
ARINDA POV
10 tahun dalam hidupku sudah ku lalui dengan hanya mencintai 1 orang. Bahkan ketika aku menjalin hubungan dengan orang lain, aku tidak pernah benar-benar menyukai mereka sedikitpun ataupun melupakannya.
Tuhan, ijinkan aku menjadi serakah hanya untuk 1 hari. Aku hanya ingin menikmati waktu ini, kebersamaan kami ini dengan perasaan yang nyaman.
Aku hanya ingin melihatnya sampai akhir, sampai dimana perasaan ini akan berakhir untuknya. Kami telah melalui waktu yang berat dengan saling menyakiti selama ini, jika suatu hari cintaku akan berakhir, maka akhirilah juga rasa cinta di hatinya untuk ku.
Berikanlah kami jalan kebahagiaan yang mudah bagi satu sama lain. Bantulah kami, agar kami bisa saling melepaskan cinta yang begitu menyakitkan untuk terus kami genggam ini, Tuhan.
Orang bilang, titik tertinggi ketika kau benar-benar mencintai adalah melepaskan. Karena tidak ada ambisi dan keegoisan ketika melepaskan.
Belajar untuk merelakan mu mungkin tidak akan semudah mengucapkan kata.
Meski begitu, sakit dan perih yang ku rasa ini akan ku terima dengan baik dan lapang dada.
**
Saat ini sudah hampir pukul 11 malam, dan aku masih berada di apartemen Satria. Kini ia sudah memejamkan matanya, walaupun dengan masih menggenggam tanganku dengan erat seakan takut aku pergi.
Dengkuran halus sudah mulai terdengar, dan artinya kini Satria sudah benar-benar tidur. Sejak tadi aku hanya bisa duduk di sampingnya yang berbaring tanpa bisa melakukan apapun.
Tangannya tidak pernah melepaskan genggamannya sedikit pun padaku dan aku pun tidak mencoba melepaskannya. Keadaan Satria tidak terlalu baik malam ini, aku memutuskan untuk tidak pulang dan menginap di apartemennya.
Dengan perlahan aku mencoba untuk melepaskan genggamannya yang begitu kuat itu untuk turun dari ranjang. Tapi ia tiba-tiba saja terbangun bahkan ketika aku belum sempat turun.
"Hm, kamu mau kemana?" tanya Satria dengan menahan kantuknya.
"Aku pengen mandi, terus ganti pakaian juga."
"Oh, ya udah." ujarnya sembari melepaskan genggamannya.
"Baju kamu yang waktu itu, ada di lemari aku. Kamu cari aja di yang sebelah kanan ya." ujar Satria begitu lembut.
Aku pun hanya mengangguk kemudian meninggalkannya untuk mengambil pakaian ku di lemarinya dan pergi ke kamar mandi. Walaupun sudah hampir tengah malam, tapi aku tetap memutuskan untuk mandi.
__ADS_1
Dan ketika aku memasuki kamar mandi, aku begitu terkejut dengan peralatan mandi yang pernah ku gunakan masih tersimpan dengan rapi di sana. Seolah Satria tahu, jika aku akan kembali ke sini suatu hari nanti.
Saat itu ia memesankan peralatan mandi dan sepasang sandal untuk ku gunakan ketika aku sedang di apartemennya. Sejak dulu, Satria memang seorang yang sangat perhatian.
Ia tidak pernah melupakan hal sekecil apapun tentang apa yang aku sukai ataupun tidak. Dan itulah yang membuat aku benar-benar nyaman dengannya. Satria selalu memanjakan ku sejak dulu, dan sekarang aku pun mulai menyadari jika ia tidak pernah berubah.
Dan mungkin Ia masih tetap laki-laki yang sama yang pernah membuatku jatuh cinta seperti dulu. Hanya saja karena keadaan yang kini sudah berubah, aku membuat pilihan sendiri dengan terus mengelak dari apa yang hatiku rasakan.
Aku mencoba mengelak dan menahan semua perasaan yang hatiku kehendaki saat ini. Melihat bagaimana takdir mempermainkan kehidupan kami dengan begitu mudahnya membuatku takut.
Aku tidak lagi ingin berangan tinggi jika akhirnya harus jatuh karena tertampar oleh kenyataan yang menyakitkan. Atau takdir yang tak pernah memihak ku walau sekali selama ini.
Aku pernah begitu mencintai hingga rasanya mau mati, Tapi takdir terus membuatku merasakan sakit dan pedih berkali-kali dari patah hati yang hanya 1 kali ku alami.
Hampir 1 jam lamanya aku berada di kamar mandi. Dan ketika aku keluar, Satria sudah tertidur pulas di atas sofa panjang yang berada di pojokan kamar.
Tubuhnya hampir sepenuhnya tertutup selimut. Matanya terpejam dengan rapat dan wajahnya terlihat begitu tenang. Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya untuk berada di posisi seperti ini.
