Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Terimakasih Raka


__ADS_3

Malam itu Raka yang terbiasa tidur nyaman di kasurnya yang empuk harus merasakan ketidaknyamanan karena tidur di sofa ruangan perawatan Sherina. Ia pun hanya bisa menghela nafas berkali-kali sambil membolak-balikkan tubuhnya mencari kenyamanan.


Sambil berdecak kesal ia pun bangun dan mendudukkan dirinya di sofa tersebut. Kedua mata elangnya menatap ke arah Sherina yang tampak tertidur pulas di atas brankar. Sebenarnya ia bisa saja meminta extra bed untuknya tidur kepada perawat, namun ia takut menjadi bahan perbincangan satu rumah sakit.


Orang-orang akan tahu dirinya menunggui seorang pasien yang mana adalah seorang gadis pula. Semua orang akan salah paham dan salah mengira jika Sherina adalah kekasihnya, pikir Raka.


Sesaat kedua matanya hanya terfokus menatap ke arah Sherina yang masih setia terpejam. Tidak bisa ia pungkiri, Sherina adalah gadis yang sangat cantik. Bahkan kepribadian nya pun cukup menyenangkan, walaupun terkadang sedikit menyebalkan pikir Raka.


"Ah, mikir apa aku ini." gumamnya kecil sembari mengenyahkan segala pikiran yang mulai tak terarah.


Raka pun kembali melempar tubuhnya bersandar pada sofa dengan kepala mendongak menatap langit-langit ruangan perawatan tersebut.


Flashback,


"Raka, aku boleh minta tolong gak sama kamu?" tanya Arin sembari menautkan jari jemarinya dengan pelan.


"Ada apa Rin? Bilang aja, gak usah sungkan." jawab Raka dengan sungguh-sungguh.


"Em, gini ka. Besok aku hari pertama kerja, dan Herti barusan dapet telpon ada kerjaan ke luar kota dan harus berangkat sekarang juga."


"Dan Sherina, gak punya siapa-siapa di Jakarta. Kamu keberatan gak kalau aku titip dia sampai besok sore aja. Aku janji sore selesai aku kerja aku pasti langsung ke sini." jelas Arin dengan penuh harap.


Raka yang tidak pernah bisa menolak permintaan Arin, tentu saja menerima permintaan tersebut dengan mudahnya. Ia tidak memikirkan hal-hal lainnya ketika menyetujui permintaan tersebut.


Dan begitulah akhirnya dia harus berakhir dengan menghabiskan waktu di kamar rawat Sherina. Kebetulan Sherina meminta Arin menempatkannya di ruang VIP sehingga tidak ada pasien lain yang berada satu ruangan dengannya.


Ketika Arin berpamitan untuk pulang, Sherina telah terlelap efek obat pereda nyeri pasca operasi yang di berikan. Jadi ia tidak mengetahui sama sekali jika yang menungguinya saat ini adalah dokter Raka.

__ADS_1


Untuk menghindari gosip, Raka melepas jas dokternya dan berganti pakaian sebelum menunggui Sherina. Ia bahkan memakai masker dan sebuah jaket bertudung untuk menutupi jati dirinya di rumah sakit tersebut.


Bagaimana pun rumah sakit ini selain tempatnya bekerja, juga merupakan rumah sakit milik keluarga Raka. Jadi apapun langkah yang ia ambil selalu menjadi pusat perhatian semua penghuni rumah sakit.


...****************...


Pagi harinya, Sherina terbangun karena kedatangan para perawat yang berkunjung untuk melakukan pemeriksaan sekaligus penggantian infus.


"Selamat pagi, dengan nona Sherina." sapa para perawat dengan ramah.


"Selamat pagi sus." jawab Sherina dengan lemah.


"Bagaimana nona Sherina keadaan nya pagi ini? Apakah sudah lebih baik?" tanya seorang perawat yang sedang memeriksa tensi darah nya.


"Sudah lebih baik sus." jawab Sherina.


"Apa ada keluhan yang di rasakan pasca operasi?" tanyanya lagi sambil mencatat hasil pemeriksaan.


"Itu hal yang normal setelah menjalani operasi, setelah ini nona belajar untuk menggerakkan tubuh ke samping kiri dan kanannya. Setelah itu, belajar untuk duduk nanti jam 10 pagi dokter kan melakukan kunjungan." jelas perawat.


