
Arin berjalan melewati satu persatu bus yang sudah terparkir di tempat yang sudah di sepakati. Langkahnya terhenti ketika mendengar teriakan kedua sahabatnya yang berusaha memanggilnya.
"kalian dari tadi?" tanya Arin setelah kedua sahabatnya berdiri di depannya.
"Enggak juga sih, paling baru 5 menitan. Eh bis kita yang mana nih?" tanya Herti mulai celingukan.
"Yee, tempat duduk kita semua udah di atur waktu breefing terakhir. Makanya nyimak, jangan main handphone terus." ujar Andi santai setelah menoyor kepala Herti tanpa dosa.
"Heh, andilau! ini kepala bukan bola! Gak sopan banget sih." pekik Herti tidak suka dengan sikap andi padanya.
"Iya, sorry deh yaa cantik." ujar Andi tulus meminta maaf sambil mengusap kepala Herti dengan sayang.
"Ih, naj*s lo! jangan elus-elus kepala gue." sungut Herti kembali kesal membuat andi terkikik geli.
Andi memang sangat suka menggoda Herti dan membuatnya kesal. Walaupun terkadang ia merasa sedikit keterlaluan ketika membuat Herti benar-benar marah, maka Andi pun akan meminta maaf.
"Sudah yaa, kalian ini kayak Tom and Jerry aja. Gak dimana-mana tiap ketemu ribut terus bikin kepala pusing." ujar Arin pada akhirnya mencoba menghentikan perdebatan tidak penting mereka di pagi ini.
"Tuh bis nomer 7 kita kebagian di bus itu. Ayo!" sambungnya lagi sembari menunjuk salah satu bus di depannya.
Arin, Herti dan Andi memilih duduk di bangku paling belakang. Kebetulan ada 2 seat yang masih kosong di belakang. Arin dan Herti pun tersenyum senang karena bisa duduk bersama selama perjalanan.
Baru saja Arin mendudukkan dirinya di kursi paling pojok dengan Herti di samping nya.
"Her, gue tidur dulu ya tolong jangan di ganggu. Gue ngantuk banget semalem kurang tidur." ujar Arin sambil menutup kedua matanya dan meyilangkan tangan di dadanya bersandar pada kursi bis.
Tidak sampai beberapa menit Arin terlihat sudah jatuh terlelap dalam tidurnya. Satria datang dan memberikan kode pada Herti meminta izin untuk duduk di samping Arin. Tentu saja Herti tak enak hati menolak permintaan atasannya tersebut.
Akhirnya Herti mengangguk dan mempersilahkan Satria untuk duduk di samping sahabatnya itu sementara ia memutuskan duduk di belakangnya dengan Andi.
__ADS_1
"Her, nanti Arin marah gak sama kita?" bisik Andi sembari menatap Satria yang tengah merapikan tas di samping tas Arin yang berada di tempat penyimpanan.
"Marah sih pasti, tapi gimana lagi? Masa iya gue berani nolak permintaan atasan." jawab Herti membuat Andi mengangguk kecil.
Sementara Arin yang sudah terlelap sambil mendengarkan lantunan music jazz melalui earphone nya, Satria mengulum senyum bahagia melihat wajah tenang Arin yang sedang tidur.
Sementara sepasang mata tengah menatap kesal dengan tangan yang terkepal sempurna. Ia pun mengambil langkah mundur dan keluar dari bus tersebut.
"Sial! Kenapa aku selalu kalah cepat!! Brengsek!!" umpat Bayu sambil menutup pintu mobilnya dengan kasar.
Niatnya untuk duduk dengan Arin sepanjang perjalanan mereka menuju Jogjakarta harus kandas karena Satria sudah lebih dulu mendahului nya.
Bayu memilih untuk mengurungkan niatnya menaiki bus dan memilih untuk menggunakan mobil. Ia pun memerintahkan sopirnya untuk memulai perjalanan mereka mengikuti bus yang sudah lebih dulu berjalan di depannya beberapa saat lalu.
