Arinda, Cinta Pertama

Arinda, Cinta Pertama
Jalan-jalan


__ADS_3

Hampir pukul 9 pagi ketika Sherina kembali ke hotel. Arin sudah terlihat cantik, dengan dress floral berwarna biru langit. Sedangkan ia masih terlihat berantakan dengan keringat yang hampir mengering di tubuhnya.


Sherina meminta Arin menunggunya bersiap selama 30 menit. Arin pun tidak merasa keberatan sama sekali, ia memanfaatkan waktunya untuk mengirimkan CV ke beberapa perusahaan besar di Jakarta.


Pengalamannya bekerja sebelumnya sudah cukup baik dan dia juga tidak pernah bermasalah dengan perusahaan terdahulu. Arin optimis jika dia akan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dengan cepat.


Ia mulai merencanakan apa yang akan ia lakukan selama 3 hari ke depan, dan Arin memutuskan untuk mencari rumah kost lebih dulu. Karena tidak mungkin ia berlama-lama di hotel tersebut.


Meskipun ia masih memiliki tabungan yang cukup dari hasil bekerjanya dulu di perusahaan Bayu tapi Arin tidak ingin menghambur-hamburkan uangnya begitu saja.


Setelah hampir 30 menit menunggu akhirnya yang di tunggu pun datang. Sherina terlihat cantik mengenakan Dress payung dengan lengan pendek berwarna peach. Keduanya memilih mengenakan sneaker sebagai alas kakinya.


"Sudah siap nih?" tanya Arin sambil menaruh handphonenya ke dalam Sling bag yang ia kenakan.


"Sudah dong, ayo let's go." jawab Sherina dengan semangat 45 sambil menggamit lengan Arinda.


"Wait, wait. Kita mau pergi kemana emang sebenernya?" tanya Arin yang penasaran dengan tujuan mereka saat itu.


"Ah, udah ikut aja. Jangan banyak tanya." jawab Sherina kembali menarik lengan Arin agar mengikuti langkahnya.


Mereka berdua pun pergi menggunakan sebuah taksi online. Tujuan pertama mereka adalah ke Ancol, Sherina mengajak Arin untuk pergi melihat SeaWorld. Ia beralasan jika ia belum pernah ke sana seumur hidup dan sudah lama menginginkannya namun belum sempat.


Walaupun Arin sedikit keberatan pada awalnya, akhirnya ia pun menyetujuinya karena tidak tega melihat wajah sedih Sherina yang mengiba ingin pergi ke sana. Setelah puas berkeliling dan berfoto di dalamnya mereka pun pergi ke sebuah restoran seafood yang terkenal di sana.


Seperti biasa, Sherina yang memiliki nafsu makan yang besar memesan cukup banyak makanan untuk berdua. Dan Arin hanya bisa pasrah karena lagi-lagi ia tidak bisa berkata tidak padanya.


Setelah selesai makan siang mereka pun memutuskan untuk keluar dari Ancol dan pergi ke sebuah Mall terbesar di Jakarta. Awalnya mereka pergi ke sebuah pameran fotografi yang berada di salah satu lantai mall tersebut.

__ADS_1


Setelah puas berkeliling dan melihat pameran mereka memutuskan untuk pergi ke bioskop dan menonton sebuah film bergenre komedi romantis. Kebetulan keduanya memiliki selera yang sama dalam hal tersebut. Jadi mereka tidak perlu berdebat untuk menentukan film yang akan di pilih.


Waktu menunjukkan hampir pukul 7 malam ketika mereka keluar dari bioskop. Mereka memutuskan untuk makan di sebuah angkringan pinggir jalan yang menjadi langganan Arin ketika ia tinggal di Jakarta dulu.


Sherina pun tidak merasa keberatan dan sangat antusias dengan apa yang Arin rekomendasikan. Sherina belum tahu jika Arin sempat tinggal dan menetap di Jakarta untuk waktu yang lama.


Ia hanya tahu jika Arin datang ke Jakarta untuk berlibur sama sepertinya. Arin tidak banyak bercerita mengenai dirinya, ia hanya mengatakan tempat sebelumnya tinggal adalah di pulau X.


