
"Sekarang apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Raka.
Arin pun hanya bisa menghela nafas dengan pasrah sembari menatap langit dengan sendu.
"Aku ingin menghadapi dan menyelesaikan semuanya dengan baik dan benar. Tapi aku sendiri belum tahu dengan apa yang harus aku lakukan." ujarnya .
"Aku sudah sangat lelah dengan perasaan sakit seperti ini, dan bahkan mungkin sudah sangat muak. Tapi aku tetap seperti ini, apapun yang coba aku lakukan." sambungnya lagi.
"Boleh aku beri saran? "
"apa? "
"Selesaikan apa yang perlu di selesai kan."
"Semuanya sudah selesai di masa lalu Raka, jadi apa yang harus aku selesai kan sekarang? "
"Kamu bohong rin. Tidak ada yang selesai di antara kalian sejak dulu. Karena itulah kamu masih merasakan sakitnya sampai hari ini. Kamu hanya terus melarikan diri dari kenyataan."ujar Raka menohok.
Arin hanya terdiam memikirkan kata-kata yang Raka ucapkan. Karena ia sendiri menyadari jika selama 8 tahun ini, ia hanya sibuk melarikan diri dari kenyataan.
Bahkan setelah waktu yang begitu lama, ia tetap masih terluka seolah semua itu baru saja terjadi padanya. Mungkin benar, jika sudah waktunya untuk menyelesaikan semuanya.
Tapi tetap saja ia merasa tidak siap untuk bertemu dengan Satria dan membicarakan semuanya. Karena itu adalah apa yang ia takutkan selama bertahun-tahun.
"Kamu bisa memikirkan apa yang aku katakan baik-baik. Tapi jangan membuat hati kamu terbebani dengan itu. Sekarang, beristirahatlah"
Raka pun berlalu menuju kamar tamu yang sudah ibu siapkan. Ibu dan ayah meminta Raka untuk menginap dan menemani Arin selama beberapa hari jika ia tidak ada pekerjaan.
Dan tentu saja Raka menyetujuinya karena ia masih khawatir dengan keadaan Arin. Ia membatalkan beberapa jadwal praktek nya dan mengambil cuti untuk menemani Arin dan akan kembali ke Jakarta ketika Arin sudah siap.
**
Keesokan paginya Satria sudah masuk kantor seperti biasa setelah malam harinya ia memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Tapi sebelum itu ia pergi ke rumah Arin. Selama beberapa jam ia hanya memarkirkan mobilnya di depan rumah Arin tanpa berniat untuk keluar.
Arin masih berada di bogor karena ia telah mengambil cuti selama 2 hari ke depan. Satria terus memandangi meja Arin yang tampak kosong dari dalam ruangannya.
__ADS_1
Ia terus termenung dan hanya bisa memikirkan tentang Arinda sampai ia tidak menyadari kedatangan Bayu. Bayu sudah memanggilnya beberapa kali, tapi Satria tetap tidak mendengarnya.
"Sat !" ujar Bayu sambil menepuk punggung sahabat nya itu.
"Eh, Bay. Lo di sini? Ada apa? " tanya Satria dengan gelagapan sambil menghapus air mata yang hampir menetes.
"Ada apa? Lo tuh yang ada apa? gue dah telpon lu berkali-kali tapi gak lo jawab juga. Sampai gue datangin ke sini lu malah bengong di situ." ujar Bayu merasa sahabatnya itu tidak baik-baik saja.
"Gue, gue gak apa-apa kok." jawab Satria mengelak sambil berjalan menuju meja kerjanya.
"Sat, gue kenal lo itu udah berapa lama sih?" ujar Bayu mencoba mendesak Satria.
Satria pun menghela nafas berat sembari memejamkan matanya sementara satu tangannya ia gunakan untuk memijat kepalanya yang terasa begitu berat.
"Ikut gue deh." ujar Bayu sembari menarik Satria keluar dari kantor.
Bayu membawa Satria ke sebuah Cafe yang terletak tidak jauh dari kantor. Ia memilih meja yang berada di luar agar mereka bisa berbicara lebih santai sambil merokok sambil menikmati secangkir kopi.
