
Sudah 3 hari berturut-turut Satria memarkirkan mobilnya di depan kost'an Arin sebelum ia pulang ke rumah. Dan dalam 3 hari itu juga ia tidak pernah melihat keberadaan Arin di sana.
Bahkan di hari kedua memarkirkan mobilnya hingga 4 jam lamanya dan menunggu dengan sabar sampai jam makan malam berakhir tapi Arin tetap tidak bisa ia temui. Akhirnya Satria pun memutuskan untuk pulang.
Ia sudah menghubungi Herti beberapa kali namun gadis tersebut juga tidak bisa di hubungi sejak 3 hari lalu. Satria pun merasa sedikit frustasi, baru saja ia merasa senang tapi tiba-tiba ia merasa kembali patah semangat.
Ia memutuskan untuk menunggu sampai malam hari. Siapa yang tahu Arin sedang banyak pekerjaan yang mengharuskannya bekerja lembur. Sementara Arin sendiri kini masih berada di rumah sakit.
Kemarin malam ia yang menginap dan berjaga di rumah sakit. Tapi karena ia tidak membawa pakaian ganti untuk 2 hari maka Arin memutuskan untuk pulang terlebih dahulu.
Sherina pun tidak merasa keberatan untuk di tinggal malam ini, ia juga merasa tidak enak hati karena merepotkan sahabat barunya itu. Sherina bahkan meminta Arin untuk tidak usah menginap dan tidur di kost'an saja.
"Rin, gausah balik deh. Aku udah gak apa-apa kok, besok siang juga abis visit dokter pasti udah boleh pulang. Kamu tidur di kost aja." ujar Sherina.
"Ah enggak, kalau aku gak balik kamu siapa yang nemenin. Kecuali Herti dah balik, dan gantian sama dia gak apa-apa. Yang ada akunya gak tenang ninggalin kamu sendiri di sini." timpal Arin sambil membereskan barang-barang yang akan ia bawa pulang.
"Tapi kan ada perawat di sini yang bisa aku minta tolong kalau aku perlu. Kamu pasti capek, udah seharian kerja bukannya istirahat malah nemenin aku di sini. Tidur juga gak enak di sofa begitu." jawab Sherina yang kadung tak enak hati.
"Enggak kok Sher, aku gak capek. Udah ah bawel kamu, ntar aku balik lagi paling sejaman ya." ujar Arin tak ingin di bantah.
"Kalian ngedebatin apa sih? gak biasanya banget." ujar Raka sembari berjalan memasuki ruangan Sherina sembari membawa sebuah paper bag berisi makanan.
__ADS_1
"Gak apa-apa kok ka. Oia, jam kerja kamu udah selesai?" tanya Arin mengalihkan.
"Gak apa-apa gimana? Udah jelas muka kamu udah lusuh gitu, muka capek. Mending istirahat di kost aja, aku gak apa-apa sendiri nanti bisa minta tolong perawat buat nemenin satu orang. Bener kan dokter Raka?" ujar Sherina memotong ketika Raka hendak berbicara.
"Oh jadi ini yang kalian debatin dari tadi." ujar Raka sambil tersenyum simpul.
"Rin, kamu kan besok kerja. Sherina benar, muka kamu capek banget udah lecek pula mending pulang aja istirahat. Soal Sherina biar aku yang temenin di sini, masalah selesai kan?" ujar Raka memberikan solusinya membuat Sherina tidak bisa berkata-kata.
Ingin menolak, ia takut membuat Arin tidak akan merubah keputusannya dan takut membuat Raka tersinggung. Tapi jika ia menerima saran tersebut, ia juga merasa tidak enak hati. Walaupun Raka orang yang sangat baik, tapi rasanya pasti akan canggung jika Raka yang menemaninya.
Di hari pertama ia di rawat, ia dalam keadaan tidur dan tidak mengetahui keberadaan Raka. Tapi jika sekarang Raka kembali menungguinya, rasanya pasti akan sedikit tidak nyaman.