~
Hampir 2 jam lamanya Arin tertidur, ia pun mulai terbangun dan mengerjapkan matanya. Pandangannya masih buram, tubuhnya terasa lebih segar dan nyaman setelah tidur beberapa saat pikirnya.
("Kok wangi banget parfum cowok, terus ini pundak herti lebar banget sih kayak pundak cowok aja, nyaman banget di senderinnya.") pikir Arin
Akhirnya ia pun menarik tubuhnya dan mulai meregangkan kedua tangannya ke atas. Alangkah terkejutnya ia melihat Satria tengah tersenyum menatapnya dengan tatapan yang sangat ia kenal.
"Kenapa bangun? Kurang nyaman ya tidur nya?" ujar Satria dengan lembut.
Selama beberapa detik Arin hanya terdiam, otaknya tiba-tiba mendadak kosong mendengar suara yang sangat ia kenal itu. Ia pun tampak menggelengkan kepalanya sambil tertawa kecil.
Ia pasti sedang bermimpi saat ini, jelas-jelas tadi sebelum ia tidur Herti lah yang berada di samping nya. Arin mencoba meyakinkan dirinya bahwa ini hanyalah mimpi, jadi ia memilih untuk kembali menyandarkan tubuhnya di kursi bus dengan mata terpejam.
Sampai suara bariton pria di samping nya kembali terdengar, membuat ia melonjak kaget berteriak dan segera berdiri hingga tak sengaja kepalanya terbentur bagasi di atasnya.
__ADS_1
Semua penumpang di bus nampak mengarahkan pandangannya pada Arin yang membuat gaduh di dalam bus. Satria pun tertawa kecil melihat tingkah konyol yang di lakukan Arin.
"Duduk dulu, sini." ujar Satria sembari menarik lembut tangan Arin.
Karena merasa malu dengan apa yang ia lakukan Arin pun menurut tanpa perlawanan.
"Maaf membuat kamu terkejut." Satria berujar dengan lembut sembari menatap langsung kedua mata Arin yang berwarna kecoklatan.
Arin yang tersadar segera menarik tangannya dari genggaman Satria hingga terlepas. Arin pun membenarkan posisi duduknya kembali menghadap ke depan.
Ia memilih diam dan menutup rapat mulutnya karena apapun yang ia katakan akan sia-sia. Satria sangat keras kepala, dan tidak mungkin akan mendengarkannya.
Sikap Arin yang dingin kembali membuat hatinya tercubit, rasanya sakit ketika orang yang kita cintai memberikan penolakan. Sedangkan Arin, tidak hanya penolakan yang ia berikan akan tetapi Arin juga mengacuhkannya.
Menganggapnya tidak seperti tak kasat mata. Walaupun ia sadar jika Arin tidak akan mungkin memaafkannya apalagi kembali bersamanya, tapi Satria tetap berharap setidaknya Arin tidak membencinya lagi.
Akhirnya mereka hanya duduk diam selama perjalanan tanpa ada pembicaraan sedikitpun. Lebih tepatnya Arin yang menolak untuk bicara dan berinteraksi dengan Satria.
Arin sudah sangat lelah, ia hanya ingin menikmati hari-hari terakhir kebersamaannya dengan sahabatnya. Ia memilih untuk tidak menghiraukan apapun yang Satria lakukan.
"Tuh kan di, Arin sampe kaget gitu liat pak Satria." ujar Herti kembali berbisik.
"Yah, mau gimana lagi. Mau minta tukeran tempat duduk juga kita mana berani?" timpal Andi sembari bertopang dagu.
"Si Arin punya mantan sekeren pak Satria aja malah anti banget di deketin. Gue jadi makin penasaran, sebenernya ada apa sih sama masa lalu mereka." ujar Herti kembali berbisik.
"Ngeliat sikap Arin yang sesarkas itu ke pak Satria, bisa jadi sih dia selingkuh kali." jawab Andi mulai berpendapat.
"Yaudahlah, nanti mending kita tanyain langsung aja sama Arin. Dari pada kemal kayak gini.” sungut Herti kembali melipat tangan di dadanya.
__ADS_1
"Kemal?"
"Ish, kepo maksimal Andilau! gitu aja gak tahu!” jawab Herti kesal