
Setelah 4 jam berkendara akhirnya bus berhenti di sebuah restoran untuk makan siang. Para karyawan pun berhambur keluar dari bus, sebagian ada yang langsung mengantri untuk mengambil makanan dan sebagian lagi pergi ke mushola untuk melaksanakan ibadah shalat dzuhur lebih dulu.
Begitu keluar dari bus Arin di ikuti Herti dan Andi berjalan menuju arah toilet. Sementara Satria hanya menatap dari kejauhan tanpa berujar apapun.
Meskipun ia sudah berusaha bersikap baik dan melontarkan candaan untuk mencairkan suasana nyatanya tak membuat Arin mudah untuk luluh.
Tidak ada 1 kata pun yang keluar dari mulut Arin selama perjalanan. Bahkan ia selalu mengabaikan Satria ketika ia mengajaknya berbicara ataupun berpura-pura tidur.
Satria memilih untuk melipir mencari tempat yang sepi untuk menenangkan diri. Ketika sudah mendapatkan tempat yang ia rasa cocok untuk nya Satria langsung mengambil sebungkus rokok dari dalam tas kecil yang ia pakai.
Sebenarnya dia bukanlah seorang perokok aktif, hanya sesekali ketika ia sedang stress atau sedang ada masalah maka ia akan menghisap benda yang mengandung nikotin tersebut.
"Saya pikir bapak gak ngerokok." ujar Andi lalu membakar sebatang rokok di mulutnya.
"Sesekali aja, gak setiap hari saya pakai." timpal Satria sembari menghembuskan asap rokok dari mulutnya.
"Maaf nih pak sebelumnya, bukan bermaksud ikut campur. Tapi bapak yang sabar ya, ngadepin sikap Arin. Dia orangnya rada susah soalnya.” ujar Andi membuat Satria sedikit terkejut.
" Maksud kamu?"
" Bapak mantan pacarnya Arin kan? Dan saya lihat kayaknya bapak masih ada rasa ya sama temen saya?" tanya Andi pada akhirnya.
Satria tersenyum tipis mendengar pertanyaan Andi kemudian kembali menghisap rokok di tangannya.
"Arin cerita ya sama kalian?"
"Enggak pak, kebetulan saya lihat akun instadairy bapak beberapa hari lalu." jawab Andi.
"Dan entah kenapa, ngelihat sendiri di galeri bapak foto kalian dulu saya ngerasa Arin yang ada di foto itu dan Arin yang saya kenal adalah 2 orang yang berbeda.” sambungnya lagi sambil tersenyum tipis.
" Kamu benar, Arin yang dulu dan yang sekarang memang jauh berbeda. Dan sialnya, itu semua karena saya." jelas Satria mendesah pelan melepas sesal di dadanya.
__ADS_1
Andi bingung harus menanggapi penjelasan Satria seperti apa. Akhirnya ia mendapat sedikit gambaran tentang hubungan mereka berdua yang sepertinya cukup pelik.
"Bapak belum move on ya dari Arin?" tanya Andi setelah beberapa saat.
"Saya gak pernah melupakan Arin di, baik dulu maupun sekarang saya selalu mencintai orang yang sama. Hanya saja, kesalahan saya di masa lalu membuat hubungan saya dan Arin jauh dari kata mungkin sepertinya." jelas Satria kembali.
"Apa Arin tahu bapak masih cinta sama dia?” tanya Andi lagi.
"Apa kamu percaya kalau saya bilang kalau saya sama Arin masih saling mencintai?" tanya Satria membuat kedua mata Andi membulat sempurna.
"Kalau masih saling cinta kenapa gak balikan aja pak?" tanya Andi asal.
"Gak semudah itu, akan ada banyak halangan dalam hubungan kami nanti. Dan yang paling utama, itu pasti akan menyakiti banyak orang." jelas Satria dengan sendu.
"Maksudnya gimana sih pak?" tanya Andi semakin penasaran.
"Suatu hari nanti juga kamu pasti bakal tahu. Untuk sekarang saya cuma bilang, saya titip Arin sama kalian ya. Saya tahu kalian adalah orang yang paling dekat dengan Arin di sini." ujar Satria terkekeh pelan.
Walaupun bibirnya tersenyum namun Andi bisa melihat dengan jelas kesedihan di mata atasannya itu.