"Gimana? kalian berdua masih gak setuju juga sama solusi saya?" tanya Raka melirik keduanya satu persatu.
Padahal baru beberapa menit lalu, ia bilang jika ia tidak merasa lelah sama sekali. Tapi lihatlah kini sahabat nya ini mengucapkan kata-kata yang berlainan. Sherina pun merasa curiga dengan apa yang sebenarnya Arin rencanakan.
"Oke clear ya sekarang, kamu pulang sama siapa?" tanya Raka.
"Abang ojol nih udah sampai katanya, kalau gitu aku duluan ya Sher, Raka." ujar Arin sembari berjalan keluar dari kamar Sherina dengan tergesa-gesa.
Sebenarnya bukan karena tidak enak hati dengan tukang ojek online yang sedang menunggunya, karena sebenarnya ia masih dalam perjalanan. Tapi Arin ingin menghindari tatapan Sherina yang penuh dengan pertanyaan dan kecurigaan.
__ADS_1
Entah kenapa tiba-tiba saja terlintas di pikirannya untuk menjodohkan keduanya. Raka adalah laki-laki yang sangat baik dan bertanggung jawab, dan sebagai sahabat ia ingin Raka mendapatkan seseorang yang lebih baik dari dirinya yang telah mengecewakan Raka.
Dan bagi Arin Sherina adalah satu-satunya kriteria perempuan ideal baginya untuk Raka. Jika saja usia Sherina tidak lebih tua darinya, tentu saja ia akan menjodohkannya dengan Dean. Sayangnya Dean tidak menyukai perempuan yang lebih tua, karena itu Raka adalah laki-laki yang beruntung jika bisa bersanding dengan Sherina.
"Gaya banget ih gue jadi Mak comblang mereka, ah bodo amat lah siapa yang tahu kan mereka cocok dan berjodoh." ujarnya berbicara sendiri sambil tertawa gemas membayangkan sesuatu.
Keduanya adalah sahabatnya, dan keduanya memiliki masalah yang pahit tentang cinta sebelumnya. Siapa yang tahu jika tuhan berkenan, jika mereka akhirnya berjodoh. Tapi apapun hasilnya, Arin tidak ingin memaksa keduanya, Arin ingin semuanya berjalan perlahan dan alami.
Begitu sampai di Lobby, ojek pesanan nya pun sudah sampai di halaman rumah sakit. Ia pun bergegas menghampiri ojek tersebut dan tidak lama kemudian berangkat menuju kost'an Arin.
Setelah berkendara sekitar 20 menit akhirnya mereka pun tiba di depan kost'an. Arin pun sedikit terkejut melihat Satria tengah duduk di atas kap mobilnya yang terparkir di depan gerbang rumah kost tersebut.
"Hai." sapa Satria yang kini sudah ada di hadapan Arin.
"Kamu ngapain di sini, kok bisa tahu alamat aku?" tanya Arin yang masih dalam mode bingungnya.
Satria bukannya menjawab ia hanya tersenyum sambil menarik tangan Arin ke arah mobilnya.
"Kita mau kemana?" tanya Arin menahan langkahnya ketika semakin dekat dengan mobil Satria.
"Bicara, dan makan malam. Aku udah laper banget nungguin kamu berjam-jam di sini. Jangan nolak, karena kamu gak punya hak. Kamu udah janji, kalau suatu hari nanti kita ketemu lagi tanpa sengaja kamu bakal ngasih aku kesempatan." jelas Satria sambil mengacak-acak rambut Arin gemas lalu membukakan pintu mobilnya.
__ADS_1
Arin pun hanya bisa diam dan menurut mengikuti arahan Satria. Ia bahkan sudah kehabisan kata-kata dan tidak bisa menolak meskipun hatinya merasa sedikit ragu. Satria pun segera mengambil alih kemudinya dan berlalu meninggalkan rumah kost Arin menuju sebuah tempat makan terdekat yang cukup layak dan nyaman untuk mereka bicara nanti.