
Arin sedang menunggu Satria dengan cemas di depan pintu IGD karena dokter sedang melakukan pemeriksaan untuk Satria. Sedangkan Andi sedang pergi untuk mengurus Administrasi.
"Keluarga pasien atas nama bapak Satria?" ujar seorang perawat
"Saya rekannya Sus." jawab Arin sembari menghampiri perawat tersebut.
"Mari mbak, dokter ingin bicara." jelasnya sembari bergerak ke dalam ruangan.
"Em, iya." jawab Arin mengikuti langkah perawat tersebut.
Arin pun melihat Satria yang tengah tertidur di atas ranjang rumah sakit dengan infus yang terpasang di tangannya.
"Bagaimana dok keadaan teman saya?" tanya Arin.
"Kondisi pasien sekarang sudah lebih baik, beruntung ini hanya peradangan pada dinding lambung tapi sebaiknya pasien bisa merubah pola hidupnya menjadi lebih sehat. Karena Gastritis jika di biarkan bisa memicu beberapa penyakit berbahaya seperti kanker. Pasien perlu memperhatikan pola makan teratur, mengkonsumsi buah-buahan dan makanan sehat, berolahraga serta istirahat yang cukup. Tolong di beritahukan kepada pasien untuk stop minuman beralkohol ataupun bersoda untuk sementara dulu ya mbak." jelas dokter panjang lebar.
"O, oh baik dokter. Oh iya, apa teman saya ini harus di rawat inap dok? Atau cukup dengan rawat jalan saja?" jawab Arin dengan hati tak menentu.
"Pasien boleh pulang, tapi tunggu sampai infusnya habis ya mbak."
"Baik dokter, terimakasih banyak."
"Oke mbak, kalau begitu saya permisi dulu." ujar dokter wanita yang menangani Satria.
Arin pun hanya bisa mengangguk dengan perasaan sedih. Selama ini ia hanya sibuk memikirkan dirinya sendiri, tanpa pernah memikirkan bagaimana Satria menjalani hidupnya selama ini.
Ini semua bukan kesalahan Satria 100 % dan Arin juga sadar jika selama ini mungkin bukan hanya dirinya yang menderita tapi Satria juga. Tubuhnya berjalan menghampiri ranjang dimana Satria tengah berbaring.
Ia terlihat begitu pulas, setelah dokter memberikannya obat. Arin terduduk dengan hati yang entah ia sendiri bingung untuk mendeskripsikan perasaannya saat itu seperti apa.
Lalu Andi datang untuk mengatakan jika ia telah selesai mengurus administrasi untuk Satria.
"Rin, administrasinya udah selesai. Gimana pak Satria keadaannya sekarang? " tanya Andi.
"Alhamdulillah kondisi pak Satria sudah baik-baik saja sekarang. Ndi, kamu pasti capek kan? Kamu pulang aja duluan, gak apa-apa." ujar Arin.
"Ah enggaklah, masa iya gue ninggalin lu ngurus pak Satria sendiri. Yang bawa kesini kan kita berdua." ujar Andi.
__ADS_1
"Pak Satria gak perlu di rawat kok, bentar lagi juga pulang kalau infusnya udah abis. Nanti biar gue yang antar pak Satria pulang ke rumahnya. Lu gak apa-apa balik duluan juga." ujar Arin tidak ingin membuat temannya ikut repot.
Lagipula sedikit banyaknya, Arin sendiri lah yang menjadi penyebab Satria sampai sakit seperti itu. Ia ingin bertanggung jawab penuh untuk itu, pikir Arin.
"Beneran gak apa-apa nih gue balik duluan?" tanya Andi masih ragu.
"Gak apa-apa, lagian gue juga kan yg bawa mobilnya pak Satria nanti. Jadi lu kalau mau balik ya gak apa-apa balik aja." jawab Arin yakin.
"Ya udah, gue balik duluan ya soalnya gue ada janji sebenernya ama orang. Lu kalau ada apa-apa mah, jangan ragu-ragu telpon gue aja." ujar Andi berpamitan.
Setelah hampir 3 jam di rumah sakit akhirnya Arin membawa Satria untuk pulang ke apartemennya. Arin memperlakukan Satria dengan penuh perhatian dan kelembutan.
Hati Satria pun menghangat karena semua sikap Arin yang begitu lembut padanya. Bahkan jika ia harus memilih, ia akan memilih untuk tidak sembuh asal Arin selalu berada di sisinya seperti itu.
" Sat, di apartemen kamu ada bahan makanan gak?" tanya Arin sembari mengemudikan mobilnya.