"Dulu, Arin adalah gadis yang sangat ceria. Dia itu seperti matahari, dimanapun dia berada selalu terlihat bersinar. Orangnya juga supel banget, baik dan ramah. Semua orang gampang banget di bikin suka sama dia. Dan cerewet nya dia itu ngalahin ibu-ibu kompleks, dimana ada Arin di situ pasti jadi rame. Tapi itu dulu, seperti yang kamu tahu kalau sekarang ya kamu pasti lebih tahu." jelas Satria panjang lebar.
Andi pun tersenyum mendengar penjelasan Satria.
"Kenapa ndi? "
"Itu kalimat terpanjang yang pernah saya denger dari bapak selama 7 bulan kita kenal." ujar Andi membuat Satria ikut tersenyum.
Setelah puas menghisap rokok di tangan mereka, Satria dan Andi pun bergegas mengantri makan di restoran yang ada di rest area tersebut.
Arin dan Herti terlihat sudah mulai makan di sebuah meja yang terletak di sebelah pojok kanan. Andi dan Satria pun berjalan ke arah meja mereka setelah mendapat makanan.
__ADS_1
"Udah dapet makanan nya? Kalian dari mana aja?" tanya Herti sambil terus mengunyah makanan di mulutnya.
"Oh, biasa sebat dulu bentar" jawab Andi sembari menarik kursi di depan Herti.
Sedangkan Satria melakukan hal yang sama namun ia lebih memilih untuk diam dan mengunci mulutnya. Sesekali ia menatap Arin yang tampak menikmati makannya sambil berbincang ringan dengan Herti.
Andi hanya diam dan memperhatikan, jauh di lubuk hatinya ia merasa kasihan terhadap Satria. Andi berpikir mungkin ia harus melakukan sesuatu nanti sesampainya di jogja untuk sepasang mantan kekasih yang ada di sampingnya tersebut.
Setelah selesai makan siang, Bus langsung kembali melanjutkan perjalanan menuju jogjakarta. Ketika hendak menaiki bus kembali, Satria merasa ragu. Haruskah ia duduk di samping Arin lagi?
Ia takut Arin merasa tidak nyaman berada di sampingnya. Akhirnya ia meminta Herti untuk bertukar kembali posisi duduk mereka. Ia akan duduk bersama Andi pikirnya, tapi ternyata apa yang ia rencanakan tidak sesuai kenyataan.
Herti menolak bertukar kembali posisi duduknya, sepertinya Herti dan Andi ingin memberikan kesempatan untuknya pikir Satria. Akhirnya Satria pun kembali duduk di samping Arin sementara Arin pun terlihat acuh.
Hari sudah gelap ketika akhirnya mereka keluar dari exit tol colomadu, kurang dari 1 kg keluar dari gerbang tol tiba-tiba saja Bus yang membawa rombongan Arin terhenti.
Semua penumpang pun bertanya-tanya mengapa bus berhenti di tengah jalan seperti ini. Sampai akhirnya sopir bus mengatakan jika bus sepertinya mogok.
Sang sopir pun langsung bergerak cepat dengan menghubungi kontak bengkel terdekat dari sana. Karena kebetulan beliau adalah orang asli jogja hanya saja sedang merantau di Jakarta.
Para penumpang bus pun akhirnya memilih untuk turun dan menunggu di luar. Begitu pun dengan Arin dan Satria.
Kebetulan 1 jam sebelumnya turun hujan cukup deras, membuat suhu udara di awal malam hari itu pun cukup terasa menusuk tulang.
Satria yang melihat Arin mulai menggosok kedua sisi tangannya pun berinisiatif melepaskan jaket yang ia kenakan. Tanpa kata, Satria segera memakaikan jaket tersebut di tubuh mantan kekasih nya itu.
Sontak kedua mata Arin membulat seketika. Karena yang Satria lakukan kali ini benar-benar memancing perhatian rekan-rekan kerja mereka.
Bagaimana tidak, hampir semua orang dalam bus adalah orang dari divisi mereka dan tentunya mereka saling mengenal. Beberapa orang tampak berbisik-bisik sembari memperhatikan Arin dan Satria.
"Sat, tolong dong lihat sikon. Semua orang jadi ngelihatin ke arah kita.” ujar Arin dengan menekankan setiap kata yang keluar dari bibirnya sembari menyerahkan kembali jaket Satria.
__ADS_1
Tapi bukannya peduli pada apa yang Arin katakan, Satria malah dengan sengaja kembali memakaikan jaket tersebut di tubuh Arin. Sontak kasak-kusuk di antara para karyawan semakin ramai.
Sedangkan Herti dan Andi hanya tersenyum tipis saling menatap satu sama lain. Kini mereka punya tujuan, dan tujuan mereka adalah membantu sepasang mantan kekasih untuk kembali.