Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Sebuah permintaan


__ADS_3

Arin dan Meisya sedang berbincang-bincang di dalam kamar, ketika akhirnya Satria pergi dari rumah. Melihat rentan waktu yang tidak lama, dari obrolan Satria dan kedua orangtuanya sampai akhirnya Satria pulang sudah Arin pahami hasilnya.


"Rin, kayaknya Satria pulang." ujar Meisya yang mendengar deru suara mesin mobil di nyalakan.


Arin pun segera bergegas pergi ke balkon kamarnya untuk memastikan. Dan benar saja mobil Satria terlihat tengah parkir untuk keluar dari rumahnya. Arin pun segera membuka tasnya mencari handphone untuk menghubungi Satria.


Namun belum sempat Arin menelpon Meisya memberitahunya jika ayah dan ibu memanggilnya. Mau tidak mau Arin pun kembali meletakkan handphone di tangannya ke dalam Sling bag yang tadi ia kenakan.


Kini Arin duduk di hadapan kedua orangtuanya tanpa ada anggota keluarganya yang lain. Mereka ingin berbicara langsung dengan putri mereka dan menanyakan sendiri alasan yang membuat putrinya bisa memaafkan Satria begitu saja.


"Sayang, tataplah mata ayah dan jawab dengan jujur. Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa kamu sendiri yang paling merasakan luka tapi kamu sendiri pula yang memaafkannya dengan begitu mudahnya." ujar sang ayah membuat Arin perlahan menatap ke arah ayah dan ibunya.


"Maaf ayah jika seandainya keputusan Arin untuk bersama Satria membuat ayah dan ibu terluka. Tapi Arin sadar jika maaf saja tidak akan cukup mengingat bagaimana Arin banyak merepotkan ayah dan ibu selama ini." ujar Arin dengan mata berkaca-kaca.


"Tapi, demi tuhan Arin dan Satria tidak pernah merencanakan ini semua. Semuanya terjadi begitu saja dengan bantuan semesta. Seperti yang ayah tahu, selama beberapa tahun ini Arin terus menghindari Satria. Tapi pada akhirnya sekeras apapun Arin berusaha tuhan selalu punya cara mempertemukan kami dengan cara yang tidak kami duga." jelas Arin dengan airmata mulai menetes di kedua pipinya.


"Kamu terlalu cepat menyimpulkan sayang." ujar ibu dengan nada tidak sukanya.


"Bu." panggil ayah mencoba menenangkan istrinya untuk tidak banyak bicara terlebih dahulu.


Bagaimana pun ayahnya Arin harus bersikap hati-hati mengingat kondisi mental Arin saat ini yang baru bisa di katakan benar-benar sembuh setelah bertahun-tahun. Ayah tidak ingin hal ini menjadi tekanan yang berat untuk putri mereka.


"Kamu pasti tahu nak, ayah dan ibu begitu luar biasa dalam menyayangi kamu. Apapun yang menurut kami membuat kamu bahagia pasti akan kami ikuti. Tapi nak, kamu juga harus ingat jika selain kamu yang terluka dan menderita ada kami yang hatinya jauh lebih merasakan sakit."


"Kamu adalah putri ayah satu-satunya ayah dan ibu merasa sangat buruk dalam 10 tahun terakhir karena tidak bisa berbuat banyak untuk kamu. Karenanya, tolong pahami juga perasaan ayah dan ibu yang tidak bisa begitu saja memaafkan Satria. Apalagi menerima dia sebagai seseorang yang akan mendampingi kamu di masa depan." ujar sang ayah membuat airmata di wajah Arin semakin deras bercucuran.

__ADS_1


Sebenarnya Arin ingin menjelaskan kesalahpahaman di antara dirinya dan Satria selama ini pada orangtuanya. Tapi melihat begitu terlukanya perasaan ayah dan ibunya Arin pun mengurungkan niatnya. Ia paham betul, jika posisi mereka saat ini adalah yang paling sulit.