"Kayaknya gak ada rin, aku udah lama banget gak masak. Tiap hari pesan yang online delivery aja." jawab Satria.
"Oh, gitu." ujar Arin mengerti.
"Loh, kita ngapain kesini?" tanya Satria sedikit terheran.
"Ada yang mau aku beli Sat, sebentar ya kamu tunggu disini aja." ujar Arin sembari melepas sabuk pengamannya.
"Tunggu, rin." ujar Satria menahan tangan Arin untuk keluar.
"Ada apa? " tanya Arin.
"Boleh aku ikut ke dalam?" tanya Satria memelas.
"Gak ada. Kamu tunggu di sini aja, aku gak lama." jawab Arin bergegas keluar tak lagi ingin mendengar jawaban Satria.
Satria pun tersenyum senang dengan sikap Arin yang sangat memperhatikannya saat ini. Walaupun itu semua hanya sebatas rasa kasihan pun, Satria tetap sangat bahagia.
Tidak sampai 15 menit Arin kembali dengan 2 kantung belanjaan penuh membuat Satria tercengang.
"Kamu beli apa banyak banget?" tanya Satria begitu Arin duduk kembali di sampingnya.
__ADS_1
"Kamu gak lihat?" tanya Arin sembari memutar kedua bola matanya jengah.
Satria pun memeriksa satu persatu kantung belanjaan yang Arin bawa berisi bahan makanan dan beberapa buah-buahan segar, susu dan roti.
"Kamu gak belanja ini semua buat aku kan?" tanya Satria yang hanya di tanggapi dengan acuh oleh Arin.
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan mereka ke apartemen Satria. Tidak sampai 10 menit mereka pun sampai di apartemen Satria.
"Kamu udah bisa jalan sendiri?" tanya Arin ketika hendak turun.
"B.. bisa kok." jawab Satria terbata.
"Ya udah, aku bawa belanjaannya kalau gitu." ujar Arin.
Mereka berdua pun berjalan beriringan menuju unit apartemen Satria yang ada di lantai 11. Sebenarnya kepala Satria masih terasa sedikit pusing dan tubuhnya sangat lemas. Tapi ia tidak tega untuk merepotkan Arin lebih banyak lagi.
Arin tertegun melihat Satria memasukkan kode sandi pintu apartemennya yang merupakan tanggal ulang tahunnya. Tapi sekilas ia pura-pura mengalihkan pandangannya ke arah lain dan tidak melihatnya.
Begitu sampai di dalam Arin langsung pergi ke dapur untuk menaruh kantung belanjaannya. Setelah itu ia kembali ke ruang tamu untuk menemui Satria.
"Kamu langsung istirahat aja di kamar. Bersih-bersih dulu, terus ganti bajunya." ujar Arin sembari memberikan segelas air putih untuk Satria.
Tapi ternyata Satria sudah terpejam kembali di atas sofa. Kepalanya masih sangat pusing, dan perutnya masih sedikit sakit dan sesak karena itu ia langsung berbaring di atas sofa.
"Kamu tidur? " tanya Arin sembari berjongkok di hadapan Satria yang tampak tidak bergeming.
Arin pun memutuskan untuk membiarkan Satria beristirahat. Arin pergi ke kamar Satria untuk mengambil bantal dan selimut. Lalu itu memakaikannya ke tubuh Satria.
Setelah itu Arin langsung bersiap untuk kembali ke dapur. Ia pun mengikat rambutnya tinggi-tinggi, lalu membuka blazer yang ia kenakan dan menggulung lengan kemejanya sampai batas siku.
Satria hanya memperhatikan gerak gerik Arin sambil tersenyum. Sebenarnya awalnya ia memang tertidur, tapi ketika Arin menghampirinya ia terbangun. Tapi karena gugup, ia tidak tahu harus melakukan apa-apa selain berpura-pura tidur.
Arin membereskan belanjaannya dan menatanya ke dalam kulkas. Setelah itu ia memilih bahan makanan apa saja yang akan ia gunakan. Karena tahu jika Satria tidak makan selama seharian ini, Arin berpikir untuk membuatkan masakan untuk ia makan malam.
"Seandainya kita tidak pernah berpisah, mungkin kamu sudah menjadi istriku dalam kenyataan, bukan hanya khayalan." gumam Satria dalam hati sembari menatap Arin yang sibuk di dapur.
Arin yang merasa sedang di perhatikan pun melirik ke arah Satria. Tetapi ia langsung spontan menutup matanya berpura-pura masih tertidur.
__ADS_1