Setelah hampir 20 menit menaiki taksi online, akhirnya mereka pun sampai di tempat tujuan. Arin dan Sherina pun langsung menempati tempat duduk yang kosong. Karena kebetulan suasana malam hari tersebut cukup ramai.


"Eh mbak Arin kemana saja, sudah lama sekali loh enggak mampir." ujar salah satu pegawai angkringan tersebut menghampiri meja mereka.


"Iya, mas. Saya sudah enggak di Jakarta lagi soalnya kebetulan baru balik makanya langsung makan di sini. Kangen banget sama masakan mas nya." jawab Arin dengan ramah.


"Oh pantes aja, mbak Herti sama mas Andi juga jarang kesini sekarang mah cuma ada beberapa kali saya lihat." timpalnya lagi.


"Oh gitu. Ya udah mas, saya mau pesan ya yang biasa. Terus tambahannya mau nasi uduknya 1, nasi kucing sambel cuminya 1, sate ususnya 2, sate telur puyuh 2, sama sate kerang nya 2, bacem ayam 1, sama mendoan nya 1 porsi ya."


"Iya, kangen makanan sini soalnya jangan pake lama ya mas." ujar Arin menimpali.


"Siap mbak, di tunggu ya." jawab pegawai angkringan kemudian segera mengambilkan pesanan Arin.


"Rin, kok mereka bisa kenal sih sama kamu?" tanya Sherina sedikit berbisik.


"Aku langganan di sini dulu Sher." jawab Arin sambil tersenyum.


"Aku dulu tinggal di Jakarta, dari kuliah sampai kerja lumayan lama lah." timpalnya lagi membuat Sherina mengangguk mengerti.

__ADS_1


Warung angkringan tersebut memiliki 5 meja makan, cukup besar untuk ukuran warung tenda. Sejak kuliah dulu Arin sudah langganan makan di angkringan tersebut.


Setelah menunggu hampir 5 menit semua pesanan mereka sudah siap di meja. Kedua mata Sherina terlihat berbinar menatap makanan yang ada di hadapannya saat ini.


Setelah menghabiskan semua makanan yang mereka pesan, Arin dan Sherina kembali berjalan kaki selama beberapa menit untuk mencerna makanan yang telah mereka makan.


Langit malam kota Jakarta saat itu sangat cerah. Tanpa sadar langkah Arin pun terhenti, karena menatap bagaimana indahnya langit malam hari itu. Terbesit di dalam pikirannya beberapa kenangan bersama Satria.


Hatinya tiba-tiba saja menjadi sendu karena teringat lagi dengan cinta pertamanya itu. Ada kerinduan dalam tatapan Arin ketika menatap jutaan bintang yang terlihat menghiasi malam.


Sherina tertegun melihat pemandangan tersebut. Entah kenapa ia melihat Arin seperti tengah merindukan seseorang. Ia ingin bertanya tapi merasa enggan karena bagaimanapun mereka baru saling mengenal.


Ddrrrtt , Ddrrrtt.


Getar ponsel di tangannya pun akhirnya membuyarkan semua lamunan Arin. Terlihat nama sang kakak ipar tertera di sana, Arin yakin jika Meisya pasti sudah mengetahui tentang kepulangannya ke Jakarta.


Ia harus menyiapkan hati dan telinganya untuk mendengarkan kemarahan sahabat sekaligus kakak iparnya tersebut.


"Bentar ya Sher." pamit Arin sedikit menepi karena tidak ingin suara omelan Meisya terdengar jelas oleh Sherina.


"Halo, kakak ipar." sapa Arin dengan seceria mungkin.


"Maksudnya apa main rahasia-rahasiaan sama gue?" tanya Meisya dengan ketusnya.


"Gue bukan main rahasia-rahasiaan sih sebenernya, cuma mau bikin kejutan aja. Padahal gue mau ke Bogor loh nanti, eh kok elu dah tahu duluan sih?" jawab Arin asal sambil tertawa kecil.


"Bohong !!"

__ADS_1


"Sebeeeeeeel gue sama lu." teriak Meisya seraya mematikan sambungan teleponnya secara sepihak membuat Arin sedikit menjauhkan handphone dari telinganya.


"Yah, ngambek deh." ujar Arin sembari menatap layar handphonenya yang sudah menggelap.


__ADS_2