
Satria merasa bosan karena aktivitas nya hanya sebatas kamar tidurnya saja. Sesekali mamanya ataupun Arslan akan datang dan membantunya keluar dari kamar untuk sekedar mengobrol bersama yang lain atau pergi ke ruang makan.
Setelah puas mengobrol di telepon dengan Arin ia pun jadi teringat dengan Bayu. Kebetulan saat ini mamanya membawa Satria ke ruang keluarga. Di sana ada mama dan papanya yang sedang menonton tv sembari berbincang santai.
"Pa, Satria jadi lupa nanyain perkembangan kasus kemarin. Sekarang Bayu gimana keadaannya? Masih di rumah sakit atau udah di tahan sama polisi?" tanya Satria yang sudah begitu penasaran.
Papa dan mamanya saling pandang sesaat sampai akhirnya mereka sepakat untuk memberitahukan kenyataan sebenarnya. Mungkin sudah waktunya Satria tahu jika Bayu sudah meninggal dunia sebulan lalu.
"Sat, sebenarnya papa sama mama gak ada niat sedikitpun untuk menyembunyikan masalah ini dari kamu. Tapi melihat kondisi kamu sudah jauh lebih baik sekarang, papa rasa kamu sudah siap untuk mengetahuinya." jelas papa Satria sambil berusaha memilih kata-kata yang tepat untuk menjelaskannya.
"Sebenarnya, Luka tembak Bayu cukup parah karena berhasil menembus salah satu bilik jantungnya. Dan di karenakan kondisi kesehatannya yang memang kurang baik akhirnya Bayu mengalami koma selama beberapa hari sebelum akhirnya meninggal dunia." jelas papanya membuat Satria hanya bisa terdiam.
Pikirannya mendadak kosong mendengar penjelasan yang di berikan oleh papanya. Walaupun ia sempat membenci Bayu namun jauh di lubuk hatinya, Bayu tetap memiliki tempat tersendiri di hatinya. Bagaimana pun persahabatan mereka cukup lama dan mereka sudah melalui banyak hal bersama.
Mama Satria pun mendekat mencoba untuk menenangkan putranya. Ia sangat tahu meskipun Satria saat ini hanya diam tapi jauh di lubuk hatinya pasti ia merasa sangat sedih dan kehilangan. Bahkan mereka pun sudah menganggap Bayu seperti keluarga dan insiden penculikan ini benar-benar mengejutkan semua orang.
Selama sebulan terakhir ini mereka memang berusaha menjauhkan Satria dari berbagai macam pemberitaan mengenai kasus mereka. Kasusnya menjadi sangat viral karena salah satu dari pelaku penculikan merupakan seorang pewaris sebuah perusahaan yang cukup terkenal di Indonesia.
Keluarga Bayu merupakan salah satu keluarga terpandang di Jakarta. Karena itulah pemberitaan mengenai kasus tersebut cukup ramai. Dan sebentar lagi kasus tersebut akan segera di sidangkan dengan pelaku utama sang ketua penjahat yang bernama Baron.
Bukan hanya menculik ia bahkan telah menyebabkan orang yang menyuruhnya untuk melakukan penculikan tersebut harus meregang nyawa di tangannya sendiri. Karena itu pulalah kedua orangtua Arin segera membawanya pulang karena situasi di jakarta tidak cukup baik untuk kondisi psikis putrinya.
Mereka tidak ingin baik Satria maupun Arin terganggu dengan pemberitaan yang sedang viral tersebut karena mau tidak mau namanya harus terseret dalam kasus tersebut sebagai korban.
"Ma, pa . Boleh gak antar Satria ke makam Bayu?" tanya Satria setelah beberapa saat hanya terdiam.
Akhirnya Satria pun sampai di sebuah tempat pemakaman yang berada di pusat kota Jakarta. Mama dan papa Satria mendorong kursi rodanya menuju sebuah makam yang terlihat masih baru dengan taburan bunga yang melimpah.
__ADS_1
Dan terlihat seorang wanita paruh baya yang sedang terduduk sambil memeluk pusara Bayu. Di sampingnya berdiri seorang laki-laki yang sudah sangat Satria kenal. Mereka adalah mama dan papa Bayu.
Hati Satria merasa perih melihat pemandangan tersebut. Keduanya terlihat begitu kehilangan putra kebanggaan mereka. Kedua orangtua Bayu adalah orang yang sangat baik dan hubungan Satria pun cukup dekat dengan mereka.