Mereka pun berbincang-bincang selama beberapa saat mengenai apa yang boleh dan tidak boleh Sherina lakukan. Dan tak berselang lama datang lah seorang yang bertugas mengantarkan Sarapan pagi ke setiap kamar perawatan.


Setelah semua orang keluar dari ruangannya Sherina pun mengedarkan pandangannya ke seluruh arah mencari keberadaan kedua sahabatnya. Namun kedua matanya malah menangkap sesosok laki-laki yang sedang tidur di sofa dengan posisi duduk.


Sherina pun bertanya-tanya siapa pria tersebut. Tapi ia tidak punya tenaga untuk menghampiri laki-laki tersebut. Jangankan berjalan untuk menggerakkan tubuhnya saja ia masih merasa sangat kesulitan.


Ia pun memilih untuk pasrah dan menunggu sampai laki-laki tersebut terbangun dengan sendirinya. Dan tidak menunggu lama, akhirnya Raka pun terbangun dengan rasa pegal di seluruh tubuhnya.

__ADS_1


Ia pun mencoba untuk meregangkan otot-otot tubuhnya secara spontan. Dan begitu terkejut ketika matanya tak sengaja bertabrakan dengan kedua bola mata milik Sherina yang berwarna kecoklatan.


"K..kamu siapa? Arin sama Herti mana?" tanya Sherina sedikit ragu.


"Oh, ini saya dokter Raka." jawab Raka sambil membuka maskernya berjalan ke arah brankar.


"Arin, baru saja mendapatkan panggilan kerja pagi ini dan Herti harus pergi ke luar kota secara mendadak tadi malam. Jadi mereka meminta saya untuk menemani kamu di sini." jelas Raka yang membuat Sherina hanya bisa ber oh ria.


Sesaat situasi di sana terasa benar-benar canggung untuk keduanya. Sherina ingin mengucapkan terimakasih saja rasanya sangat malu.


"Em, dokter Raka terimakasih atas bantuannya maaf jika telah merepotkan." ujar Sherina pada akhirnya memecah hening.


"Oh iyaa tidak apa-apa, santai saja." jawab Raka berusaha untuk seramah mungkin.


Raka berpikir ia akan menganggap dan memperlakukan Sherina layaknya pasien saja. Sehingga ia tidak akan malu dan canggung dalam beberapa jam ke depan.


"Kamu tidak perlu merasa canggung, anggap saja saya dokter yang sedang menangani pasiennya." ujar Raka sambil tersenyum hangat.


"Ah baik dokter Raka. Oh ya, kalau dokter mau pulang sekarang gak apa-apa kok. Saya nanti bisa meminta perawat untuk membantu saya jika saya butuh sesuatu." timpal Sherina yang masih merasa sangat sungkan.


"Sudahlah, gak usah sungkan seperti itu. Lagi pula saya sudah janji pada Arin untuk menjaga kamu menggantikan dia selama dia tidak ada. Bisa habis nanti saya kena marah dia, kalau saya tinggal kamu." ujar Raka mencoba mencairkan suasana.


"Kamu sudah lapar, bagaimana kalau saya suapi kamu makan saja ya?" tawar Raka membuat Sherina tidak enak hati.


Bagaimana mungkin ia bisa makan di suapi oleh seorang laki-laki yang baru saja ia kenal. Walaupun ia tahu jika dokter Raka adalah laki-laki yang baik dan pasti nya tidak akan macam-macam dengannya tetap saja dia merasa sedikit tidak nyaman.


Raka pun segera mengambil alih makanan yang ada di atas nakas dan meletakkannya di atas pangkuannya. Dengan sigap ia pun mengatur posisi ranjang Sherina agar lebih tinggi supaya ia bisa makan dengan nyaman.

__ADS_1


"Maaf, pasti akan terasa sedikit sakit." ujarnya sambil menyesuaikan posisi ternyaman untuk Sherina.


Dalam waktu singkat semua kecanggungan di antara mereka pun sirna. Apalagi pembawaan Sherina yang supel dan senang bercanda membuat Raka tidak lagi keki walaupun untuk kali pertama mereka berbincang secara intens.


__ADS_2