"Mending lo cerita sama gue deh Sat, sebenarnya lo kenapa? Gue tahu banget lo gak biasanya kayak gini, kalau emang lo gak ada apa-apa." ujar Bayu kini duduk depannya sembari menyalakan sebatang rokok dan menghisap nya.
"Gue sebenarnya udah ketemu sama dia. " ujar Satria pada akhirnya.
Bayu pun langsung mematikan rokoknya dan merubah posisi duduknya.
"Mantan lo itu? Yang bikin lo gagal move on selama 8 tahun ini? " tanya Bayu dan Satria hanya mengangguk mengiyakan sembari terus menghisap batang berisi nikotin tersebut.
"Kapan Sat? Terus gimana? Dia udah ada yang punya belom? " tanya Bayu penasaran.
"Dia masih marah dan benci banget sama gue Bay. Bahkan kalau bisa mungkin dia udah gak mau lihat muka gue lagi." jawab Satria jujur.
"Terus-terus? " tanyanya lagi.
"Ya gak ada terusnya. Gue udah minta maaf sama dia dan coba buat minta kesempatan sekali lagi sama dia. "
"Terus? "
__ADS_1
"Dia bilang dia gak akan pernah maafin gue, dan dia bener-bener gak mau lihat muka gue lagi. Gue gak tahu harus gimana? Gue masih sayang banget sama dia, tapi gue juga takut kalau keberadaan gue cuma bikin dia sakit."
"Gue rasa gue bakal balik lagi ke Jogja Bay."
"Ah banci tahu gak lo. Baru di gituin sama cewek aja udah mau kabur lagi. Kayak bukan cowok aja lo Sat."
"Jangan melototin gue ! Dengerin gue nih bae - bae."
"Untuk apa yang lo pernah lo lakuin di masa lalu, wajar dan pantas buat dia kalau dia benci sama lo. Itu artinya dia manusia normal yang masih bisa ngerasain sakit."
"Tapi harusnya lo juga bisa mikir Sat, kemarahan dia dan kebencian dia sama lo saat ini karena dia masih ngerasa terluka. Dan harusnya dia bisa terluka sebegitu dalamnya bahkan setelah 8 tahun, dia belum ngelupain dan maafin lo karena dia masih ngerasa sakit."
"Maksud lo? "
"Dia gak akan tetap terluka kalau memang dia udah ngelupain lo Sat. Kalau luka yang dia punya di hatinya masih sama besarnya seperti dulu, bisa jadi cinta yang dia punya buat lo juga masih sama besarnya." ujar Bayu membuat Satria tertegun.
"Jadi maksud lo?"
"Ya, lo masih ada kesempatan buat dapetin dia lagi. Tapi ya itu, lo harus sabar dan nerimain apapun yang dia lakuin ke elo karena lo emang pantes buat dapetin itu!"
Satria hanya diam mendengarkan nasihat demi nasihat yang sahabatnya itu berikan. Entah kenapa mendengar kemungkinan yang Bayu katakan itu membuat dia sangat bahagia.
"Emang yang mana sih mantan lo itu sebenarnya? Siapa sih namanya? gue lupa.“
Tapi di satu sisi, ia juga merasa sangat bersalah mendengar pertanyaan Bayu. Karena ia masih belum bisa jujur tentang mantannya itu yang juga adalah gadis yang sangat Bayu sukai.
"Bay, gue kayaknya ngambil cuti aja ya 2 hari ini. Gue balik dulu ya, thanks ya buat sarannya." ujar Satria dengan wajah yang berubah menjadi cerah.
Satria bergegas meninggalkan Bayu yang kini hanya bisa mengumpat kesal karena di tinggal begitu saja oleh Satria.
"Sorry Bay, gue belum bisa jujur tentang siapa Arin sebenarnya. Tapi gue janji suatu saat gue pasti akan kasih tahu lo semuanya." Satria berujar dalam hati.
Satria langsung melajukan mobilnya menuju kota hujan yang baru saja ia tinggalkan malam tadi. Setelah berbicara dengan Bayu, ia mendapat sedikit suntikan semangat. Apapun yang Arin ingin lakukan padanya, ia akan bersabar dengan itu.
Karena memang ia pantas mendapatkannya karena telah menyakiti nya begitu dalam.
__ADS_1