
Satria masih setia terpejam di atas tempat tidurnya. Dan kini Arin pun memberanikan diri untuk masuk dan menemui Satria secara langsung. Selama beberapa hari ini ia hanya sanggup berdiri di luar kaca melihat tubuh Satria yang terbaring tanpa daya.
"Hai, sat." ujar Arin mencoba menyapa seperti biasa sambil menahan tangisnya agar tidak pecah.
"Kamu apa kabar?" tanyanya lagi yang hanya berbalas hening.
"Aku kecewa sama kamu tahu gak?" ujarnya lagi mencoba mengeluarkan isi hatinya.
"Ternyata hubungan kamu sama Sherina gak sesederhana itu ya?" ujarnya lagi dengan airmata yang sudah jatuh meski tanpa isakan.
"Apa aku penghalang di antara kalian?" tanya Arin lagi tiba-tiba entah darimana ia mendapatkan pemikiran yang tidak-tidak.
Hening tidak ada sahutan dari Satria seperti yang Arin harapkan. Untuk pertama kalinya ia benar-benar merasa cemburu, namun situasinya tidak mendukungnya saat ini.
Isakan kecil sudah tak dapat ia tahan lagi mengisi suara di antara riuhnya suara monitor jantung yang terus berbunyi nyaring mengisi sunyi. Udara dingin pendingin ruangan begitu menusuk kulit Arin menambah hawa dingin yang sedari kemarin ia rasakan.
Sejujurnya tubuhnya merasa sedikit lelah dan lemas. Di tambah dengan pikirannya yang mulai kacau dan hatinya yang tidak tenang mengetahui kebenaran di antara Satria dan Sherina.
Ada sedikit rasa bersalah menyusup di hatinya, ketika mengingat curahan hati Sherina tentang laki-laki yang begitu di cintai nya. Laki-laki yang membuatnya begitu patah hati sehingga memutuskan untuk pergi. Dan ia juga laki-laki yang sama yang begitu ia cintai.
Entah Arin harus bersikap bagaimana setelah ini dengan Sherina. Bahkan ia merasa berat untuk sekedar bertatap muka. Ketika mereka bertemu di rumah sakit, sebisa mungkin Arin menghindari Sherina apalagi sampai terlibat pembicaraan berdua.
Di tengah kekhawatirannya terhadap Satria, hatinya kembali di hantam kekalutan tentang isi hatinya. Berpura-pura tidak tahu pun Arin merasa tidak bisa, apalagi kini Sherina adalah sahabatnya.
Tanpa Arin sadari, kelopak mata Satria mulai mengerjap perlahan. Meskipun ia merasa berat, Satria berusaha untuk segera sadar. Walaupun ia terbaring koma, Satria bisa mendengar dengan jelas apa yang terjadi di sekitarnya.
__ADS_1
Inilah saat yang paling ia tunggu, di antara semua orang untuk pertama kalinya Arinda nya mau menemuinya. Setelah berhari-hari, akhirnya Arinda nya mau berbicara dengannya lagi.
Setelah benar-benar bisa membuka matanya, Satria bisa melihat dengan jelas jika Arin ada di sisinya. Arinda nya sedang menunduk sambil menangis di sampingnya. Tentu saja Satria pun merasa bersalah karena telah menyakiti hati calon istrinya itu.
Dengan susah payah, akhirnya Satria bisa menggerakkan sebelah tangannya. Ia pun berusaha untuk menggapai cintanya. Dengan sedikit bergetar Satria mencoba meraih pipi Arin telah membasah dengan derasnya.
Arin pun tersentak kaget merasakan tangan dingin Satria yang berusaha menghapus air matanya. Ia pun mendongak menatap Satria yang kini sedang memandang wajahnya penuh kerinduan.
"Ss..sat, kamu udah sadar? Sebentar, sebentar.. aku panggil dokter dulu." ujar Arin sambil menghapus air matanya dengan begitu paniknya.
"Dokter..dokter.." teriak Arin sembari memencet bel yang terletak di atas kepala Satria.
Satria mencoba tersenyum melihat kelegaan di wajah Arin bercampur dengan bahagia. Meskipun airmata masih belum berhenti mengalir di kedua pipinya dan malah semakin deras memenuhi wajahnya.