"Ma, lihatlah siapa yang datang." ujar pak Wardana mencoba menyadarkan istrinya yang terus menerus memeluk pusara Bayu dengan pandangan yang kosong.
Mama Bayu pun akhirnya bangkit dan melihat ke arah yang suaminya tunjukkan. Tangisnya pecah begitu saja melihat Satria datang ke pemakaman putranya. Ia pun kembali mengingat bagaimana dekatnya hubungan keduanya dulu, membuat hatinya kembali berdenyut sakit.
Dengan susah payah Satria memilih turun dari kursi rodanya berusaha untuk berjalan menghampiri kedua orangtua Bayu dengan tertatih. Sampai akhirnya ia terjatuh, tapi ia tetap berusaha menyeret kakinya mendekati mereka.
Satria pun langsung memeluk mama Bayu yang masih menangis dengan sesenggukan. Wanita yang masih terlihat cantik meskipun di usianya yang sudah tidak muda lagi itupun berkali-kali mengucapkan kata maaf untuk Satria.
Sejak awal ia memang sudah melihat perubahan yang kurang baik setelah mendengar Bayu dan Satria berselisih di perusahaan. Mereka pun mengetahui jika Bayu mencoba memfitnah Satria ketika Satria masih bekerja di perusahaan.
Beruntung Satria cukup pintar dan waspada sehingga memiliki bukti kelicikan putra mereka. Mama Bayu juga sudah mencoba untuk menasihati putranya itu mengenai Arinda yang menjadi akar permasalahan keduanya tapi Bayu tetap bersikeras.
Setelah puas menumpahkan segala kesedihannya, Pak Wardana pun pamit untuk membawa istrinya pulang. Sebenarnya kondisi kesehatan pak Wardana sekalipun tidak cukup baik. Namun ia juga tidak mungkin membiarkan istrinya sendiri saja di sana.
"Sekali lagi, tante mohon sama kamu Sat. Tolong maafkan Bayu, tolong maafkan anak Tante. Jangan biarkan dia membawa beban berat di tempat peristirahatan terakhirnya ini." ujar mama Bayu dengan airmata yang masih menetes.
"Satria sudah memaafkan Bayu Tante. Bagaimana pun kami adalah sahabat, dan Satria yakin Bayu pun masih menganggap Satria seperti itu." jelas Satria berusaha tegar.
"Sebelum meninggal, Bayu sempat tersadar ia meminta Tante merekam ini untuk kamu dan Arinda." ujar mama Bayu menyerahkan sebuah benda berbentuk pipih seperti tape recorder.
Setelah itu mereka pun berpamitan kepada kedua orangtua Satria. Satria pun meminta kedua orangtuanya untuk menunggu di mobil. Jika ia sudah selesai maka ia akan menelpon mereka. Akhirnya mau tidak mau kedua orangtuanya pun menurut dan membiarkan Satria duduk sendiri di samping pusara sang sahabat.
Ia pun memutuskan untuk memutar rekaman yang tersimpan di dalam tape recorder tersebut. Ia mencoba menyiapkan hatinya untuk mendengarkan apa yang ingin Bayu sampaikan untuk terakhir kalinya.
__ADS_1
"Sat, kalau lu bisa tolong maafin gue." ujar Bayu dengan suara terbata.
"Gue sadar, apa yang gue lakuin ini tuh bukan cinta tapi obsesi. Gue gak bisa balikin waktu buat memperbaiki semuanya, gue cuma berharap lu bisa bahagia terus sama Arinda."
"Maafin gue karena udah nyakitin kalian, semoga kalian mau maafin gue."
Meskipun dengan suara parau dan terbata-bata tapi Satria masih bisa mengerti dengan jelas apa yang di ucapkan oleh Bayu. Ia pun menangis dengan kencang sembari menggenggam erat tanah di atas kuburan Bayu itu.
Satu-satunya sahabat yang ia miliki harus meninggal dunia dengan cara yang paling tragis. Dan kalau boleh jujur ia menyesal karena tidak pernah mencoba memperbaiki hubungan di antara mereka. Ia terlalu marah karena Bayu yang mencoba memfitnahnya saat itu.
Manusia memang tidak pernah tahu tentang apa yang akan terjadi dengan mereka di masa depan. Karena itulah, penyesalan selalu menjadi teman ketika mereka terlambat menyadari kesalahannya.
.
.
.
.
.
.
.
Tbc
__ADS_1