Tidak akan mudah untuk mendapatkan restu dari kedua orangtuanya, begitu juga kedua saudara laki-lakinya yang begitu posesif menjaganya selama ini. Tidak banyak yang orangtua Arin sampaikan saat itu, mereka meminta Arin untuk memikirkan kembali hubungannya dengan Satria.


Arin pun tidak bisa berkata banyak selain menyetujui apa yang saat ini orangtuanya kehendaki. Ia akan membicarakannya lagi nanti sambil pelan-pelan memberi pengertian tentang kesalahpahaman di antaranya dengan Satria dulu.


Setelah berbicara panjang lebar akhirnya Arin memutuskan untuk kembali ke kamar dan beristirahat. Ia sudah meminta ijin pada orangtuanya untuk kembali ke Jakarta karena harus bekerja besok, tapi seperti yang sudah ia duga Adrian dan Dean sudah lebih dulu menentangnya.


Walaupun kesal, ia hanya bisa diam dan menerima saja. Begitu sampai di kamar untuk ke sekian kalinya ia mencoba untuk menghubungi Satria. Namun entah kenapa kali ini Satria tidak menjawab telponnya atau membalas pesan yang ia kirimkan.


Dengan situasi seperti itu, sudah tentu mood Arin kian memburuk. Ia pun memutuskan untuk pergi tidur saja karena memang ia sedikit mengantuk. Karena masalah hari ini, semalaman ia tidak bisa tidur.


***


Beruntung atasan Arin kali ini sangatlah baik, ia tidak banyak bertanya perihal ijin kerja yang di ajukan Arin dengan alasan sakit. Arin pun berpikir keras bagaimana cara membujuk kedua orangtuanya untuk mengijinkan ia pergi bekerja besok.


Tidak mungkin Arin terus membolos kerja, dan ia juga terlanjur merasa nyaman dengan lingkungan pekerjaannya yang baru jika harus mengundurkan diri. Dan yang lebih membebaninya adalah Satria yang tidak bisa ia hubungi sama sekali.


Mungkinkah Satria sudah menyerah dengan hubungan mereka saat ini, pikir Arin. Namun lamunannya terhenti ketika sebuah nomor asing terlihat muncul di handphonenya. Awalnya Arin tidak memperdulikannya karena merasa tidak mengenal nomor tersebut.


Namun sedetik kemudian ia berpikir, bisa saja nomor tersebut adalah Satria yang tidak ia ketahui atau yang menghubunginya dengan nomor orang lain.


"Hallo, assalamualaikum nak Arin." sapa seorang wanita paruh baya terdengar di telinganya.


"Waalaikum salam, maaf ini dengan siapa?" tanya Arin yang merasa mengenal suara tersebut tapi ia lupa itu siapa.

__ADS_1


"Ini mamanya Satria sayang."


Deg


"oh iya tante, ada apa ya?" tanya Arin sedikit terkejut namun tetap berusaha untuk terlihat tetap tenang.


"Maaf sebelumnya karena lancang, tante ambil nomor kamu dari handphone Satria yang tertinggal di sofa."


"Begini, tante mau minta tolong sama kamu nak. Sejak kemarin Satria tidak keluar dari kamarnya, tante dan om sudah berusaha membujuk Satria untuk keluar tapi Satria tetap diam saja. Tante sama om khawatir sekali sayang. Apa kamu bisa kesini?" tanya mama Satria dengan hati-hati.


"Bisa tante, sekarang tante dimana? Maksud Arin, tolong tante kirim alamatnya saja." jawab Arin tanpa berpikir.


"Tante di rumah lama kami, kamu masih ingat?"


"Ingat Tante, baik secepatnya Arin kesana."


"Terimakasih sayang, maaf sekali tante harus merepotkan kamu."


"Gak apa-apa tante."


"Ya sudah, kamu hati-hati di jalan ya. Assalamualaikum."


"Baik tante, waalaikum salam."


Arin pun segera pergi ke kamar Meisya untuk meminta bantuan. Ia tidak mungkin ijin pada kedua orangtuanya yang sudah pasti akan menolak.

__ADS_1


__ADS_2