Seluruh bagian tubuhnya terasa sakit dan tidak nyaman, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa selain melihat bagaimana perkembangan situasi yang terjadi di ruangannya yang mendadak ramai.
Setelah dokter dan para perawat masuk untuk memeriksa kondisinya dan menyatakan jika Satria sudah membaik, keluarga pun di izinkan untuk masuk sebentar. Hampir semua anggota keluarga Satria ada di sana kecuali Arslan yang memang belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Arslan tetap pergi ke sekolah seperti biasa, dan setiap sepulang sekolah di rumahnya ia hanya di temani Citra dan mbok Jum yang tak lain adalah asisten rumah tangga di kediaman orangtua Satria.
"Alhamdulillah sat, eyang lega sekali, bahagia sekali melihat kamu sudah sadar." ujar eyang sembari menggenggam lembut tangan Satria dan mengelus puncak kepala Satria.
"Mama dan papa juga senang akhirnya kamu sudah sadar Sat. Semoga kondisi kamu bisa cepat pulih, iya kan sayang?" tanya mama Satria menyentuh bahu Arin menyadarkan gadis tersebut dari lamunannya.
Arin pun hanya mengangguk kecil memperlihatkan senyuman samar di kedua sudut bibirnya. Satria pun menyadari jika sikap Arin tidak seperti biasanya, dan itu pasti karena ia sudah mengetahui tentang Sherina.
__ADS_1
Satria ingin menjelaskan semuanya pada Arin tapi ia belum memiliki kesempatan untuk itu karena seluruh keluarganya berkumpul di sana. Tiba-tiba beberapa orang perawat datang dan meminta izin untuk memindahkan Satria ke ruang perawatan.
Setelah di lakukan observasi akhirnya dokter menyatakan jik kondisi Satria sudah jauh lebih baik. Dan ia sudah bisa menempati ruang perawatannya walaupun masih harus mendapatkan perawatan secara intensif.
***
Hari sudah beranjak malam, semua keluarga Satria sudah pulang karena mereka ingin memberikan waktu untuk Satria dan Arin untuk bicara. Dan tanpa keduanya ketahui orangtua Satria pun sudah menghubungi kedua orangtua Arin.
Mereka memutuskan untuk berbicara langsung dengan kedua orangtua Arin karena khawatir dengan kelanjutan hubungan mereka. Bagaimana pun juga mama dan papa Satria harus menjelaskan beberapa hal yang menjadi titik kesalahpahaman di antara kedua orangtuanya Arin.
Meskipun ia tahu jika masa lalu Satria tidaklah baik, tapi setidaknya mereka ingin kedua orangtuanya Arin bisa mengetahui jika Satria sangat mencintai Arin sedari dulu. Dan semua hal yang di ucapkan oleh Vina hanyalah separuh dari kebenaran.
Sementara di rumah sakit Arin terlihat lebih banyak diam. Walaupun ia tidak keberatan untuk menemani dan menjaga Satria, tapi ia masih merasa berat untuk membicarakan permasalahan yang menjadi hal yang mengganjal di hatinya itu.
Walau bagaimanapun kondisi Satria juga belum cukup baik bahkan ia baru saja di nyatakan sadar setelah mengalami koma selama beberapa hari terakhir. Demi menghindari percakapan dengan Satria bahkan Arin memutuskan untuk menunggu di sofa.
"S..sayang." panggil Satria dengan lirih namun masih cukup bisa di dengar oleh Arin yang tampak memainkan handphonenya di sofa.
Arin pun menoleh sesaat sebelum akhirnya beranjak menghampiri Satria. Ia tidak berbicara apapun sebelum ia benar-benar sampai di samping brankar Satria.
"Kamu mau minum?" tanya Arin dengan datar mencoba menetralkan wajahnya sedangkan Satria hanya menggeleng lemah sambil tersenyum.
Satu tangannya berusaha menggapai lengan Arin yang tampak begitu menghindarinya. Satria pun berusaha untuk bersabar menghadapi sikap diam calon istrinya itu. Ia pun sadar jika dalam hal ini, ia sendirilah yang telah bersalah.
Satria mencoba berpikir keras bagaimana membujuk dan menjelaskan semua ini pada Arin. Apalagi Arin masih dalam tahap pemulihan, kepercayaannya terhadap seseorang bukanlah sesuatu yang mudah untuk di taklukan begitu saja.
__ADS_1