Tubuhku bergerak tanpa perintah untuk mendekatinya. Aku hanya bisa duduk di bawah sambil menatapinya dalam diam. Bulir air mataku mulai berjatuhan tanpa bisa aku tahan.
Perlahan tanganku terangkat untuk menyentuh satu sisi wajahnya yang tepat berada di depan mataku.
Aku ingin bebas dari belenggu dendam dan cinta yang menggerogoti hatiku. 1 kali saja, aku akan menunjukkan cinta yang selama ini terpendam di hatiku.
Aku hanya bisa menatapi wajah Satria yang saat ini terlelap dan terbuai oleh mimpinya. Satu tanganku terulur membelai lembut rambutnya yang sudah lama sekali sejak terakhir aku menyentuhnya.
Meskipun ia sakit, ia tetap memilih untuk tidur di sofa karena menghormati ku. Ia tidak ingin membuatku tidak nyaman ketika berada di sampingnya.
Dengan lembut ku raih satu tangannya dan menggenggamnya dengan erat. Aku masih bisa mendengar dengan jelas dengkuran halusnya tiba-tiba ia merubah posisi tidurnya menyamping sampai akhirnya aku bisa melihatnya tepat di depan mataku.
Hembusan nafasnya terasa begitu hangat menerpa wajahku. Malam ini, aku akan memuaskan setiap kerinduan yang tertahan di hatiku selama ini dengan menatap wajahnya.
Bagiku malam ini sudah cukup, malam ini untuk pertama kalinya aku menumpahkan semua perasaan yang selama ini selalu ku pendam dengan tetap berada di sisinya dan menjaganya.
Aku akan pergi diam-diam dari rumahnya, sama seperti aku yang akan pergi diam-diam dari hidupnya. Walaupun aku belum tahu apa yang akan aku rencanakan setelah ini.
__ADS_1
Aku mengambil dan merapikan semua barang-barang yang aku bawa untuk keluar dari kamar. Setelah itu, aku membuatkan Sandwich kesukaan Satria lebih dulu di dapur sebelum aku benar-benar pergi.
Setelah selesai membuatkan segelas susu hangat dan sepiring Sandwich aku pun menatanya di meja makan. Aku pun memesan taksi online untuk mengantarkan ku pulang.
Ketika di dalam perjalanan pulang, aku pun akhirnya mengecek ponsel ku. Terlihat ada 15 panggilan tak terjawab dari Raka. Dan puluhan pesan yang ia kirimkan sejak kemarin sore.
Karena terlalu panik dengan keadaan Satria ia bahkan melupakan janjinya untuk bertemu dengan Raka. Arin segera menelpon nomor Raka tanpa pikir panjang dan tak sampai 30 detik Raka menjawabnya.
"Halo, Raka."
"Kamu dimana rin?"
"Aku sebentar lagi sampai di kosan."
"Ya sudah aku tunggu di depan." jawabnya langsung mematikan panggilan telponnya.
Mendengar suara Raka, aku menyadari jika ia sedang begitu mengkhawatirkan aku. Tidak sampai 5 menit, aku akhirnya sampai di halaman rumah kost ku dan terlihat Raka sedang menunggu ku di sana.
"Kamu dari mana aja rin?" tanya Raka tanpa basa basi.
"Kemarin aku jemput, tapi kamu udah pulang tapi pas aku sampai sini, gak ada yang lihat kamu pulang katanya. Nomor kamu juga susah aku hubungin dari kemarin sore. Aku tuh khawatir banget tahu gak?" sambungnya lagi tak memberiku kesempatan untuk bicara.
"Kok kamu diem aja sih? "
"Aku bingung kapan aku bisa jawab, kalau kamu gak berhenti ngomong dari tadi." jawabku dengan jujur membuatnya langsung terdiam.
"Maaf." jawabnya pelan.
"Kemarin Satria sakit, jadi aku sama Andi harus antar dia ke rumah sakit." jawab Arin tak ingin menjelaskan lebih jauh.
"Maaf karena sudah buat kamu khawatir. Dan sepertinya hari ini aku gak bakal keluar, aku capek banget pengen istirahat." ujar ku mencari alasan agar Raka bisa mengerti.
Aku sadar jika sikap Raka belakangan ini semakin berlebihan. Aku tidak ingin membuatnya kecewa, karena ia adalah teman terbaik yang aku dapatkan setelah 8 tahun aku berada di kota ini.
Tapi aku juga tidak bisa memberikan harapan lebih untuknya jika tentang hubungan kami yang lebih dari batas pertemanan. Aku tidak ingin berpura-pura mencintainya seperti hubunganku yang dulu pernah ku lakukan pada mantan pacarku setelah Satria.
__ADS_1
"Maaf Raka, kamu terlalu baik untuk aku yang tak bisa melupakan laki-laki yang tak seharusnya aku cintai lagi saat ini, tapi aku tetap mencintainya. "