tubuhnya juga lumayan berat untuk anak seusianya membuat sakit pinggang papa Satria terkadang kumat.


Tak lama setelah Satria mengantar Arslan ke kamarnya, Arin menemani Satria untuk makan. Sebenarnya Arin ingin mengobrol dengan eyang dan mama Satria di ruang keluarga namun Satria seolah tidak mengijinkannya.


Arin pun membantu Satria mengambilkan nasi serta lauk pauknya. Sementara mama dan papa Satria tersenyum senang melihat pemandangan tersebut dari balik tembok. Mereka berharap jika putra sulungnya bisa segera menemukan jodohnya.


Dan melihat bagaimana putranya begitu mencintai Arin membuat mereka hanya bisa berdoa dan berharap jika secepatnya kedua orangtua Arin bisa menerima Satria. Mereka sudah sangat ingin melihat Satria berumahtangga dan hidup bahagia bersama keluarganya.

__ADS_1


Selama ini bukan hanya Arin yang menderita karena perpisahan mereka begitu juga dengan Satria. Mereka sangat tahu jika Satria seperti kehilangan separuh jiwanya ketika mereka benar-benar berpisah.


Tidak pernah sekalipun Satria mencoba untuk meluapkan Arin ataupun mencoba berkencan dengan gadis lain. Bagi Satria, Arin adalah satu-satunya cinta dan juga hidup dan matinya. Ia bahkan melewatkan banyak kesempatan untuk bersama gadis yang tak kalah baik dan juga cantik di banding Arin seperti Sherina.


__ADS_2